Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Pelajaran Pertama Dari Kaelric Vorn Untuk Veliora
Pagi itu hari kedua gedung utama Aegis terlihat lebih sibuk dari biasanya. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah yang cepat.
Suara sepatu beradu dengan lantai marmer terdengar bersahutan memenuhi lobby utama.
Namun di tengah semua kesibukan itu, tatapan beberapa orang tetap tertuju pada satu sosok wanita yang berjalan di sisi Kaelric Vorn. Yaitu Veliora.
Blouse satin warna ivory yang dikenakannya jatuh lembut membalut tubuh rampingnya. Dipadukan dengan rok bernuansa beige muda dan heels pendek sederhana, penampilannya terlihat elegan tanpa berlebihan.
Tidak juga mencolok. Namun justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
Veliora berusaha tetap tenang meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Dunia ini sungguh sangat berbeda dari yang biasa ia lihat.
Tatapannya bergerak pelan. Gedung tinggi. Ya, meski dia sudah sering pergi ke Aegis Tower, namun dia merasa asing kembali dengan tempat ini.
Layar besar terpampang di bagian dinding depan. Karyawan yang bekerja dengan ritme cepat. Aura dingin yang terasa begitu nyata.
Dan di sampingnya Kaelric berjalan tenang dengan kemeja putih berlengan terlipat dan celana hitam yang membuat pria itu terlihat terlalu mencolok untuk diabaikan.
Semua orang terlihat menundukkan kepala saat mereka lewat. Seorang karyawan menyapa Kaelric dengan sopan.
“Selamat pagi, Tuan Vorn.”
“Pagi, Pak.”
Kaelric hanya membalas singkat. Tanpa banyak ekspresi.
Veliora diam-diam memperhatikan. Dan untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat seberapa besar dunia yang dimiliki pria itu.
Pintu lift khusus terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam. Baru saat pintu tertutup, Veliora mengembuskan napas pelan.
“Gugup?”
Suara Kaelric terdengar rendah.
Veliora melirik sekilas.
“Sedikit.”
Kaelric memasukkan satu tangan ke saku celananya. Lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Tapi sejurus kemudian mendekat kearah Veliora. Tangannya mengelus pucuk kepala Veliora dengan lembut.
“Bagus.”
Veliora mengernyit kecil sambil menatap ke arah Kaelric.
“Kenapa malah bagus?”
Tatapan Kaelric lurus ke depan.
“Orang yang tidak gugup saat masuk ke dunia seperti ini…”
ucapnya tenang,
“…biasanya terlalu bodoh untuk bertahan.”
Veliora terdiam.
Lift pun berhenti. Pintu kembali terbuka. Sampailah mereka di ruang kerja Kaelric.
Mereka masuk ke ruang kerja utama. Ruangan luas bernuansa hitam, abu, dan kaca itu terasa dingin namun elegan.
Waktu pertama Veliora datang ke Aegis kemarin terlihat sepi, mungkin semua orang sedang istirahat. Sekarang ada beberapa orang disana. Dan itu membuat Veliora sedikit tidak nyaman. Kaelric menyadarinya. Namun tidak mengatakan apa pun.
Di hari kedua Veliora menjadi asisten pribadi Kaelric. Dia sudah harus terbiasa dengan pekerjaannya itu.
Kaelric sedang berada di meja kerjanya. Tablet di depannya dia pandangi dengan tatapan tajam.
Lalu dia menghubungi seseorang melalui sebuah pesan singkat.
"Awasi dia terus, jangan sampai terlewat. "
Lalu dia menutup ponselnya.
Veliora dari pantry kecil, dia membuatkan kopi untuk Kaelric. Sambil tersenyum dia berjalan kearah Bosnya.
"Pagi Tuan Kaelric... Ini kopi untuk anda."
Secangkir kopi hitam tanpa gula diletakkan di atas meja.
Kaelric tersenyum, lalu matanya menangkap sesuatu yang tidak beres. Dengan jari telunjuknya dia memanggil Veliora untuk mendekat.
Veliora lalu berjalan kearah Kaelric.
"Ada apa, Dad?'
" Sini... "
Veliora agak menunduk. Lalu Kaelric membenahi ID card yang tergantung di leher Veliora.
"Nah sudah... Makasih kopinya"
"Sama-sama". Satu kecupan hangat mendarat di pipi Kaelric.
" Terima kasih sayang.. "
"Sama-sama, Dad."
Veliora menaruh kembali nampan di pantry, kemudian perlahan mendekat lagi ke meja kerja besar di tengah ruangan.
“Mulai hari ini kau akan melihat banyak hal yang tidak akan dijelaskan secara langsung.”
suara Kaelric terdengar dari belakangnya.
Tepat dibelakangnya, kedua tangan Kaelric bergerak kearah pinggang Veliora.
Bahkan hembusan nafasnya yang wangi menyentuh lembut leher Veliora. Gadis itu berbalik.
Kaelric meletakkan sebuah file tipis di atas meja.
“Ini pelajaran pertama.”
Veliora menatap file itu.
“Ini apa?”
“Laporan rapat kemarin.”
Veliora membukanya perlahan. Beberapa halaman pertama terlihat normal. Terdapat barisan data dan angka.
Lalu mata Veliora tertuju pada hasil laporan jadwal distribusi.
Namun beberapa menit kemudian, alisnya berkerut.
“Ini aneh…”
Gumamnya pelan lebih kepada bicara pada dirinya sendiri. Kaelric memperhatikannya diam-diam.
“Bagian mana yang menurut kamu terlihat aneh?”
“Angka distribusinya berbeda.”
Veliora mengangkat pandangan.
“Selisihnya kecil sih, Dad. tapi tetap berbeda.”
Kaelric tersenyum tipis.
“Bagus.”
Veliora kembali melihat file itu.
“Jadi ini memang salah?”
“Tidak.”
Jawaban Kaelric membuatnya menoleh lagi.
“Itu karena disengaja.”
Hening sejenak. Veliora perlahan menutup file itu.
“Kenapa?”
Kaelric berjalan mendekat ke arah Veliora.
“Karena dalam dunia ini orang jarang berbohong dengan cara yang terlihat jelas.”
Tatapannya turun tepat ke mata Veliora, gadis itu terdiam.
“Orang pintar akan menyisipkan kebohongan kecil di antara banyak kebenaran.”
lanjut Kaelric tenang,
"Hingga orang lain tidak akan pernah menyadari jika dia sudah berlaku curang diam-diam."
Kalimat itu membuat Veliora membeku beberapa detik. Dan entah kenapa
cara pria itu mengatakannya terasa jauh lebih dingin dibanding isi ucapannya sendiri.
“Jadi tugasku disini untuk mencari kebohongan itu?”
Kaelric mengangguk pelan.
“Bukan hanya di laporan namun juga pada manusia.”
Tatapannya menajam tipis. Hening turun di antara mereka. Mereka terdiam dengan arus pikiran masing-masing.
Dunia yang selama ini digeluti oleh Kaelric ternyata sangat kejam. Dan untuk pertama kalinya Veliora menyadari sesuatu.
Dunia Kaelric bukan sekadar tentang bisnis. Namun tentang membaca niat juga membaca topeng. Dan bertahan di antara orang-orang yang tidak pernah benar-benar menunjukkan wajah aslinya.
Sementara itu di luar ruang utama seseorang tengah berdiri diam memperhatikan pintu yang tertutup rapat. Yaitu Katarina.
Tatapannya dingin serta tangannya perlahan mengepal. Perasaan marah dan benci menggumpal menjadi satu.
Posisi itu, ya posisi itu seharusnya menjadi miliknya. Bahkan pemilik perusahaan kenamaan, Yaitu Kaelric Vorn. Seharusnya menjadi miliknya.
Namun sekarang wanita lain berada di sisi Kaelric dengan begitu mudah.
Rahangnya mengeras tipis. Berusaha menahan gejolak amarah di dadanya. Sesuatu yang seharusnya ada di genggamannya sejak lama.
Beberapa detik kemudian, ia mengambil ponselnya. Satu nomor dihubungi. Tanpa nama tertulis di sana. Tak lama, sambungan tersambung.
“Kau benar.”
Suara Katarina terdengar rendah. Lirih berharap tidak ada yang mendengarkan pembicaraannya.
“Dia benar-benar membawanya masuk ke Aegis.”
Hening sejenak dari seberang sana. Lalu suara rendah itu terdengar pelan.
“Menarik.”
Sudut bibir Bismantaka terangkat tipis. Dia berdiri dekat jendela di sebuah tempat di kawasan Jakarta.
"Semakin hari semakin seru juga permainan ini. Seharusnya, Kaeden melihat anaknya hari ini. Aku sering melihat mereka berdua, sepertinya hubungan mereka terjadi tidak pada tempatnya. Hmmm... Sungguh menarik sekali."
"Mengapa Kaeden sangat mempercayai sahabatnya itu. Sahabat macam apa dia?. Menusuk teman sendiri."
"Hingga dia mati pun tak tahu kalau temannya sebejat ini. Sungguh sesuatu yang luar biasa menurutku."
Bismantaka menggumam.
Sementara itu, di tempat Katarina. Wanita itu tak menyadari kalau dia sedang dikuntit seseorang. Hanya karena ingin mendapatkan sesuatu yang menurutnya lebih besar, dia harus mau menghadapi resiko.
Dia tidak tahu orang yang dia hadapi seperti apa. Dia hanya tahu, Bosnya bersikap dingin dan tak banyak bicara.
Tapi dia tidak tahu, sisi gelap Bosnya yang tak pernah muncul di permukaan tanpa disadari siapa pun.
Dan sebuah permainan baru… baru saja dimulai.