NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Haura berdiri di depan cermin wastafel kamar mandi lantai bawah, menatap pantulan wajahnya dengan napas yang masih tersisa satu-satu. Lembaran tisu basah di tangannya sudah sewarna dengan lipstik marunnya yang berantakan akibat ulah gragas Marco beberapa menit lalu. Setelah memastikan bibirnya bersih sempurna dari noda—meskipun menyisakan rona merah alami dan sedikit bengkak yang tak bisa disembunyikan—Haura merapikan blus sutranya, menarik napas dalam-dalam untuk mengembalikan topeng ketenangannya, lalu melangkah kembali ke ruang tengah mansion.

Di ruangan berkarpet tebal itu, suasana tampak lebih santai namun tetap terasa dingin bagi Haura. Di sofa kulit besar, Silviana sedang asyik meminum tehnya, sementara Anggun duduk dengan posisi anggun, menyandarkan punggungnya sembari memutar-mutar gelang berlian di pergelangan tangannya.

Haura berjalan mendekat, mencoba meleburkan diri. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal yang berada di sisi kiri, tepat di seberang Anggun.

Begitu Haura duduk, pergerakan tangan Anggun yang sedang memainkan gelangnya langsung terhenti. Wanita berusia 43 tahun itu menoleh, melemparkan pandangan yang tajam. Anggun menatap Haura dari atas ke bawah, menilai penampilannya, blusnya, hingga heels marun yang dikenakannya dengan tatapan yang seketika membuat atmosfer di sekitar mereka menjadi tidak nyaman.

"Kamu Haura, kan?" tanya Anggun, suaranya terdengar manis di permukaan, namun memiliki intonasi yang merendahkan.

Haura mempertahankan senyum formalnya, meskipun di dalam hati ia sudah mulai merasa jengkel. "Iya, Mbak."

Anggun memajukan tubuhnya sedikit, menopang dagunya dengan tangan yang dipenuhi cincin berkilau. "Umur kamu berapa sekarang? Kalau dilihat-lihat dari dekat, kayaknya umur kamu nggak beda jauh ya dari saya?"

Mendengar pertanyaan itu, Silviana yang sedang meminum tehnya sempat melirik ke arah Haura dengan pandangan tidak enak. Sementara Haura tetap tenang, ia menyandarkan punggungnya dengan anggun, melipat kakinya, lalu menatap Anggun lurus-lurus.

"Kenapa ya, Mbak, tiba-tiba tanya umur saya?" tanya Haura balik, nadanya tetap sopan namun terdengar tegas, tidak memberikan ruang bagi Anggun untuk merasa di atas angin.

Anggun terkekeh, suara tawa yang dipaksakan terdengar memekik telinga. "Ya nggak apa-apa, tanya aja. Cuma... dengar-dengar dari cerita di meja makan tadi, kamu belum menikah ya? Padahal kalau dilihat dari umur, penampilan, dan wajah kamu, harusnya sudah sangat matang untuk membina rumah tangga. Sayang banget wanita sesukses kamu masih sendiri."

Haura menatap wanita di depannya dengan tatapan datar. Kalimat-kalimat penghakiman berkedok perhatian seperti ini sudah ratusan kali ia dengar, terutama dari relasi papanya. Namun malam ini, setelah mendengar cerita Marco tentang bagaimana Anggun ikut andil dalam membuat hidup pemuda itu menderita di rumah mereka sendiri, Haura tidak punya niat sedikit pun untuk bersikap ramah.

"Pertanyaan template," ucap Haura pendek, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin.

Anggun mengernyitkan keningnya, senyum manis di wajahnya memudar digantikan oleh kerutan tersinggung. "Maksud kamu apa, Haura?"

Haura memajukan tubuhnya, menaruh kedua tangannya di atas lutut, menatap Anggun dengan sepasang mata yang tajam dan mengintimidasi—aura Boss Lady Widjaja keluar sepenuhnya. "Ya... pertanyaan Mbak terlalu template. Membosankan."

"Kamu—"

"Saran saya, Mbak jangan terlalu kepo sama urusan orang lain," potong Haura, suaranya berwibawa, menenggelamkan suara Anggun yang baru mau naik. "Umur saya, status pernikahan saya, itu bukan urusan Mbak Anggun. Mendingan... waktu dan energi Mbak dipake buat urusin keluarga Mbak sendiri aja. Urusin rumah tangga Mbak yang... nggak bisa mengapresiasi anak Mbak sendiri."

Kalimat terakhir Haura mendarat telak di ruang tengah yang mendadak hening seketika. Silviana yang berada di antara mereka bahkan sampai meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan, terpaku mendengar keberanian adik iparnya yang langsung menusuk ke titik personal.

Wajah Anggun seketika berubah merah padam. Matanya melotot, rahangnya mengeras karena tidak menyangka akan mendapat serangan balik yang begitu telak dari anak bungsu keluarga Widjaja. "Maksud kamu apa, ya?! Kamu menyindir keluarga saya?!" tuntut Anggun, suaranya meninggi, memancing perhatian Chelsea yang berada di dekat perapian untuk menoleh.

Haura hanya menaikkan sebelah alisnya dengan santai, sama sekali tidak gentar dengan emosi wanita di depannya. "Tanya pada diri Mbak sendiri, jangan tanya saya. Saya cuma orang luar yang kebetulan baru saja tahu fakta kalau ada orang tua yang tega menganggap anaknya sendiri sebagai produk gagal hanya karena jalannya berbeda."

"Haura! Jaga bicara kamu ya! Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga Permana!" seru Anggun, napasnya memburu, dadanya naik turun karena tersinggung yang luar biasa. Gengsinya sebagai nyonya besar di keluarga Permana serasa diinjak-injak di dalam mansion ini.

"Memang saya tidak tahu semuanya, Mbak," sahut Haura, senyum miring yang tipis dan elegan terukir di bibirnya. Senyum yang tanpa sadar mirip dengan cara Marco tersenyum saat menantang orang lain. "Tapi melihat bagaimana Mbak memperlakukan anak tiri Mbak tadi di meja makan, saya rasa saya sudah cukup tahu kualitas apa yang ada di dalam rumah Mbak. Jadi, sebelum Mbak mengasihani hidup saya yang belum menikah, lebih baik Mbak kasihani dulu suasana rumah Mbak yang mungkin... jauh lebih dingin dari kulkas jastip saya."

"Kamu bener-bener kurang ajar—"

"Ada apa ini? Kok suaranya terdengar sampai luar?"

Suara berat Elang Widjaja tiba-tiba menginterupsi perdebatan panas tersebut. Pria itu melangkah masuk ke ruang tengah bersama Andi Permana, setelah mereka menyelesaikan obrolan bisnis di ruang kerja. Di belakang mereka, Marco dan Arlo yang baru saja masuk dari pintu samping ikut berjalan mengekor.

Anggun langsung berdiri dari sofanya, menghampiri suaminya dengan wajah yang sengaja dibuat layu dan sedih, mencari pembelaan. "Mas... anak bungsu Pak Anggara ini bener-bener nggak punya sopan santun ya! Dia tiba-tiba menyerang dan menghina keluarga kita!" adu Anggun sambil menunjuk Haura dengan jari gemetar.

Andi Permana langsung menatap Haura dengan kening berkerut, sementara Elang menatap adiknya dengan pandangan bertanya-tanya. "Haura, ada apa?" tanya Elang lembut namun tegas.

Haura ikut berdiri, merapikan blusnya dengan anggun, lalu menatap Andi Permana dan Elang bergantian. "Nggak ada apa-apa, Kak Elang. Mbak Anggun cuma sedang tersinggung karena saya tidak suka ditanya-tanya soal umur dan pernikahan. Saya rasa itu hal yang wajar."

Di barisan paling belakang, Marco berdiri bersandar pada dinding dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kainnya. Sepasang mata tajamnya menatap Haura yang baru saja menguliti ibu tirinya dengan kata-kata yang luar biasa cerdas. Ketika Marco mendengar Haura membawa-bawa kalimat "mengapresiasi anak sendiri" dan "produk gagal", Marco langsung tahu bahwa wanita itu sedang membelanya, sedang membalaskan rasa sakit hatinya yang direndahkan di meja makan tadi.

Seulas senyum bangga dan penuh gairah kembali terukir di wajah tampan Marco. Ia menatap Haura dari jauh, matanya berkilat jenaka seolah ingin berkata, “Heibat, Ratu Jastip gue ternyata bisa jadi macan betina yang mematikan kalau lagi ngebela cowoknya.”

Haura yang sempat melirik ke arah Marco langsung memalingkan wajahnya kembali, berusaha meredakan debaran jantungnya yang kembali berulah karena tatapan intens pemuda itu. Malam ini, Haura tidak hanya berhasil membersihkan bibirnya dari sisa ciuman Marco, tapi dia juga berhasil membuktikan pada keluarga Permana bahwa tidak ada satu pun orang yang boleh merendahkan Marco selagi pemuda itu berada di dekatnya.

***

🤣🤣🤣

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!