Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Lembah Kabut
Hari kedua setelah kabar bahaya diterima, langit di atas pegunungan tertutup oleh kabut tebal yang turun dari puncak gunung, menyelimuti lembah dan hutan dengan selubung putih yang membuat pandangan hanya bisa mencapai beberapa meter saja ke depan. Angin berhembus pelan namun dingin, membawa serta suara gemerisik daun dan aliran sungai yang terdengar samar-samar di antara kabut. Suasana terasa hening dan misterius, seolah alam sendiri sedang menahan napas, menunggu saat di mana dua kekuatan yang berlawanan akan bertemu dan bentrok satu sama lain.
Tempat yang dipilih untuk menghadapi musuh adalah sebuah lembah sempit yang terletak di antara dua gunung besar, tempat yang harus dilewati oleh siapa saja yang ingin masuk ke wilayah permukiman. Di sisi kiri lembah itu ada tebing batu yang tinggi dan curam, sedangkan di sisi kanan ada hutan lebat yang tumbuh rapat sampai ke tepi sungai yang mengalir deras di dasar lembah. Jalan yang melewati lembah itu sempit dan berliku, sehingga musuh takkan bisa bergerak dalam barisan yang luas atau menggunakan kekuatan jumlah mereka sepenuhnya. Di tempat inilah, di tengah kabut dan bayang-bayang, rencana mereka akan dijalankan.
Orang-orang dari pegunungan telah bersembunyi di tempat-tempat yang strategis. Sebagian dari mereka bersembunyi di atas tebing batu, tersembunyi di balik batu-batu besar dan semak belukar, siap untuk melempar batu dan panah ke arah musuh yang lewat di bawah mereka. Sebagian lain bersembunyi di dalam hutan di sisi kanan jalan, tersembunyi di balik batang pohon dan akar yang menjulang, siap untuk menyerang musuh dari samping begitu mereka masuk ke dalam jebakan. Taylor, Elizabeth, Kael, David, dan Fransiskus berdiri di posisi utama, memimpin pasukan dan mengawasi keadaan dengan mata yang tajam dan waspada. Mereka telah membagi tugas dengan jelas, dan setiap orang tahu apa yang harus mereka lakukan, kapan mereka harus menyerang, dan kapan mereka harus mundur.
Mereka tak perlu menunggu lama. Sekitar tengah hari, saat kabut menjadi paling tebal dan pandangan menjadi paling terbatas, suara langkah kaki dan derap kuda terdengar dari arah selatan, perlahan mendekat semakin dekat dan semakin jelas. Sekelompok orang akhirnya muncul dari balik kabut, berjalan beriringan melewati jalan sempit di tengah lembah. Mereka adalah pasukan pembunuh yang dikirim oleh para bangsawan dari selatan, dua puluh lima orang laki-laki yang berjalan dengan langkah yang teratur dan penuh keyakinan, membawa senjata tajam yang tergenggam erat di tangan mereka. Wajah mereka tertutup sebagian oleh kain atau tudung jubah, membuat mereka terlihat seperti hantu yang keluar dari dalam kabut, dan mata mereka yang terlihat di balik celah-celah itu menyala dengan dingin dan kejam.
Mereka bergerak dengan percaya diri, yakin bahwa gerakan mereka tak terdeteksi, yakin bahwa mereka akan menemukan mangsa mereka dalam keadaan lengah dan tak bersiap. Mereka tak menyadari bahwa setiap langkah mereka diawasi dengan cermat, mereka tak menyadari bahwa mereka telah berjalan masuk ke dalam jebakan yang telah disiapkan dengan sempurna, dan mereka tak menyadari bahwa kematian sedang menanti mereka di balik setiap batu dan setiap pohon di sekeliling mereka.
Pemimpin mereka, orang yang disebut Tangan Kiri, berjalan di barisan paling depan, matanya mengamati sekeliling dengan pandangan yang tajam dan waspada, namun bahkan dia pun tak bisa melihat apa yang tersembunyi di balik kabut tebal dan bayang-bayang. Dia hanya berjalan terus, yakin bahwa tugasnya akan selesai dengan mudah dan cepat, yakin bahwa dalam waktu singkat dia akan kembali ke tempat asalnya membawa kabar kemenangan dan hadiah yang besar.
Saat barisan musuh berjalan sampai ke bagian paling sempit di tengah lembah, saat mereka berada tepat di tengah jebakan, tanda akhirnya diberikan. Sebuah peluit panjang dan nyaring terdengar dari atas tebing, suara yang menembus kabut dan hening, dan dalam sekejap mata suasana yang tadinya tenang dan damai berubah menjadi kacau dan penuh pertempuran.
Dari atas tebing, hujan batu dan panah turun ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa, menghantam musuh yang terjebak di tengah jalan. Teriakan kaget dan kesakitan terdengar saat beberapa orang dari mereka jatuh terkapar di tanah, terluka atau tewas seketika. Dari dalam hutan di sisi kanan, orang-orang dari pegunungan keluar dari tempat persembunyian mereka, berteriak dengan suara yang keras dan menakutkan, menyerang musuh dari samping dengan pedang, kapak, dan tombak. Musuh yang terkejut dan bingung berusaha membalas serangan, tapi karena jalan di sekitar mereka sempit dan terhalang, mereka tak bisa bergerak dengan leluasa, dan mereka tak bisa menggunakan keahlian bertarung mereka dengan sempurna.
“Jangan panik! Bentuk barisan dan lawan mereka!” teriak Tangan Kiri dengan suara yang keras dan kasar, berusaha mengendalikan pasukannya yang mulai kacau. Dia berbalik dan mengayunkan pedang panjangnya dengan gerakan yang cepat dan terlatih, memotong udara dengan suara mendesis dan berhasil menangkis serangan dari beberapa orang yang menyerangnya. Dia adalah pejuang yang terlatih dan berpengalaman, dan dalam pertarungan satu lawan satu dia mungkin adalah orang yang paling kuat dan berbahaya di antara mereka semua. Namun di tempat seperti ini, di tengah kabut dan jebakan, bahkan keahlian dan kekuatannya pun menjadi terbatas.
Pertarungan menjadi sengit dan berdarah. Suara benturan besi dengan besi, suara teriakan dan rintihan, suara langkah kaki dan derap kuda, bercampur menjadi satu dan bergema di antara dinding-dinding gunung, membuat kabut yang tadinya tenang kini terasa panas dan penuh amarah. Darah menetes di atas tanah berbatu, mengalir turun ke arah sungai dan bercampur dengan air yang jernih, membuat warna air berubah menjadi merah di tempat-tempat tertentu. Orang-orang dari pegunungan berjuang dengan semangat yang membara, berjuang untuk rumah mereka, berjuang untuk pemimpin mereka, berjuang untuk kedamaian dan keadilan yang telah mereka dapatkan. Mereka mengenal medan perang dengan baik, mereka tahu di mana harus berdiri dan di mana harus bergerak, dan mereka bertarung dengan hati yang penuh keyakinan dan keberanian.
Di sisi lain, pasukan pembunuh berjuang dengan keahlian dan kekuatan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah orang yang telah terlatih untuk membunuh dan bertarung seumur hidup mereka, orang yang tak takut mati dan tak memiliki belas kasihan sedikitpun. Mereka berjuang dengan kejam dan mematikan, berusaha menembus barisan lawan mereka dan mencapai tujuan mereka. Namun mereka berjuang hanya untuk uang dan kekuasaan, mereka berjuang tanpa keyakinan dan tanpa tujuan yang mulia, dan di dalam hati mereka tersimpan rasa takut dan keraguan yang perlahan mulai tumbuh seiring dengan berjalannya pertarungan. Mereka menyadari bahwa mereka telah berjalan masuk ke dalam jebakan, mereka menyadari bahwa lawan mereka lebih banyak dan lebih siap dari yang mereka duga, dan mereka menyadari bahwa peluang mereka untuk menang semakin kecil dari waktu ke waktu.
Di tengah-tengah pertarungan yang kacau itu, Tangan Kiri melihat Taylor yang sedang memimpin pertarungan dari jarak yang agak jauh, berdiri di tempat yang agak tinggi dan mengarahkan gerakan pasukannya dengan tenang dan bijaksana. Mata pembunuh itu menyala dengan keinginan untuk membunuh, dan dia menyadari bahwa jika dia bisa mencapai orang itu dan membunuhnya, maka pertarungan mungkin bisa berbalik menguntungkan mereka. Dengan gerakan yang cepat dan lincah, dia memotong jalan di antara pejuang yang bertarung, mendorong dan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya, dan bergerak semakin dekat dan semakin dekat menuju sasaran utamanya.
“Jaga dia!” teriak Kael yang melihat gerakan musuh itu, dan dia segera bergerak maju untuk menghadang jalan pembunuh itu, diikuti oleh dua orang pejuang lainnya. Namun Tangan Kiri adalah orang yang luar biasa kuat dan terlatih. Dengan satu gerakan cepat dia berhasil melukai salah satu pejuang, dan dengan gerakan lain dia berhasil menangkis serangan Kael dan membuat laki-laki itu terhuyung mundur. Dalam sekejap mata dia berhasil melewati mereka dan kini hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai tempat di mana Taylor berdiri.
Saat pedang tajam itu terayun untuk menyerang, dan saat kematian terasa begitu dekat, tiba-tiba sosok yang lain muncul dan berdiri di hadapan Taylor, menghadang serangan itu dengan pedang yang diangkat tinggi-tinggi. Itu adalah Elizabeth. Wanita itu yang selama ini berdiri di belakang suaminya, memberikan dukungan dan kekuatan, kini berdiri di garis depan, matanya menyala dengan semangat dan keberanian yang luar biasa. Dia memegang pedang yang biasanya hanya digunakan untuk upacara, dan dengan gerakan yang cepat dan terlatih dia berhasil menangkis serangan mematikan itu, membuat pedang pembunuh itu terhenti di udara hanya beberapa sentimeter dari tubuh suaminya.
Tangan Kiri tertegun sejenak, matanya membelalak tak percaya melihat wanita itu berdiri menghadangnya dengan keberanian yang luar biasa. Dia telah membunuh banyak orang dalam hidupnya, dia telah melihat banyak wajah yang dipenuhi rasa takut dan keputusasaan, tapi dia tak pernah melihat mata yang setajam dan setegar mata wanita itu. Di dalam pandangan wanita itu dia melihat api yang takkan pernah bisa dipadamkan, dia melihat kekuatan yang takkan pernah bisa dikalahkan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rasa takut perlahan mulai merayap masuk ke dalam hatinya.
“Kau berani menghalangi jalanku?” teriak pembunuh itu dengan suara yang kasar dan penuh amarah, lalu dia mengayunkan pedangnya lagi dengan kekuatan yang dua kali lebih besar dari sebelumnya, berusaha menghancurkan lawan di hadapannya dalam satu serangan. Namun Elizabeth tak mundur sedikitpun. Dia berdiri tegak dan teguh, dan dengan kecepatan dan kelincahan yang luar biasa dia menangkis serangan demi serangan, menangkis gerakan demi gerakan, dan perlahan tapi pasti dia mulai mendesak musuhnya mundur selangkah demi selangkah.
Taylor yang melihat keberanian istrinya merasa bangga dan terharu, namun di saat yang sama dia juga merasa khawatir. Dia segera bergerak maju untuk berdiri di sisi istrinya, dan bersama-sama mereka berdua menghadang serangan pembunuh itu. Dua hati yang bersatu dalam cinta dan kepercayaan kini berdiri berdampingan dalam pertarungan, melawan kekuatan kegelapan dan kejahatan dengan kekuatan cahaya dan kebenaran.
Pertarungan antara mereka bertiga menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di tempat itu. Suasana di sekeliling mereka seolah menjadi hening sejenak, seolah-olah alam dan manusia sama-sama menahan napas untuk melihat siapa yang akan menang dalam pertarungan yang menentukan ini. Tangan Kiri berjuang dengan segala kekuatan dan keahlian yang dia miliki, berusaha dengan segala cara untuk membunuh lawan-lawannya, namun setiap serangannya selalu berhasil ditangkis, setiap gerakannya selalu berhasil dihadang. Dia menyadari bahwa lawan-lawannya tak bertarung hanya dengan kekuatan fisik semata, tapi mereka bertarung dengan kekuatan hati dan jiwa yang jauh lebih besar dari apa yang dia miliki. Dia menyadari bahwa dia berjuang untuk sesuatu yang tak berarti, untuk uang dan kekuasaan yang akan lenyap seperti kabut tertiup angin, sedangkan mereka berdua berjuang untuk sesuatu yang abadi, untuk cinta dan keadilan yang takkan pernah bisa dihancurkan.
Akhirnya, setelah pertarungan yang panjang dan melelahkan, saat kekuatan pembunuh itu mulai berkurang dan gerakannya mulai melambat, Taylor dan Elizabeth melakukan serangan terakhir yang bersamaan. Dengan satu gerakan cepat, pedang Taylor memotong senjata musuhnya, membuat pedang tajam itu terbang terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah. Pada saat yang sama, ujung pedang Elizabeth terhenti tepat di depan leher pembunuh itu, cukup dekat untuk membuatnya merasakan ujung besi yang dingin dan tajam di kulitnya.
Tangan Kiri berdiri diam di tempatnya, napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar karena lelah dan takut, dan matanya menatap dua orang di hadapannya dengan pandangan yang penuh kekecewaan dan keputusasaan. Dia telah berjuang sekuat tenaga, dia telah menggunakan segala keahlian dan kekuatannya, namun pada akhirnya dia telah kalah. Dia yang selama ini merasa tak terkalahkan, kini berdiri tak berdaya di hadapan orang yang dia anggap lemah dan tak berbahaya.
“Tugasmu telah selesai,” kata Taylor dengan suara yang tenang namun tegas, suara yang terdengar jelas di tengah heningnya lembah. “Kau telah datang membawa kematian dan kejahatan ke tanah ini, tapi kematianlah yang telah menantimu, bukan kami. Sekarang katakan padaku, siapa yang mengirimmu? Siapa dalang di balik rencana jahat ini? Katakan kebenaran, dan mungkin kami akan memberimu kesempatan untuk hidup. Berbohong, dan kau akan mati di sini di antara kabut dan batu ini, tanpa ada orang yang akan menangis atau mengingat namamu.”
Pembunuh itu menatap mata Taylor dalam waktu yang lama, dan di dalam hatinya dia merasa pertarungan antara keinginan untuk hidup dan keinginan untuk tetap setia pada majikannya. Namun pada akhirnya, keinginan untuk hidup menang. Dia sadar bahwa dia telah dikhianati oleh orang yang menyewanya, dia sadar bahwa dia hanyalah alat yang bisa dibuang begitu saja, dan dia sadar bahwa dia tak memiliki alasan lagi untuk menyembunyikan kebenaran bagi orang yang hanya memandangnya sebagai benda tak bernyawa.
“Mereka adalah para bangsawan di selatan,” katanya dengan suara yang serak dan lemah. “Lord Marcus, Lord Gideon, dan yang lainnya. Mereka yang menyuruhku datang ke sini untuk membunuh kalian. Mereka tak ingin melihat kalian berkuasa, mereka tak ingin melihat keadilan dan persatuan menyebar ke seluruh negeri, dan mereka rela menumpahkan darah siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Mereka berjanji akan memberiku kekayaan dan kedudukan, tapi mereka hanya memandangku sebagai anjing yang bisa mereka buang begitu tugas selesai. Aku telah kalah, dan aku pantas mendapatkan apa yang terjadi padaku. Tapi biarkan aku hidup, dan aku akan membantu kalian untuk mengungkap segala rencana mereka dan membawa mereka ke hadapan keadilan.”
Mendengar pengakuan itu, hati Taylor dan Elizabeth menjadi semakin berat namun juga semakin terang. Kini mereka akhirnya mengetahui sepenuhnya siapa musuh mereka, dan kini mereka akhirnya mengetahui akar dari segala kejahatan dan pertikaian yang telah terjadi di negeri mereka selama ini. Mereka menyadari bahwa pertarungan mereka belum berakhir, bahwa mereka masih harus menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dan berbahaya di tempat lain, dan bahwa mereka masih harus berjuang lebih keras lagi untuk membawa kedamaian dan keadilan ke seluruh negeri.
Namun di saat yang sama, mereka juga merasa lega. Mereka telah berhasil mengatasi bahaya yang datang, mereka telah berhasil membuktikan bahwa kebenaran dan keberanian selalu menang melawan kejahatan dan kekerasan, dan mereka telah berhasil menyelamatkan nyawa orang-orang yang mereka cintai dan tanah tempat mereka berdiri.
Pertarungan di lembah kabut akhirnya berakhir. Sebagian besar pasukan pembunuh telah tewas dalam pertarungan, sebagian lainnya telah menyerah dan ditangkap, dan hanya sedikit yang berhasil melarikan diri kembali ke dalam kabut untuk membawa kabar buruk pada majikan mereka. Darah yang mengalir di atas tanah perlahan berhenti menetes, dan suara teriakan dan benturan besi perlahan digantikan oleh suara angin dan aliran sungai yang kembali tenang. Kabut yang tadinya terasa berat dan penuh bahaya kini terasa bersih dan damai, seolah alam sendiri telah membersihkan tanah dari jejak kejahatan yang telah terjadi.
Namun mereka semua tahu, di tempat yang jauh di selatan, musuh-musuh mereka sedang menunggu dengan amarah dan keinginan untuk membalas dendam. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, dan pertarungan mereka masih jauh dari selesai. Mereka telah menang di pegunungan utara, tapi perang untuk menyatukan dan membebaskan negeri mereka baru saja dimulai.