Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 tirai darah di arena bintang dan teror pedang ilusi
Matahari tepat berada di puncaknya, menyinari kemegahan **Stadion Bintang Jatuh** dengan cahaya keemasan yang terik. Namun, bagi ratusan ribu penonton yang memadati tribun batu giok putih, udara di dalam arena terasa sebeku es di puncak pegunungan utara. Mayat tiga puluh petarung elit kekaisaran tergelimpang dalam posisi yang melanggar hukum anatomi manusia, darah mereka menggenang membentuk kolam merah di atas lantai logam penahan kejut.
Di tengah-tengah neraka kecil itu, Yan Xinghe berdiri dengan keanggunan yang mematikan. **Bilah Awan Perak** di tangannya memantulkan sinar matahari, berkilau bersih tanpa setetes pun noda darah. Penampilannya layaknya seorang cendekiawan muda yang sedang menikmati pemandangan musim semi, sangat kontras dengan pembantaian brutal yang baru saja ia ciptakan hanya dengan satu ayunan pedang.
Di balkon VVIP tertinggi, Kaisar Naga Langit, Long Yan, mencondongkan tubuhnya ke depan. Mata sang penguasa yang berada di **Alam Transformasi Roh** menyipit tajam, mencoba menguliti rahasia pemuda berpakaian hitam di bawah sana.
"Menarik," suara Kaisar Long Yan bergema pelan namun sarat akan tekanan transenden, membuat para menteri di belakangnya menahan napas. "Tebasan memutar itu... sama sekali tidak menggunakan fluktuasi energi Dantian yang masif. Pedang perak yang terlihat ringan itu memancarkan daya hancur fisik yang tidak masuk akal. Apakah itu artefak ilusi?"
Di kursi kehormatan tepat di sebelah kanan sang Kaisar, Tuan Muda Gongsun Zhi dari Tanah Suci Gerbang Langit Abadi mencengkeram sandaran kursinya erat-erat. Lengan prostetiknya yang terbuat dari *Giok Teratai Roh* mengeluarkan bunyi mendengung pelan, bereaksi terhadap fluktuasi emosi pemiliknya yang tidak stabil. Jantung Gongsun Zhi berdetak lebih cepat. Gaya bertarung yang mengandalkan kebrutalan fisik murni itu mengingatkannya pada iblis yang memotong lengan aslinya di Pegunungan Jurang Bintang.
"Lin Xing..." Gongsun Zhi mendesis pelan, sepasang matanya yang feminin memancarkan kebencian murni. "Kau sangat mirip dengan seseorang yang sedang kuburu. Jika kau benar-benar dia yang menyamar di balik pedang tipis itu... aku akan memastikan kau memohon kematian di atas panggung ini."
### **Kamar Gading dan Aliansi Kelicikan**
Di dalam ruang istirahat VVIP yang terbuat dari gading gajah spiritual, Pangeran Ketiga Long Tian menghancurkan meja pualam di depannya menggunakan satu tendangan keras. Napasnya memburu kacau, wajahnya memerah padam menahan penghinaan yang membakar harga dirinya. Tiga puluh petarung bayaran elitnya, yang ia latih menggunakan sumber daya kekaisaran selama bertahun-tahun, disapu bersih seperti tumpukan sampah.
"Komandan Zhao!" raung Long Tian, menatap komandan pasukannya yang berlutut gemetar di lantai. "Bocah rendahan itu mempermalukanku di depan seluruh faksi benua! Cari tahu siapa yang akan menjadi lawannya di babak utama nanti! Aku akan menyuap panitia untuk menempatkan petarung terkuat kita di bloknya!"
Sebelum Komandan Zhao sempat menjawab, pintu kamar gading itu bergeser terbuka. Gongsun Zhi melangkah masuk tanpa diundang, dikawal oleh dua tetua baru dari Tanah Suci yang memancarkan aura **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Puncak**.
"Tidak perlu repot-repot menyuap panitia rendahan, Yang Mulia Pangeran Ketiga," ucap Gongsun Zhi dengan nada meremehkan yang tidak ditutup-tutupi. Ia berjalan menghampiri sisa-sisa meja yang hancur, menatap Long Tian dengan pandangan menilai. "Aku yang memegang otoritas pengawas turnamen ini. Aku bisa mengatur siapa yang akan dihadapi oleh anjing liar bernama Lin Xing itu."
Long Tian menahan amarahnya melihat keangkuhan Gongsun Zhi. Bagaimanapun juga, pria di depannya ini adalah pewaris Tanah Suci yang posisinya jauh lebih tinggi dari seorang pangeran fana. "Tuan Muda Gongsun... apa tujuan Anda datang kemari? Apakah Anda juga merasa terganggu oleh eksistensi tikus bawah tanah itu?"
"Tikus itu mungkin adalah naga beracun yang sedang menyamar," Gongsun Zhi mengangkat lengan prostetik gioknya. "Aku memiliki kecurigaan bahwa Lin Xing adalah Yan Xinghe, buronan utama Tanah Suciku. Jika tebakanku benar, kau tidak memiliki satu pun pion yang cukup kuat untuk melukainya. Dia telah mencapai ranah Inti Mistik yang sangat padat, dan pemahaman bela dirinya berada di luar nalar manusia."
"Lalu apa rencanamu?" Long Tian menyipitkan mata.
"Aku akan menempatkan **Kuang Shan** sebagai lawan pertamanya di babak kualifikasi utama siang ini," Gongsun Zhi tersenyum licik.
Mendengar nama itu, Komandan Zhao yang berlutut di lantai terkesiap. Kuang Shan, yang dijuluki *Gunung Besi Gila*, adalah gladiator nomor satu di arena bawah tanah ibukota yang telah dibeli oleh Tanah Suci. Pria raksasa itu berada di **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Kedelapan**, terkenal dengan gaya bertarungnya yang luar biasa brutal menggunakan sepasang palu godam raksasa.
"Kuang Shan akan menghancurkan tulang-tulangnya," lanjut Gongsun Zhi. "Jika Lin Xing adalah praktisi pedang tipis biasa, dia akan mati menjadi pasta daging di bawah palu Kuang Shan. Tapi jika dia adalah Yan Xinghe yang menyamar... dia akan terpaksa mengeluarkan kekuatan aslinya untuk bertahan hidup. Dan saat identitasnya terbongkar, seluruh tetua pelindung Tanah Suci yang bersembunyi di stadion ini akan turun untuk mengeksekusinya di tempat."
Long Tian tertawa kejam, mengangguk setuju. "Rencana yang sempurna. Mari kita lihat seberapa lama dia bisa menari dengan pedang tipisnya itu."
### **Undian Kematian dan Keheningan Sang Kaisar**
Di ruang tunggu peserta yang terletak di bawah tanah stadion, seratus petarung yang berhasil lolos dari babak *Battle Royale* sedang memulihkan tenaga mereka. Suasana di ruangan itu dipenuhi oleh bau keringat, darah, dan aura membunuh yang kental.
Yan Xinghe duduk bersila di sudut ruangan yang paling gelap. Tidak ada satu pun peserta yang berani duduk di radius sepuluh meter darinya. Tragedi di Blok 4 telah menyebar dari mulut ke mulut, menempatkan Xinghe sebagai sosok anomali yang harus dihindari dengan segala cara.
Ye Ling'er menyelinap masuk melalui jalur khusus staf, wajahnya terlihat pucat. Ia menghampiri Xinghe dan menyerahkan sebuah gulungan perkamen kecil.
"Penatua Yan," bisik Ye Ling'er dengan nada mendesak. "Jadwal babak utama baru saja dirilis. Seseorang di jajaran panitia pusat secara terang-terangan memanipulasi undianmu. Lawan pertamamu di pertandingan pembuka siang ini adalah Kuang Shan."
Xinghe perlahan membuka matanya. Kilatan emas-ungu berpendar di pupil matanya sebelum kembali tenang. "Kuang Shan? Nama yang terdengar seperti tumpukan batu."
"Dia bukan tumpukan batu biasa, dia adalah monster fisik!" Ye Ling'er menjelaskan dengan panik. "Dia berada di Inti Mistik Tingkat Kedelapan! Senjatanya adalah sepasang palu yang disebut *Palu Penghancur Bintang*, masing-masing memiliki berat dua ribu kati! Dia didukung oleh Tanah Suci. Ini adalah jebakan untuk menguji kekuatan fisik aslimu dan membongkar identitasmu!"
Xinghe menerima perkamen itu, membacanya sekilas, lalu membakarnya menggunakan setitik percikan api dari ujung jarinya.
"Ling'er, apakah kau tahu apa yang terjadi ketika sebuah batu fana mencoba membentur meteorit kosmik?" tanya Xinghe datar.
Ye Ling'er terdiam, tidak mampu menjawab.
"Batu itu tidak hanya akan hancur," Xinghe bangkit berdiri, tangannya dengan santai menyentuh gagang *Bilah Awan Perak* di pinggangnya. "Batu itu akan menyadari betapa tidak berartinya eksistensinya sebelum ia menjadi debu. Biarkan Gongsun Zhi mengujiku. Aku akan menggunakan bidak raksasanya itu untuk memberikan salam pembuka yang tidak akan pernah ia lupakan."
### **Hantaman Ilusi Sang Awan Perak**
Lonceng perunggu raksasa berdentang tiga kali. Matahari telah bergeser ke arah barat, namun antusiasme ratusan ribu penonton di Stadion Bintang Jatuh justru mencapai titik didihnya. Babak penyisihan utama dimulai.
"Pertandingan Pembuka Babak 100 Besar!" teriak pembawa acara melalui formasi pengeras suara yang menggema ke seluruh penjuru langit. "Di sudut timur, Sang Gunung Besi Gila dari faksi bayangan... **Kuang Shan**! Dan di sudut barat, petarung independen yang menyapu bersih Blok 4... **Lin Xing**!"
Sorak-sorai penonton meledak bagai guruh.
Dari pintu gerbang timur, tanah arena bergetar hebat. Sesosok raksasa setinggi dua setengah meter melangkah masuk. Kuang Shan tidak mengenakan zirah, hanya celana kulit binatang yang memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang menonjol seperti bongkahan batu granit. Kulitnya memancarkan warna perunggu gelap, bukti penguasaan teknik pertahanan fisik tingkat tinggi. Di kedua tangannya, ia memanggul sepasang palu godam raksasa yang permukaannya dipenuhi paku-paku baja.
Setiap kali Kuang Shan melangkah, lantai logam di bawahnya berderit menahan berat tubuh dan senjatanya. Tekanan aura dari **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Kedelapan** meledak keluar dari tubuhnya, menciptakan pusaran angin yang mencekik udara di sekitarnya.
Di sisi lain, dari gerbang barat, Yan Xinghe berjalan keluar dengan ritme yang lambat dan elegan. Jubah hitam ringkasnya berkibar tertiup angin arena. Di pinggangnya, pedang *Bilah Awan Perak* yang tipis dan ramping tampak seperti mainan rapuh jika dibandingkan dengan senjata raksasa milik Kuang Shan.
Penonton mulai berbisik-bisik, beberapa bahkan tertawa meremehkan.
"Pedang tipis melawan sepasang godam raksasa? Pemuda itu tidak akan selamat dari satu benturan!"
"Dia mengandalkan kecepatan di kualifikasi, tapi arena utama ini dibatasi oleh formasi. Kuang Shan akan meremukkannya ke sudut!"
Di balkon VVIP, Gongsun Zhi mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya tak berkedip menatap Xinghe. *Buka penyamaranmu, Yan Xinghe. Tunjukkan balok hitammu itu!*
Di tengah arena, wasit kekaisaran yang melayang di udara mengangkat tangannya. "Mulai!"
Kuang Shan tidak membuang waktu. Ia meraung buas, suaranya menyerupai auman beruang purba. Otot-otot kakinya menegang, meretakkan lantai arena saat ia melompat setinggi sepuluh meter ke udara.
**"Seni Palu Penghancur Bintang: Hantaman Meteor Kembar!"**
Raksasa itu menukik turun dengan kecepatan mengerikan. Kedua palu godamnya yang memancarkan aura elemen tanah kuning keemasan diarahkan langsung untuk menghancurkan kepala Xinghe. Tekanan angin yang dihasilkan dari serangan itu menekan lantai arena hingga melengkung ke dalam sebelum palu itu bahkan mendarat. Daya hancurnya sanggup menghancurkan dinding pertahanan kota tingkat provinsi.
Xinghe berdiri tepat di bawah bayangan maut tersebut. Ia tidak mendongak, tidak menunjukkan kepanikan, dan sama sekali tidak melangkah mundur untuk menghindar.
Tangan kanannya dengan santai mencabut *Bilah Awan Perak* dari sarungnya. Kilauan perak dari pedang tipis itu memantulkan sinar matahari sore. Xinghe hanya mengangkat pedang itu ke atas kepala dengan menggunakan satu tangan, memegangnya secara horizontal untuk memblokir hantaman kedua palu raksasa tersebut.
Penonton menahan napas. Mereka meyakini bahwa pedang tipis itu akan patah menjadi dua, diikuti oleh tubuh pemuda itu yang akan hancur menjadi pasta daging.
*TENGGGGGGG!!!*
Bukan suara daging yang hancur. Bukan pula suara pedang yang patah. Yang terdengar adalah bunyi benturan logam yang luar biasa memekakkan telinga, frekuensinya begitu tajam hingga lapisan formasi perisai transparan yang melindungi tribun penonton beriak hebat layaknya permukaan air yang dilempar batu besar.
Di tengah arena, waktu seolah membeku.
Kuang Shan membelalakkan matanya yang seukuran bola tenis. Mulutnya terbuka lebar menampilkan kengerian absolut yang tidak dapat diproses oleh otak fananya.
Kedua palu godam raksasanya, yang masing-masing seberat dua ribu kati dan didukung oleh energi Inti Mistik Tingkat Kedelapan, tertahan kaku di udara. Palu-palu itu membentur bilah pedang tipis berwarna perak milik Xinghe.
Namun, pedang tipis itu tidak bengkok sedikit pun. Lengan kanan Xinghe yang menopangnya bahkan tidak bergetar satu milimeter pun. Pemuda berjubah hitam itu menahan beban penghancur gunung menggunakan satu tangan dengan postur tubuh yang tegak lurus sempurna.
"S-Sengketa hukum fisika macam apa ini?!" Kuang Shan tergagap, keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri wajah perunggunya. Ia mencoba menekan lebih kuat, namun pedang "tipis" di bawahnya terasa memiliki kepadatan massa yang jauh lebih berat dari gabungan kedua palunya.
"Kau mengandalkan massa dari senjata besimu," suara Xinghe mengalun tenang dari bawah, sedingin es abadi yang tak tersentuh matahari. Mata gelapnya menatap tajam menembus jiwa Kuang Shan. "Namun kau melupakan, di hadapan gravitasi kosmik yang sesungguhnya... besi fanamu tidak lebih padat dari seonggok lumpur kering."
Xinghe memutar pergelangan tangan kanannya dengan sentakan yang sangat pendek.
**"Seni Pedang Berat Penakluk Semesta: Pantulan Patahan Poros!"**
Tidak ada ledakan energi Dantian yang terlihat. Xinghe murni menggunakan berat asli dari *Meteorit Bintang Kegelapan* seberat lima ribu kati yang tersembunyi di balik ilusi pedang tipisnya, dipadukan dengan transfer momentum sentrifugal.
*KRAAAAK! PRANG!*
Dua palu godam raksasa kebanggaan Kuang Shan hancur berkeping-keping layaknya kaca rapuh. Serpihan baja beterbangan ke segala arah. Gelombang tenaga balasan mekanik yang luar biasa besar merambat naik dari sisa gagang palu, menghantam langsung kedua lengan raksasa Kuang Shan.
"AAAAARGHHH!"
Kuang Shan menjerit histeris. Seluruh tulang di kedua lengan raksasanya remuk menjadi bubuk di dalam kulit perunggunya. Otot-ototnya meledak menyemburkan darah segar. Tubuh raksasa seberat ratusan kilogram itu terhempas ke belakang, melayang di udara kehilangan kendali.
Xinghe tidak membiarkan buruannya lolos begitu saja. Ia melangkah maju satu langkah, menggunakan teknik *Langkah Bayangan Hantu*. Tubuhnya menghilang dan seketika muncul tepat di atas Kuang Shan yang sedang melayang jatuh.
Xinghe memutar *Bilah Awan Perak* miliknya ke bawah, lalu menghantamkan bagian sisi datar pedang tipis itu tepat ke arah dada Kuang Shan.
*BUMMM!*
Seluruh tulang rusuk Kuang Shan amblas ke dalam. Zirah kulit perunggunya yang diklaim kebal senjata tajam tidak memiliki arti apa-apa di hadapan benturan massa absolut. Tubuh raksasa itu menghantam lantai logam arena dengan kecepatan ledakan, menciptakan kawah sedalam satu meter yang merusak susunan formasi anti-kejut stadion.
Kuang Shan terkapar di dasar kawah, memuntahkan air mancur darah bercampur potongan organ dalam. Inti Mistik di dalam Dantiannya retak dan hancur seketika akibat getaran frekuensi mikro yang disalurkan oleh pedang Xinghe. Monster gladiator bayaran Tanah Suci itu tewas mengenaskan, mata mendelik lebar menatap langit sore, tidak pernah memahami bagaimana sebilah pedang yang begitu ringan sanggup meremukkannya seperti serangga.
### **Bayangan Sang Kaisar Menyapa**
Keheningan mutlak kembali mencengkeram Stadion Bintang Jatuh. Ratusan ribu penonton, para ksatria kekaisaran, bahkan wasit di udara, mematung kaku. Rahang mereka seolah copot melihat tontonan tersebut.
Seorang petarung independen berpedang tipis, baru saja meremukkan master Inti Mistik Tingkat Kedelapan yang menggunakan godam raksasa, murni dalam adu benturan kekuatan fisik! Logika bela diri dunia fana ini baru saja dirobek dan dibuang ke tempat sampah.
Di balkon VVIP, Kaisar Naga Langit mencengkeram lengan singgasananya. "Bukan pedang ringan... senjata itu memiliki massa yang ditutupi oleh ilusi tingkat tinggi! Pemuda ini bukan praktisi biasa!"
Namun, reaksi yang paling dramatis terjadi di kursi Tanah Suci.
Gongsun Zhi berdiri dengan tubuh bergetar hebat. Wajahnya sepucat mayat. Lengan prostetik gioknya mengeluarkan suara retakan halus karena ia tanpa sadar menyalurkan energi kepanikannya terlalu besar.
Meskipun senjatanya terlihat berbeda, cara bertarungnya, kebrutalan absolutnya, ketenangannya saat membantai... itu adalah mimpi buruk yang sama.
"I-Itu dia..." Gongsun Zhi menggumam dengan suara gemetar, mundur selangkah hingga menabrak kursi di belakangnya. "Itu pasti dia! Yan Xinghe! Dia menutupi pedang balok logamnya dengan batu ilusi kosmik!"
Di tengah arena yang sunyi, Yan Xinghe berdiri dengan tegak di tepi kawah. Ia dengan perlahan mengibaskan sisa debu dari *Bilah Awan Perak* miliknya.
Lalu, di bawah tatapan ratusan ribu mata, Xinghe mendongak. Ia tidak menatap wasit, tidak menatap penonton, melainkan menatap lurus ke arah balkon VVIP tertinggi. Mata gelapnya terkunci tepat pada wajah Gongsun Zhi yang pucat pasi.
Xinghe mengangkat pedang peraknya perlahan, dan mengarahkan ujungnya tepat ke arah Tuan Muda Tanah Suci tersebut. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun, sebuah seutas senyum tirani, sedingin jurang es abadi, mekar di bibir pucatnya.
Itu adalah sapaan seorang Kaisar. Sebuah janji tanpa suara bahwa eksekusi penutup telah dijadwalkan, dan tidak ada dewa atau kaisar fana di dunia ini yang sanggup menghentikannya.
Badai di Ibukota Kekaisaran Naga Langit tidak lagi mengintai dari balik bayangan. Ia telah melangkah ke tengah panggung, siap membasuh seluruh arena ini dengan darah kesombongan mereka.