NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA PULUH SATU

"Pa, malu... diliatin orang," bisiknya.

"Kamu nggak usah pikirkan mereka," jawab Bastian sambil tersenyum. "Yang penting kakimu baik-baik saja."

Setelah beberapa menit, rasa sakit mulai berkurang.

"Sudah mendingan, makasih ya, Pa!" ucap Adelia lirih.

"Kalau begitu... pegangan tangan Papa ya! Kita jalan

pelan-pelan," ujar Bastian.

Adelia ingin menolak, namun rasa sakit membuatnya tidak punya banyak pilihan. Ia mengangguk. Bastian membantu Adelia berdiri dan memegang tangannya untuk menopangnya.

Mereka berjalan perlahan kembali menuju jalan besar.

Dan karena jarak cukup jauh, Bastian akhirnya mengangkat sedikit lengan Adelia, seperti membantu seseorang naik tangga.

Adelia menunduk, wajahnya memerah. "Pa... saya bisa jalan sendiri kok."

"Tapi sakit, kan?" ucap Bastian.

"Iya... tapi-"

"Tidak apa apa, biar Papa bantu," jawab Bastian lembut namun tegas.

Keramahan itu yang membuat Adelia semakin bingung. Ia mencoba tidak memikirkan hal-hal lain. Ia hanya ingin pulang dan beristirahat.

Setelah jogging selesai, mereka memutuskan sarapan di warung kecil dekat taman. Tempatnya sederhana tapi ramai. Bastian memesan bubur ayam untuk Adelia dan roti panggang untuk dirinya sendiri.

Saat makanan datang, Adelia mencicipi buburnya pelan-pelan.

"Enak?" tanya Bastian.

"Enak, Pa. Terima kasih," jawab Adelia.

Bastian tersenyum puas, menyendok rotinya sambil sesekali memperhatikan Adelia. Dari sudut pandang orang lain, mereka terlihat sangat dekat-bahkan seperti pasangan yang sudah menikah lama.

Adelia tidak sadar, tapi seorang ibu-ibu di meja sebelah berbisik pada temannya.

"Ih, romantis banget ya mereka?"

"Iya, cocok banget."

Adelia tersedak buburnya pelan. "Pa... semua orang kayaknya salah paham..."

Bastian tertawa kecil. "Biarkan saja."

Mereka menghabiskan sarapan dengan obrolan kecil-hal yang jarang Adelia lakukan dengan papa mertuanya.

Ketika mereka akhirnya berjalan pulang, kaki Adelia sudah jauh lebih baik, meski masih sedikit nyeri.

"Kalau sakit lagi, bilang ya!" pesan Bastian.

"Iya, Pa."

Namun, sesuatu terasa berbeda. Jarak di antara mereka... terasa semakin tipis.

Adelia merasakannya. Dan Bastian... terlihat menikmatinya.

÷÷÷

Udara pagi kembali memanas ketika Adelia dan

Bastian memasuki halaman rumah. Wajah mereka sama-sama lelah namun tampak hangat. Ada sesuatu yang berubah, tak terlihat jelas, tetapi terasa menyusup di antara langkah-langkah mereka yang kini selaras.

Pak Sukir yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan gerakannya ketika melihat keduanya.

"Loh... Bu Adel, Pak Bastian-wah, sudah selesai jogging paginya ya?" tanyanya dengan bingung. Tatapannya bolak-balik memperhatikan keduanya yang terlihat terlalu akrab.

Adelia tersenyum sopan. "Iya, Pak. Sekalian kita jalan-jalan sebentar."

Bastian mengangguk singkat. "Iya, Sukir. Udara pagi bagus buat olahraga."

Pak Sukir mengangguk-angguk, tapi sorot matanya menunjukkan kebingungan. Ia jarang melihat menantu dan mertua begitu dekat. Namun tentu saja, ia cukup pintar untuk tidak bertanya lebih jauh.

"Saya lanjut kerja dulu ya, Pak, Bu?" katanya cepat, lalu kembali menyapu sambil sesekali melirik mereka.

Bastian membuka pintu rumah, membiarkan Adelia masuk lebih dulu. Suasana dalam rumah dingin, teduh, dan menenangkan setelah panas di luar. Adelia melepaskan sepatu larinya dan jatuh duduk di sofa dengan napas panjang.

"Aduh... capek juga ya ternyata," keluhnya sambil memegangi pergelangan kaki yang sempat terkilir.

Bastian ikut duduk di sampingnya. "Kamu sudah bagus, Del. Untuk jogging pertama setelah lama nggak olahraga, kamu lumayan kuat."

Adelia tertawa kecil. "Papa juga kuat banget, saya malah jadi minder."

"Tapi, Papa paling senang satu hal," ujar Bastian sambil menatapnya lembut.

"Apa itu, Pa?"

"Kamu tadi tertawa."

Adelia mengerjap. "Tertawa?"

Bastian mengangguk. "Iya, setelah kejadian semalam... Papa senang lihat kamu bisa santai begini."

Adelia memalingkan wajah, pipinya memanas. "Saya juga senang, Pa. Jogging pagi ternyata menyenangkan... apalagi kalau ada temannya."

Senyum kecil muncul di bibir Bastian. "Papa selalu siap jadi temanmu, Del."

Sebelum percakapan itu semakin aneh, Mbak Sisil muncul dari dapur membawa dua gelas air dingin.

"Ini minuman untuk Pak Bastian dan Bu Adel,"

ucapnya sambil meletakkannya di meja. "Silakan

diminum! Saya ke dapur lagi ya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!