Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Theo Mabuk
Dua hari telah berlalu sejak kepergian Zarlin yang begitu dramatis dengan iringan mobil mewah yang harganya tak masuk akal.
Dua hari ini, bagi Theo, rasanya seperti dilempar langsung ke neraka dunia. Pagi ini, Theo berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya dengan murung.
Kemeja itu tampak kusut di beberapa bagian, bahkan garis lipatannya tidak lurus. Theo harus menyetrikanya sendiri tadi subuh setelah pontang-panting mencari keberadaan setrika yang entah diletakkan di mana.
Hal kecil seperti ini tidak pernah dia pusingkan selama tiga tahun terakhir. Biasanya, setiap pagi menjelang, kemeja kerjanya sudah sewangi bunga, licin tanpa cela, dan tergantung rapi di dalam lemari khusus bersama dengan dasi.
Jangankan menyetrika, Theo bahkan tidak pernah tahu merek pewangi pakaian apa yang digunakan di rumahnya. Semua itu berjalan secara otomatis, seolah-olah baju-baju itu rapi dengan sendirinya.
Namun kini, setelah Zarlin pergi, semua terasa hancur.
"Ibu! Kenapa tidak ada makanan sama sekali di meja makan?!" teriak Theo pada ibunya.
Di ruang makan, suasananya jauh dari kata mewah. Malah, cenderung menjijikkan untuk ukuran rumah seorang CEO. Piring-piring kotor bekas makan malam dua hari lalu menumpuk tinggi di dalam wastafel dapur, menimbulkan aroma tidak sedap yang mulai menguar ke seluruh ruangan. Sisa-sisa makanan yang mengering menempel di atas meja kaca yang biasanya berkilat bersih.
"Bagaimana Ibu bisa memasak, Theo?! Ibu tidak tahu cara menyalakan kompor induksi modern yang dibeli si pembawa sial itu! Tombolnya banyak sekali dan membingungkan!" keluh Ratna dengan nada tinggi, meluapkan rasa frustrasinya.
"Lagipula, tangan Ibu ini baru saja melakukan perawatan manicure minggu lalu di salon kecantikan. Kulit Ibu bisa kasar dan rusak kalau harus mencuci tumpukan piring sebanyak itu! Memangnya kamu mau melihat Ibu ini menderita?!"
"Lalu kenapa Ibu tidak menyuruh Bianca datang ke sini untuk membantu? Dia kan manajer pemasaran di kantor, dia pasti tahu cara mengurus hal-hal modern seperti ini! Dia juga calon menantu Ibu, bukan?!"
Ratna mendengkus, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
"Ibu sudah meneleponnya kemarin, Theo. Tapi Bianca bilang dia sedang sibuk menyusun proposal darurat di apartemennya untuk menyelamatkan perusahaan kita. Dia itu wanita karier, Theo! Wanita terhormat yang berpendidikan tinggi. Mana level kalau harus disuruh datang pagi-pagi ke sini hanya untuk mencuci piring kotor dan menyapu lantai? Tugas-tugas rendahan seperti itu kan harusnya dikerjakan oleh tipe wanita rumahan seperti si Zarlin!"
Theo tidak menyahut lagi. Dia hanya bisa mengembuskan napas berat yang terdengar sangat lelah.
Ke mana sebenarnya Zarlin pergi? Pertanyaan itu terus berputar di otak Theo seperti kaset rusak.
Nomor ponsel lama istrinya mati total saat dihubungi. Theo sebenarnya ingin melacaknya, namun rasa gengsinya yang terlalu tinggi melarangnya untuk melangkah ke rumah kecil milik mertuanya di pinggiran kota itu. Dia menolak merendahkan diri di depan keluarga miskin.
Kesialan dan tekanan yang dihadapi Theo tidak berhenti sampai di lingkungan rumah saja. Di kantor Falcon Corp, situasinya jauh lebih kritis dan berada di ambang kehancuran total.
Selama dua hari penuh, Theo dan Bianca harus pontang-panting mengabaikan rasa lelah mereka. Mereka mendatangi berbagai bank swasta, bank pemerintah, hingga para investor lokal kelas menengah untuk mengajukan pinjaman dana darurat sebesar lima puluh miliar rupiah.
Uang itu adalah hal utama untuk menyelamatkan proyek pembangunan pelabuhan baru yang menjadi tumpuan hidup Falcon Corp kuartal ini.
Siapa pun yang berani meminjamkan uang kepada Theo, maka akan berhadapan langsung dengan kekuatan finansial keluarga Rahesa. Akibatnya, dalam waktu singkat, Theo terisolasi total tanpa dia ketahui apa penyebab sebenarnya.
...****************...
Malam harinya, setelah seharian penuh kembali menerima penolakan dari investor terakhir yang menjadi harapan mereka, Theo tidak sanggup lagi untuk pulang ke rumahnya yang berantakan dan penuh keluhan dari ibunya.
Pria itu memilih untuk melarikan diri dari kenyataan. Dia membawa langkah kakinya menuju sebuah VIP Lounge di kelab malam paling mewah di pusat kota, Di sana, Bianca setia menemani di sampingnya.
...*Brak!*...
Theo membanting gelas kaca berkadar alkohol tinggi itu ke atas meja dengan sangat keras, hingga beberapa tetes cairannya tepercik keluar.
Wajah tampannya yang biasa memancarkan keangkuhan kini telah memerah padam akibat pengaruh alkohol. Matanya sayu, akibat kombinasi antara stres berat, kurang tidur, dan rasa frustrasi yang mendalam.
"Sialan! Benar-benar sialan!" ujar Theo dengan suara setengah mengerang, tangan kanannya bergerak kasar untuk melonggarkan ikatan dasi di lehernya yang terasa mencekik.
"Bagaimana bisa semua bank mendadak menolakku?! Mereka biasanya mengemis agar aku mau mengambil pinjaman dari mereka! Siapa... siapa sebenarnya yang sedang bermain-main di belakangku?!"
Bianca yang duduk tepat di sampingnya, mengenakan gaun malam berwarna merah ketat dengan potongan dada yang sangat rendah, langsung menggeser duduknya agar lebih rapat.
Tangan lentiknya yang dihiasi cat kuku mahal bergerak lembut mengelus dada Theo, mencoba memberikan ketenangan semu kepada pria yang sedang murka itu.
Namun, jika Theo jeli melihat sorot mata Bianca, dia akan menemukan kilat ketakutan dan kejengkelan yang amat besar di sana. Bagaimanapun juga, bagi Bianca, kehancuran Falcon Corp berarti hilangnya sumber dana utamanya untuk berfoya-foya.
"Tenanglah dulu, Theo... minumlah sedikit lagi agar pikiranmu bisa rileks," ujar Bianca dengan suara yang sengaja dibuat penuh racun manipulasi.
"Ini semua pasti karena konspirasi dari perusahaan Aricia International sialan itu. Mereka pasti sengaja ingin menjatuhkanmu karena persaingan bisnis yang tidak sehat. Dan aku yakin, ini juga ada hubungannya dengan sumpah serapah yang diucapkan si wanita jalang Zarlin itu sebelum dia pergi siang itu. Dia sengaja membawa sial untuk kariermu, Theo."
"Ya... Zarlin... wanita pembawa sial itu..." Theo bergumam.
Mendengar nama Zarlin disebut, ingatan Theo secara otomatis mengingat kembali adegan di siang hari dua hari lalu.
Bayangan Zarlin yang berjalan dengan kepala tegak, mengenakan pakaian anggun, lalu masuk ke dalam deretan mobil mewah puluhan miliar bersama para pengawal berjas hitam. Rasa cemburu, amarah, dan harga diri pria angkuh yang terinjak-injak mendadak bangkit kembali.
"Dia berani memamerkan om-om kaya simpanannya di depan wajahku sendiri! Dia pikir dia siapa?! Selama tiga tahun dia hidup dari uangku, dan sekarang dia berlagak seperti seorang ratu hanya karena menjual dirinya pada pria tua bangka?!" teriak Theo
Efek dari alkohol berkadar tinggi yang mengalir di dalam darahnya mendadak memicu adrenalin dan gairah yang liar di dalam tubuh Theo.
Dengan gerakan yang tiba-tiba dan cenderung kasar, Theo mencengkeram pinggang ramping Bianca, menarik tubuh wanita itu dengan satu hentakan kuat hingga Bianca kini duduk di atas pangkuannya.
"Theo... kamu mabuk berat, Sayang..." bisik Bianca, suaranya dibuat serak yang menggoda.
Di dalam lubuk hatinya, Bianca sebenarnya sedang bersorak kegirangan penuh kemenangan. Dia merasa momen yang ditunggunya selama ini akhirnya tiba juga.
Pikirannya yang licik langsung menyusun rencana, jika malam ini dia berhasil tidur dengan Theo dan menguncinya di atas ranjang, maka posisinya sebagai calon Nyonya Besar Falcon yang sah akan terkunci rapat tanpa bisa diganggu gugat lagi.
Tidak peduli apakah perusahaan Falcon Corp sedang berada di ambang kebangkrutan atau tidak, Theo harus bertanggung jawab penuh atas dirinya setelah malam ini.
Bianca sengaja memajukan wajahnya, membiarkan bibir merahnya berada hanya beberapa milimeter dari bibir Theo, memancing pria itu untuk segera menerkamnya.
Hasrat di dalam diri Theo sudah berada di puncak tertinggi, siap meledak kapan saja. Instingnya berteriak untuk segera merenggut wanita di pelukannya ini, menciumnya dengan kasar, dan membawanya ke kamar hotel terdekat demi melupakan seluruh kehancuran bisnis yang sedang melilit otaknya.
Namun, tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, sebuah sisa kesadaran yang kaku di dalam otak Theo mendadak menarik rem darurat dengan paksa.
Konsep berpikirnya yang kolot, ego, serta keangkuhan yang selama ini dia agungkan tiba-tiba muncul ke permukaan, mendominasi akal sehatnya yang tengah mabuk.
"Tidak. Jangan di sini, dan jangan sekarang," batin Theo berteriak keras di dalam kepalanya.
Di mata Theo, Bianca adalah sosok wanita yang berbeda kasta dengan Zarlin. Bianca adalah wanita karier berpendidikan tinggi dari lulusan universitas ternama, mandiri, elegan, dan memiliki masa depan cerah.
Dengan sisa tenaga dan kendali diri yang luar biasa, Theo perlahan mendorong kedua bahu Bianca menjauh dari tubuhnya.
"Maaf, Bianca... aku tidak bisa melakukan ini sekarang," ujar Theo dengan suara yang berat.
Bianca tersentak, matanya mengerjap tak percaya.
"Theo? Kenapa?"
Theo menatap Bianca dengan tatapan yang dia buat selembut mungkin, meskipun wajahnya masih memerah.
"Kamu adalah wanita karier yang terhormat, Bianca. Kamu terlalu berharga untuk aku perlakukan seperti ini di tempat umum dalam keadaan mabuk. Aku sangat menghargaimu dan menghormatimu sebagai calon istriku. Aku berjanji... aku akan menjaga kesucianmu dengan baik sampai hari di mana kita resmi menikah di altar nanti. Aku tidak mau merusak momen sakral kita."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Theo, seluruh senyuman manja dan gairah buatan di wajah Bianca langsung menghilang seketika.
"Sialan! Pria bodoh ini benar-benar idiot! Gengsi macam apa yang sedang dia pertahankan di saat perusahaannya saja sudah mau mati?!" batin Bianca.
"O-oh... begitu ya, Theo? Kamu... kamu benar-benar pria yang sangat baik dan terhormat. Terima kasih karena sudah memikirkanku sampai sejauh itu," ucap Bianca dengan nada suara yang dipaksakan terdengar terharu dan bergetar, padahal di dalam hatinya dia sedang menjerit ingin menampar wajah Theo saat itu juga.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!