Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Terlalu Tenang
Pagi di mansion datang dengan tenang. Suara burung terdengar samar dari luar jendela.
Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela-jendela tinggi ruang makan personal keluarga utama. Bias keemasannya jatuh di atas meja kayu panjang berukuran sedang pada tengah ruangan.
Aroma roti panggang dengan cinnamon butter memenuhi udara, bercampur samar dengan wangi kastanye panggang yang baru diangkat dari tungku kecil.
Dan di tengah suasana pagi yang nyaman itu—
Lilly duduk sambil menahan kantuk kecilnya.
Cardigan tipis berwarna krem melapisi gaun rumah sederhananya. Rambut panjangnya belum ditata sempurna, hanya dijepit seadanya ke belakang.
Di depannya, secangkir teh hitam hangat mulai mendingin perlahan.
Sementara beberapa lembar jadwal masih terbuka di sisi meja. Beberapa buku masih tertutup rapat.
Noah yang duduk di seberangnya memperhatikan hal tersebut beberapa detik.
“Kau tidak tidur lagi semalam.”
Lilly langsung mengangkat wajah.
“Saya tidur cukup.”
“Kau sudah hampir tertidur beberapa kali.”
“Itu berbeda.”
Nada datar Noah membuat Lilly mendengus kecil.
Pria itu kembali menyeruput cangkir tehnya pelan tanpa mengubah ekspresi.
Tatapan Lilly kemudian jatuh pada mangkuk kecil kastanye panggang di tengah meja. Tangan gadis itu perlahan mengambil satu sebelum mulai membuka kulitnya pelan.
Noah melirik sekilas.
“Kau menyukainya?”
“Tentu," ucapnya sembari menunjukkan kastanye.
"Karena ini memang enak.”
Lilly menggigit kastanye hangat itu kecil sebelum menghela napas puas samar.
Ekspresinya yang jauh lebih hidup dibanding biasanya membuat Noah terdiam beberapa detik.
Lilly kembali mengambil kastanye panggang lain sebelum mendorong mangkuk kecil itu sedikit ke arah Noah.
“Coba.”
Noah menatapnya beberapa saat.
Lalu tanpa banyak bicara, pria itu benar-benar mengambil satu.
Beberapa detik kemudian—
Morgan yang baru masuk ke ruangan langsung membeku samar.
Karena Putra Mahkota sedang duduk santai di ruang makan sudut sambil memegang kastanye panggang di tangannya.
Bahkan Lilly langsung menahan tawanya kecil karena melihat ekspresi Morgan.
Sementara Noah—
tetap terlihat tenang seolah tidak ada yang aneh.
Morgan buru-buru menundukkan kepala lebih dalam.
“…Maaf mengganggu, Yang Mulia.”
Noah meletakkan kastanye dari tangannya perlahan.
“Ada apa?”
Morgan melangkah mendekat sambil membawa beberapa surat kabar pagi dan sebuah tablet tipis di tangannya.
“Berita gala amal kemarin telah menyebar cukup besar, Yang Mulia.”
Tatapannya sempat memandang sekilas pada Lilly sebelum kembali menunduk hormat.
“Bahkan media sosial mulai ramai membicarakan Lady Lillyane.”
Lilly yang sejak tadi memegang kastanye panggang langsung berkedip pelan.
“…Media sosial?”
Morgan menganggukkan kepala kecil.
“Nama Lady Lillyane saat ini menjadi pencarian paling hangat sejak pagi.”
Suasana ruang makan itu perlahan berubah sunyi.
Noah menerima surat kabar dari tangan Morgan tanpa banyak bicara. Headline besar memenuhi hampir separuh halaman depan.
Foto Lilly saat berada di gala amal terpampang jelas di sana.
Hanya sebuah foto sederhana ketika ia sedang membagikan makanan pada para lansia dengan senyum kecil di wajahnya. Ekspresi Lilly goyah samar.
“Kenapa mereka memakai foto itu…”
Morgan menjawab hati-hati,
“Karena itu foto yang paling banyak dibicarakan publik, Lady.”
Tatapan Noah turun sekilas pada layar tablet yang masih dipegang Morgan.
Ratusan artikel.
Potongan video.
Dan komentar yang terus bergerak cepat.
— “Lady Lillyane terlihat sangat hangat.”
— “Akhirnya keluarga kerajaan memiliki calon Putri Mahkota yang benar-benar dekat dengan rakyat.”
— “Dia jauh lebih sederhana dibanding yang kubayangkan.”
— “Aku menyukai pasangan mereka.”
Lilly langsung menundukkan wajah sedikit lebih dalam.
Sementara Noah membaca komentar-komentar itu dalam diam.
Karena semakin besar perhatian publik terhadap Lilly—
semakin besar pula tatapan politik yang akan mengarah padanya.
Tak butuh waktu lama, suara notifikasi kembali terdengar dari tablet yang telah Noah kembalikan pada Morgan.
Pria itu sempat melihat layar tersebut beberapa detik sebelum akhirnya berbicara hati-hati.
“Ada pesan baru yang baru saja masuk, Yang Mulia.”
Noah mengangkat pandangannya pelan.
Morgan membaca isi pesan itu singkat.
“Undangan pesta teh di kediaman Tuan Albert.”
Pandangan Morgan bergerak sekilas pada Lilly.
“Untuk Lady Lillyane.”
Lilly tampak sedikit berkedip samar mendengar nama itu.
Sementara Noah tetap diam beberapa detik.
Matanya turun perlahan pada surat kabar di tangannya.
“Cepat sekali.”
Morgan menganggukkan kepala kecil.
“Tampaknya berita gala amal kemarin membuat cukup banyak pihak mulai bergerak.”
Lilly perlahan meletakkan kastanye panggang dari tangannya.
“Pesta teh?”
Morgan kembali membaca detail pesan tersebut.
“Pertemuan informal bangsawan muda dan beberapa sponsor gala amal.”
Nada suaranya tetap tenang.
“Namun nama-nama yang hadir cukup… menarik.”
Tatapan Noah berubah sedikit lebih dingin.
Karena semua orang di ruangan itu tahu—
undangan seperti itu tidak pernah benar-benar sekadar pesta teh.
Morgan kembali melihat daftar nama yang tertera pada undangan digital tersebut sebelum akhirnya berbicara lebih pelan,
“Sebagian besar tamu yang hadir berasal dari pihak oposisi dewan barat.”
Suasana ruang makan langsung terasa sedikit lebih dingin.
Lilly yang sejak tadi diam perlahan mengangkat pandangannya.
Morgan melanjutkan dengan hati-hati,
“Beberapa di antara mereka sebelumnya cukup terbuka menolak pertunangan Yang Mulia.”
Noah tetap terlihat tenang.
“Mereka ingin melihat Lady Lillyane secara langsung,” lanjutnya pelan.
Keheningan singkat muncul sebelum akhirnya ia menyelesaikan kalimatnya.
“Dan kemungkinan besar… mencari celah untuk mencari kesalahan.”
Lilly terdiam beberapa detik.
Mata hazelnya turun perlahan pada cangkir teh di depannya.
Uap hangat masih bergerak pelan dari permukaan teh hitam tersebut.
Beberapa menit lalu, suasana ruang makan itu masih terasa nyaman.
Dan sekarang—
politik ikut duduk bersama sarapan mereka.
Noah menatap Lilly dengan pandangan tak terbaca.
“Balas undangannya.”
Morgan sedikit mengangkat pandangan.
“Yang Mulia?”
Noah mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar ruang makan.
Tak ada emosi yang dapat dibaca pada wajahnya.
“Lady Lillyane akan hadir.”
Tatapan Lilly langsung bergerak padanya.
Noah tidak sedang melemparkannya ke tengah oposisi.
Ia hanya ingin mereka melihat sendiri—
siapa wanita yang dipilih Putra Mahkota.
Sementara itu—
berbeda dengan hangatnya suasana pagi di mansion, kediaman Albert terasa jauh lebih dingin.
Cahaya matahari musim gugur masuk melalui jendela tinggi ruang kerjanya. Biasnya jatuh di atas meja kayu gelap yang dipenuhi dokumen dan surat kabar pagi.
Beberapa headline besar masih terbuka di sana.
Nama Lady Lillyane memenuhi hampir seluruh halaman utama.
Albert berdiri di dekat jendela sambil membaca salah satunya dalam diam.
Ia membaca satu artikel ke artikel lainnya.
Tentang gala amal.
Tentang perhatian publik.
Tentang calon Putri Mahkota baru yang mulai dicintai rakyat.
Suara langkah kaki asistennya terdengar mendekat pelan.
“Tuan Albert.”
Pria itu berhenti beberapa langkah dari meja kerja sebelum membungkukkan badan hormat.
“Undangan pesta teh telah dikirim ke mansion Kerajaan.”
Albert tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada foto Lilly di halaman depan surat kabar.
Foto ketika gadis itu membagikan makanan pada para lansia dengan senyum kecil di wajahnya.
Sederhana.
Namun justru karena itu terasa berbahaya.
“Dan?”
“Asisten Putra Mahkota telah mengonfirmasi kehadiran Lady Lillyane.”
Keheningan kecil memenuhi ruangan.
Albert akhirnya meletakkan surat kabar di tangannya perlahan.
Mata gelap pria itu bergerak ke arah jendela besar di sampingnya.
Vardoria benar-benar bergerak terlalu cepat.
Awalnya hanya skandal pertunangan.
Lalu ballroom.
Gala amal.
Dan sekarang—
simpati publik mulai condong sepenuhnya pada Lillyane.
Albert tahu bagaimana dunia politik bekerja.
Semakin tinggi seseorang diangkat publik, semakin keras pula mereka menjatuhkannya.
Dan pesta teh itu—
adalah langkah pertamanya.
Untuk mengujinya—
apakah ia pantas menjadi Putri Mahkota.
Atau hanya cerita Cinderella sesaat yang sedang disukai rakyat.
Albert kembali terdiam cukup lama setelah asistennya pergi meninggalkan ruang kerja.
Keheningan pagi memenuhi ruangan besar itu.
Hanya suara samar jam dinding tua.
Tatapannya kembali jatuh pada foto Lilly di halaman depan surat kabar.
Bahkan publik mulai memandangnya seolah ia memang terlahir untuk keluarga kerajaan.
Opini publik bergerak ke arahnya—seolah Lillyane adalah anugerah bagi istana sendiri.
Tanpa banyak ekspresi, pria itu berjalan menuju jendela besar di sisi ruang kerjanya.
Ibu kota yang tampak berjalan normal.
Namun dunia politik sedang menghadapi perpecahan.
Dan semakin besar perhatian publik terhadap Lady Lillyane—
semakin besar pula para bangsawan akan menunggunya melakukan kesalahan pertama.
“Kalau begitu…”
Suara rendahnya memecah keheningan ruangan.
“…mari kita lihat bagaimana dia bisa bertahan."
Sementara jauh di sisi lain ibu kota—
di mansion tengah hutan pinus itu, aroma cinnamon butter, kastanye panggang dan teh hangat masih memenuhi ruang makan kecil mereka.