Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raditya kembali
*Bab 29
Ia muncul dari ujung jalan pukul sebelas lebih dua puluh menit.
Nayla melihatnya pertama kali — bahkan sebelum Sari, sebelum prajurit yang berjaga, sebelum siapa pun.
Aldi di sisi kanan. Dan di tengah mereka — satu sosok tinggi dengan langkah yang ia hafal, meski malam ini langkah itu terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Nayla beranjak dari tempat duduknya.
Diikuti Sari di sebelahnya yang juga ikut berdiri.
Raditya berhenti saat jarak mereka tinggal dua meter. Terlihat di sana wajahnya sedikit berdebu. Seragamnya kotor di bahu dan lengan. Di bawah cahaya lampu portabel yang redup, pelipis kanannya — terdapat luka goresan kecil yang sudah mengering, lalu ia melirik betis kiri Raditya.
Perban yang ia pasang dua hari lalu sekarang terlihat basah oleh darah tembus tipis di bagian bawah celana kargo yang sudah digulung.
Nayla mengangkat pandangan menatap Raditya. tidak bergerak
Dan untuk pertama kalinya sejak
Seorang Raditya diangkat jadi letnan, ia terlihat gugup karena tatapan seseorang.
"Dok—"
Satu kata. Suaranya keluar berbeda dari biasanya — tidak sedatar yang ia rencanakan. Ada getaran kecil di ujungnya, sangat kecil, tapi cukup untuk membuat Aldi yang berdiri di sebelahnya melirik sekali lalu mengalihkan pandangan ke langit.
Nayla tidak menjawab.
Ia hanya berdiri di sana. Menatap Raditya dengan tatapan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. Terlalu banyak hal yang bercampur jadi satu. Lega yang belum sempurna. Marah yang tidak tahu harus ke mana. Khawatir yang baru sekarang diizinkan keluar setelah tujuh jam ditahan.
Raditya melirik ke kanan.
Ke arah Dimas yang berdiri tiga langkah di belakangnya — tangan di saku, ekspresi wajah orang yang tiba-tiba sangat tertarik pada kegelapan di sudut lapangan.
"Dim—" panggil Raditya, ia bermaksud ingin bertanya apa yang terjadi selama dia pergi.
Tetapi Dimas hanya mengangkat bahu sekali.
Raditya kembali menatap Nayla.
Aldi di sebelahnya menepuk bahunya sekali — singkat, seperti orang yang sedang memberi semangat sebelum seseorang masuk medan yang lebih berbahaya dari Margalaya mana pun.
Lalu Aldi melangkah menjauh, membawa keempat prajurit bersamanya, meninggalkan dua orang itu berdiri di tengah lapangan di bawah langit Karang Wilis yang penuh bintang.
Hening.
Angin lewat. Daun-daun di tepi lapangan bergerak pelan.
Nayla akhirnya mengalihkan pandangannya — turun ke lengan kiri Raditya, ke perban yang basah itu.
"Lukanya terbuka lagi."
Bukan pertanyaan.
Raditya mengikuti arah pandangannya. Menatap perbannya sebentar. "Ah iya, saya tidak—"
"Saya tidak apa-apa." Nayla memotong. "Saya tahu. Bapak tidak pernah apa-apa."
Raditya menutup mulutnya.
Nayla menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan. Tangannya bergerak ke tas medis kecil di bahunya yang tidak pernah ia lepas sejak pukul tujuh tadi.
"Tenda medis," ucapnya.
Raditya tidak bergeming dari tempatnya.
"Pak," ulangnya lagi.
"Tenda medis sekarang," ucapnya.
Raditya mengangguk lalu ia berjalan mengikuti Nayla dari belakang, menatap punggungnya. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini," batinnya.
Mereka berjalan beriringan, tapi sekarang Nayla yang di depan, Raditya di belakang tanpa mendahului.
Di tenda medis, Sari sudah menyiapkan lampu. Ia menoleh saat mereka masuk, menatap keduanya sedetik, lalu dengan sangat profesional mengambil nampan dan berpura-pura sangat sibuk di sudut ruangan yang paling jauh.
Nayla menarik kursi. "Duduk."
Raditya duduk.
Nayla jongkok di depannya, membuka perban lama dengan gerakan yang terlatih — cepat, terukur, tidak membuang waktu. Tapi tangannya malam ini tidak sama seperti malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang lebih hati-hati dari sekadar prosedur.
Luka itu terbuka di dua titik, tapi tekanan saat berjalan di medan yang tidak rata membuat tepi lukanya kembali berdarah tipis.
"Sakit?" tanyanya.
"Tidak."
Nayla mendongak. Menatap Raditya langsung.
"...Sedikit."
Nayla mengangguk. Kembali bekerja.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi — hanya suara obat yang dibuka, kasa yang dilipat, plester yang dilepas dari bungkusnya.
Lalu Raditya angkat bicara.
"Saya tadi menemui kepala desa Margalaya."
Nayla tidak mengangkat wajah. Tidak menjawab, tangannya masih sibuk bekerja membersihkan luka Raditya.
"Ada hal yang perlu diselesaikan di sana. Tidak bisa ditinggal setengah jalan," lanjut Raditya.
"Sa—" ucapannya terpotong karena ia melihat mata Nayla memerah.
"Tujuh jam, Pak," suaranya tidak naik — justru makin pelan. "Tujuh jam saya tidak tahu apakah Bapak baik-baik saja atau tidak. Dan Bapak harus tahu, saya tidak bisa berhenti menghitung kemungkinan-kemungkinan yang saya tidak mau hitung," ucapnya sambil menunduk. "Saya takut, Pak, entah kenapa, saya tidak tahu," ucapnya kembali menunduk.
Raditya terdiam, matanya tidak beralih dari menatap Nayla di hadapannya yang saat ini sedang menunduk. Terlihat juga tangannya mencengkeram erat kasa.
Lalu, "Maaf," ucap Raditya akhirnya.
Nayla tidak menanggapi, tetapi terlihat ia mengusap matanya sambil menunduk melanjutkan pekerjaannya membersihkan luka itu.
"Lain kali kasih tahu saya, Pak, jangan seperti itu lagi. Saya takut kalau terjadi apa-apa sama Bapak."
Raditya mengangguk lalu tersenyum tipis sekali.
Tetapi Nayla melihat itu lalu ia cepat-cepat berdiri.
"Kenapa Bapak tersenyum?" ucapnya sambil menunduk, wajahnya memerah, terlihat ia menggigit bibir bawahnya.
Raditya menggeleng sambil menatap Nayla yang sedang menunduk.
Lalu, "Terima kasih," ucapnya kembali, kali ini suaranya terdengar tulus.
Nayla kembali mengangkat wajah perlahan, tetapi sesaat kemudian matanya melotot besar, ia melihat senyum Raditya semakin tampak.
"Sa-saya izin keluar, Pak," ucapnya gugup setengah mati.
Nayla cepat-cepat membereskan peralatannya lalu berjalan keluar.