NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu Mertua,Menguras isi Dompet Gibaran

Mendengar ucapan ibu mertuanya,Nayla langsung tersedak potongan telur mata sapi yang baru saja dikunyahnya.

"Uhuk! Uhuk!"

Gibran dengan sigap menyodorkan segelas air putih hangat ke bibir Nayla, sambil menepuk-nepuk punggung istrinya dengan gerakan yang terlihat sangat protektif.

"Pelan-pelan, Sayang. Makan itu pakai kunyahan, bukan pakai emosi," bisik Gibran di dekat telinga Nayla, memanfaatkan momen itu untuk mengejeknya.

Setelah napasnya kembali teratur, Nayla menatap Renata dengan panik. "Eh ... Ma, maaf. Tapi saya tidak bisa cuti mendadak begitu saja. Hari ini tim saya harus mempresentasikan revisi desain jamu herbal ke klien utama. Kalau saya tidak datang, bos saya. .. Pak Januar, bisa berubah jadi raksasa hijau yang mengamuk di kantor."

Renata mengibaskan tangannya dengan santai. "Januar? Manajer kreatif di agensi kamu itu? Halah, agensi tempat kamu kerja itu kan salah satu anak perusahaan dari jaringan periklanan milik Mahardika Group, Nayla sayang. Gibran ini direktur operasional di sana. Jadi, kalau suami kamu bilang kamu cuti, si Januar itu tidak akan berani bersuara bahkan jika kamu cuti selama sebulan penuh!"

Nayla melotot, lalu menoleh ke arah Gibran dengan mulut setengah terbuka. ("Tunggu, apa?! Kantor tempatku memeras keringat dan darah selama dua tahun ini ternyata milik keluarga si cowok pingsan ini?!") batin Nayla menjerit syok.

Gibran mengusap tengkuknya dengan canggung, memberikan senyum asimetris yang serba salah ke arah Nayla. "Iya, Nay. Gue ... maksudnya, Mas lupa bilang kalau agensi lu itu masuk dalam portofolio bisnis keluarga Mahardika. Jadi, soal Januar ... lu aman. Mas sudah minta sekretaris Mas untuk mengurus izin lu hari ini."

Nayla merasa dunianya mendadak berputar. Kenyataan bahwa suaminya yang didapat dari jalur kesalahpahaman ronda malam ini adalah bos besar dari bosnya terasa seperti plot twist komik murahan.

Dia hanya bisa mengangguk pasrah, menyadari bahwa melarikan diri ke kantor untuk menghindari sandiwara ini sudah bukan lagi sebuah pilihan yang valid.

Pukul sepuluh pagi, sebuah petualangan baru dimulai di pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta Pusat.

Renata Mahardika memimpin jalan dengan langkah anggun yang penuh wibawa, sementara Nayla mengekor di belakangnya dengan langkah kaki yang terasa kaku.

Nayla kini sudah mengganti dasternya dengan pakaian terbaik yang dia punya: kemeja flanel merah marun dan celana jins pensil, yang menurutnya sudah cukup rapi untuk jalan-jalan ke mal.

Namun, begitu mereka melangkah masuk ke dalam sebuah butik mode papan atas asal Prancis, Nayla langsung menyadari bahwa standar rapi miliknya berada di galaksi yang berbeda dengan standar butik ini. Di dalam ruangan beraroma mawar mahal dengan pencahayaan hangat itu, pakaian-pakaian digantung layaknya karya seni di museum, dengan label harga yang digit angka nolnya membuat mata Nayla perih jika dihitung.

"Selamat pagi, Ibu Renata. Senang sekali melihat Ibu datang kembali," seorang pramuniaga berpakaian setelan jas hitam rapi menyambut mereka dengan bungkukan hormat yang sangat dalam.

"Pagi. Hari ini saya mau mencarikan gaun koktail, beberapa setelan kasual, dan sepatu untuk menantu saya," ujar Renata sambil menunjuk ke arah Nayla dengan anggun.

Pramuniaga itu menatap Nayla sekilas. Meskipun profesionalismenya terjaga, Nayla bisa menangkap sedikit keterkejutan di mata wanita itu saat melihat pakaian flanel sederhana yang dikenakannya.

"Baik, Ibu. Silakan ikut saya ke area koleksi terbaru," ajak sang pramuniaga.

Selama dua jam berikutnya, hidup Nayla berubah menjadi sebuah parade ganti pakaian yang melelahkan.

Renata dengan energi yang seolah-olah tidak ada habisnya, terus memilihkan pakaian dan menyuruh Nayla mencobanya di dalam kamar pas.

"Ma, ini terlalu terbuka di bagian punggung," keluh Nayla saat mencoba sebuah gaun satin berwarna hijau zamrud.

"Oh, ya? Tapi kulit kamu bagus kok, putih bersih. Tapi kalau kamu kurang nyaman, kita ganti yang model kerah sabrina saja," sahut Renata dari luar kamar pas dengan suara riang.

Tidak hanya pakaian, mereka juga beralih ke butik sepatu dan tas. Setiap kali Nayla mencoba menolak karena melihat harganya yang setara dengan harga motor matic baru, Renata hanya akan melambaikan kartu kredit berwarna hitam legam milik Gibran dengan senyum kemenangan.

"Jangan khawatir, Sayang. Ini pakai kartu Gibran. Uang anak Mama itu terlalu banyak kalau cuma disimpan di bank, harus sering-sedikit dikeluarkan agar roda ekonomi berputar," alasan Renata yang sangat borjuis itu sukses membuat Nayla bungkam seribu bahasa.

Sore harinya, mereka kembali ke apartemen dengan membawa belasan kantong belanjaan bermerek mewah yang memenuhi bagasi mobil Pak Jono.

Tubuh Nayla rasanya ingin remuk, melebihi rasa lelahnya saat lembur di kantor.

Tepat pukul tujuh malam, Gibran kembali dari kantor. Begitu dia melangkah masuk ke ruang tamu, dia tertegun melihat tumpukan kantong belanjaan yang berserakan di dekat sofa.

"Wah, parah. Lu benar-benar menguras dompet gue ya, Nay?" canda Gibran sambil melepaskan jas kerjanya dan melonggarkan dasinya.

Nayla yang sedang duduk meluruskan kakinya di sofa langsung melemparkan sebuah bantal kecil tepat ke arah wajah Gibran. "Bukk!" Gibran dengan cekatan menangkap bantal tersebut sambil tertawa.

"Enak saja! Itu semua ide nyokap lu ya, Mas! Gue sudah menolak sampai tenggorokan gue kering, tapi Mama lu itu punya kekuatan persuasi tingkat tinggi yang tidak bisa didebat!" protes Nayla dengan wajah bersungut-sungut.

Renata keluar dari dapur sambil membawa semangkuk buah potong. "Gibran, jangan pelit sama istri sendiri! Lagipula, malam ini kalian berdua harus tampil serasi dan mesra, karena Papa kamu baru saja menelepon Mama dari bandara. Dia mengirimkan asisten pribadinya, Pak Gunawan, untuk datang ke sini membawakan beberapa dokumen bisnis yang harus kamu tanda tangani."

Mendengar nama Pak Gunawan, senyum di wajah Gibran langsung lenyap.

Dia dan Nayla saling berpandangan dengan raut wajah tegang yang kembali menguat.

Pak Gunawan bukan sekadar asisten, dia adalah mata-mata kepercayaan Baskoro Mahardika yang ditugaskan untuk mengawasi jalannya masa percobaan tiga bulan mereka.

"Pak Gunawan mau datang ke sini, Ma? Jam berapa?" tanya Gibran, suaranya mendadak serius.

"Sebentar lagi, paling sekitar lima belas menit lagi," jawab Renata santai.

Gibran langsung menatap Nayla dengan pandangan mata yang penuh kode darurat.

"Nayla, cepat ganti pakaian lu pakai salah satu baju baru yang dibelikan Mama tadi. Buat penampilan lu terlihat seperti istri seorang direktur operasional yang bahagia. Sandiwara babak kedua kita ... resmi dimulai malam ini."

Nayla menarik napas panjang, mengangguk paham pada situasi darurat ini. Dia berdiri dan melangkah cepat menuju kamar tidur utama, menyadari bahwa di dunia nyata yang penuh dengan intrik keluarga kaya ini, sandiwara pernikahan mereka harus dimainkan dengan sangat sempurna tanpa boleh ada satu pun kesalahan alamat yang fatal.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!