Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: KUDETA DI BAWAH CAHAYA BULAN
Di tengah badai salju yang mulai mereda di pinggiran Lembah Pembekuan, Axel berdiri diam, memegang sebuah kristal komunikasi segi delapan yang berpendar dengan cahaya biru redup. Kristal itu adalah artefak khusus jalur darurat tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh Kaisar dan Penasihat Agung.
Udara malam yang menusuk tulang seolah tidak dia rasakan. Di belakangnya, Reynarda, Elysia, dan Valeria berdiri dalam formasi protektif, mata mereka terpaku pada kristal yang mulai memancarkan proyeksi suara terdistorsi.
"Axel..." suara Kaisar terdengar parau, diiringi suara benturan logam dan ledakan sihir di latar belakang. "Jika kau menerima pesan ini, jangan kembali ke ibu kota melalui jalur utama. Istana... telah jatuh."
Mata Axel menyipit, tapi ekspresinya tetap setenang danau beku. "Jelaskan, Yang Mulia. Saya baru saja meninggalkan ibu kota kurang dari dua belas jam yang lalu."
Terdengar tawa pahit dari seberang komunikasi. "Mereka bergerak tepat saat kau pergi. Sisa-sisa faksi Gereja dan para bangsawan yang ketakutan akan posisimu telah menyuap Komandan Vane dari Pasukan Penjaga Istana. Mereka menggunakan invasi Zephyr sebagai pengalih perhatian. Saat ini, aku dan beberapa menteri loyalis terkunci di dalam Ruang Pusaka. Pelindung sihir ruangan ini hanya akan bertahan selama satu jam."
"Host," suara AI menyela di dalam pikiran Axel, memproyeksikan cetak biru Istana Kekaisaran yang kini dipenuhi titik-titik merah. "Analisis data mengonfirmasi bahwa 80% dari Pasukan Penjaga Istana telah berbalik arah. Terdapat sekitar 2.000 prajurit pengkhianat yang mengepung Ruang Pusaka. Komandan Vane juga membawa artefak 'Pemecah Segel' dari brankas Gereja. Estimasi waktu pelindung hancur: 45 menit."
"Berapa banyak pasukan yang bisa kita hubungi di ibu kota?" tanya Axel pada Kaisar.
"Jenderal Kaelen sedang berada di perbatasan luar kota, pasukannya diblokir oleh barikade sihir yang dipasang para pengkhianat. Kalian berempat... adalah satu-satunya harapanku." Suara Kaisar terputus oleh suara ledakan keras yang mengguncang proyeksi kristal, sebelum akhirnya komunikasi terputus total menjadi statis.
Axel menyimpan kristal itu kembali ke dalam jubahnya. Ruang di sekitarnya mendadak terasa jauh lebih dingin, tapi kali ini bukan karena cuaca utara, melainkan karena aura membunuh yang menguar dari ketiga wanita di dekatnya.
"Pengkhianatan yang sangat klasik," Valeria mendecih, memutar belatinya dengan kilatan mata merah yang menyala di tengah kegelapan salju. "Berani sekali mereka menyentuh barang milik kita. Kaisar adalah pionmu, Axel. Tidak ada yang boleh menghancurkan pionmu selain dirimu sendiri."
Reynarda mencengkeram gagang pedangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka menodai kehormatan istana di saat kita sedang membersihkan musuh negara. Ini tidak bisa dimaafkan."
Elysia melangkah maju, tongkat sihirnya berpendar dengan energi angin yang menderu pelan. "Axel, jarak dari sini ke ibu kota membutuhkan waktu tiga hari perjalanan kuda, atau lima jam penerbangan sihir maksimal. Kita tidak akan tepat waktu."
"Kita akan tepat waktu," ucap Axel dingin. Dia menoleh ke arah Valeria. "Valeria, berapa batas maksimal dari 'Langkah Abyss' milikmu jika kau harus memindahkan kita berempat sekaligus langsung ke halaman dalam istana?"
Valeria terbelalak sejenak, sebelum menyeringai lebar menampakkan taring kecilnya. "Itu akan menguras 90% manaku, dan mungkin membuatku pingsan selama dua hari. Tapi... untukmu, Pawang, aku akan merobek ruang dan waktu itu sendiri."
"Elysia," perintah Axel tanpa membuang sedetik pun. "Sinkronkan aliran manamu dengan Valeria. Gunakan Mana Transfer tingkat tinggi untuk menyokong energinya selama transisi. Reynarda, bersiaplah. Begitu kita keluar dari bayangan, kita akan langsung berada di tengah-tengah 2.000 pengkhianat. Jangan tahan seranganmu. Malam ini, kita tidak mengambil tahanan."
"Sesuai perintahmu, Axel," jawab mereka serempak.
Elysia meletakkan tangannya di punggung Valeria, mengalirkan energi hijau zamrud murni ke dalam tubuh sang Ratu Dunia Bawah. Valeria tertawa pelan, tawanya terdengar menggema dan tidak manusiawi saat bayangan hitam pekat mulai meluap dari bawah kakinya, menelan mereka berempat dalam pusaran kegelapan mutlak.
Di halaman utama Istana Kekaisaran, bau asap dan darah mengotori udara malam. Komandan Vane, seorang ksatria veteran dengan zirah emas yang ternoda darah rekan-rekannya sendiri, berdiri dengan angkuh di depan pintu perunggu raksasa Ruang Pusaka. Di tangannya, sebuah palu godam yang memancarkan energi anti-sihir terus menghantam lapisan pelindung transparan yang menutupi pintu tersebut.
"Menyerahlah, Yang Mulia!" teriak Vane. "Zaman Anda sudah berakhir! Penasihat baru Anda yang tidak berguna itu pasti sudah mati membeku di utara bersama pasukan Kaelen! Buka pintu ini, dan saya berjanji akan memberikan Anda kematian yang bermartabat!"
Para prajurit pengkhianat di sekelilingnya bersorak, merasa kemenangan sudah berada di tangan. Malam ini, mereka akan menghapus sisa-sisa loyalis Kaisar dan mengambil alih negara atas nama kemurnian Gereja.
Tapi sorakan mereka mendadak terhenti.
Suhu udara di halaman istana anjlok seketika. Bukan dinginnya salju utara, melainkan dinginnya teror murni. Di tengah halaman yang dikelilingi oleh ribuan prajurit, bayangan dari sebuah patung marmer raksasa mendadak meregang, membesar secara tidak wajar, dan meledak menjadi pusaran energi hitam.
Dari dalam pusaran itu, empat sosok melangkah keluar.
Axel berjalan paling depan, jubahnya masih menyisakan serpihan es dari Lembah Pembekuan. Di belakangnya, Valeria langsung terjatuh dengan lututnya, terengah-engah hebat setelah memaksa batas sihirnya, tapi Elysia dengan sigap menopangnya. Reynarda melangkah maju, menghunuskan pedangnya yang kini menyala dengan perpaduan warna emas suci dan hitam pekat.
Komandan Vane terbelalak, rahangnya nyaris jatuh. "B-Bagaimana mungkin?! Kalian... kalian seharusnya berada di perbatasan utara! Bagaimana kalian bisa melewati blokade?!"
"Blokade?" Axel memiringkan kepalanya sedikit, menatap Vane dengan pandangan kosong yang membuat darah sang komandan berdesir ngeri. "Aku baru saja mengubur lima puluh lima ribu tentara Zephyr di bawah timbunan es. Kau pikir dua ribu prajurit pengecut di halaman ini bisa disebut sebagai 'blokade'?"
Kata-kata Axel menyapu halaman istana seperti kutukan. Beberapa prajurit tanpa sadar mundur selangkah, merinding mendengar jumlah pasukan Zephyr yang baru saja disebut.
"Host, formasi musuh di depan berantakan. Moral mereka turun ke titik kritis. Silakan mulai prosedur pembersihan."
"Reynarda. Elysia," suara Axel memecah keheningan yang mencekam. "Kalian lihat sampah-sampah yang mengotori halaman rumah kita ini?"
Reynarda mengangkat pedangnya, matanya menyala dengan obsesi yang mematikan. "Ya, Axel."
"Bersihkan."
Hanya dengan satu kata itu, neraka terlepas di istana kekaisaran. Reynarda melesat ke depan, kecepatannya menembus batas suara. Zirah pasukan pengkhianat terbelah seperti kertas basah saat tebasannya menciptakan gelombang kejut yang menyapu puluhan orang sekaligus.
Elysia, yang masih menopang Valeria dengan satu tangan, menggunakan tangan kirinya untuk menciptakan puluhan tornado kecil yang tajam bagai silet. Badai angin menderu, mengangkat para prajurit pengkhianat ke udara sebelum mencabik-cabik mereka tanpa ampun. Darah menghujani halaman marmer putih, mengubahnya menjadi lautan merah.
Komandan Vane menjerit panik, mengayunkan palu godamnya ke arah Axel. "Mati kau, monster!"
Axel bahkan tidak repot-repot menarik senjatanya. Dia melangkah ke samping dengan santai, menghindari ayunan palu yang kikuk karena kepanikan. Sebelum Vane bisa menarik senjatanya kembali, Valeria yang tadinya terlihat kelelahan, melesat dari bayangan Axel. Ratu Dunia Bawah itu melilit leher Vane dengan cambuk bayangan berduri, menariknya hingga sang komandan jatuh berlutut tepat di kaki Axel.
Axel menunduk, menatap wajah Vane yang memucat dan kehabisan napas.
"Kau salah soal satu hal, Vane," ucap Axel dengan suara yang sangat pelan, hanya bisa didengar oleh Vane di tengah hiruk-pikuk pembantaian di sekeliling mereka. "Aku bukanlah monster. Aku hanyalah seorang staf kebersihan."
Axel mengambil palu godam milik Vane yang tergeletak di lantai, lalu menatap pintu Ruang Pusaka.
"Dan aku benci melihat tempat kerjaku dikotori."
Dengan satu hantaman ringan menggunakan palu tersebut ke lantai, Axel memberikan sinyal kepada AI-nya untuk meretas sistem segel pintu dari dalam. Pintu perunggu raksasa itu bergeser terbuka, menampakkan Kaisar yang berdiri takjub melihat halaman istananya yang kini telah dikuasai kembali.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang tertutup awan merah, Axel membuktikan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi pengkhianat di kekaisaran ini. Karena bayangan sang Penasihat Agung selalu mengawasi, dan pasukannya tidak pernah meninggalkan kotoran tersisa.