Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Sinar matahari pagi New York yang pucat mulai menerobos masuk melalui celah-celah tirai griya tawang, membawa serta pendar cahaya dingin yang menyinari kamar pengantin yang kini telah berubah menjadi panggung sandiwara.
Salju sisa semalam masih menumpuk di ambang jendela luar, memantulkan kilau perak yang kontras dengan suasana kelam di dalam ruangan.
Raynazh Leon Osborn terbangun dengan rasa sakit yang berdenyut hebat di pelipisnya. Posisi tidurnya yang tidak nyaman di sofa kulit sepanjang malam membuat seluruh otot tubuhnya kaku. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hantaman kenyataan yang langsung menyerang kesadarannya begitu matanya terbuka sepenuhnya.
Dia menoleh dengan cepat ke arah ranjang.
Adiba Abbey sudah duduk di sana. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra hitam panjang yang kontras dengan warna kulitnya yang pucat. Rambut panjangnya yang hitam dibiarkan terurai berantakan, membingkai wajahnya yang tanpa ekspresi.
Di tangannya, terdapat secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Tidak ada air mata pagi ini. Tidak ada jeritan histeris seperti semalam. Yang ada hanya tatapan kosong yang terarah lurus ke jendela, menembus dinginnya cakrawala Manhattan.
Raynazh menegakkan tubuhnya, memijat pangkal hidungnya perlahan sebelum melangkah mendekati ranjang dengan ragu-ragu. "Adiba..." panggilnya, suaranya parau dan terdengar sangat lelah.
Adiba tidak menoleh. Dia hanya menyesap kopinya perlahan, menikmati rasa pahit yang membakar lidahnya, sebelum meletakkan cangkir porselen itu di atas nakas dengan dentingan halus yang memecah keheningan.
"Aku sudah menghubungi pengacaraku," ucap Adiba. Suaranya terdengar sangat tenang, begitu datar, hingga membuat bulu kuduk Raynazh meremang. Ketakutan yang semalam sempat mereda kini kembali mencengkeram dada pria berusia 27 tahun itu.
"Sayang, kumohon... kita bisa membicarakan ini baik-baik," Raynazh berlutut di sisi ranjang, mencoba meraih tangan Adiba, namun wanita itu dengan anggun menarik tangannya menjauh, menatap Raynazh dengan sepasang mata yang sedingin es di kutub utara.
"Membicarakan apa, Raynazh? Tentang bagaimana adikmu merusak malam pertamaku? Atau tentang bagaimana suamiku sendiri memohon padaku untuk menjadi pelindung bagi seorang pemerkosa?" Adiba terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar namun tajam seperti sembilu.
"Surat perceraian sedang disusun. Aku tidak akan menuntut harta gono-gini dari dinasti Osborn yang agung ini. Aku hanya ingin keluar dari neraka ini secepatnya."
Raynazh merasakan dunianya benar-benar runtuh. Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua hati; ini adalah fondasi utama dari posisinya sebagai penerus tunggal Osborn Group.
Jika pernikahan ini hancur dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam karena skandal moral yang melibatkan adiknya sendiri, sang Ayah tidak akan tinggal diam. Posisinya, reputasinya, dan segala hal yang telah dia bangun dengan mengorbankan masa lalu adiknya akan menguap begitu saja.
"Adiba, aku tahu aku bersalah. Aku tahu aku pengecut," Raynazh menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya bergetar menahan beban rasa bersalah yang teramat sangat.
"Tapi pikirkan keluargamu. Pikirkan bagaimana media akan menggoreng berita ini. Osborn Group dan keluarga Abbey... saham kita akan anjlok, dan nama baikmu juga akan ikut terseret. Aku memohon padamu, beri aku waktu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini."
Di balik wajahnya yang berpura-pura tegang dan tersakiti, batin Adiba sedang bersorak gembira. Ya, teruslah memohon, Raynazh. Berlututlah di kakiku seperti anjing yang ketakutan, jerit Adiba di dalam hatinya yang paling gelap.
Setiap getaran ketakutan di suara Raynazh, setiap tetes keringat dingin yang jatuh dari pelipis pria itu, adalah vitamin bagi jiwa Adiba yang telah lama haus akan balas dendam.
Dia begitu menikmati bagaimana pria yang selalu dipuja oleh publik New York sebagai sosok sempurna tanpa cela ini, kini merangkak di lantai kamarnya sendiri, mengemis belas kasihan dari seorang wanita yang dia kira adalah korban yang rapuh.
Namun, Adiba tahu dia tidak boleh mengakhiri permainan ini terlalu cepat. Jika dia langsung bercerai sekarang, Raynazh hanya akan mengalami guncangan sesaat.
Pria itu akan terluka, reputasinya akan sedikit tergores, namun dengan kekuasaan Osborn, mereka pasti bisa meredamnya seiring berjalannya waktu. Tidak. Itu terlalu mudah. Neraka yang sesungguhnya bukanlah eksekusi mati yang cepat, melainkan siksaan perlahan yang menggerogoti kewarasan hari demi hari.
Adiba menarik napas panjang, sengaja membiarkan helaan napasnya terdengar berat dan penuh keputusasaan yang dibuat-buat.
Dia menatap Raynazh dengan kilat mata yang perlahan melembut, memainkan perannya sebagai seorang istri yang mulai goyah demi masa depan keluarga.
"Kesempatan?" Adiba berbisik, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela. "Bagaimana aku bisa memberimu kesempatan sementara setiap kali aku melihat wajahmu, aku melihat bayangan adikmu? Setiap kali aku menutup mata, aku merasakan sentuhan yang bukan milikmu?"
Raynazh mendongak, melihat celah harapan di balik kata-kata istrinya. "Aku akan melakukan apa saja, Adiba. Apa saja. Aku akan memastikan Louis pergi dari New York. Dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah ini lagi. Dia tidak akan pernah menampakkan dirinya di hadapanmu. Tolong, jangan ceraikan aku sekarang. Setidaknya, bertahanlah demi formalitas di depan publik untuk beberapa bulan ke depan."
Adiba terdiam cukup lama, sengaja menciptakan ketegangan yang mencekik batin Raynazh. Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian bagi pria itu, Adiba akhirnya menoleh dan menatap suaminya dengan pandangan yang tampak begitu terluka namun pasrah.
"Enam bulan," ucap Adiba tegas. "Kita akan berpura-pura menjadi pasangan bahagia di depan publik dan media selama enam bulan. Setelah itu, kita akan bercerai secara diam-diam dengan alasan ketidakcocokan. Dan selama enam bulan itu, kau tidak boleh menyentuhku seujung jari pun. Kita tidur di kamar terpisah. Dan yang paling penting... kau harus memenuhi segala permintaanku tanpa terkecuali."
Raynazh mengembuskan napas lega yang teramat sangat, seolah-olah eksekusi matinya baru saja ditunda. "Terima kasih, Adiba. Terima kasih... Aku berjanji akan mematuhi semua syaratmu," ucapnya sembari mencium punggung tangan Adiba yang terasa sedingin es.
Adiba tersenyum tipis—sebuah senyuman yang diartikan Raynazh sebagai tanda perdamaian, namun di mata kegelapan, itu adalah maklumat dimulainya perang suci yang sesungguhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di dalam mobil sport hitamnya yang melaju membelah jalanan Manhattan yang licin karena es, Louis Enver Osborn mencengkeram setir dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan berbunyi kencang.
Matanya yang abu-abu tampak memerah, dikelilingi oleh kantung mata hitam akibat tidak tidur sama sekali sejak kejadian semalam.
Pikirannya masih berputar-putar pada memori jahanam di dalam kamar remang itu. Desahan Adiba, kelembutan kulit wanita itu, dan bagaimana tubuh mereka menyatu dengan begitu sempurna... semuanya terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.
Louis merutuki dirinya sendiri. Mengapa dia bisa sebodoh itu? Mengapa dia membiarkan rasa frustrasinya terhadap sang kakak dan pengaruh alkohol pesta pernikahan membuatnya melangkah ke dalam kamar pengantin tersebut?
"Brengsek!" Louis memukul setir mobilnya dengan keras, membuat klakson berbunyi nyaring di tengah kemacetan jalanan New York.
Dia merasa seolah-olah ada seutas benang tak kasat mata yang sengaja menariknya ke dalam kamar itu semalam.
Seolah-olah seluruh atmosfer di dalam griya tawang malam itu dirancang khusus untuk menjebak akal sehatnya. Wangi mawar yang begitu memabukkan, pintu kamar yang sedikit terbuka, dan posisi Adiba yang seolah sedang menantinya...
Louis menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh itu.
Tidak, ini murni kesalahannya. Ini adalah puncak dari kehancuran moral yang selama ini dia pupuk sejak kematian Ambar.
Dia merasa dirinya telah menjadi monster yang sama menjijikkannya dengan Raynazh—pria yang selama ini dia benci setengah mati karena telah merenggut nyawa seorang gadis tak berdosa.
Louis menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung pencakar langit yang merupakan kantor pusat Osborn Group.
Dia harus menghadapi ayahnya hari ini. Dia tahu Raynazh pasti sudah atau akan menceritakan kejadian ini kepada pria tua itu, atau mungkin Adiba yang akan bergerak duluan.
Louis sudah siap dengan segala konsekuensinya.
Jika dia harus ditendang keluar dari keluarga ini, atau bahkan jika dia harus dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan pemerkosaan, dia tidak peduli lagi. Hidupnya sudah mati sejak beberapa tahun lalu ketika dia dijadikan kambing hitam.
Dengan langkah tegap namun sarat akan keputusasaan, Louis melangkah masuk ke dalam lobi gedung mewah tersebut, mengabaikan tatapan hormat dari para karyawan yang membungkuk padanya.
Dia menaiki lift menuju lantai paling atas, tempat ruang kerja sang patriark dinasti Osborn, Arthur Osborn.
Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, suasana terasa begitu sunyi dan tegang.
Sekretaris pribadi ayahnya hanya menatap Louis dengan pandangan iba yang tersirat, lalu membukakan pintu kayu ek besar yang menuju ke dalam ruang kerja utama.
Di dalam ruangan yang luas dengan pemandangan langsung ke arah Central Park itu, Arthur Osborn berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela dengan kedua tangan yang saling tertaut di balik punggungnya.
Di sisi lain ruangan, Raynazh sudah duduk di atas sofa kulit dengan wajah yang masih tampak pias dan kusut.
"Kau datang juga, anak haram," ucap Arthur tanpa berbalik. Suaranya yang berat dan berwibawa menggema di dalam ruangan yang sunyi itu.
Louis terkekeh sinis, sama sekali tidak terpengaruh oleh panggilan bernada hinaan dari ayah kandungnya sendiri.
"Aku datang untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi semalam. Jadi, apa rencanamu kali ini, Ayah yang terhormat? Apakah kau akan menjebloskanku ke penjara lagi untuk menutupi aib keluarga, atau kau akan menyuruhku menikahi istri kakakku sendiri?"
Arthur berbalik dengan cepat, wajahnya yang dipenuhi kerutan usia tampak memerah karena amarah yang memuncak. Dia melangkah mendekati Louis dan tanpa peringatan...
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Louis, membuat wajah pria berusia 25 tahun itu terparang ke samping. Namun, Louis tidak meringis. Dia justru kembali menegakkan kepalanya, menatap ayahnya dengan senyuman urakan yang menantang.
"Binatang kau, Louis!" bentak Arthur, napasnya memburu. "Kira-kira apa yang ada di dalam otak kotor Dungu itu, hah?! Setelah semua yang dilakukan keluarga ini untuk menyelamatkanmu dari kasus Ambar di masa lalu, ini caramu membalas budi?! Kau meniduri istri kakakmu di malam pernikahan mereka?!"
Louis meledak dalam tawa yang terdengar sangat gila. "Menyelamatkanku?! Kau bilang menyelamatkanku, Arthur?!" Louis maju selangkah, menatap ayahnya dengan mata elang yang berkilat penuh kebencian.
"Jangan pernah berbohong di depan mukaku lagi! Kau tidak pernah menyelamatkanku! Kau menyelamatkan anak emasmu ini, Raynazh yang sempurna! Kau menjadikan aku kambing hitam atas kebejatannya memperkosa Ambar hingga gadis itu bunuh diri! Dan sekarang kau berani bicara tentang balas budi?!"
"Diam!!!" Raynazh tiba-tiba berdiri dari sofanya, berteriak dengan wajah yang memerah karena malu dan panik.
"Jangan bawa-bawa nama Ambar lagi, Louis! Kasus itu sudah lama ditutup!"
"Ditutup dengan darah, Kak!" balas Louis dengan suara yang menggelegar, menunjuk tepat ke wajah Raynazh. "Kau bisa menipu seluruh dunia dengan topeng suci dan jas mahalmu itu, tapi kau tidak bisa menipu aku! Kau adalah seorang pemerkosa dan pengecut yang bersembunyi di balik ketiak ayahmu!"
"Cukup!!!" Arthur memukul meja kerjanya dengan keras, menengahi pertengkaran kedua putranya.
Pria tua itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya yang mulai tidak stabil karena penyakit jantung yang dideritanya. "Aku tidak memanggilmu ke sini untuk membahas masa lalu yang sudah membusuk. Aku memanggilmu karena Adiba telah mengajukan syarat."
Louis mengernyitkan alisnya, rasa bingung mendadak merayapi hatinya. "Syarat? Syarat apa?"
Raynazh melangkah maju, menatap adiknya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa lega dan kebencian yang mendalam. "Adiba tidak akan melaporkanmu ke polisi. Dia juga setuju untuk menunda perceraian kami selama enam bulan demi menjaga nama baik keluarga dan kestabilan saham perusahaan di depan publik."
Louis tertegun. Jantungnya berdegup kencang dengan cara yang aneh.
Adiba tidak melaporkanku? Dia setuju menunda perceraian? Kenapa? pikir Louis.
Seorang wanita yang baru saja mengalami trauma pemerkosaan di malam pertamanya seharusnya berteriak meminta keadilan, atau setidaknya melarikan diri sejauh mungkin dari keluarga ini. Mengapa Adiba justru bertindak begitu tenang dan taktis? Ini sama sekali tidak masuk akal.
"Tapi ada satu syarat mutlak darinya yang melibatkanmu, Louis," lanjut Arthur dengan suara dingin yang penuh dengan manipulasi.
"Selama enam bulan ini, kau dilarang keras untuk menunjukkan dirimu di kediaman, di hadapan Adiba. Namun... karena proyek ekspansi Osborn Group di kawasan Brooklyn memerlukan pengawasan ketat, kau diperintahkan untuk memimpin cabang di sana secara penuh. Kau akan diasingkan dari pergaulan inti keluarga, namun tetap bekerja di bawah pengawasanku."
Louis terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya. Pengasingan? Itu adalah hal yang biasa baginya. Dia bahkan lebih suka tinggal di Brooklyn daripada harus melihat wajah-wajah munafik di griya tawang Manhattan. Namun, ada sesuatu yang terasa janggal di lubuk hatinya yang terdalam. Sesuatu tentang keputusan Adiba yang terasa terlalu... terencana.
"Baik," ucap Louis akhirnya, suaranya kembali dingin dan datar. "Aku akan pergi ke Brooklyn hari ini juga. Dan aku berharap tidak perlu melihat wajah kalian berdua lagi selama sisa hidupku."
Louis berbalik dan melangkah keluar dari ruangan kerja itu tanpa menoleh lagi. Namun, begitu dia berada di dalam lift yang membawanya turun, bayangan wajah Adiba saat menyalakan lampu tidur semalam kembali terlintas di pikirannya.
Wajah wanita itu... saat dia mengucapkan namanya, "L-Louis...?"
Louis memejamkan matanya erat-erat.
Mengapa ingatan itu kini terasa berbeda? Semalam dia terlalu panik dan dipenuhi rasa bersalah hingga tidak menyadari detail kecil. Namun sekarang, dalam kondisi yang lebih tenang, Louis mengingat bagaimana getaran suara Adiba saat menyebut namanya.
Itu bukan sekadar getaran ketakutan seorang korban... ada nada lain di sana. Sebuah nada yang terasa seperti... kerinduan yang teramat dalam yang disamarkan oleh keterkejutan.
"Siapa kau sebenarnya, Adiba Abbey?" bisik Louis pada kesunyian lift yang bergerak turun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke griya tawang Manhattan, Adiba berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mandi yang telah dibersihkan oleh Raynazh semalam. Dia telah melepaskan gaun tidur hitamnya, membiarkan tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun terekspos di bawah pendar lampu kamar mandi yang terang.
Di atas kulit bahunya, terdapat sebuah bekas memar kemerahan kecil—jejak cengkeraman tangan Louis saat pria itu membawanya menuju puncak pelepasan semalam.
Adiba mengulurkan jemarinya yang lentik, menyentuh bekas memar itu dengan sangat lembut, hampir seperti seorang ibu yang sedang membelai pipi bayinya.
Sebuah senyuman hangat dan penuh obsesi kembali merekah di wajah cantiknya.
"Kau merasakannya juga kan, Louis?" Adiba berbisik pada bayangannya sendiri di cermin.
Mata indahnya yang biasanya tampak teduh kini berkilat dengan kegelapan yang pekat, mencerminkan jiwa yang telah sepenuhnya distorsi oleh cinta yang gila. "Sentuhan kita semalam... itu bukan kecelakaan. Itu adalah takdir yang telah aku jemput dengan tanganku sendiri."
Adiba mengingat kembali masa-masa High School di New York Academy, sebuah sekolah elit tempat anak-anak konglomerat berkumpul.
Saat itu, Adiba hanyalah seorang gadis pendiam yang selalu duduk di sudut perpustakaan, mengamati dunia dari kejauhan. Dan di sanalah dia pertama kali melihat Louis.
Louis saat itu adalah remaja yang selalu menolak untuk tunduk pada aturan sekolah.
Dia sering terlibat perkelahian, mengenakan seragam dengan urakan, dan selalu menatap dunia dengan pandangan penuh pemberontakan.
Namun, Adiba tahu di balik sikap berandal itu, Louis memiliki hati yang sangat tulus. Dia pernah melihat dengan matanya sendiri bagaimana Louis mengobati seekor kucing jalanan yang terluka di belakang sekolah dengan penuh kelembutan—sebuah sisi manusiawi yang tidak pernah diperlihatkan Louis kepada siapa pun, termasuk keluarganya sendiri.
Sejak hari itu, Adiba jatuh ke dalam lubang obsesi yang tak berdasar. Dia mulai mengumpulkan segala informasi tentang Louis, memperhatikan setiap gerak-gerik pria itu, dan mencintainya dalam keheningan yang absolut. Baginya, Louis adalah cahaya di tengah dunianya yang monoton dan diatur ketat oleh keluarganya.
Namun, kebahagiaan rahasia Adiba hancur berkeping-keping ketika skandal Ambar meledak beberapa tahun kemudian. Ketika dia mendengar berita bahwa Louis dijebloskan ke dalam sel tahanan atas tuduhan pemerkosaan, Adiba merasa jiwanya ikut mati.
Dia tahu betul itu bukan perbuatan Louis. Dia tahu Louis malam itu berada di tempat lain karena Adiba—seperti biasa—mengikutinya dari kejauhan sebelum Louis pulang ke apartemennya. Louis tidak bersalah. Raynazh-lah binatang yang sesungguhnya.
Saat kasus itu ditutup karena kematian Ambar, Adiba bersumpah demi sisa hidupnya bahwa dia akan membalas dendam.
Dia akan menghancurkan Raynazh Leon Osborn dengan cara yang paling menyakitkan. Dia akan merenggut segala hal yang dibanggakan oleh pria pengecut itu: reputasinya, kedudukannya, dan yang paling penting... kewarasannya.
Dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan masuk ke dalam jantung pertahanan dinasti Osborn sebagai istri dari sang putra mahkota.
"Pernikahan ini adalah awal dari nerakamu, Raynazh," Adiba berbisik dengan nada yang teramat dingin, seolah sedang merapalkan mantra kutukan.
"Kau telah merebut kebebasan Louis di masa lalu, maka aku akan merebut seluruh hidupmu di masa sekarang. Kau akan melihat bagaimana wanita yang kau sebut istri ini perlahan-lahan merobek-robek harga dirimu hingga tidak ada yang tersisa."
Adiba mengambil sebuah gaun elegan berwarna merah menyala dari dalam lemari pakaiannya.
Hari ini adalah hari pertama setelah pernikahannya. Akan ada makan malam keluarga besar malam nanti untuk merayakan persatuan dua dinasti. Raynazh pasti akan memintanya untuk tampil sempurna di depan orang tua mereka dan media yang akan meliput secara eksklusif.
Dengan senyuman yang penuh dengan intrik dan kegelapan, Adiba mengenakan gaun tersebut. Dia siap melangkah keluar, siap memainkan perannya sebagai istri yang terluka namun anggun, siap menggerakkan bidak-bidak caturnya di atas papan permainan yang telah dia rancang dengan darah dan obsesi terlarang.
Di bawah pendar lampu New York yang dingin, babak baru dari kehancuran dinasti Osborn telah resmi dimulai, dan Adiba Abbey adalah sutradara tunggal di balik layar kegelapan tersebut.