Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Dendam Masa Lalu yang Terbangun
Cahaya ungu yang menyilaukan merobek awan kelabu di atas Akademi Jiannan.
Pedang Petir Dewa Penghakiman kini berada dalam genggaman Zeng Niu. Pedang kristal yang mengalirkan urat-urat kilat murni itu tidak hanya mendistorsi ruang fana di sekitarnya, tetapi juga memancarkan Niat Penghakiman Langit sebuah otoritas mutlak yang menekan segala jenis Qi.
Tiga Tetua Penegak Hukum di tahap Golden Core Awal yang melayang arogan di udara, kini merasa seolah ada gunung tak kasatmata yang menghantam dada mereka. Inti Emas di dalam Dantian mereka bergetar hebat, dan pedang terbang yang menopang tubuh mereka merintih ketakutan.
"A-Aura macam apa ini?!" jerit salah satu Tetua, terhuyung turun dan mendarat dengan kasar di atas tanah berumput, kehilangan kendali atas penerbangannya. "Ini bukan artefak tingkat bumi! Ini... ini melampaui senjata pusaka sekte!"
Namun, teror yang dirasakan oleh ketiga Tetua itu hanyalah riak kecil dibandingkan dengan gelombang kejut yang menyapu seluruh penjuru ibukota.
Beberapa mil dari Paviliun Pedang Bayangan, di sebuah gua kultivasi tertutup di Puncak Pedang Emas, sepasang mata tua yang setajam elang mendadak terbuka.
Tetua Jian Kuang, salah satu pilar kekuatan tertinggi di Akademi Jiannan yang berada di ranah Golden Core Puncak, seketika menghentikan sirkulasi Qi nya. Wajahnya yang keriput namun memancarkan keganasan berubah drastis. Tubuhnya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena gejolak emosi yang tertahan selama bertahun-tahun.
"Fluktuasi petir ini... Niat Penghakiman ini..." Tetua Jian Kuang bergumam parau. Ia langsung berdiri, menghancurkan pintu batu guanya dengan satu kibasan lengan bajunya.
Ia melayang ke udara, menatap lurus ke arah pilar cahaya ungu di Paviliun Pedang Bayangan. Ingatan berdarah dari masa lalu kembali membanjiri Lautan Kesadarannya.
Bertahun-tahun yang lalu, sebuah "bintang jatuh" menghantam wilayah tak bertuan di perbatasan benua. Bintang itu adalah pusaka dewa yang memancarkan aura petir murni. Saat itu, Jian Kuang mewakili Akademi Jiannan bertarung mati-matian dalam pertumpahan darah melawan Tetua dari Sekte Pedang Langit dan Penguasa Iblis dari Sekte Iblis Darah.
Ketiga faksi raksasa itu saling membantai hingga langit berubah merah demi memperebutkan pusaka surgawi tersebut. Jian Kuang bahkan mengorbankan artefak pertahanan seumur hidupnya demi membuka jalan ke pusat kawah.
Namun, tepat di detik ketika tangannya hampir menyentuh pedang tersebut... sesosok bayangan yang sangat licik, tanpa fluktuasi Qi yang kuat namun memiliki kecepatan layaknya hantu, melesat menembus kekacauan. Bayangan itu mencabut pedang petir tersebut di depan mata mereka semua, memicu ledakan ruang, dan menghilang tanpa jejak!
Jian Kuang hampir memuntahkan darah karena marah saat itu. Mereka, para penguasa Golden Core, telah dipermainkan oleh seorang pencuri rendahan!
Kini, menatap aura petir ungu yang merobek langit akademi, wajah Tetua Jian Kuang berubah menjadi merah padam. Urat-urat di pelipisnya menonjol, dan Niat Pedangnya yang buas meledak menghancurkan pepohonan di sekitarnya.
"Zeng Niu..." desis Tetua Jian Kuang, giginya bergemeretak hingga nyaris hancur. Matanya memancarkan dendam yang membara. "Bocah dari Pelataran Luar... Jadi selama ini, pencuri licik yang mempermainkan tiga sekte besar di lembah perbatasan itu adalah kau! Bagus... Sangat bagus! Hari ini, aku akan mencabik-cabik tulangmu dan merebut pusaka itu kembali!"
Tanpa membuang waktu, Jian Kuang berubah menjadi seberkas cahaya emas, melesat membelah langit menuju Paviliun Pedang Bayangan.
Di saat yang sama, riak kekuatan Pedang Petir Dewa Penghakiman tidak hanya dirasakan oleh para petinggi akademi. Di sudut-sudut gelap Ibukota Jiannan, mata-mata dari sekte musuh yang menyusup ke dalam barisan murid pelataran luar mulai bergerak dengan panik.
Di area Dapur Umum Akademi, seorang murid pelayan yang sedang memotong kayu bakar tiba-tiba menjatuhkan kapaknya. Matanya yang biasa terlihat bodoh dan patuh kini memancarkan ketajaman pedang yang tak terlihat. Ia adalah mata-mata dari Sekte Pedang Langit.
Murid itu buru-buru berlari ke belakang gudang yang sepi. Ia merogoh ke dalam dadanya, mengeluarkan sebuah Slip Giok Transmisi Suara berwarna perak. Jari-jarinya gemetar saat ia menghancurkan giok tersebut.
Lapor kepada Leluhur Pedang! pesan mentalnya melesat menembus ruang, mengarah jauh ke Benua Timur. Pusaka Petir yang hilang di perbatasan tahun lalu telah muncul di dalam Akademi Jiannan! Pemegangnya adalah seorang pemuda berjubah hitam bernama Zeng Niu. Leluhur, kita harus segera bertindak sebelum Tetua Jiannan menyegel pusaka itu!
Di sisi lain kota, di dalam sebuah kedai arak fana, seorang kultivator pengembara bertubuh kurus kering tiba-tiba terbatuk hebat, memuntahkan darah hitam ke atas meja. Ia adalah mata-mata dari Sekte Iblis Darah.
Sebagai kultivator beraliran sesat, fluktuasi Petir Penghakiman Langit yang sangat murni dari arah akademi bereaksi keras dengan Qi iblis di dalam tubuhnya, memberikan tekanan yang membuatnya nyaris pingsan.
S-Sialan... Niat Petir dewa... batin kultivator kurus itu sambil menyeringai dengan gigi berlumuran darah.
Ia dengan cepat menggigit ujung jarinya sendiri dan menggambar sebuah formasi darah kecil di bawah meja. Dari dalam genangan darahnya, terbentuklah seekor Kelelawar Darah Ilusi yang sangat kecil.
"Pergi ke Jurang Selatan," bisiknya dengan suara serak. "Sampaikan pada Penguasa Iblis Darah. Anak yang mencuri pedang petir di kawah hari itu telah kembali ke Akademi Jiannan. Jika sekte kita bisa merampasnya, Petir Penghakiman itu bisa digunakan untuk mematahkan Segel Langit di Benua Iblis!"
Kelelawar darah itu mengepakkan sayapnya dan meleleh menjadi kabut merah, menghilang seketika.
Dunia kultivasi di Sembilan Benua yang selama ini berada dalam keseimbangan rapuh, kini bagaikan tong mesiu yang baru saja dilempari percikan api. Dan Zeng Niu, adalah pemegang korek apinya.
Kembali ke pelataran Paviliun Pedang Bayangan.
Angin yang bertiup tidak lagi terasa dingin, melainkan dipenuhi oleh listrik statis yang membuat rambut berdiri.
Tiga Tetua Penegak Hukum berjubah merah darah itu perlahan bangkit dari tanah, wajah mereka yang tadinya arogan kini dipenuhi keringat dan keraguan. Di belakang mereka, puluhan murid penegak hukum telah mundur puluhan langkah, tak berani menatap langsung ke arah pedang ungu di tangan Zeng Niu.
Tetua Mo Yin, Bao Tu, dan Lin Xiaoyu berdiri mematung di teras kayu. Rahang Mo Yin mengeras. Ia memang tahu Zeng Niu sangat berbakat, namun senjata yang dipegang muridnya saat ini memancarkan aura yang bahkan bisa mengancam nyawa Golden Core!
"Jangan takut! Dia hanya mengandalkan artefak pinjaman!" teriak Tetua Penegak Hukum yang berada di tengah, mencoba menyelamatkan harga dirinya. Ia memutar Inti Emasnya, memaksakan Qi-nya keluar untuk menahan tekanan petir. "Bocah Tahap Foundation Establishment Awal tidak akan bisa mempertahankan pusaka tingkat dewa lebih dari sepuluh napas! Serang bersama, seret dia ke Penjara Es!"
Tiga Tetua itu secara serentak menghunus pedang mereka, memicu teknik kombinasi dari Aula Penegak Hukum: Jaring Darah Pengunci Jiwa. Tiga jaring energi berwarna merah pekat melesat dari tiga arah berbeda, bertujuan untuk mengikat Dantian Zeng Niu.
Zeng Niu menatap serangan itu dengan seringai algojo yang kejam.
Di dalam kepalanya, Lei Ling tertawa meremehkan. "Jaring fana rendahan! Potong mereka, Niu!"
"Kalian terlalu lambat, dan terlalu lemah," ucap Zeng Niu datar.
Zeng Niu mengangkat Pedang Petir Dewa dengan satu tangan. Ia tidak mundur, tidak menghindar. Ia hanya mengayunkan pedang kristal ungu itu secara horizontal, menyapu udara di depannya.
[Petir Penghakiman!]
ZRAAAAAASH! BZZZZT!
Sebuah gelombang petir ungu berbentuk bulan sabit raksasa melesat keluar dari mata pedang.
Saat gelombang petir itu menyentuh Jaring Darah Pengunci Jiwa, jaring energi tingkat Golden Core itu sama sekali tidak memberikan perlawanan. Mereka menguap menjadi asap dalam sekejap mata, layaknya salju yang dilempar ke dalam kawah gunung berapi!
"Mustahil!" jerit ketiga Tetua serentak.
Gelombang sabit petir itu tidak berhenti. Ia terus melaju dengan kecepatan kilat ke arah tiga Tetua tersebut. Merasakan ancaman kematian yang absolut, mereka bertiga panik dan secara serentak mengeluarkan artefak penyelamat nyawa mereka: perisai spiritual, cermin giok penangkal, dan lonceng perunggu emas.
BLAAAAAAAAR!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh area Puncak Bayangan. Cahaya ungu membutakan pandangan semua orang.
Saat debu dan cahaya mereda, pemandangan yang tersisa membuat nyali para murid penegak hukum hancur berkeping-keping.
Tiga Tetua Golden Core Awal itu terkapar di tanah, menyemburkan darah segar. Ketiga artefak penyelamat nyawa mereka hancur lebur menjadi debu. Jubah merah mereka hangus terbakar, dan tubuh mereka berasap, lumpuh sepenuhnya oleh aliran petir hukuman yang menyengat meridian mereka.
Satu serangan biasa. Hanya satu ayunan pedang! Tiga ahli Golden Core takluk di bawah kaki seorang pemuda Foundation Establishment Awal!
Zeng Niu berjalan menuruni tangga teras kayu perlahan-lahan. Ujung Pedang Petir Dewa menyentuh tanah batu, meninggalkan jejak hangus yang dalam di setiap langkahnya. Ia berhenti tepat di depan pemimpin Tetua Penegak Hukum yang sedang terbatuk darah.
Zeng Niu mengangkat kaki kanannya dan menginjak dada Tetua itu dengan kuat, membuat pria tua itu menjerit tertahan.
"Kalian hanyalah anjing utusan," ucap Zeng Niu serak, matanya menatap tajam bagaikan penguasa dewa maut. Niat Membunuh yang dipelajarinya dari kawah Makam Asura menyelimuti tubuh para Tetua, membuat mereka tidak berani bernapas.
Zeng Niu menyandarkan pedang ungunya ke leher Tetua tersebut. Kilatnya menghanguskan kulit lehernya.
"Kembalilah ke majikan kalian yang bersembunyi di balik meja," bisik Zeng Niu dingin. "Beri tahu Tetua Agung Gui Huan. Jika dia ingin mengambil Dantianku, suruh dia datang sendiri ke hadapanku. Dan suruh dia mencuci lehernya bersih-bersih."
Mendengar provokasi arogan yang menantang Wakil Kepala Akademi secara langsung, para Tetua dan murid penegak hukum hanya bisa menggigil dalam diam.