Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar dari Tebing
Empat hari berlalu seperti air yang mengalir tenang menuju muara.
Xiao Ba menghabiskan setiap pagi dengan bergerak di antara celah-celah Tebing Tujuh Roh yang sudah ia hapal seperti peta yang terukir di dalam benaknya, menstabilkan alam Prajurit Surgawi Tingkat 1 yang baru ia capai dengan cara yang paling alami, membiarkan tubuhnya beradaptasi secara bertahap dengan cara kerja Qi yang berbeda di level ini.
Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang dipaksakan.
Seperti tanaman yang baru saja dipindahkan ke tanah yang lebih subur, yang dibutuhkan bukan tekanan untuk tumbuh lebih cepat, melainkan waktu dan kondisi yang tepat untuk akar-akarnya menyesuaikan diri.
Pada hari kedua dari empat hari terakhir itu, ia melatih Gerakan Kedua Pukulan Naga dengan kombinasi kemampuan baru dari alam Prajurit Surgawi yang memungkinkan manifestasi Qi eksternal. Hasilnya jauh melampaui apa yang pernah ia capai sebelumnya.
Enam proyektil bersamaan, masing-masing dengan kekuatan yang hampir setara dengan Gerakan Pertama yang dulu ia andalkan.
Pada hari ketiga, ia duduk di dalam gua favoritnya menghadap laut dan untuk pertama kalinya secara serius menjelajahi Inti Roh Samudra yang ia temukan di ceruk tersembunyi itu. Dari pengetahuan yang tersimpan di lautan kesadarannya, ia sudah mengetahui cara menggunakannya dengan benar, bukan dengan menelannya begitu saja seperti pil biasa, melainkan dengan meresapkannya melalui meditasi khusus yang memungkinkan energinya diserap secara bertahap dan merata.
Proses itu memakan waktu satu malam penuh.
Dan ketika ia membuka matanya di pagi hari keempat dari lima hari terakhir, kondisi dalamnya sudah berubah secara signifikan.
Prajurit Surgawi Tingkat 2 Menengah.
Lompatan dari Tingkat 1 ke Tingkat 2 Menengah dalam satu malam adalah sesuatu yang bahkan dengan Akar Spiritual Kaisar dan Teknik Kultivasi Kaisar Langit saja tidak bisa ia capai tanpa bantuan Inti Roh Samudra.
Namun, yang lebih ia perhatikan bukan angkanya.
Melainkan kualitas dari Qi yang kini mengalir di dalam meridiannya.
Sebelum menggunakan Inti Roh Samudra, Qi yang ia miliki terasa seperti air sungai yang jernih dan deras. Setelah menggunakannya, Qi itu terasa seperti air dari sumber mata air bawah tanah yang telah disaring oleh lapisan mineral selama ribuan tahun, jauh lebih murni, jauh lebih padat, jauh lebih hidup.
Perbedaan yang tidak terlihat dalam angka, namun sangat terasa dalam praktiknya.
Hari terakhir di dalam kawasan Tebing Tujuh Roh ia habiskan dengan cara yang berbeda dari semua hari sebelumnya.
Tidak berburu. Tidak berlatih teknik. Tidak mengumpulkan kristal.
Ia berjalan.
Berjalan dengan santai melalui kawasan-kawasan yang sudah ia kenal, melewati gua pertama yang ia jadikan tempat beristirahat, melewati ceruk tempat ia menemukan Fu Jingmi yang terluka, melewati platform batu tempat ia menghadapi Penatua Utama Keluarga Yun, melewati puncak Tebing Tujuh tempat ia menembus batas alam.
Bukan untuk nostalgia.
Melainkan untuk menutup satu babak dengan cara yang seharusnya, dengan kesadaran penuh tentang apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah berubah.
Ketika malam terakhir tiba, ia duduk di tepi Tebing Tujuh menghadap ke laut, membiarkan suara ombak mengisi keheningan di sekitarnya.
Sebulan yang sangat panjang.
Sebulan yang di dalamnya ia masuk sebagai seseorang yang dianggap sampah tanpa kemampuan dan akan keluar sebagai sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori yang ada di benak siapa pun di Kota Beira.
Ia tidak terlalu memikirkan reaksi orang-orang yang akan melihatnya keluar.
Yang lebih ia pikirkan adalah langkah-langkah konkret yang sudah tersusun dengan rapi di dalam benaknya, langkah-langkah yang perlu ia ambil segera setelah gerbang kawasan ini dibuka kembali.
Pengkhianat di dalam keluarganya sendiri.
Kerajaan Ying yang tidak akan membiarkan Keluarga Xiao berdiri terlalu lama.
Klan Cakar Hitam yang menjadi perantara.
Dan setelah semua itu selesai, dunia yang jauh lebih luas dari Kota Beira dan Kerajaan Ying sedang menunggu.
Ia memejamkan matanya, membiarkan malam terakhirnya di kawasan ini berlalu dalam ketenangan.
Pagi hari ketika gerbang dibuka, ia sudah berdiri di dekat gerbang utama kawasan Tebing Tujuh Roh, bukan karena ia datang lebih awal dari yang lain, melainkan karena tidak ada yang bisa mencapai tempat itu lebih cepat dari seseorang yang menguasai seluruh medan kawasan ini seperti punggung tangannya sendiri.
Para junior dari berbagai keluarga mulai berkumpul di sekitar gerbang ketika waktu pembukaan semakin dekat. Wajah-wajah yang muncul satu per satu menampilkan berbagai kondisi; ada yang terlihat segar dan puas, ada yang kelelahan namun tetap bersemangat, ada yang menanggung luka dengan ekspresi yang berusaha menyembunyikannya.
Wang Chunying muncul dari arah Tebing Dua bersama sisa kelompoknya. Ia melihat Xiao Ba yang berdiri santai di dekat gerbang dan ekspresinya mengeras sejenak sebelum ia memilih untuk memalingkan pandangannya.
Fu Jingmi dan Fu Haocun muncul bersamaan dari arah Tebing Lima. Fu Jingmi yang melihat Xiao Ba memberi anggukan singkat yang ia balas dengan cara yang sama.
Xiao Tian dan Xiao Xiyun muncul dari arah yang berbeda, berjalan bersama namun dengan jarak antara mereka yang sedikit lebih jauh dari biasanya, seperti dua orang yang habis berbeda pendapat tentang sesuatu namun belum menyelesaikannya.
Xiao Tian melihat Xiao Ba, berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya.
Ekspresi Xiao Tian mengandung sesuatu yang sudah berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi kepuasan dari seseorang yang merasa situasi ada di bawah kendalinya, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan ketidakpastian dari seseorang yang sudah mulai menyadari bahwa papan catur yang ia pikir sudah ia kendalikan mungkin memiliki dimensi yang tidak pernah ia perhitungkan.
Penguasa Kota Beira Hua Menglong berdiri di depan gerbang dengan wajah resminya, dikelilingi oleh beberapa pejabat kota yang akan bertugas menghitung total Kristal Roh Laut yang dikumpulkan masing-masing perwakilan keluarga.
Di belakang gerbang yang belum dibuka, di sisi luar kawasan, para perwakilan keluarga yang tidak ikut masuk sudah berkumpul bersama penonton yang jauh lebih banyak dari ketika pertarungan dimulai sebulan lalu.
Semua orang menunggu momen yang sama.
KRIIIT.
Gerbang batu karang raksasa itu membuka dengan suara yang bergema di antara dinding-dinding tebing di sekitarnya, suara yang terdengar seperti kawasan itu sendiri yang membuka mulutnya setelah menahan napas selama sebulan.
Angin dari luar mengalir masuk, membawa aroma kota dan kehidupan urban yang sudah sebulan tidak mereka rasakan.
Para junior mulai bergerak keluar.
Dan di antara semua wajah yang muncul dari dalam gerbang itu, satu wajah membuat banyak orang di sisi luar berhenti berbicara dan menoleh.
Seorang pemuda dengan jubah putih yang bersih meski sudah sebulan berada di dalam kawasan berbahaya, rambut hitam panjang yang terikat rapi, berjalan keluar dari gerbang dengan langkah yang ringan dan ekspresi yang tidak mengindikasikan apa pun tentang apa yang terjadi di dalam selama sebulan ini.
Bisikan-bisikan mulai terdengar dari kerumunan penonton.
"Itu Tuan Muda Xiao. Dia benar-benar masih hidup."
"Lihat kondisinya, seperti habis jalan-jalan santai saja."
"Aneh. Seseorang tanpa kemampuan kultivasi bisa bertahan sebulan di dalam kawasan itu?"
Xiao Sun yang berdiri di antara para perwakilan keluarga melihat cucunya keluar dari gerbang.
Ekspresi lelaki tua itu berubah dengan cara yang tidak bisa disembunyikan oleh siapa pun yang mengenalnya. Bukan hanya lega, bukan hanya bahagia, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari semua itu.
Seperti seseorang yang baru saja mendapat konfirmasi atas sesuatu yang sudah lama ia yakinkan kepada dirinya sendiri namun belum pernah sepenuhnya bisa ia percaya.
Xiao Ba berjalan ke arah sang kakek, berhenti di depannya.
"Salam, Kakek. Maafkan Xiao Ba sudah membuat Kakek menunggu terlalu lama."
Xiao Sun menatap cucunya dari atas ke bawah dengan cara yang tidak perlu penjelasan.
"Kamu baik-baik saja?" suaranya lebih rendah dari biasanya, ditujukan hanya untuk Xiao Ba.
"Lebih dari baik-baik saja, Kakek."
Xiao Sun mengangguk sekali, pelan, dengan ekspresi yang mengandung terlalu banyak hal untuk bisa dirangkum dalam satu kata.
Di belakang mereka, proses penghitungan Kristal Roh Laut mulai dilakukan oleh para pejabat kota. Masing-masing perwakilan keluarga maju ke depan satu per satu, menyerahkan isi tas penyimpanan mereka untuk dihitung.
Ketika giliran Keluarga Xiao tiba dan Xiao Ba maju ke depan, isi tas penyimpanannya ditumpahkan ke atas meja penghitungan.
Kristal demi kristal.
Terus.
Dan terus.
Sampai pejabat yang bertugas menghitung berhenti beberapa kali untuk memastikan matanya tidak salah membaca angka.
Sampai bisikan-bisikan yang sebelumnya terdengar pelan di antara kerumunan berubah menjadi keributan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Sampai Hua Menglong yang berdiri dengan ekspresi resminya sejak tadi akhirnya mengangkat satu alisnya dengan cara yang sangat halus namun cukup untuk menunjukkan bahwa bahkan seorang Penguasa Kota yang sudah mengawasi banyak pertarungan di tempat ini belum pernah melihat angka seperti yang sedang ia lihat sekarang.
Xiao Tian yang berdiri di antara para junior Keluarga Xiao menatap angka akhir yang diumumkan oleh pejabat penghitung dengan ekspresi yang tidak lagi bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Wang Chunying menutup matanya sebentar, lalu membuka kembali seolah berharap angka itu akan berubah.
Dan Fu Jingmi yang berdiri di antara rombongan Keluarga Fu menatap Xiao Ba yang menerima konfirmasi angka akhir itu dengan ekspresi yang datar dan tenang. Tidak ada senyum kemenangan, tidak ada tatapan menantang ke arah siapa pun, hanya ketenangan yang sama dengan yang ia tampilkan sejak ia keluar dari gerbang tadi.
Ketenangan itu lebih mengatakan banyak hal daripada kata-kata apa pun yang mungkin keluar dari mulutnya.
Penguasa Kota Hua Menglong melangkah maju.
"Setelah penghitungan selesai," suaranya bergema di seluruh area di depan gerbang, "pemenang pertarungan generasi muda Tebing Tujuh Roh tahun ini adalah perwakilan dari Keluarga Xiao, Xiao Ba."
Hening sesaat.
Lalu kerumunan pecah.
Bukan hanya suara sorak-sorai biasa, melainkan campuran dari berbagai reaksi yang sulit dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang bersorak karena taruhan mereka menang. Ada yang berteriak tanya kepada orang di sebelah mereka tentang siapa Xiao Ba. Ada yang diam saja namun dengan ekspresi yang menyimpan lebih banyak dari yang ditampilkan.
Di antara semua keramaian itu, Xiao Sun berdiri dengan punggung yang tegak untuk pertama kalinya dalam waktu yang sudah terlalu lama.
Dan Xiao Ba berdiri di sampingnya, menatap ke arah depan dengan ekspresi yang tidak berubah.
Bukan karena ia tidak merasakan apa pun.
Melainkan karena apa yang ia rasakan saat ini terlalu dalam untuk bisa ditampilkan di permukaan.
pertahankan👌