Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Louis Enver Osborn tidak pernah tahu seberapa dalam kegilaan yang mengakar di dalam dada Adiba Abbey.
Pria itu, dengan segala luka masa lalu dan keterasingannya di Brooklyn, hanya mampu melihat Adiba sebagai sosok konspirator yang licik—seorang wanita yang memegang kendali atas rahasia busuk kakaknya, sekaligus iblis cantik yang datang untuk mengacak-acak sisa kewarasannya.
Dia tidak pernah menyadari bahwa setiap desahan, setiap penyerahan diri, dan bahkan setiap intrik yang dirancang wanita itu bersumber dari satu muara yang sama: sebuah cinta yang hadir oleh obsesi pekat selama sepuluh tahun sepi.
Setelah gumpalan gairah dan rekaman dosa di kamar mandi itu mereda, atmosfer di dalam penthouse perlahan kembali dilingkupi kesunyian yang canggung.
Louis, yang sejatinya memiliki sisi humanis yang tersembunyi di balik pembawaan urakannya, tidak lantas membiarkan Adiba begitu saja.
Dengan hanya mengenakan celana panjang hitamnya tanpa atasan, Louis bergerak mengitari ranjang king size.
Dia memunguti pakaian-pakaian yang berserakan di atas lantai beton—gaun sutra hijau Adiba yang robek di beberapa bagian, jaket kulitnya sendiri, hingga seprai abu-abu yang kini telah kusut akibat penyatuan gila mereka semalaman.
Louis menata kembali bantal-bantal yang terjatuh, mencoba mengusir rasa bersalah yang perlahan merayap kembali ke permukaan otaknya dengan cara menyibukkan diri.
Adiba duduk di tepi ranjang, memperhatikan setiap gerak-gerik Louis dengan sepasang manik mata hitam yang berkilat penuh damba.
Melihat bagaimana punggung tegap yang dipenuhi tato itu bergerak cekatan merapikan kamar untuknya, dada Adiba berdenyut oleh kebahagiaan yang membuncah.
Pria ini... pelindungku... daddy dari anakku, batinnya bersorak lirih.
Drt... drt... drt...
Keheningan pagi itu mendadak pecah oleh getaran hebat dari ponsel hitam Louis yang tergeletak di atas meja nakas.
Layar digitalnya menyala terang, menampilkan sebuah nama yang seketika membuat otot-otot di rahang Louis menegang kaku: Christine.
Detik itu juga, seluruh respek dan ketenangan semu yang baru saja dibangun Louis runtuh.
Ada perubahan drastis pada gestur tubuhnya. Louis mendadak membeku di tempatnya berdiri, menatap ponsel yang terus bergetar dengan tatapan mata yang dipenuhi kecanggungan yang luar biasa.
Rasa bersalah yang teramat masif—seperti batu hitam yang menyumbat tenggorokannya—kembali menghantam ulu hatinya.
Dia baru saja meniduri istri kakaknya berkali-kali dengan gila, dan sekarang, gadis yang statusnya adalah adik dari korban masa lalu yang harus dia lindungi, sedang menghubunginya.
Adiba, yang memiliki intuisi setajam silet, langsung menangkap perubahan aura pada diri Louis. Senyuman manis di bibirnya lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata yang mendadak sedingin es saat melihat nama 'Christine' berkedip di layar ponsel Louis.
Di dalam dada Adiba, sebuah kemarahan yang mendadak membakar habis seluruh kelembutannya.
Demi Tuhan... Adiba merasa ingin melompat dari ranjang saat itu juga, merebut ponsel tersebut, dan mencakar seluruh wajah kekasih Louis hingga tak berbentuk.
Gadis ingusan itu... beraninya dia mengusik momen sucinya bersama Louis? Beraninya dia mengikat Louis dengan tali rasa bersalah atas kematian kakaknya yang bahkan tidak dilakukan oleh Louis?
Tapi tunggu... tunggu waktu yang tepat, Adiba berbisik di dalam hatinya sendiri, meremas selimut sutra di bawah genggamannya untuk menahan gejolak cemburu yang menggila.
Sabar, Adiba. Singkirkan dia perlahan. Gadis itu akan mendapatkan bagian nerakanya sendiri nanti.
Louis menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya sebelum menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Ya, Christine?" ucapnya, suaranya terdengar kaku dan sangat canggung.
Dari seberang telepon, suara manja khas gadis berusia 22 tahun langsung terdengar cerocos tanpa henti.
"Louis! Kau baru bangun? Kenapa suaramu serak sekali? Kau tahu tidak, kemarin aku baru saja membeli tas tangan baru dari desainer di Fifth Avenue! Teman baruku di kampus, Sarah, menemaniku sepanjang hari. Oh ya, dia juga mengenalkanku pada—"
Louis mendengarkan, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Pandangannya justru tertuju pada Adiba yang kini duduk mematung dengan rambut panjangnya yang masih sedikit basah dan berantakan akibat mandi bersama tadi.
Melihat pemandangan itu, sebuah dorongan aneh kembali menguasai diri Louis. Alih-alih membalas ucapan kekasihnya, Louis justru berjalan mendekati lemari kecil di sudut kamar mandi, mengeluarkan sebuah hairdryer dan mengambil selembar handuk putih yang bersih.
Dia kembali ke arah ranjang, mengabaikan sepenuhnya cerocos manja Christine di seberang telepon.
Seperti biasanya, gadis itu selalu bercerita tentang hal-hal tidak penting—soal tas baru, teman baru, atau keluh kesah remajanya. Louis sudah terbiasa menjadi pendengar pasif, namun pagi ini, ketidakpeduliannya mencapai tingkat yang berbeda.
Louis duduk di belakang tubuh Adiba di atas ranjang. Tanpa memutuskan panggilan telepon, dia meletakkan handuk putih itu di atas kepala Adiba, lalu dengan gerakan yang teramat lembut—sangat kontras dengan pembawaan kasarnya—Louis mulai mengeringkan rambut hitam panjang milik kakak iparnya tersebut.
Adiba tersentak kecil mendapat perlakuan manis yang tak terduga itu. Dia menoleh sedikit, menatap wajah Louis dari samping.
Louis tidak menatapnya; pria itu tetap menempelkan ponselnya di telinga kiri menggunakan bahunya yang terangkat, sementara kedua tangannya sibuk menggosok rambut Adiba dengan handuk secara perlahan sebelum menyalakan hairdryer dengan setelan paling rendah agar suaranya tidak terlalu bising di telepon.
"Louis? Kau masih mendengarkanku, kan? Kok berisik sekali? Suara apa itu?" tanya Christine di seberang telepon, terdengar sedikit merajuk karena merasa diabaikan.
"Aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke pelabuhan, Christine. Ini suara pemanas ruangan di Brooklyn yang agak rusak," kebohongon itu lolos begitu saja dari bibir Louis dengan nada datar, sementara matanya kini menatap lekat-lekat barisan tanda kemerahan yang dia buat di tengkuk Adiba yang terekspos.
"Lanjutkan saja ceritamu. Aku mendengarkan."
Adiba memejamkan matanya, menikmati setiap embusan angin hangat dari hairdryer yang digerakkan oleh tangan Louis di rambutnya.
Sebuah kepuasan yang tiada tara merayapi hatinya. Di depan kekasih resminya, Louis justru sedang melayani istri kakaknya seperti seorang ratu. Ini adalah kemenangan kecil yang teramat manis bagi obsesi Adiba.
Di sisi lain, di dalam lubuk hati kecil Louis, sebuah tawa yang luar biasa getir sekaligus sinis mendadak bergemuruh.
Sisi gelap dari jiwanya yang telah rusak oleh perlakuan keluarganya merasa menemukan semacam kepuasan yang menyimpang.
Aku kembali meniduri istri kakakku, batin Louis berbisik dengan nada jahanam yang sarat akan dendam. Ini seperti sebuah sumpah yang menjadi nyata. Sumpah untuk menghancurkan Raynazh hingga ke akar-akarnya.
Jika Raynazh bisa merebut posisinya, membiarkannya membusuk di penjara demi nama baik, dan mengambil seluruh hak kesulungannya sebagai seorang Osborn, maka Louis merasa berhak untuk merebut satu-satunya hal berharga yang dimiliki kakaknya sekarang—istrinya.
Tindakan ini terasa seperti pembalasan dendam yang paling sempurna.
Tubuh Adiba, yang semestinya menjadi lambang kehormatan pernikahan Raynazh, kini telah dia kuasai dan dia beri tanda berkali-kali di bawah kungkungannya.
Namun, Louis yang sejati tetaplah seorang manusia.
Di balik tawa sinis dan dendam yang membakar egonya, ada bagian dari kemanusiaan Louis yang menangis dan merasa jijik pada dirinya sendiri.
Dia menatap pantulan dirinya dan Adiba di cermin kamar. Di seberang telepon, suara Christine yang polos dan bergantung sepenuhnya padanya masih terus terdengar, sementara di depannya, dia sedang mengelus rambut wanita yang merupakan ipar kandungnya sendiri.
Rasa bersalah, tanggung jawab moral yang semu pada Christine, dan kebencian pada sistem keluarganya mendadak berbenturan hebat di dalam dada Louis, membuatnya merasa seperti monster sejati yang perlahan kehilangan kemanusiaannya di tengah dinginnya pagi Brooklyn.
Namun, noda dosa ini telah terlanjur melekat, dan Louis tahu, tidak ada jalan pulang baginya dari neraka yang baru saja dia masuki bersama Adiba.