NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Tangisan di Kaki yang Salah

Kilau lantai marmer di lobi utama kantor pusat Nadir Label seakan menjadi cermin bagi keruntuhan Reno Pratama. Pria yang dulu selalu melangkah dengan dagu terangkat dan keangkuhan yang meluap-luap itu, kini berjalan dengan tubuh yang tampak ringkih. Jas mahalnya entah ke mana, kemeja putihnya kusut masai, dan sepasang matanya merah tergenang air mata penyesalan yang tak lagi sanggup ia bendung.

Beberapa karyawan yang berpapasan tampak saling berbisik, menatap heran ke arah mantan suami CEO mereka yang kini terlihat seperti gelandangan terhormat. Namun, Reno tidak peduli lagi. Sisa-sisa harga dirinya sudah hancur lebur, terkubur jauh di dasar bumi. Begitu pintu lift pribadi berdenting terbuka di lantai teratas, Reno langsung merangsek masuk ke ruang kerja Andini, mengabaikan Sarah yang sempat mencoba menghadangnya.

"Bu Andini, maaf, Pak Reno memaksa masuk—"

"Tidak apa-apa, Sarah. Tinggalkan kami berdua," potong sebuah suara yang terdengar begitu tenang dan teduh.

Andini sedang berdiri mematung di dekat jendela kaca besar, menatap kesibukan kota Jakarta di bawah sana. Ia berbalik perlahan. Di balik hijab pashmina premium berwarna lavender, wajah Andini tampak begitu anggun sekaligus berwibawa. Tidak ada sedikit pun riak dendam atau ketakutan saat menatap pria yang setahun lalu mengusirnya ke jalanan tanpa belas kasih.

Gubrak!

Reno langsung jatuh bersimpuh di atas lantai, tepat di hadapan sepatu Andini. Pria itu menangkupkan kedua telapak tangannya, bersujud dengan bahu yang berguncang hebat akibat tangisan histeris.

"Andini... ampuni aku, Ndin... tolong ampuni aku," ratap Reno dengan suara parau dan sengau. "Aku bodoh, aku laki-laki bajingan yang sudah buta! Siska mengkhianatiku, Ndin. Anak itu... anak itu ternyata bukan darah dagingku. Perusahaanku bangkrut, Ibu sekarang terkena serangan stroke dan dirawat di rumah sakit. Aku kena karma, Ndin... aku mohon, selamatkan aku..."

Andini menatap pria yang meratap di kakinya itu tanpa berkedip. Tidak ada rasa puas yang meledak-ledak di hatinya, yang tertinggal hanyalah rasa hambar. Ia memundurkan langkahnya satu jengkal, enggan membiarkan tangan Reno menyentuh ujung gamisnya yang bersih.

"Berdirilah, Pak Reno. Ini tempat kerja, bukan panggung untuk bersandiwara," ucap Andini dengan nada sedingin es di kutub.

"Aku tidak sedang bersandiwara, Ndin! Aku bersumpah!" Reno mendongak, wajahnya basah kuyup oleh air mata. "Bagaimana bisa kamu tahu semuanya? Bagaimana bisa kamu memegang dokumen analisis sperma itu? Malam di mana aku mengusirmu... kita bahkan belum pernah periksa bersama ke dokter spesialis. Dari mana kamu tahu kalau aku... aku mandul?"

Andini berjalan dengan tenang menuju kursi kebesarannya, lalu duduk dengan menyilangkan telapak tangan di atas meja. Ia menatap Reno yang perlahan bangkit dengan tubuh gemetar, lalu terduduk di kursi seberang meja dengan tatapan kosong.

"Kamu benar. Malam itu, kita memang belum pernah periksa bersama," ujar Andini. Suaranya mengalun datar, namun mengandung penekanan yang menusuk. "Tapi kamu lupa satu hal, Reno. Tuhan tidak pernah tidur untuk mendengar doa orang-orang yang dizalimi."

Andini menyandarkan punggung ke sandaran kursi. "Enam bulan lalu, setelah bisnis Nadir Label ini mulai menggurita, aku melihat Siska mengunggah foto bayinya di media sosial. Sebagai perempuan yang teliti, aku sadar ada yang janggal. Golongan darah bayi itu yang tidak sengaja terpotret di gelang rumah sakit adalah B. Sementara aku tahu betul, golongan darahmu adalah A, dan Siska juga A. Secara medis, dua orang bergolongan darah A tidak akan pernah bisa melahirkan anak bergolongan darah B."

Reno tertegun, merutuki kebodohannya yang bahkan tidak pernah memperhatikan detail sekecil itu.

"Dari sana, aku meminta bantuan Citra untuk menyewa penyelidik independen," lanjut Andini. "Kami melakukan tes DNA diam-diam pada anak Siska menggunakan sampel rambut yang tertinggal di salah satu salon bayi yang biasa ia datangi. Dan hasilnya, seperti yang kamu lihat, nol persen."

"Lalu... lalu soal berkas kemandulanku?" tanya Reno dengan suara tercekat.

Andini tersenyum sinis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Reno meremang. "Itu bagian yang paling menjijikkan dari dirimu, Reno. Penyelidikku menemukan rekam medis asli di database rumah sakit pusat. Dua tahun lalu, saat kita belum genap dua tahun menikah, kamu ternyata pernah memeriksakan kesuburanmu sendirian secara diam-diam karena merasa tidak sabar."

Reno membeku. Rahasia paling kelam yang ia kubur dalam-dalam kini dikuliti habis oleh mantan istrinya.

"Saat kamu tahu hasilnya bahwa kamu mengalami azoospermia atau mandul permanen, egomu sebagai laki-laki langsung berontak," suara Andini mulai bergetar menahan amarah yang terpendam setahun ini. "Kamu panik. Kamu takut dicap tidak jantan oleh keluargamu. Maka apa yang kamu lakukan? Kamu menyuap oknum petugas administrasi lab untuk menghapus berkas fisikmu, lalu dengan teganya membalikkan fakta! Kamu memfitnah rahimku yang suci di depan ibumu! Kamu biarkan ibumu menghinaku sebagai wanita mandul yang menumpang hidup selama bertahun-tahun, padahal pelakunya adalah dirimu sendiri!"

Brak!

Andini memukul meja kerjanya dengan pelan namun tegas. Sepasang matanya kini berkilat tajam menembus manik mata Reno.

"Kamu tahu seberapa hancurnya aku malam itu, Reno? Aku mengabdi padamu, melepaskan mimpiku, memasakkan makanan kesukaanmu di hari ulang tahun pernikahan kita, tapi kamu justru mengusirku di bawah hujan deras demi wanita yang membawa anak haram pria lain!"

Reno kembali merosot dari kursinya, bersujud di lantai sambil memukuli dadanya sendiri. "Maafkan aku, Andini... maafkan aku... aku egois, aku pengecut!"

"Ya, kamu memang pengecut," sahut Andini, kembali menguasai emosinya dengan luar biasa tenang layaknya wanita yang telah matang oleh keadaan. "Dan sekarang, saat duniamu runtuh, saat Siska bersiap menggugat cerai untuk memeras sisa hartamu, dan saat ibumu terbaring lumpuh... kamu datang merangkak kepadaku? Mengemis agar aku menyelamatkan perusahaanmu?"

"Tolong, Ndin... bantu aku sekali ini saja..."

"Maaf, Reno Pratama," Andini berdiri dari kursinya, memunggungi Reno dan kembali menatap ke luar jendela. "Doamu setahun lalu sudah dikabulkan. Kamu bilang ingin melihat bagaimana cara janda miskin sepertiku bertahan hidup tanpa uangmu. Sekarang kamu sudah melihat jawabannya. Tempatmu berada di masa lalu, dan aku tidak akan pernah sudi mengotori tanganku untuk menolong pria yang telah menghancurkan hidupku."

Andini menekan tombol interkom di mejanya. "Sarah, panggil keamanan. Tolong keluarkan Pak Reno dari ruangan saya. Dan pastikan dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di gedung ini lagi."

"Baik, Bu," sahut Sarah dari seberang garis telepon.

Dua petugas keamanan berbadan tegap segera masuk dan memegangi lengan Reno. Reno tidak memberontak, tubuhnya sudah terlalu lemas untuk melawan. Saat diseret keluar dari ruangan, Reno terus menoleh, menatap punggung anggun Andini yang terbalut hijab lavender dengan penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup.

Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, Andini menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Beban berat yang menghimpit dadanya selama setahun ini luruh seketika, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Di titik nadir kehidupannya dulu, ia belajar untuk mandiri. Dan hari ini, di titik tertinggi kehidupannya, ia telah menuntaskan keadilan dengan cara yang paling terhormat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!