Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Dunia Luca perlahan mulai berputar lebih cepat dari biasanya. Berkat visualnya yang sempurna serta pesona alaminya yang memikat, sebuah brand skincare lokal meliriknya. Kesempatan emas itu datang dalam bentuk kontrak pemotretan untuk beberapa majalah mode serta kewajiban melakukan endorsement di akun media sosialnya. Tak hanya itu, bakat sang mama dalam dunia fesyen tampaknya mengalir deras di nadi Luca. Di sela-sela kesibukan kuliahnya yang mulai memasuki semester-semester krusial, Luca masih meluangkan waktu untuk membantu mengurus butik mamanya.
Luca yang awalnya tidak terlalu aktif di media sosial—meski memiliki banyak pengikut dan fans setia karena pembawaannya yang menggemaskan—kini harus lebih sering menyapa dunia maya. Bagaimanapun, ini adalah pekerjaan sampingan profesional pertamanya sebagai mahasiswa.
Saat itu Luca sedang duduk di sudut butik yang tenang, jemarinya lincah membalas pesan-pesan yang membanjiri akun media sosialnya. Sebagian besar adalah teman-teman kuliah dan pengikut setianya.
Rian_21: "Luca, lo makin hari makin cakep aja sih! Produk yang lo pake beneran bikin glowing kayak gitu?"
Chika_Putri: "Kak Luca! Spill dong cara beli paket skincare-nya, wajah aku lagi beruntusan nih. Pengen punya kulit sehat kayak Kak Luca 😭"
Dika_Alvaro: "Gemes banget foto yang baru di-upload. Sukses terus ya kuliah dan kerjanya, Ca!"
Luca tersenyum kecil, membalas satu per satu komentar cewek maupun cowok itu dengan ramah. Namun, di antara ratusan tumpukan notifikasi, netranya menangkap satu komentar singkat yang terasa ganjil dari sebuah akun tanpa foto profil.
“Buka chat gue.”
Dahi Luca mengernyit penasaran. Sedetik kemudian, otaknya langsung bisa menebak siapa pemilik ketikan dingin itu. Luca buru-buru merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel lain. Benar, sekarang Luca punya dua ponsel! Ponsel baru berwarna putih itu khusus dibelikan oleh mamanya untuk keperluan pekerjaan dan jualan produk.
Saat layar ponsel lamanya menyala, Luca terpekik kecil. Ada belasan pesan spam dan empat panggilan tak terjawab dari Brant. Ponsel itu tergeletak di dalam tas sejak tadi sore karena Luca langsung datang ke butik dalam keadaan lelah setelah pulang kampus
Tepat saat nama "Brant" kembali berkedip di layar, Luca langsung menggeser tombol hijau, terlalu asyik dengan dunia barunya sampai lupa bahwa ada seseorang di seberang lautan yang sedang merindukan celoteh randomnya.
"Ca, lu sibuk atau sok sibuk?" Suara Brant langsung menyambar, terdengar tenang namun memiliki nada menusuk yang familier.
"Eh, maaf, Kak! Hp aku ada di dalam tas, nggak kedengeran," ucap Luca cepat, merasa bersalah.
"Terus lu main sosmed bisa gitu?" tembak Brant, merujuk pada komentar yang baru saja ditinggalkannya.
"Bukan gitu, aku pake hp yang satu lagi. Eh iya, aku lupa bilang, Kak! Aku sudah punya dua hp loh sekarang. Dibelikan mama untuk dipakai jualan produk," jelas Luca antusias, nadanya berubah ceria khas anak-anak yang pamer mainan baru.
"Oh... terus jadi ada prioritas baru nih sekarang? Sampai telpon gue terabaikan?" Suara Brant terdengar tenang, namun entah mengapa terasa begitu dingin di telinga Luca.
"Eh, enggak kok! Kabar dari Kakak yang paling aku tunggu, hehe..." Luca cengengesan, meski dalam hati ia mulai merasa takut-takut cemas mendengar nada bicara Brant yang tidak seperti biasanya.
Di seberang sana, di balik meja kerjanya yang kacau di London, Brant menarik napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya yang kaku pada kursi, jemarinya memijat pelipis dan pangkal hidung demi mengusir pening yang mendera.
"Ca, gue lagi..." Brant menjeda kalimatnya. Ada keraguan yang besar di dadanya. Ia beralih menatap tumpukan dokumen aliran modal misterius ke Indonesia yang baru saja ia periksa. Sesaat, Brant berpikir apakah ia harus menceritakannya pada Luca? Kekasihnya ini mungkin tidak akan paham rumitnya konspirasi bisnis yang sedang ia hadapi. Namun, rasa frustrasinya sudah di ambang batas.
Luca diam, mendengarkan dengan sabar di ujung telepon.
"Gue lagi stres. Perusahaan di sini bermasalah, udah beberapa bulan ini gue belum bisa menyelesaikannya," ucap Brant akhirnya. Suaranya terdengar begitu pelan, rapuh, dan sarat akan beban berat.
"Pekerjaan Kakak sulit ya?" tanya Luca lembut, dan rasa khawatir.
"Iya, sulit, Ca. Dan ini jadi beban, karena tanggung jawab gue buat selesaikan masalah ini. Gue... hampir mau nyerah aja, Ca," bisik Brant, terdengar sangat lelah seolah seluruh tenaganya telah diperas habis.
"Kak Brant!" potong Luca, suaranya tiba-tiba meninggi, bahkan sedikit bergetar karena panik mendengar kata 'menyerah' dari mulut pria sekuat Brant. "Istirahat kalau lelah! Kalau pulang, mandi, langsung tidur aja, jangan begadang! Terus jangan lupa makan yang sehat-sehat! Jangan bilang menyerah, Kak Brant pasti bisa kok. Aku yakin!"
Mendengar rentetan omelan tulus itu, sudut bibir Brant perlahan terangkat. Luca bukan sekadar penyemangat. Kali ini, logika Luca yang sederhana justru menamparnya; Brant hanya sedang kehabisan energi karena terus-terusan memikirkan beban tanpa jeda.
"Iya, lu bener, Ca. Gue terlalu cepat berlari, ternyata perlu juga hanya untuk melangkah," ucap Brant, menyelipkan sedikit filosofi dalam keluhnya.
Namun, suasana serius dan puitis itu mendadak runtuh dalam hitungan detik ketika otak mungil Luca kembali ke mode aslinya yang unik dan ajaib.
"Kak, kenapa harus lari-lari? Terus kenapa harus jalan? Kak Brant kerjanya di luar kantor ya? Kejar-kejaran sama siapa?" tanya Luca polos tanpa dosa.
Brant spontan memejamkan mata, antara ingin menangis stres atau tertawa kencang. "Ampun, Ca... otak gue udah capek, lu malah nambah-nambahin kerja otak gue lagi."
"Eh?"
"Bukan itu maksudnya. Maksud gue, gue terlalu mengejar untuk selesaikan tugas tanpa ada jeda. Begitu, Luca," jelas Brant dengan sisa-sisa kesabarannya.
"Ohhh, aku kira..." Luca tertawa renyah seolah menertawakan otaknya sendiri yang salah menangapi. Mendengar tawa itu, separuh beban di pundak Brant rasanya menguap begitu saja.
"Terus lu sekarang udah kerja juga, kan? Kuliah lu enggak terganggu?" tanya Brant beralih topik.
"Enggak dong, Kak. Mama yang ngatur semua jadwalnya. Pokoknya kuliah tetap seperti biasa, enggak boleh bolos. Terus, Mama enggak kasih aku kerja di hari Sabtu sama Minggu. Kata Mama, itu waktu buat istirahat," jelas Luca panjang lebar.
Brant menganggukkan kepala mengerti, meskipun gerakan itu tidak bisa dilihat oleh Luca. "Baguslah. Jangan kecapekan, lu gampang sakit juga."
"Iya, Kak."
"Eh, Ca. Gue juga mau bilang, gue udah kirim sesuatu buat lu. Tunggu aja, empat atau lima hari lagi barangnya udah sampai di sana," ucap Brant, teringat paket ekspedisi internasional yang ia kirimkan kemarin.
"Wah, apa itu, Kak?!" tanya Luca dengan suara yang langsung sumringah dan luar biasa ceria.
"Ada, nanti lu bakal lihat sendiri. Eh, Ca, udah dulu ya. Gue mau lanjut kerja lagi, nanti ditelpon lagi," pamit Brant, namun sebelum menutup panggilan, ia tidak tahan untuk tidak menggoda cowok itu di seberang sana. "Tapi ingat, jangan sok sibuk lu. Mentang-mentang makin cantik."
Wajah Luca seketika merona merah, ia mengerucutkan bibirnya kesal. "Ihh, Kak! Tampan loh aku, bukan cantik! Ya udah, bye-bye Kak Brant ganteng!"
Luca langsung mematikan sambungan telepon dengan jantung yang berdebar agak cepat. Di sofa dalam ruang butik itu, Luca memeluk ponselnya erat, mungkin ke depan, dering telepon yang hangat seperti ini akan menjadi kemewahan yang sangat sulit untuk ia miliki lagi.
•
Langkah kaki Brant terasa berat saat ia menapaki lantai marmer rumahnya. Jas yang sejak tadi melilit lengan kirinya kini ia biarkan menggantung lesu. Suasana rumah besar itu sunyi senyap, menyisakan gema langkah kaki yang terdengar begitu nyaring, seolah menegaskan betapa dinginnya atmosfer tempat tinggalnya yang hanya dihuni segelintir orang.
Saat melewati lorong menuju kamar utamanya, telinga Brant menangkap suara samar dari balik pintu yang tertutup. Itu bukan percakapan hangat. Itu adalah desis pertengkaran yang tertahan. Brant tahu betul suara itu—suara ayahnya dan... entahlah. Ia terlalu dewasa untuk sekadar menguping drama di balik pintu kamar orang tuanya. Ia memutar langkah, berniat segera menuju kamar pribadi, namun langkahnya terhenti saat pintu terbuka.
Nyonya Sofia berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan lembut yang terkesan dipaksakan. Brant memperhatikan dengan saksama; ibunya berusaha tampak santai, namun ada jejak air mata yang baru saja diseka di pipi kirinya.
"Brant, kamu sudah pulang, Nak?" sapa Nyonya Sofia pelan.
Brant terdiam, menatap sosok wanita yang selalu tampak tegar itu dengan perasaan yang sulit diartikan. "Ayo makan dulu, mama sudah siapkan makan malam. Ini sudah jam delapan, kamu pasti lapar," ajak sang ibu sambil berjalan menuju meja makan, mencoba mengalihkan perhatian dari matanya yang sembab.
Brant mengikuti, namun matanya sempat melirik pintu kamar orang tuanya yang kini kembali tertutup rapat. "Ma, Papa sudah makan?"
"Sudah, Sayang. Tinggal kamu saja," jawab Nyonya Sofia. Ia mulai menata hidangan dengan gerakan yang tampak canggung. "Kenapa pulang selarut ini? Apakah pekerjaan di kantor sebanyak itu?"
Brant duduk, mulai menyuap makanannya tanpa selera. "Tidak juga, Ma. Hanya satu tugas besar yang belum tuntas berbulan-bulan ini. Audit internal sudah melaporkan anomali keuangan yang signifikan, tapi Papa... Papa sama sekali tidak menanggapi serius. Padahal, situasinya sudah sangat gawat."
Nyonya Sofia berhenti bergerak. Ia menatap putranya dengan tatapan gugup yang kentara. "Brant, Nak... kamu tidak perlu bersusah payah mengurus masalah itu sekarang."
Brant meletakkan sendoknya. Ia menatap ibunya dengan sorot mata tegas, meski suaranya tetap stabil. "Maksud mama? Aku calon pemimpin perusahaan itu. Aku harus memahami setiap seluk-beluk masalah yang mengancam stabilitas finansial kita. Ini sudah berjalan sejak tahun lalu, Ma. Bagaimana mungkin aku bisa diam?"
"mama mengerti," sahut Nyonya Sofia dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan sesuatu yang mendalam. "Tapi dengarkan mama. Untuk sementara, fokuskan energimu hanya pada pemulihan dan stabilitas operasional. Cukup kendalikan arus kas dan tingkatkan performa perusahaan agar kamu bisa segera diangkat menjadi pemimpin. Biarkan urusan yang lain... ayahmu yang mengurusnya."
Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Brant merasakan ada sesuatu yang tersirat, sebuah peringatan yang dibalut kelembutan agar ia tidak menggali lebih dalam ke arah yang berbahaya. Namun, bagi Brant, peringatan itu justru menjadi sinyal bahwa ada rahasia besar yang sedang disembunyikan di balik dinding rumah ini.
Brant kini telah berbaring di ranjangnya. Tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah mandi air hangat sehabis makan malam tadi. Sambil menatap langit-langit kamar yang sunyi, ia menyadari masalah perusahaan belakangan ini telah menyita terlalu banyak ruang di kepalanya. Brant tersenyum getir, menyadari beban itu perlahan mengubahnya menjadi laki-laki yang dingin dan datar. Komunikasinya dengan Luca belakangan ini hanya berputar pada pertanyaan monoton; sedang apa, di mana, atau membahas pekerjaan. Padahal, rindu di antara mereka masih sangat mengebu-gebu.
Mengingat nasihat Luca di telepon tadi, Brant meraih ponselnya. Ia ingin beristirahat dengan tenang malam ini, namun tidak sebelum mengirimkan sebaris kalimat andalannya yang paling tulus untuk sang kekasih.
"Gue baru mau tidur, tapi ingat lu. Ternyata ada yang lupa gue bilang tadi sama lu, gue selalu cinta sama lu, dan akan selalu begitu, Ca."
Setelah menekan tombol kirim, Brant meletakkan ponselnya dengan senyum teduh yang terukir di bibir. Malam itu, ia membiarkan dirinya tertidur lelap, membawa pesan cinta tersebut ke dalam mimpi indahnya. Ia tidak pernah menduga bahwa setelah malam ini, waktu akan melompat begitu cepat, membawa hubungan mereka ke ujian yang jauh lebih melelahkan, dengan resikonya adalah?