NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Langkah Dekat Musuh

Kehancuran saham Vanguard Maritim di bursa internasional mengirimkan gelombang kejut yang luar biasa ke seluruh jaringan faksi atas Syndicate. Di dalam ruang operasi taktis bunker pangkalan utara, keheningan malam kembali berkuasa, namun atmosfernya tidak lagi mencekam karena keputusasaan, melainkan karena kewaspadaan tingkat tinggi. Mereka tahu, tikus yang terpojok akan selalu mencoba menggigit dengan lebih nekat.

Elena masih berada di dalam dekapan tangan kiri Adrian, merasakan detak jantung suaminya yang konstan dan menenangkan di balik kemeja hitamnya. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari pelukan posesif pria itu dengan gerakan yang anggun dan elegan, meski tangannya masih sempat menyentuh lengan kiri Adrian seolah enggan kehilangan kontak fisik.

"Saham mereka hancur, tetapi itu artinya kita telah memotong jalur suplai dana segar mereka," kata Elena, matanya beralih kembali ke monitor bursa saham yang kini dipenuhi warna merah likuidasi. "Menurut analisis bisnisku, pimpinan tertinggi faksi atas tidak akan tinggal diam melihat aset global mereka disita otoritas maritim barat. Mereka pasti akan mencari cara tercepat untuk memaksa kita keluar dari persembunyian ini."

Adrian melangkah mundur satu langkah, bersedekap dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap tertahan aman di dalam kain penyangga taktis. Tatapan matanya yang pekat mengunci wajah Elena dengan intensitas yang dalam.

"Mereka tidak punya banyak pilihan, Elena," sahut Adrian, suara baritonnya yang berat terdengar sangat dingin dan teratur. "Jalur hukum palsu mereka di faksi pusat sudah mulai goyah karena intervensi internasional atas kasus penyelundupan Vanguard. Satu-satunya kartu as yang mereka miliki sekarang adalah melakukan tindakan fisik yang ekstrem di luar aturan main korporasi."

PIP.

Suara interupsi dari radio komunikasi terenkripsi milik Hendra kembali memecah keheningan di antara mereka. Suara asisten setia Adrian itu terdengar sangat berisik oleh deru angin malam dan derit ban mobil yang bergesekan tajam dengan aspal.

"Tuan Adrian, Nyonya Elena! Saya baru saja memotong komunikasi radio internal milik unit taktis bayangan faksi atas yang berada di sektor luar!" seru Hendra dengan nada yang sangat mendesak dan terengah-engah. "Mereka telah menyadari bahwa pergerakan short selling massal itu dikendalikan lewat server satelit militer swasta kita. Walaupun mereka belum bisa melacak koordinat pasti bunker utara karena sistem kamuflase pangkalan, mereka mengambil langkah gila!"

Elena langsung melangkah maju mendekati konsol audio, firasat buruknya mendadak menyengat sarafnya. "Apa yang mereka lakukan, Hendra? Katakan dengan jelas!"

"Mereka telah mengerahkan tiga unit tim bersenjata lengkap untuk mendatangi seluruh aset fisik sekunder milik Arsa Group dan Luminous Beauty di wilayah pinggiran," jelas Hendra dengan cepat. "Dan yang paling berbahaya... salah satu tim taktis mereka terdeteksi sedang bergerak menuju kediaman pribadi Michele di sektor selatan!"

Mendengar nama Michele disebut, jantung Elena seolah berhenti berdetak selama satu detik yang mengerikan. Pikirannya langsung melayang pada sosok Michele, sahabat sekaligus orang terdekatnya yang selama ini selalu mendukungnya di masa-masa sulit. Michele bukan bagian dari perang korporasi ini; dia adalah warga sipil yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang kekejaman faksi atas Syndicate.

"Michele..." bisik Elena, wajah cantiknya seketika mengeras oleh kemarahan yang meluap-luap. Sepasang mata indahnya berkilat memancarkan aura dingin yang mematikan, memperlihatkan sisi gelap seorang Alexander yang terusik. "Mereka berani menyentuh orang di sekitarku karena mereka terlalu pengecut untuk menghadapi kita secara langsung di lantai bursa."

Adrian yang berdiri di sampingnya langsung menangkap perubahan emosi yang ekstrem pada istrinya. Rahang tegas pria itu mengeras kencang hingga urat-urat di lehernya menonjol. Aura predator di dalam diri Adrian bangkit seutuhnya, menyelimuti seluruh ruangan dengan tekanan psikologis yang sangat mengintimidasi. Sisi posesifnya bergejolak hebat, bukan hanya karena musuh mencoba menyerang orang dekat mereka, tetapi karena ia tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun membuat Elena-nya merasa terancam dan menderita seperti ini.

Adrian melangkah maju, tangan kirinya bergerak dengan sangat cepat namun lembut untuk menangkup rahang tegas Elena, memaksa wanita itu untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata gelapnya yang memancarkan keyakinan mutlak.

"Tenang, Elena. Jangan biarkan kemarahanmu mengaburkan penilaian taktis kita," ucap Adrian, suara baritonnya yang rendah dan dalam terdengar begitu menenangkan, bertindak sebagai jangkar emosi bagi Elena di tengah badai kepanikan. "Mereka sengaja mengincar Michele untuk memancing kita keluar dari pangkalan utara ini sebelum Tuan Malik selesai meretas peladen KTI pusat. Itu adalah umpan standar dari musuh yang sudah putus asa."

"Tapi kita tidak bisa membiarkan Michele terluka, Adrian!" seru Elena, suaranya sedikit bergetar oleh emosi yang tertahan saat ia menggenggam pergelangan tangan kiri Adrian yang menangkup wajahnya. "Dia tidak ada hubungannya dengan semua kekacauan kontrak bisnis atau perang saham ini!"

"Aku tahu, dan aku tidak pernah berencana untuk membiarkan seujung rambut pun dari orang-orang kita disentuh oleh mereka," desis Adrian dengan nada suara yang sedingin es, namun sarat akan janji perlindungan yang absolut. Pria itu menoleh ke arah konsol komunikasi tanpa melepaskan tangannya dari wajah Elena. "Hendra, aktifkan Protokol Perlindungan Tingkat Empat untuk kediaman Michele sekarang juga. Kerahkan unit militer swasta cadangan kita yang berada di sektor selatan untuk menghadang tim taktis Vanguard sebelum mereka mendekati gerbang kompleks."

"Baik, Tuan! Unit Delta Selatan sudah bergerak menuju lokasi Michele!" jawab Hendra tegas sebelum memutus sambungan komunikasi.

Adrian kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada Elena. Jemari tangan kirinya mengusap lembut pipi dingin istrinya, menyalurkan kehangatan dan rasa kepemilikan yang begitu pekat. Di dalam bunker yang remang-remang ini, di tengah status mereka sebagai buronan dan ancaman nekat dari musuh, Adrian memperlihatkan dominasi absolutnya sebagai seorang pelindung sejati.

"Tetap di sini bersama Tuan Malik, Elena. Kawal proses pembukaan data KTI sampai selesai," perintah Adrian rendah namun tidak menerima bantahan apa pun. "Aku sendiri yang akan turun ke sektor selatan bersama unit cadangan untuk memastikan tikus-tikus Vanguard itu musnah sepenuhnya sebelum mereka sempat menyadari apa yang menimpa mereka."

Elena menatap lurus ke dalam sepasang mata gelap Adrian, mencari celah keraguan di sana namun hanya menemukan kegelapan pekat dari seorang predator yang siap berburu. Ia tahu, membiarkan Adrian pergi dengan kondisi lengan kanan yang masih cedera adalah hal yang berbahaya, tetapi ia juga tahu bahwa suaminya adalah kekuatan absolut yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun jika sudah membuat keputusan.

Elena tersenyum menantang, sebuah senyuman elegan yang mempertegas keberanian dan kepercayaannya yang kini telah mengakar sepenuhnya pada sosok pria di depannya. "Kembalilah tanpa ada noda darah baru di perbanmu, Adrian. Aku akan menyelesaikan bagian kita di sini."

Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai balasan, pria itu menarik tubuh Elena ke dalam dekapannya dengan satu sentakan tangan kiri yang kuat, mengecup puncak kepala istrinya dengan intensitas posesif yang mendalam selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah dengan tegap menembus kegelapan lorong bunker untuk memulai perburuan fisiknya di dunia luar.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!