Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Semua yang Terlambat
Lavanya Anasera Raespati berdiri membeku di depan ruang kerja suaminya.
Wanita itu awalnya hanya ingin mengantarkan camilan yang tertinggal untuk Ajeng. Namun langkahnya berhenti saat mendengar seluruh pengakuan putri bungsunya barusan.
Tangannya gemetar pelan.
Pikirannya dipenuhi banyak potongan kenangan yang selama ini berusaha ia abaikan.
Tentang seorang gadis kecil bernama Dariela yang dulu selalu diam-diam membantu dirinya.
Saat Ajeng baru berusia satu tahun, Ela sering membantu menjaga adiknya itu. Bahkan ketika semua pelayan sibuk, Ela dengan sabar menggendong Ajeng kecil sambil berjalan pelan mengelilingi rumah agar bayi itu berhenti menangis.
Ela juga sering membantu menyiapkan susu.
Merapikan mainan Ajeng.
Bahkan rela begadang saat Ajeng sakit dulu.
Namun semakin besar anak itu…
Lavanya justru semakin sulit melihat wajahnya.
Karena wajah Ela terlalu mirip Alana Valeska.
Perempuan yang menjadi kesalahan terbesar dalam rumah tangganya.
Dan karena rasa benci itu… Lavanya perlahan mulai menjauhkan Ela dari rumah utama keluarga Raespati.
Sampai akhirnya kehidupan baru Dariela dimulai di rumah sang oma.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi seorang anak.
Namun justru menjadi tempat paling menyakitkan untuk Ela.
Di sana Ela harus membersihkan rumah besar sendirian.
Memotong bunga untuk pajangan rumah setiap pagi.
Mengepel seluruh lantai.
Mencuci.
Dan memijat omanya saat opa sedang tidak berada di rumah.
Oma selalu punya alasan untuk menyuruh Ela melakukan semuanya.
Dan para pelayan hanya bisa diam sambil menundukkan kepala.
Karena tidak ada yang berani melawan wanita tua itu.
Sampai akhirnya… saat beberapa orang mulai mencoba membuka mulut dan memberitahu Damir tentang semuanya, semuanya sudah terlambat.
Dariela sudah menghilang dari kehidupan mereka.
Dan sekarang… mungkin tidak akan pernah mau kembali lagi.
Air mata Lavanya jatuh tanpa suara.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, wanita itu sadar…
Anak yang paling sering ia salahkan ternyata adalah anak yang diam-diam paling banyak berkorban untuk keluarganya.
Sementara itu, di tempat lain.
Di sebuah rumah sederhana yang hangat dan penuh ketenangan, Ana sedang duduk di ruang keluarga bersama kedua anaknya sambil menonton televisi.
Suasana malam itu terasa nyaman.
Dylan duduk selonjoran di karpet sambil memainkan ponselnya, sementara Sabine sibuk memakan camilan di samping Ana.
Namun senyum Ana perlahan menghilang saat berita di televisi menampilkan wajah seseorang yang paling ingin ia hindari seumur hidupnya.
Ayah biologis Sabine.
Lelaki bajingan yang menghancurkan hidupnya di malam prom dulu.
Rahasia paling menyakitkan yang baru Ana ketahui beberapa tahun setelah kejadian itu adalah… dirinya dijadikan taruhan malam itu.
Ya.
Ana datang ke pesta bersama lelaki tersebut sebagai pasangan prom.
Dan pria itu menang taruhan dari teman-temannya.
Taruhan untuk membawa pulang Dariela Atlanna Zavira Raespati.
Perut Ana langsung terasa mual setiap kali mengingat fakta itu.
Ia terlalu lama melamun sampai tidak sadar Sabine sudah memanggilnya berkali-kali.
“Mima!”
Ana tersadar lalu menoleh cepat.
“Eh? Iya, kenapa sayang?”
Sabine langsung manyun sambil memeluk lengan Ana.
“Ihhh… malah bengong.”
Ana tersenyum kecil lalu mengusap rambut putrinya lembut.
“Malam ini aku mau tidur sama Mima ya,” rengek Sabine manja.
“Oke,” jawab Ana sambil tersenyum hangat.
Lalu wanita itu menoleh ke arah Dylan.
“Abang juga mau tidur bareng?” tanyanya lembut.
Dylan langsung menggeleng cepat sambil menahan tawa.
“Nggak ah. Aku kan udah gede.”
Laki-laki itu melirik jahil ke arah adiknya.
“Ini pasti gara-gara tadi siang nonton film hantu kan, Bine?”
“Enggak ya!” Sabine langsung membela diri malu. “Emang mau tidur sama Mima aja.”
Gadis itu lalu tersenyum kecil.
“Lagipula besok Sabtu. Bisa tidur lebih lama di kamar Mima enak tau.”
Ana hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka.
“Udah ayo tidur.” Ana berdiri sambil menggandeng tangan Sabine. “Dan kamu, Bang…”
Wanita itu menatap Dylan lembut.
“Jangan tidur terlalu malam.”
“Siap, Bos.” Dylan memberi hormat bercanda yang membuat Ana menggeleng geli.
Tak lama kemudian Ana masuk ke kamar bersama Sabine.
Sementara Dylan masih duduk sendiri di ruang keluarga sambil menatap televisi yang masih menyala pelan.
Dan tanpa siapa pun sadari…
Masa lalu yang selama ini Ana hindari perlahan mulai bergerak mendekati kehidupannya lagi.