Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 35
...~Happy Reading~...
Di kantor Vino,
Vino duduk dengan gelisah, dia memikirkan Risti sedari tadi, kemarin dia pamit untuk ke supermarket, dia takut Risti kenapa-napa, mengingat Risti adalah sasaran Alex. Walaupun ada penjaga bayangan tapi Vino tetap khawatir karena Alex dapat menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Oh iya, aku kan mau membeli ponsel untuk Risti hari ini.” Vino teringat jika dia ingin membelikan ponsel untuk Risti agar bisa berkomunikasi dari jarak jauh, ini bisa menjadi antisipasi kalau ada apa-apa dirumah.
Selama di rumahnya yang dulu yaitu rumah keluarga Hendrawan Risti tidak memiliki ponsel dia hanya sesekali meminjam ponsel milik bibi, itupun hanya untuk belajar cara menggunakannya saja.
Dulu Pak Rian pernah membelikan ponsel untuk Risti dan ponsel itu lebih bagus daripada punya Jesi dan Windi, Jesi menginginkannya. Kalian pasti tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ya, benar. Saat Pak Rian pergi lagi keluar kota Bu Dewi mengambil ponsel milik Risti untuk diberikan kepada Jesi.
“Anak j*l*ng seperti kamu tidak pantas untuk hidup, bahkan memiliki barang mewah seperti ini!” bentak Bu Dewi saat dia mengambil paksa ponsel Risti.
Risti hanya bisa diam, dia tidak berani menjawab apalagi mengadu ke ayahnya, jika dia sampai mengadu maka Bu Dewi akan semakin menjadi-jadi dan semakin menyiksa Risti.
Saat Pak Rian pulang dan bertanya dimana ponselnya, Risti terpaksa berbohong kalau dia tidak mau memakai ponsel jadi dia memberikannya untuk Jesi, dia juga tidak tau cara memakai ponsel. Pak Rian percaya-percaya saja, dia selalu percaya apa yang dikatakan oleh putrinya itu.
...****************...
Hari ini Vino pergi ke toko ponsel ternama di kotanya, dia membeli ponsel keluaran terbaru bermerk “Durian 12 Pro Max” dengan fitur terlengkap, dia membelikan memori serta kartu simnya juga, karena Vino memasang Wifi di rumahnya jadi dia tidak perlu khawatir soal paket data. Walau mahal Vino tetap membelikannya apalagi kalau untuk Risti, baginya uang bukanlah masalah, yang terpenting adalah kebahagiaan Risti.
“Hmm, perempuan biasanya suka yang imut,” gumam Vino, dia membelikan soft case karakter kelinci, benar benar mirip, ada sepasang telinganya juga.
Setelah membayar semuanya, Vino kembali lagi ke kantor karena pekerjaannya belum selesai.
...****************...
Sementara itu,
Vianda sedang berfikir keras untuk membuat Risti jauh dari Vino, bahkan jika harus membunuh Risti Vianda tetap akan melakukannya selama itu akan menjauhkan mereka berdua.
“Hmm, bagaimana kalau Risti kutabrak pakai mobil, ya ya ya, aku akan menyuruh seseorang,” gumam Vianda.
Dia menelfon orang suruhannya untuk menabrak Risti.
“Tamatlah riwayatmu, jika kamu selamat mungkin kamu akan cacat bahkan hanya berbaring di tempat tidur, pasti kak Vino akan menjauhimu dengan sendirinya." Vianda tertawa puas.
Dia sangat yakin dengan rencananya. Dia tidak pernah memikirkan resiko karena saat orang suruhannya ditangkap polisi, maka orang suruhannya tersebut tidak akan menyeretnya ke dalam kasus, hal ini dikarenakan besarnya bayaran yang diberikan Vianda kepada mereka.
Saat pukul 1 siang Vianda mengawasi dari kejauhan sementara orang suruhannya menanti Risti keluar dari rumahnya, dia memancing dengan berbagai penjual keliling seperti siomay, cilok, es krim, tahu bulat dan bakso.
Vianda membayar semua pedagang agar lewat di depan rumah Risti. Siomay, cilok, es krim dan tahu bulat sudah lewat tapi Risti tidak kunjung keluar dari rumahnya, sekarang hanya tinggal penjual bakso.
Saat penjual bakso lewat ternyata Risti terpancing,
“Lama tidak makan bakso,” kata Risti.
“Mang beli mang!” teriak Risti, karena penjual bakso berada di seberang jadi Risti haris menyebrang terlebih dahulu.
Orang suruhan Vianda melaju dengan cepat saat Risti menyebrang, satpam Risti yang melihat adanya bahaya dia langsung berlari.
“Awas nyonya!" teriak satpam, dia berlari sekencang-kencangnya dan menarik Risti menuju ke pinggir hingga mereka jatuh.
“Nyonya tidak apa-apa kan?" tanya satpam. Untungnya mereka berdua selamat.
“Emm gpp hanya lecet sedikit, terimakasih telah menyelamatkan saya,” ucap Risti, jantungnya berdegup kencang dia sangat kaget, badannya lemas, Risti pun pingsan.
“Ngga jadi mang, maaf ya!" teriak satpam, penjual bakso pun pergi. Pak Satpam buru-buru membawa Risti masuk ke dalam rumah.
Dari kejauhan,
“Sial, kenapa tiba-tiba satpam muncul sih, padahal sedikit lagi." Vianda berdecak kesal, dia kemudian pergi.
Ternyata kejadian itu dilihat oleh keempat penjaga bayangan yang ditugaskan oleh Vino. Mereka mengira kalau ini ulah Alex. Mumpung mobil yang ingin menabrak tadi belum jauh, merekapun mengejarnya.
“Hah, padahal sedikit lagi tadi, gagal gue dapet duit,” kata orang yang disuruh oleh Vianda.
Saat dia masuk ke sebuah gang tiba-tiba ada mobil hitam menghadang di depan.
Keempat penjaga bayangan segera menangkapnya, dan melaporkan hal ini kepada Vino. Mereka bertanya kepada Vino mau diapakan orang ini. Vino langsung menjawab.
“Bunuh dia, buang mayatnya, kerjakan dengan rapi jangan sampai ada barang bukti yang tertinggal,”
Mereka membawa orang itu ke sebuah tebing,
“Mau apa kalian?!" teriak orang itu.
“Kau akan segera tau,”
Tanpa aba-aba mereka berempat memukulinya sampai tidak bernafas, setelah itu mereka membuang mayatnya ke tebing yang curam.
Setelah selesai, mereka melaporkannya kembali ke Vino...
Vino juga mengira kalau ini adalah orang suruhan Alex untuk mencelakai Risti, mereka tidak tau kalau dalang yang sebenarnya adalah Vianda.
“Aku harus lebih waspada, mungkin ini baru awalnya,” gumam Vino.
Dia langsung pulang dan meninggalkan pekerjaannya, dia lebih khawatir dengan keadaan Risti saat ini.
Vino menancap gas dan pulang...
Lanjut?