Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu tanda Sayang
Sisa aroma parfum Valeria yang menyengat di ruang kerja Gibran perlahan-lahan terkalahkan oleh keharuman ayam goreng lengkuas dan tumis kangkung pedas buatan Nayla. Di atas meja kerja jati yang biasanya dipenuhi tumpukan berkas bernilai miliaran rupiah, kini terhampar kotak bekal plastik bertingkat berwarna pastel.
Gibran duduk di kursi kebesarannya, menikmati suapan demi suapan dengan lahap. Di depannya, Nayla duduk di kursi tamu sambil melipat tangan di dada, matanya masih menatap ke arah pintu keluar seolah-olah bayangan Valeria masih tertinggal di sana.
"Gue baru tahu kalau singa betina kalau cemburu bisa bikin merinding juga," celetuk Gibran di sela-sela kunyahannya. Wajahnya yang biasa sedingin es kutub utara kini tampak santai, bahkan cenderung menyebalkan dengan senyum tipis yang terus bertengger di sudut bibirnya.
Nayla langsung mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Gibran. "Siapa yang cemburu? Mas Gibran jangan kepedean ya. Aku tadi cuma membela harga diriku sendiri. Enak saja dia sebut aku makhluk domestik. Memangnya aku ini kucing anggora?"
"Tapi pembelaan lu tadi kedengaran sangat natural, Nay. Pakai bawa-bawa pemegang hati pemilik saham terbesar segala," goda Gibran lagi.
Ia sengaja memperlambat gerakannya saat menyuap nasi, menikmati ekspresi wajah Nayla yang berubah-ubah layaknya lampu lalu lintas kadang merah menahan kesal, kadang abu-abu karena gengsi.
"Itu ... itu kan cuma akting! Mas Gibran sendiri yang bilang kalau kita harus meyakinkan orang-orang luar supaya rahasia kita tidak bocor. Aku cuma menjalankan tugasku secara profesional sebagai Pihak Kedua," kilang Nayla, mencari alasan yang paling rasional agar mukanya tidak makin memerah.
Gibran menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu menutup kotak bekal yang sudah bersih tanpa sisa sebutir nasi pun.
Ia mendorong kursinya ke belakang, bangkit berdiri, lalu berjalan memutari meja kerjanya. Langkah kakinya pelan, namun setiap ketukan sepatunya di atas karpet tebal terasa mengintimidasi akal sehat Nayla.
Nayla yang merasakan firasat kurang baik berniat untuk berdiri dan pamit pulang. "Makanannya sudah habis, kan? Kalau begitu aku pulang sekarang, mau beres-beres griya tawang."
Namun, belum sempat Nayla menegakkan tubuhnya, kedua tangan Gibran sudah bertumpu di kedua lengan kursi yang diduduki Nayla, mengurung tubuh gadis itu di tempatnya. Gibran condong ke depan, menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat milik Nayla dengan jarak yang sangat dekat.
"Pihak Kedua dilarang kabur sebelum Pihak Kesatu menyelesaikan pertanyaannya," bisik Gibran, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kalau memang cuma akting, kenapa napas lu masih memburu sampai sekarang? Dan kenapa tangan lu gemetaran waktu pegang tas bekal tadi?"
Nayla menahan napas. Wangi maskulin dari tubuh Gibran kembali menyerang inderanya. "Itu ... itu karena aku habis jalan cepat dari lobi! Mas Gibran jauh-jauh ah, ini kantor! Nanti kalau ada karyawan yang masuk bagaimana?"
"Biarin saja. Mereka perlu tahu kalau bos mereka sedang takluk di tangan istrinya," jawab Gibran santai, sama sekali tidak berniat menjauhkan wajahnya. Malah, ia sengaja menurunkan pandangannya ke bibir Nayla yang sedang mengerucut kesal pemandangan yang menurut kontrak baru tadi pagi disebut sebagai bibir cumi-cumi.
"Mas Gibran, melanggar kontrak! Poin pertama, aku dilarang cemberut. Tapi Mas sendiri yang bikin aku cemberut sekarang!" protes Nayla sambil mencoba mendorong dada bidang Gibran. Bukannya mundur, dada yang keras seperti papan selancar itu justru terasa kokoh tak tergoyahkan.
Gibran terkekeh rendah, suara tawa yang bergetar di dadanya membuat telapak tangan Nayla yang menempel di sana ikut merasakan sensasinya. "Oke, gue mundur. Tapi malam ini, kita pulang cepat. Ada hukuman untuk Pihak Kedua yang berani menuduh suaminya pasrah ditilang polisi."
****
Malam harinya di griya tawang, Jakarta diguyur rintik hujan tipis yang membawa hawa sejuk ke dalam ruangan.
Gibran benar-benar menepati janjinya untuk pulang lebih awal. Pukul tujuh malam, ia sudah berada di rumah, bahkan sudah berganti pakaian dengan kaus oblong hitam santai dan celana kain panjang.
Nayla sengaja menyibukkan diri di balkon kamar utama, berpura-pura menikmati pemandangan lampu-lampu kota Jakarta dari ketinggian lantai teratas, padahal ia hanya ingin menghindari interaksi dengan Gibran.
Ia membungkus tubuhnya dengan selimut wol tebal, membiarkan angin malam memainkan beberapa helai rambutnya.
Sret ...
Suara pintu geser kaca terbuka. Detik berikutnya, hawa hangat langsung menyelimuti punggung Nayla. Gibran ikut masuk ke dalam selimut yang sama, melingkarkan lengannya dari belakang dan menarik tubuh Nayla hingga menempel erat pada dada bidangnya.
"Mas! Lepas, sempit tahu!" pekik Nayla kaget, mencoba menggeliat lepas.
"Diam, Nay. Di luar dingin, lagipula ini sudah jamnya klaim pelukan wajib seumur hidup. Anggap saja ini akumulasi karena tadi siang kita belum sempat pelukan sepuluh detik," kata Gibran, menyandarkan dagunya dengan nyaman di atas bahu Nayla.
Nayla akhirnya pasrah. Harus ia akui, berada di dalam dekapan Gibran di tengah udara dingin malam hari rasanya sangat nyaman dan ... hangat. Jauh lebih hangat daripada selimut wol terbaik mana pun.
"Mas," panggil Nayla pelan setelah keheningan melingkupi mereka selama beberapa menit, hanya ditemani suara bising kendaraan di bawah sana dan rintik hujan.
"Hmm?"
"Mbak Valeria itu ... dulu pacar pertama Mas, ya?" tanya Nayla, rasa penasaran yang ia tahan sejak siang akhirnya lolos juga dari bibirnya.
Gibran terdiam sejenak. Pelukannya di pinggang Nayla sedikit mengerat. "Kenapa? Masih penasaran sama wanita berbaju cabai merah tadi siang?"
"Cuma nanya! Kalau tidak mau jawab juga tidak apa-apa," sahut Nayla gengsi, bersiap untuk berbalik memunggungi Gibran.
"Dia bukan pacar pertama, tapi dia wanita yang dijodohkan Papa sejak kami masih kuliah di London," jelas Gibran akhirnya, suaranya terdengar lebih berat dan serius.
"Keluarga kami berteman dekat, bisnis kami saling menguntungkan. Valeria itu cantik, modis, dan tahu cara menempatkan diri di kalangan atas. Tapi bagi gue, dia seperti replika dari Papa. Egois, ambisius, dan selalu mengukur segala sesuatu dengan angka dan nominal uang."
Nayla mendengarkan dengan saksama, merasakan ada sedikit kepedihan dari nada bicara Gibran. Pria ini, sekaya apa pun dia, ternyata tumbuh dalam lingkungan yang sangat mekanis dan tanpa kehangatan tulus.
"Lalu, kenapa putus?" tanya Nayla lagi, kini suaranya melembut.
"Gue yang mutusm hubungan itu setahun lalu, sebelum dia pindah ke London untuk urusan butiknya. Gue lelah, Nay. Hidup gue sudah diatur penuh oleh Papa di kantor. Di luar kantor, gue tidak mau diatur lagi oleh wanita yang punya pola pikir sama seperti Papa. Gue butuh tempat untuk pulang, bukan tempat untuk rapat bisnis kedua," tutur Gibran jujur.
Gibran membalikkan tubuh Nayla secara perlahan agar mereka kini saling berhadapan di dalam lingkaran selimut yang sama. Ia menatap wajah Nayla yang kini tampak sangat polos di bawah pendar lampu balkon yang remang-remang.
"Mau tahu kenapa gue bilang lu bukan gadis biasa?" tanya Gibran lembut, jemarinya bergerak merapikan anak rambut Nayla yang tertiup angin ke belakang telinganya.
Nayla menggeleng pelan, matanya terkunci pada tatapan hangat Gibran.
"Karena waktu lu ngomel, waktu lu marah membela harga diri lu di depan Papa atau di depan Valeria tadi siang, lu kelihatan sangat hidup. Lu punya warna yang tidak pernah gue temukan di dunia gue yang serba abu-abu dan kaku ini. Lu tulus, Nay. Dan ketulusan itu yang bikin kulkas ini mencair," bisik Gibran, wajahnya perlahan mendekat.
Nayla merasa dunianya seolah berhenti berputar. Kata-kata Gibran barusan terdengar jauh lebih indah daripada puisi cinta mana pun yang pernah ia baca. Rasa cemburu dan jengkel yang ia rasakan sejak siang mendadak lenyap tak berbekas, menguap digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya.
"Mas Gibran ... kalau bicara jangan terlalu manis, nanti aku bisa diabetes," celetuk Nayla di detik-detik terakhir sebelum jarak di antara mereka hilang, mencoba mencairkan suasana yang mendadak sangat romantis itu dengan candaan khasnya.
Gibran tertawa renyah, sebuah tawa yang meruntuhkan sisa-sisa jarak di antara mereka. "Kalau lu diabetes, tenang saja. Gue yang bakal jadi dokter pribadinya seumur hidup."
Dan malam itu, di bawah rintik hujan Jakarta yang menjadi saksi, Gibran mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Nayla,bukan lagi sebagai bagian dari pemenuhan kontrak, melainkan sebagai sebuah pernyataan rasa yang kian nyata bahwa cemburu tadi siang memang adalah tanda dari sebuah rasa sayang yang mulai mengakar kuat.
sory ya thor 🙏