"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Hari terus berlalu. Semua berkas milik Aryan dan Zaskia telah resmi tercatat di Kantor Urusan Agama. Buku nikah berlambang Garuda yang menjadi tanda sahnya sebuah pernikahan kini tinggal menunggu untuk ditandatangani.
Di kediaman Zhafran, di bawah dekorasi sederhana bernuansa putih dengan paduan mawar di setiap sudutnya, semua orang telah berkumpul. Mulai dari Pak Penghulu, wali saksi, keluarga mempelai perempuan, keluarga mempelai laki-laki, termasuk Opa Athar, Oma Arsyila, Azzam dan Aira yang merupakan orang tua angkat Kafa yang juga om dan tante Aryan. Para tamu undangan yang hadir pun hanya terdiri dari kerabat, sahabat, serta tetangga dekat.
Di balik meja akad, Aryan tampak beberapa kali mengembuskan napas panjang. Jemarinya dingin. Jantungnya berdegup tidak karuan. Gugup dan haru bercampur menjadi satu.
Sementara itu, Zhafran yang akan menjadi wali nikah putrinya tampak begitu gagah dengan pakaian putih yang dikenakannya.
Tak jauh dari sana, Kafa berdiri dengan kacamata hitam menutupi matanya yang sembab. Dadanya terasa sesak sejak tadi. Ada sesuatu yang mengganjal dan terus mengusik pikirannya.
Apa ia menyesal?
“Kita mulai sekarang, Pak Zhafran,” ucap Pak Penghulu.
Zhafran mengangguk. Ia menjabat tangan Aryan erat, lalu melafalkan ijab kabul dengan tenang dan lancar menggunakan bahasa Arab.
Usai kalimat ijab selesai terucap, Zhafran memberi sentakan kecil pada tangan Aryan, membuat pemuda itu segera tersadar.
Aryan menarik napas, lalu mengucapkan kabul dengan suara mantap.
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu taufiq.”
Air mata Kafa luruh seketika.
Gadis yang pernah ia janjikan akan dilamar dua bulan lagi kini resmi menjadi milik orang lain. Dan orang itu adalah sahabatnya sendiri.
“Bagaimana saksi?”
“Sah.”
“Alhamdulillah.”
Suasana langsung dipenuhi ucapan syukur. Aryan mengembuskan napas lega sambil mengusap wajahnya. Hal yang selama ini hanya berani ia simpan dalam diam akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.
Meski begitu, ia sadar satu hal.
Ia berhasil memiliki Zaskia, tetapi belum tentu mendapatkan hatinya.
Tak lama kemudian, Zaskia dibawa keluar oleh adik Aryan-Arzelia (Azel). Gadis itu mengenakan gaun pengantin putih sederhana yang membuat kecantikannya terlihat semakin anggun. Riasan flawless di wajahnya membuat Aryan sampai terpaku.
Matanya tak berkedip menatap Zaskia yang berjalan perlahan mendekat.
Cantik sekali.
Jantung Aryan seolah ingin lepas dari tempatnya. Lututnya bahkan terasa lemas.
Perasaan macam apa ini?
Zaskia kemudian duduk di kursi di samping Aryan. Gadis itu terus menunduk, menghindari tatapan laki-laki yang kini sah menjadi suaminya.
“Doakan istrimu, Nak,” ucap Zhafran.
Aryan terkesiap. Ia nyaris lupa karena terlalu terpesona menatap Zaskia.
Dengan tangan yang mendadak tremor, Aryan menyentuh pucuk kepala Zaskia sambil membaca doa.
“Allahumma inni as’aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha ‘alaihi, wa a’udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha ‘alaihi.”
“Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair.”
Ucapan doa itu menggema dari berbagai arah. Ada Pak Penghulu, Zhafran, Gus Abidzar, Ustaz Salim, Opa Athar, hingga Ustadz Mansyur yang ikut mengaminkan.
Zaskia lalu meraih tangan Aryan yang terasa dingin, kemudian mengecupnya takzim.
Kini mereka resmi menjadi suami dan istri.
Setelah menandatangani beberapa berkas serta buku nikah, Aryan dan Zaskia dipersilakan duduk di pelaminan. Suasana di antara mereka terasa sangat canggung.
Aryan bahkan tidak tau harus memulai percakapan dari mana.
Begitu pula dengan Zaskia.
Beberapa menit kemudian, para tamu mulai naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. Hingga akhirnya Kafa ikut berdiri di hadapan mereka.
Aryan dan Zaskia bangkit bersamaan.
“Selamat, Yan.” Tanpa ragu Kafa langsung memeluk Aryan erat.
Zaskia yang berdiri di samping suaminya segera membuang muka. Matanya memanas. Rahangnya terasa pegal karena menahan tangis sekuat tenaga.
“Makasih, Kaf,” balas Aryan sambil menepuk punggung sahabatnya pelan.
Tubuh Kafa bergetar kecil. Ia menangis. Beruntung kacamata hitam itu menutupi matanya.
“Maafin gue.”
“Jangan ke gue minta maafnya,” jawab Aryan pelan. “Minta maaf langsung sama istri gue.”
Kata istri itu menghantam dada Kafa begitu keras.
“Yan… gue titip dia ya. Bahagiain dia lebih dari gue dulu.”
“Insya Allah.”
“Makasih, Yan.”
Aryan diam.
“Gue sayang sama lo. Jangan berubah asing setelah nikah ya. Sekarang gue tinggal punya Arshaf doang. Lo tau sendiri dia galak. Cuma lo yang selalu ngerti gue. Cuma lo yang mau nemenin gue tidur karena gue takut gelap.”
Aryan mengangguk pelan.
“Gue juga sayang sama lo, Kaf. Datang aja kapan pun lo butuh gue. Kita udah lama sahabatan. Gue gak bakal ninggalin lo.”
Tangis Kafa semakin sesak.
Ia mengurai pelukannya perlahan, mengusap matanya tanpa melepas kacamata hitam, lalu menepuk pelan bahu Aryan.
Setelah itu, ia berdiri di hadapan Zaskia.
Gadis itu masih menunduk, menatap sepatu yang dikenakan Kafa.
“Maafin kakak, Kia,” ucapnya lirih. “Selamat buat pernikahan kamu.”
Zaskia diam.
Bendungan air matanya hampir runtuh. Jika saja ia bisa, ingin rasanya ia memukul Kafa sambil mempertanyakan semuanya.
Kenapa pergi?
Kenapa menyerah?
Dan kenapa meninggalkannya di saat ia paling membutuhkan?
“Ternyata kita gak jodoh,” lanjut Kafa dengan senyum getir. “Lupain kakak mulai sekarang ya. Bahagia terus buat kamu.”
Kafa berbalik pergi.
Begitu turun dari pelaminan, tangisnya pecah. Ia berjalan cepat meninggalkan tempat acara tanpa berani menoleh lagi.
Zaskia buru-buru mengusap matanya sebelum air mata yang sedari tadi ditahan jatuh membasahi pipi.
Aryan yang berdiri di sampingnya hanya bisa memandang dengan dada nyeri.
Sepertinya mulai hari ini, ia harus belajar lebih sabar lagi.
Sabar menunggu Zaskia menerima dirinya.
Tak lama, Arshaf dan Arzelia ikut naik ke pelaminan.
“Selamat ya, Yan,” ucap Arshaf sambil memeluk kembarannya. “Bahagia terus. Gue jadi sendiri nih.”
“Ada Kafa, Shaf,” balas Aryan kecil.
“Gue bangga sama lo. Lo adek gue, tapi lo bisa lebih bertanggung jawab.”
Aryan hanya tersenyum tipis.
Setelah itu Arzelia maju dengan wajah jahilnya.
"Selamat ya, Bang Aryan." Arzelia tersenyum jahil sambil menyenggol pelan lengan kakaknya. "Akhirnya ada juga cewek yang mau sama abang."
"Apaan sih, Zel?" Aryan mendelik malas, meski sudut bibirnya tertarik tipis.
"Eh serius, Kak. Tadi dari awal akad tangan abang gemeteran banget. Azel sampai takut buku nikahnya jatuh."
Beberapa orang di sekitar mereka langsung tertawa kecil. Wajah Aryan seketika memanas. Ia berdeham pelan sambil membuang muka.
"Udah sana turun," gerutunya.
"Ciiee malu."
"Azel." Nada suara Aryan mulai mengancam.
Gadis remaja itu malah terkikik geli lalu mendekat pada Zaskia. "Kak Kia cantik banget hari ini. Bang Aryan dari tadi ngeliatin kakak terus loh."
Zaskia yang sedari tadi diam hanya mampu tersenyum tipis. Hatinya masih sesak. Namun di tengah kekacauan perasaannya, ucapan Azel sedikit mengalihkan pikirannya.
"Jangan dengerin dia," ucap Aryan cepat.
"Lah emang bener kan?" sahut Arshaf tiba-tiba ikut menyambar. "Tadi dia sampai bengong pas Kia keluar. Mulutnya kebuka lagi."
"Astaghfirullah, Shaf!" Aryan langsung menatap kembarannya dengan kesal.
Azel tertawa makin keras. "Ya ampun, Kak Aryan ketahuan banget sukanya udah lama."
Zaskia refleks menoleh pada Aryan. Untuk sesaat, pandangan mereka bertemu. Aryan yang biasanya terlihat tenang kini malah salah tingkah sendiri. Ia buru-buru mengalihkan mata sambil mengusap tengkuknya.
Entah kenapa, dada Zaskia terasa semakin tidak nyaman.
Bukan karena Aryan.
Tapi karena ia baru sadar., laki-laki yang kini menjadi suaminya ternyata benar-benar tulus menjaganya sejak dulu, sementara laki-laki yang ia tunggu justru pergi meninggalkannya di saat paling sulit.
"Kak Kia?" panggil Azel pelan.
"Hm?"
"Bahagia ya sama abang aku. Walaupun dia nyebelin, jutek, galak, terus ngomongnya irit... tapi dia baik banget."
Arshaf mengangguk setuju. "Dan terlalu mikirin orang lain."
Aryan mendesah panjang. "Kalian berdua selesai belum sih buka aib gue?"
"Belum." jawab Azel cepat.
Semua kembali tertawa kecil, termasuk beberapa keluarga yang memperhatikan interaksi mereka dari bawah pelaminan.
Di tengah keramaian itu, Aryan diam-diam melirik Zaskia.
Gadis itu masih cantik dengan gaun putihnya. Namun matanya sembab. Senyumnya pun terasa rapuh.
Aryan tahu, hati Zaskia belum benar-benar ada untuknya.
Tapi tidak apa-apa.
Setidaknya sekarang... Zaskia sudah berada di sisinya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Aryan bisa memanggil gadis itu dengan satu kata yang selama ini hanya ia simpan dalam doa-doanya.
Istriku.
***
Malam harinya, usai menunaikan salat Isya, Aryan dan Zaskia diminta menemui Ustadz Mansyur. Di ruang tengah yang hanya diisi oleh mereka bertiga, suasana terasa canggung dan sunyi. Ustadz Mansyur duduk bersila di hadapan keduanya, lalu mulai menjelaskan beberapa hal penting mengenai gangguan yang dialami Zaskia agar jin yang mengikutinya benar-benar pergi.
“Mohon maaf sebelumnya kalau apa yang saya sampaikan membuat kalian tidak nyaman,” ujar Ustadz Mansyur pelan. “Jin yang mengikuti Nak Zaskia tidak akan benar-benar pergi hanya karena kalian sudah menikah. Kalian harus benar-benar menjadi suami istri sepenuhnya.”
Aryan dan Zaskia sama-sama terdiam.
“Karena setelah hubungan itu terjadi,” lanjut Ustaz Mansyur, “Jin yang mengganggu Nak Zaskia tidak akan lagi mengenali tubuh yang selama ini ia ikuti. Ikatan antara kalian berdua akan menjadi penghalang baginya.”
Ucapan itu sontak membuat napas Aryan tercekat.
Sejujurnya, sejak awal Aryan berpikir dirinya hanya perlu menikahi Zaskia demi melindungi gadis itu. Ia bahkan berniat menunggu sampai Zaskia benar-benar siap menerima dirinya sebagai suami. Namun kini keadaan berkata lain.
Bagaimana mungkin ia melakukan hal sejauh itu sementara hati Zaskia bahkan belum sepenuhnya untuknya?
“Apa harus sampai seperti itu, Ustadz?” tanya Aryan akhirnya. Suaranya terdengar berat.
“Iya, Nak Aryan,” jawab Ustaz Mansyur tenang. “Kalian sudah halal satu sama lain. Tidak ada yang salah. Justru itu salah satu ikhtiar agar gangguan ini berhenti.”
Aryan menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah.
“Kalau Nak Aryan masih ragu dengan apa yang saya katakan,” lanjut Ustadz Mansyur, “coba saja malam ini. Insya.Allah, gangguan itu akan berhenti.”
“Bukan begitu maksud saya, Ustadz,” ucap Aryan cepat. “Saya cuma... belum siap.”
Ustaz Mansyur tersenyum tipis penuh maklum. “Dalam pernikahan, kadang seseorang memang dipaksa siap oleh keadaan. Tapi sekarang yang paling penting, bagaimana kalian saling menjaga dan saling menenangkan.”
Aryan terdiam. Ia lalu menoleh ke arah Zaskia.
Sejak tadi gadis itu hanya menunduk diam sambil memilin ujung kerudungnya pelan. Wajahnya tampak gugup, bahkan tak berani mengangkat kepala.
Melihat itu, Aryan mengembuskan napas panjang.
Jantungnya terasa berdebar tak karuan.
Bagaimana caranya memulai semua ini?
Ia bahkan masih canggung menatap Zaskia terlalu lama, lalu sekarang mereka harus menghadapi pembicaraan seperti ini di malam pertama pernikahan mereka.
Dan yang paling membuat Aryan takut bukan tentang dirinya sendiri.
Melainkan... bagaimana jika Zaskia merasa terpaksa bersamanya?
***
Usai mengobrol dengan Ustadz Mansyur dan laki-laki paruh baya itu berpamitan pulang, Aryan dan Zaskia memutuskan untuk tidak langsung menuju kamar. Keduanya memilih menghampiri keluarga yang masih berkumpul di rumah sebelah.
Hanya Kafa yang tidak terlihat di sana. Laki-laki itu memilih mengurung diri di apartemennya dengan alasan kepalanya sedang pusing.
Aryan dan Zaskia berjalan tidak beriringan. Zaskia melangkah lebih dulu di depan, sementara Aryan mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Pikiran keduanya dipenuhi ucapan Ustaz Mansyur tadi.
Sungguh, keadaan ini benar-benar membuat canggung.
Aryan masih bingung bagaimana caranya memulai semua itu, sementara ia tahu Zaskia belum benar-benar menerimanya sebagai suami.
Tidak jauh berbeda dengan Aryan, Zaskia juga memikirkan hal yang sama. Ia harus bersikap bagaimana nanti di depan Aryan? Rasanya aneh ketika seseorang yang selama ini ia anggap hanya sebagai teman masa kecil sekaligus kakak, kini tiba-tiba telah menjadi suaminya.
Ingin menolak, tetapi Zaskia takut mengalami mimpi buruk itu lagi.
Pengantin baru yang seharusnya menikmati malam pertama mereka justru tampak seperti dua orang yang sedang memikul beban berat.
“Aryan!” seru Arshaf dari kejauhan.
Laki-laki itu rupanya belum pulang ke apartemen karena masih ingin berbicara dengan saudara kembarnya. Ia segera bangkit dan menghampiri Aryan yang baru saja tiba di ambang pintu. Zaskia pun ikut menoleh melihat kedatangan Arshaf.
“Ikut gue!” tanpa basa-basi Arshaf langsung merangkul pundak Aryan begitu jarak mereka dekat.
“Kak Kia!” Panggilan Zaid mengalihkan perhatian Zaskia. Remaja itu melambaikan tangan, memberi isyarat agar kakaknya segera mendekat.
Zaskia tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. Sebelum berjalan menghampiri keluarganya, ia sempat menoleh ke belakang, memperhatikan Aryan yang dibawa pergi Arshaf entah ke mana.
Di tempat lain yang jauh dari keramaian, Arshaf membawa Aryan duduk di sofa ruang santai.
“Apa sih, Shaf?” tanya Aryan malas.
“Ustadz Mansyur bilang apa?”
Aryan diam. Pandangannya beralih lurus ke depan, enggan menatap sang saudara.
“Bilang, Yan!” desak Arshaf penasaran.
“Ish, kepo banget sih lo.”
“Gue peduli, Yan,” balas Arshaf. “Gue mau bantu kalau memang lo butuh bantuan. Dari tadi muka lo tuh kayak orang lagi mikirin utang miliaran.”
Aryan mengembuskan napas berat. “Gue sama Kia harus ngelakuin malam pertama supaya jin yang ngikutin dia benar-benar pergi.” Ia terkekeh kecil penuh frustrasi. “Sumpah, Shaf, gue bingung banget harus gimana. Gue pikir gue cuma cukup nikahin dia doang.”
Tangannya menopang wajah sendiri, sesekali mengusap kasar mukanya yang mulai memanas karena gugup.
Arshaf ikut terdiam beberapa detik. “Udah mentok banget harus sampai ke situ?”
Aryan mengangguk lemah. “Iya.”
“Ya ampun...” Arshaf menghembuskan napas panjang. “Zaskia pasti belum siap banget, Yan. Mana kalian nikahnya juga mendadak.”
“Nah itu yang bikin gue bingung.”
Arshaf memijat tengkuknya sendiri sambil berpikir keras. Namun semakin dipikir, semakin ia tidak menemukan solusi lain. Apalagi dirinya sendiri masih jomblo.
“Kayaknya emang enggak ada cara lain deh,” ucapnya akhirnya. “Ustadz Mansyur pasti lebih paham karena beliau sering nangani kasus begituan.”
Aryan hanya diam.
“Tapi yang gue khawatirin...” Arshaf menahan tawa jahilnya. “Zaskia kuat apa enggak nanti.”
Aryan langsung menoleh tajam. “Maksud lo?”
Arshaf menahan senyum nakal. “Ya... gue takut dia enggak sanggup nahan rudal lo.”
BUGH!
Sebuah bantal sofa langsung melayang menghantam kepala Arshaf. “Arshaf!” bentak Aryan kesal.
Bukannya takut, Arshaf malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi kepalanya.
“Santai, Yan! Santai! Gue cuma bercanda!”
“Enggak lucu.”
“Hahaha! Iya iya, maaf.” Arshaf masih tergelak sebelum kembali merangkul pundak kembarannya. “Udah, enggak usah terlalu khawatir. Gue bantu lo.”
Aryan menatap datar. “Lo mau bantu apa? Ngeliatin gue sama Kia? Gila lo.”
“Hahaha! Ya enggak lah, Peak!” Arshaf makin ngakak. “Mana mungkin gue ngeliatin adek gue lagi begituan sama istrinya.”
“Mulut lo dijaga dikit bisa enggak sih?”
“Oke, serius.” Arshaf akhirnya menahan tawanya. “Sekarang gue tanya. Sebenernya apa yang bikin lo bingung?”
Aryan mendadak terdiam.
Haruskah ia mengaku kalau dirinya sama sekali tidak tau harus mulai dari mana?
Apa harus langsung to the point? Tapi kalau bertahap... tahapnya seperti apa?
Ngobrol dulu? Nonton film? Atau bagaimana?
Aryan malah makin frustrasi sendiri memikirkannya.
“Woi.” Arshaf menyenggol bahunya. “Malah bengong.”
Aryan menatap saudara kembarnya ragu.
Apa Arshaf benar-benar bisa membantu? Bahkan laki-laki itu belum pernah pacaran dan tidak pernah terlihat tertarik dengan perempuan mana pun.
Berbeda dengan Kafa.
Setidaknya sahabat mereka itu pasti lebih paham soal hubungan laki-laki dan perempuan, walaupun selama pacaran Kafa tidak pernah macam-macam.
“Yakin gue bisa percaya sama lo, Shaf?” gumam Aryan ragu.
Arshaf langsung mendecih tak terima. “Lah, lo ngeremehin gue?” Ia menepuk dadanya bangga. “Gue tuh hafal kitab hubungan suami istri, woy.”
Arshaf memicing. “Lo pasti bingung kan gimana mulainya?”
Aryan tentu tau kalau saudara kembarnya itu memang jauh lebih unggul soal ilmu agama dibanding dirinya. Sejak mondok dulu, Arshaf paling semangat kalau membahas kitab-kitab, termasuk kitab tentang rumah tangga seperti Fathul Izar dan Qurratul ‘Uyun. Sedangkan Aryan? Jangankan membahas, mendengarnya saja dulu ia sering salah tingkah sendiri. Arshaf belajar seperti itu bukan karna untuk nafsu. Ia mempelajarinya untuk bekal ia menikah nanti. Dan Abinya juga menyuruhnya.
“Lo jangan ketawa ya kalau gue ngomong,” ujar Aryan akhirnya pelan.
Arshaf langsung menyeringai lebar. “Waduh, serius banget mukanya. Bilang aja.”
Aryan menelan ludah. Tatapannya lurus ke depan, enggan menatap kembarannya. “Gue bingung mulai dari mana.”
Hening dua detik.
Lalu—
“HAHAHAHAHA!”
“Arshaf!” bentak Aryan kesal sambil kembali memukul kepala saudaranya menggunakan bantal sofa.
“Iya iya, maaf! Tapi sumpah, lucu banget lo.” Arshaf masih tertawa sampai bahunya naik turun. “Masa pengantin bingung mulai dari mana?"
“Ya gue emang bingung!” Aryan mendecih frustrasi. “Gue takut bikin Kia makin enggak nyaman.”
Mendengar itu, tawa Arshaf perlahan mereda. Wajahnya ikut berubah lebih serius.
“Nah, itu baru benar,” ucapnya sambil menepuk pundak Aryan pelan. “Artinya lo mikirin perasaan dia.”
Aryan mengusap wajah kasar. “Gue takut dia ngerasa terpaksa, Shaf.”
“Ya jangan langsung barbar juga, Peak.” Arshaf terkekeh kecil. “Lo pikir malam pertama itu lomba balap apa?”
Aryan memicing tajam. “Mulut lo emang enggak bisa dijaga ya?”
Arshaf berdeham pelan, lalu duduk lebih tegak seolah hendak memberi pengajian dadakan pada saudara kembarnya sendiri.
“Oke, sekarang dengerin gue baik-baik.” Wajahnya mendadak serius. “Dalam kitab itu dijelasin kalau hubungan suami istri bukan cuma soal hawa nafsu. Tapi juga tentang menenangkan pasangan, bikin pasangan merasa aman, dan saling menjaga.”
Aryan ikut memperhatikan dengan serius.
“Makanya,” lanjut Arshaf, “jangan langsung mikir ke intinya dulu. Lo harus bikin Zaskia nyaman dulu.”
“Caranya?”
“Ngobrol.”
Aryan mengernyit. “Sesimpel itu?”
“Iya.” Arshaf mengangguk. “Lo pikir semua langsung mulai gitu aja? Enggak, Peak. Bahkan di kitab juga diajarin adabnya.”
Aryan mulai mengingat samar-samar pelajaran yang dulu pernah ia baca.
“Lo masuk kamar jangan langsung tegang sendiri,” ujar Arshaf lagi. “Ajak dia ngobrol dulu. Tanya dia capek apa enggak. Tenangin dia. Apalagi kondisi Zaskia lagi kacau begini.”
Aryan diam menyimak.
“Terus jangan lupa lembut sama istri. Rasulullah juga ngajarin buat memperlakukan pasangan dengan baik. Jadi jangan bikin dia takut.”
Aryan menelan ludah pelan..“Kalau dia nangis gimana?”
“Ya lo tenangin.” Arshaf menatap kembarannya. “Yan, yang paling dibutuhin perempuan itu rasa aman. Kalau Zaskia ngerasa aman sama lo, semuanya bakal lebih mudah.”
Aryan menunduk memikirkan ucapan itu.
“Dan satu lagi,” Arshaf kembali bersandar. “Jangan buru-buru.”
“Maksud lo?”
“Ya jangan kayak orang dikejar deadline.” Arshaf menahan tawanya. “Pelan-pelan aja. Lihat keadaan dia.”
Aryan memijat pelipisnya. “Sumpah, gue gugup banget.”
“Normal.”
“Lo belum nikah aja ngomongnya bijak banget.”
“Ilmu, Bos.” Arshaf menunjuk kepalanya bangga. “Makanya dulu kalau ngaji jangan tidur mulu.”
Aryan mendecih malas.
“Tapi serius,” ujar Arshaf lagi, kali ini lebih lembut. “Gue tau lo enggak bakal nyakitin Zaskia. Justru karena lo terlalu hati-hati makanya lo jadi takut.”
Aryan terdiam.
“Lo suka sama dia udah lama kan?”
Aryan tidak langsung menjawab. Namun sorot matanya sudah cukup menjadi jawaban.
Arshaf tersenyum kecil..“Berarti gampang.”
“Gampang dari mananya?”
“Kalau orang beneran sayang, dia enggak bakal tega bikin perempuan yang dia sayang merasa tersakiti.”
Aryan mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke sofa.
Sedikit demi sedikit rasa sesak di dadanya mulai berkurang.
Walaupun tetap saja... membayangkan dirinya akan berdua dengan Zaskia malam ini membuat jantungnya masih berdebar tidak karuan.