Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15 ke Gap papa mama
Pagi tiba hari ini adalah ulang tahun Maxime karena semalam hujan jadi keluarga menunda memberi kejutan. mereka semua memilih datang pagi-pagi sekali. ada keluarga Gunanto lengkap dan keluarga Antoro. Wisnu juga ikut karena dia yang menyiapkan semua kejutan. Wisnu membeli kue ulang tahun premium di tempat langganan keluarga Gunanto. lalu ia juga memesan makanan dan minuman untuk sajian nanti.
"Kenapa sepi sekali Wisnu?" tanya mama Gunanto.
"Iya bu bos soalnya bos Maxime dan mba Aurora kan hanya tinggal berdua" jawab Wisnu sambil membawa kue ulang tahun.
"Dimana kamar mereka?" tanya papa Gunanto.
"Di lantai dua pak bos, mari" Wisnu mengajak rombongan keluarga menuju depan kamar Maxime.
Mertua Maxime dan orang tua Maxime bersiap mereka memakai topi hias dan memegang terompet untuk memeriahkan suasana. Wisnu mengetuk pintu kamar Maxime beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
"Mereka ada di rumah tidak?" tanya papa Antoro.
"Seharusnya ada dik An, karena mobil mereka ada di depan semua" jawab papa Gunanto.
"Yasudah Wisnu kau dobrak saja pintunya!" kata papa tidak sabar.
"Tapi pak bos..."
"Sudahlah daripada kelamaan"
"Iya dobrak saja" kata yang lain.
Catherine bersiap meniup terompetnya kencang agar kakaknya terkejut.
"Satu...dua...tiga!"
Bruaaak!!
Pintu kamar terbuka paksa semua yang hampir meniup terompet terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka. hening sesaat semua saling melempar pandangan satu sama lain. mereka jadi salah tingkah melihat Aurora berada di atas tubuh Maxime berselimut berdua. bahkan terlihat Maxime bertelanjang dada seperti mereka baru saja berbuat sesuatu.
Catherine tertawa seraya menutup matanya dengan tangan. papa dan mama Gunanto saling pandang begitu juga Papa dan mama Antoro.
Maxime menggeliat karena mendengar ada yang berisik. ia membuka matanya terkejut mendapati Aurora terbaring di atas tubuhnya. Aurora membuka matanya perlahan menatap wajah Maxime lalu keduanya menatap ke arah pintu kamar disana lengkap semua keluarga berdiri senyum-senyum melihat kemesraan Maxime dan Aurora.
"Haaaaa!!" Aurora berteriak panik ia berguling dari atas tubuh Maxime menutupi tubuhnya dengan selimut besar. Maxime juga bingung ia langsung menyambar kemejanya dan mengancingkan dengan cepat.
"Ayo kita keluar dulu" kata Papa Gunanto sambil menahan tawa.
Wisnu yang mematung terkejut melihat kejadian di hadapannya pun jadi senyum-senyum.
"Wisnu cepat keluar!" bentak Aurora yang bersembunyi di balik selimut.
"Baik mba maaf" Wisnu segera pergi dari kamar Maxime.
Maxime meraih dress Aurora yang tergeletak di samping ranjang lalu menyerahkannya pada Rora. wajah Maxime memerah karena malu. ia bingung sebenarnya ada apa semalam, kenapa Aurora tiba-tiba ada di atas tubuhnya hanya memakai pakaian dalam.
"Jangan berpikir aneh-aneh Max! kemarin kau demam dan aku mencoba menurunkan suhu tubuhmu dengan cara skin to skin!"
"Hah?" Maxime terkejut dengan ide itu lalu ia tersenyum.
"Baiklah ayo turun mereka pasti menunggu kita di bawah"
"Aku tidak mau turun aku malu Max pasti mereka berpikir yang bukan-bukan!" rengek Rora dengan wajah merah merona.
"Tenang saja kalaupun mereka berpikir begitu juga tidak masalah kita sudah menikah bukan?"
"Tapi..."
"Ayolah, biar aku yang jelaskan nanti" kata Maxime menenangkan Aurora.
Akhirnya dengan malu-malu dan salah tingkah Maxime dan Aurora menemui keluarganya yang berkumpul di lantai utama. Maxime justru heran melihat para orang tua saling berpelukan dengan wajah riang gembira seperti memenangkan undian lotre di pagi buta.
"Itu artinya kita akan segera punya cucu!" kata papa Antoro pada papa Gunanto.
"Benar akhirnya Maxime bisa memberikan keturunan secepatnya!" kata papa Gunanto.
Maxime dan Aurora saling pandang tidak mengerti dengan pikiran orang tua mereka.
"Eh Maxime selamat ulang tahun ya!"
Semua memberi selamat pada Maxime. ini ulang tahun Max ke tiga puluh dan kejutan kali ini memang di luar nalar.
"Selamat ya kak Max, apa sebentar lagi aku akan punya keponakan?" tanya Catherine menggoda sambil menggerakkan alisnya membuat wajah Maxime memerah menahan malu.
"Diam anak kecil!" Maxime mencubit pipi Catherine.
Max merangkul pinggang Aurora mengajaknya meniup lilin bersama. potongan kue pertama Max berikan pada papa mama lalu pada Aurora.
"Cium...cium..cium!" semua bertepuk tangan dan antusias.
"Apa? cium?" Aurora nampak takut.
"Cium bos masa tidak berani" Wisnu mengompori.
Maxime tersenyum salah tingkah ia menatap wajah Aurora lalu mengecup singkat bibir Aurora.
Aurora mematung saat bibir Maxime menyentuh bibirnya dengan kilat. tubuhnya bergetar. semua orang di ruangan itu bertepuk tangan dan bersorak kegirangan.