NovelToon NovelToon
SENIOR,I LOVE YOU!

SENIOR,I LOVE YOU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.

Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.

Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.

Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamera, Kamera di Tangan, Siapa yang Salting Kemudian?

Menjadi model utama dalam proyek iklan perusahaan sendiri ternyata jauh lebih melelahkan daripada menyusun strategi pemasaran bulanan. Itulah yang dirasakan Arini. Demi mengejar estetika video soft selling yang "natural dan organik," Arini dan Rian terpaksa menghabiskan waktu bersama di luar jam kantor untuk menyelaraskan konsep.

Karena ini proyek darurat dengan anggaran yang dipangkas, Rian mengambil alih hampir semua peran teknis: dia adalah konseptor, sutradara, kameramen, sekaligus editornya.

Sore itu, di sebuah kafe semi-terbuka yang asri setelah jam kantor usai, keduanya duduk berhadapan. Bukan untuk membahas laporan penjualan, melainkan membedah storyboard buatan Rian.

"Jadi, adegan pertama dimulai dari jam lima pagi di rumah Ibu," Rian menjelaskan sambil menunjukkan sketsa kasar di tabletnya. "Bu Arini bangun tidur, muka bantal, tapi kulit tetap kelihatan segar karena pakai night cream kita semalam. Setelah itu, transisi ke kamar mandi, lalu adegan sarapan ringan, baru bersiap pakai sunscreen sebelum berangkat ngantor."

Arini memijat pelipisnya, menatap bawahannya itu dengan sangsi. "Rian, apa harus ada adegan muka bantal? Saya ini Kepala Tim Pemasaran, bagaimana kalau staf saya yang lain lihat?"

"Justru itu senjatanya, Bu Arini. Authenticity. Penonton bosan lihat iklan yang modelnya bangun tidur sudah pakai bulu mata palsu," sahut Rian santai, matanya menatap Arini dengan binar jenaka. "Lagipula, wajah bantal Ibu pasti tetap cantik. Percaya deh sama kameramennya Ibu ini."

Arini tertegun. Kalimat terakhir Rian barusan diucapkan dengan sangat kasual, tapi entah mengapa sukses membuat pipi Arini terasa hangat. Panggilan "Ibu" yang formal itu mendadak terdengar berbeda di telinganya. Arini berdeham pelan, mencoba mengalihkan kecanggungannya dengan meminum es kopinya.

Kecanggungan itu mencapai puncaknya saat mereka mulai mengambil beberapa stok video aesthetic di sudut kafe yang dipenuhi tanaman hias. Rian mengangkat kamera DSLR-nya, membidik Arini yang berpura-pura sedang mengetik di laptop sembari menyesap minumannya.

"Oke, Bu Arini. Coba tengok ke arah jendela sebelah kanan, lalu senyum tipis. Jangan kaku, bayangkan saja Ibu sedang melihat bonus akhir tahun kita cair," instruksi Rian dari balik lensa.

Arini mengikuti arahan itu. Dia menoleh, lalu tersenyum. Namun, saat dia kembali menatap ke arah kamera, dia menyadari Rian tidak lagi melihat ke arah layar monitor kamera, melainkan menatap langsung ke arah matanya dari balik bodi kamera. Tatapan Rian begitu dalam, fokus, dan penuh kekaguman yang tidak disembunyikan.

Klik.

Suara rana kamera terdengar. Arini mendadak lupa cara bernapas. Jarak mereka hanya terpaut dua meter, dan atmosfer di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat intens.

"R-Rian... sudah belum?" tanya Arini terbata-bata. Rasa canggung sebagai atasan yang harus menjaga wibawa mendadak runtuh. Dia merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan demi menutupi salah tingkahnya.

Rian menurunkan kameranya, berdeham agak salah tingkah—sebuah pemandangan langka bagi Arini yang biasanya melihat pria itu selalu santai dan penuh percaya diri. "Uh, ya. Sudah, Bu. Dapat shot yang bagus banget. Kita... kita lanjut besok subuh di rumah Ibu, ya."

Malamnya, Rian melarikan diri ke kedai kopi langganannya untuk mulai menyunting video hasil buruannya siang tadi. Di sana, Bagas, sahabat kentalnya sejak zaman kuliah, sudah duduk manis sambil mengunyah kentang goreng.

Bagas memperhatikan Rian yang sejak tadi senyum-senyum sendiri menatap layar laptopnya, tempat video Arini yang sedang tersenyum manis diputar berulang-ulang dalam mode slow motion.

"Heh, Bro. Fokus amat. Itu laptop lo bisa bolong kalau ditatap kayak begitu," celetuk Bagas, menyenggol lengan Rian.

Rian mendecak, tapi matanya tidak beralih dari layar. "Gue lagi color grading, Gas. Ini klipnya Bu Arini, Kepala Pemasaran gue. Ternyata dia kalau di depan kamera dapet banget auranya. Natural."

Bagas condong ke depan, memperhatikan wajah Arini di layar laptop Rian, lalu menatap wajah sahabatnya dengan senyum penuh arti yang menyebalkan.

"Natural atau kamunya yang pakai hati pas nge-shoot?" goda Bagas sambil menaik-turunkan alisnya.

"Apaan sih, ini profesional. Kan lo tahu influencer kemarin cancel sepihak, jadi terpaksa Bu Arini yang turun tangan," kilas Rian defensif, mencoba berlindung di balik alasan pekerjaan.

"Iya, tahu. Tapi skenario lo buat gantiin posisi influencer itu ke bos lo sendiri... cerdas banget sih. Sekalian modus, kan?" Bagas tertawa renyah, lalu menepuk-nepuk bahu Rian dengan gaya dramatis. "Ingat ya, Rian sahabatku yang ganteng tapi jomblo. Awas loh, hati-hati. Berawal dari atasan-bawahan yang sering debat, kerja lembur bareng di luar jam kantor, sering natap lewat lensa kamera... awas nanti jatuh cinta beneran! Kalau udah bucin sama bos sendiri, hilang deh itu sifat sok keren lo."

Rian langsung menutup layar laptopnya setengah, wajahnya mendadak memerah karena sindiran Bagas yang tepat sasaran. "Nggak usah ngaco. Dia atasan gue di divisi pemasaran."

"Atasan di kantor, siapa tahu nanti jadi bos di hati," sahut Bagas santai sambil mencomot kentang goreng terakhir.

Rian langsung mendengus, kali ini menutup laptopnya rapat-rapat dengan bunyi klek yang agak keras.

"Enggak bakal, Gas. Lo tahu kan prinsip mati gue?" Rian menatap Bagas dengan ekspresi yang mendadak serius. "No love at work. Haram hukumnya buat gue jatuh cinta sama rekan kerja, apalagi sama atasan sendiri."

Bagas menghentikan kunyahannya, menatap Rian skeptis. "Halah, prinsip kan dibuat untuk dilanggar, Bro. Lagian kenapa sih lo sekaku itu? Ini cuma masalah hati, bukan korupsi."

Rian bersandar ke kursi, melipat tangan di dada sambil menghela napas panjang. "Lo tahu sendiri alasan gue. Urusan kerjaan itu harus profesional. Sekali lo ngelibatin perasaan, objektivitas lo hilang. Kalau debat pas rapat, jadinya baper. Kalau lagi berantem, kerjaan berantakan. Gue enggak mau mengorbankan karier gue—atau karier Bu Arini—cuma karena emosi sesaat."

Rian menjeda kalimatnya, lalu bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Lagipula... Bu Arini itu Kepala Tim. Dia berwibawa, tegas, dan punya standar tinggi. Enggak mungkin juga dia ngeliat bawahan bentukan kayak gue begini."

Bagas terkekeh melihat sahabatnya yang mulai defensif dan malah nge-down sendiri. "Oke, oke, gue pegang omongan lo ya, Mas Konseptor Kreatif. No love at work. Tapi inget, hati manusia itu bukan proposal kerjaan yang bisa lo atur mekanismenya pake hitam di atas putih. Kita lihat aja, sekuat apa benteng prinsip lo itu bertahan pas besok subuh lo harus nyamperin dia ke rumahnya."

Rian tidak menjawab. Dia meraih gelas kopinya yang sudah mendingin, meneguknya demi mengusir rasa hangat yang tiba-tiba menjalar ke wajahnya. Di dalam hatinya, Rian mulai merapalkan mantra berulang-ulang: Dia atasan lo, Rian. Ini cuma kerjaan. Profesional.

Namun, bayangan senyum natural Bu Arini di balik lensa kamera sore tadi mendadak lewat begitu saja di kepalanya, membuat prinsip yang dia agung-agungkan itu mendadak terasa sedikit... goyah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!