Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9: Pertemuan Dua Dunia
Suasana di halaman belakang itu mendadak membeku. Udara sejuk sore itu terasa menusuk tulang, seolah ikut merasakan ketegangan yang menggantung di antara tiga manusia yang kini berdiri saling berhadapan.
Kirana membelalakkan matanya lebar-lebar, wajahnya yang tadi penuh senyum bahagia kini berubah menjadi ekspresi tak percaya yang bercampur kekecewaan mendalam. Ia menatap Arkan, lalu kembali menatap Nara bergantian, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Istri?" ulang Kirana pelan, suaranya bergetar, nyaris berbisik namun terdengar tajam. "Kamu bilang... dia istrimu, Arkan?"
Arkan menundukkan wajahnya, tak sanggup menatap mata wanita yang selama ini ia rindukan itu. Ia mengangguk pelan, rahangnya mengeras menahan rasa sakit dan rasa bersalah yang membelenggu.
"Ya, Kirana. Aku menikahinya dua bulan lalu," jawab Arkan jujur, suara berat dan tercekat. "Bukan karena keinginanku, tapi... perjodohan dari orang tua. Kau tahu kondisiku saat kau pergi. Aku tidak punya pilihan lain."
Di sisi lain, Nara berdiri diam di tempat. Ia memegang ujung gaunnya erat-erat, berusaha sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah di tempat itu. Ia sudah bersiap, sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk pasrah dan minggir. Tapi mendengar penjelasan Arkan—bahwa pernikahan ini tidak lebih dari keterpaksaan, bahwa keberadaannya hanyalah akibat dari ketidakberdayaan Arkan—rasanya tetap seperti pisau yang berputar di dalam dadanya.
Nara melangkah maju selangkah, mencoba tersenyum sopan, meski senyum itu terlihat begitu rapuh dan menyakitkan. Ia tahu, saat ini ia harus menjadi yang paling dewasa, meski hatinya sedang hancur berkeping-keping.
"Selamat datang kembali di Indonesia, Mbak Kirana," sapa Nara lembut, suaranya berusaha ia buat setenang mungkin. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. "Saya Nara. Seperti yang Mas Arkan katakan... saya istri kontraknya. Saya di sini hanya sementara, sampai waktu yang disepakati habis. Jadi Mbak tidak perlu khawatir atau merasa terganggu dengan kehadiran saya."
Kalimat itu keluar begitu saja, pasrah dan merendah. Nara sengaja menekankan kata kontrak dan sementara, berusaha memberi pengertian pada Kirana bahwa ia bukanlah ancaman, bukan penghalang, dan sama sekali tidak berhak atas apa pun yang dimiliki Arkan, termasuk hatinya.
Kirana menatap Nara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang tajam. Ia melihat penampilan Nara yang sederhana, berbeda jauh dari dirinya yang berpenampilan modis dan mahal. Di mata Kirana, Nara terlihat lemah, polos, dan jauh dari kata sebanding dengan Arkan. Rasa cemburu yang meluap tadi perlahan berubah menjadi rasa meremehkan yang berbalut kemenangan.
Ia kembali menatap Arkan, lalu tersenyum manis—senyum yang dulu selalu berhasil membuat Arkan luluh. Kirana melangkah mendekat, merangkul lengan Arkan dengan akrab dan penuh kepemilikan, seolah Nara sama sekali tidak ada di sana.
"Jadi begitu ceritanya ya," ucap Kirana santai, menoleh ke Arkan dengan pandangan manja. "Aku kira apa, ternyata cuma istri perjodohan. Arkan sayang, kan kamu sering cerita sama aku lewat surat dulu? Kamu bilang, hati ini cuma punya satu pemiliknya, dan itu aku. Kamu bilang, sekeras apa pun kamu dipaksa menikah, tidak akan ada wanita lain yang bisa masuk ke sini."
Kirana meletakkan tangannya tepat di dada kiri Arkan, tempat jantung pria itu berdetak. Gerakan itu begitu akrab, begitu intim, dan begitu menyakitkan untuk dilihat oleh Nara.
Arkan diam saja. Ia tidak menepis sentuhan Kirana, tapi ia juga tidak membalasnya dengan antusias seperti yang diharapkan wanita itu. Matanya terus melirik ke arah Nara, melihat bagaimana gadis itu menunduk dalam, menelan semua rasa sakit itu sendirian dengan diam.
"Arkan..." panggil Kirana lagi, mengguncang lengan Arkan pelan. "Kamu diam saja kenapa? Apa aku salah? Bukankah sampai detik ini, aku tetap satu-satunya wanita di hatimu? Bukankah kehadiran wanita ini di sini sama sekali tidak mengubah apa pun di antara kita?"
Pertanyaan itu seperti jebakan. Kalau Arkan mengiyakan, ia akan melukai Nara lebih dalam lagi. Tapi kalau ia menyangkal, ia mengkhianati janji yang ia pegang selama lima tahun ini pada Kirana.
Arkan menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa panas dan penat. "Kirana... semuanya masih sama. Perasaanku padamu... tidak berubah. Tapi Nara... dia tidak bersalah. Dia korban sama sepertiku. Tolong hargai keberadaannya sebagai istri sah di atas kertas selama dia masih tinggal di sini."
Mendengar itu, hati Nara mencelos makin dalam. 'Perasaanku padamu tidak berubah.' Tiga kata itu cukup menjadi jawaban mutlak atas segala harapan kecil yang tersisa di benak Nara. Ternyata benar, ia memang tidak pernah ada. Ternyata benar, selama ini Arkan hanya menjalani kewajiban. Ternyata benar, tempatnya di hati Arkan tetap kosong, menunggu wanita ini kembali mengisinya.
Nara mengangkat wajahnya kembali, menyeka air mata yang hampir jatuh dengan kasar di balik punggung tangannya. Ia tidak boleh menangis di sini, tidak boleh terlihat lemah di depan wanita yang menang sepenuhnya ini.
"Tidak apa-apa, Mas. Saya mengerti," potong Nara pelan, suaranya bergetar namun tegas. "Mbak Kirana berhak tahu semuanya, dan berhak bertindak selayaknya wanita yang dicintai Mas. Saya tidak keberatan sama sekali. Saya... saya ke atas dulu ya. Biar kalian bisa ngobrol berdua, lama-lama. Sudah lama kan tidak bertemu, pasti banyak hal yang mau dibicarakan."
Nara berbalik badan hendak pergi, tak sanggup lagi berdiri di sana dan menjadi penonton kisah cinta indah orang lain. Tapi baru saja ia melangkah satu dua langkah, suara Kirana terdengar lagi, penuh nada sinis yang tersembunyi di balik nada manis.
"Tunggu dulu, Mbak Nara... atau harus saya panggil Nyonya Dirgantara?" tanya Kirana sambil tertawa kecil, suara tawanya terdengar palsu namun menusuk. "Kamu benar-benar pengertian sekali ya. Pantas saja Arkan pilih kamu... eh, bukan, maksudku... pantas saja orang tua Arkan pilih kamu. Kamu penurut, tahu diri, dan tahu posisi. Bedanya jauh sama aku yang keras kepala dan selalu menuntut segalanya dari Arkan."
Kirana melangkah mendekat ke arah Nara, menatap gadis itu tepat di mata dengan senyum kemenangan.
"Kamu dengar ya, Nara... Arkan ini segalanya buat aku. Dan aku juga segalanya buat dia. Selama lima tahun ini, dia menungguku, setia padaku, dan berjanji akan menemaniku selamanya. Kehadiranmu di sini hanya selingan, hanya ujian kecil buat kami berdua. Jadi aku harap kamu sadar diri ya... jangan sampai kamu terlalu lama di sini, atau terlalu nyaman, sampai lupa kalau kamu cuma numpang hidup di kisah cinta kami berdua."
Kalimat itu terang-terangan, kasar, dan menyakitkan. Kirana tidak lagi bersikap sopan. Ia menancapkan belati tepat di jantung Nara dengan sengaja, ingin memastikan gadis itu tahu siapa pemilik sah hati Arkan yang sebenarnya.
Nara diam saja. Ia tidak membalas, tidak membela diri. Ia hanya menelan ludah susah payah, mengangguk pelan. "Saya paham, Mbak. Saya tidak akan pernah lupa posisi saya. Saya tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian."
"Nara, jangan dengarkan dia!" seru Arkan tiba-tiba, suaranya meninggi karena marah—marah pada Kirana yang kasar, marah pada dirinya sendiri yang tak berdaya, dan marah pada Nara yang terlalu pasrah hingga membiarkan dirinya diinjak-injak begitu saja.
Arkan hendak melangkah mendekat ke arah Nara, ingin melindungi gadis itu, tapi Kirana dengan cepat menahan lengannya erat, menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca seolah dialah korban di sini.
"Arkan?! Kamu mau ke mana? Kamu mau mendekati dia demi membela dia di depanku? Setelah lima tahun aku pergi dan menunggumu, sekarang kamu mau pilih dia?" suara Kirana meninggi, mulai bernada menangis dan mengancam. "Apa janji-janjimu selama ini bohong? Apa semua kata-kata cintamu cuma omong kosong? Katakan, Arkan! Katakan kalau dia lebih penting daripada aku!"
Arkan terjebak di tengah-tengah. Di satu sisi ada wanita yang ia cintai bertahun-tahun, yang mengancam akan pergi lagi jika ia tidak memihaknya. Di sisi lain ada wanita yang ada di sisinya, yang terluka diam-diam karena kelakuannya sendiri.
Ia menatap Nara memohon, meminta pengertian. Dan Nara, dengan hati yang sudah hancur lebur itu, hanya menatapnya sekilas, lalu tersenyum getir—senyum yang bilang: 'Pilih saja dia, Mas. Aku sudah biasa sakit.'
"Maafkan saya, Mas," bisik Nara pelan, cukup terdengar oleh Arkan saja. "Saya benar-benar masuk ke atas sekarang. Nikmati waktu kalian berdua."
Dan kali ini, Nara benar-benar berlari pergi, menaiki tangga dengan langkah cepat agar tidak ada yang melihat air mata yang mulai membanjiri wajahnya.
Pintu kamar tertutup rapat di lantai atas. Arkan berdiri diam di bawah sana, diapit oleh wanita yang dicintainya dan rasa bersalah yang makin besar. Ia sadar, kedatangan Kirana bukan hanya mengubah segalanya... tapi juga perlahan merenggut satu per satu hal yang berharga yang baru saja ia temukan dalam dirinya Nara.
Kirana memeluk lengan Arkan kembali, tersenyum puas ke arah tangga tempat Nara menghilang. Permainannya baru saja dimulai. Dan bagi Kirana, menyingkirkan Nara dari hidup Arkan adalah satu-satunya tujuan utamanya sekarang.
Bersambung...