Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Pertemuan yang Hampir Terjadi
Bandara Internasional Incheon pagi itu terlihat sangat ramai.
Para peserta olimpiade internasional dari berbagai negara memenuhi area keberangkatan dengan blazer sekolah dan koper besar masing-masing.
Di antara keramaian itu, Dylan berdiri sambil memeriksa ulang dokumen keberangkatannya dengan wajah serius.
“Mima serius nggak mau ikut?”
Ana yang berdiri di depannya langsung tersenyum kecil sambil membetulkan kerah jaket anak laki-lakinya.
“Ini kan lombanya Dylan, bukan Mima.”
“Tapi aku pengen Mima ikut.”
“Terus café siapa yang jaga?”
Dylan langsung mendecih kecil.
“Kan ada Bine.”
“ENAK AJA?!”
Sabine langsung protes sambil memeluk snack besar di tangannya.
“Aku juga mau hidup santai!”
Ajeng yang ikut mengantar langsung tertawa melihat mereka.
“Ya ampun kalian ribut terus.”
Ana sendiri hanya menggeleng pelan sambil memperhatikan Dylan dengan mata lembut penuh bangga.
Anak laki-lakinya akhirnya berhasil sampai di titik ini.
Masuk olimpiade kimia internasional yang bahkan dibiayai penuh sponsor besar.
Dan jujur saja… Ana masih belum percaya saat sekolah memberi tahu kalau ada sponsor anonim yang menanggung semua biaya Dylan.
Hotel.
Transportasi.
Biaya lomba.
Semuanya.
“Mima nanti kalau aku menang…” Dylan tersenyum tengil kecil. “Kita pindah ke Swiss.”
Sabine langsung menyela cepat.
“Terus aku?”
“Kamu tinggal di Korea sama ayam.”
“ABANG!”
Suasana hangat itu membuat Ana tertawa kecil lagi.
Namun tanpa mereka sadari…
Tidak jauh dari sana, seseorang memperhatikan mereka dalam diam.
Sebasta Galen Sadipta berdiri dengan pakaian formal hitam sambil menatap Dylan cukup lama.
Di sampingnya ada Arsen yang terlihat canggung.
“Tuan…”
Sebasta tetap diam.
Tatapannya tidak lepas dari Dylan yang sedang membantu Ana membawa koper kecil.
Semakin dilihat… semakin banyak kemiripan yang membuat dadanya sesak.
Cara Dylan tersenyum kecil.
Tatapan matanya saat serius.
Dan bentuk wajahnya yang samar mengingatkannya pada dirinya sendiri saat muda.
“Dia pintar ya…” gumam Sebasta pelan.
Arsen mengangguk kecil.
“Nilai akademiknya sangat tinggi.”
Sebasta tersenyum pahit tipis.
Entah kenapa ada rasa bangga yang aneh muncul di dadanya.
Padahal selama ini ia bahkan tidak tahu Dylan dan Sabine ada di dunia ini.
Dan sekarang…
Ia hanya bisa membantu diam-diam sebagai sponsor tanpa berani mendekat terlalu jauh.
Karena ia sadar dirinya tidak punya hak muncul tiba-tiba sebagai ayah.
Tak lama panitia mulai memanggil peserta olimpiade untuk registrasi akhir.
“Mima aku masuk dulu ya.”
Ana langsung mengangguk sambil memeluk Dylan erat.
“Hati-hati.”
“Jangan lupa makan.”
“Dan jangan cari ribut.”
Dylan tertawa kecil.
“Aku bukan Bine.”
“HEH!”
Sabine langsung memukul lengan kakaknya kesal.
Melihat itu, Sebasta tanpa sadar tersenyum kecil.
Senyum yang sangat jarang muncul di wajah dinginnya.
Namun senyum itu perlahan hilang saat Dylan tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Mata mereka bertemu beberapa detik.
Sebasta langsung membeku.
Tatapan Dylan berubah sedikit curiga karena merasa pria itu terus memperhatikan keluarganya sejak tadi.
Namun sebelum Dylan sempat berpikir lebih jauh, salah satu guru memanggilnya cepat.
“Dylan ayo!”
“Iya Miss!”
Dylan akhirnya pergi masuk ke area peserta.
Dan Sebasta baru bisa bernapas lagi setelah remaja itu menghilang dari pandangan.
“Kenapa saya jadi takut begini…” gumamnya lirih.
Sementara itu Ana membantu Sabine membereskan snack yang berserakan di kursi tunggu.
Tanpa sadar, syal miliknya jatuh ke lantai lalu tertiup sedikit oleh angin pendingin ruangan.
Sebuah tangan mengambil syal itu lebih dulu.
“Mbak, syalnya jatuh.”
Ana refleks menoleh sambil berkata pelan,
“Terima kasih—”
Namun kalimatnya terhenti saat melihat siapa yang berdiri di depannya.
Sebasta.
Tubuh Ana langsung menegang.
Sementara Sebasta sendiri membeku dengan syal di tangannya.
Untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun…
Mereka berdiri sedekat ini tanpa dinding masa lalu yang menghalangi.
Dan di detik itu juga…
Suara panggilan boarding menggema, memecahkan ketegangan yang hampir menghancurkan keduanya.