Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34# Perjanjian pra nikah
Karin bersiap menjemput Alvian ke sekolah, dia tidak mau putranya menunggu di hari pertama sekolahnya. Dia menuruni tangga menuju lantai satu, hari itu agendanya bukan hanya menjemput Alvian tapi Karin juga akan membawa putranya tersebut ke rumah keluarga Darmawan.
“Mau ke mana kamu? Suami kerja istri malah kelayapan,” mama Ayu duduk di ruang keluarga sambil menonton acara TV saat Karin baru saja turun dari lantai atas.
“Jemput Vian, ma. Sebentar lagi sekolahnya selesai,” Karin tetap santai menjawab mama mertuanya tersebut.
“Apa kamu yakin Aiden mencintaimu, Karin? Kamu yakin Aiden bertahan bukan hanya karena perjanjian pra nikah kalian,” ucap mama Ayu.
Deg
Karin yang tadinya sudah berlalu melewati mama Ayu, dia berhenti dan berbalik menatap mertuanya tersebut. “Apa maksud mama?” dia memastikan pendengarannya.
Senyum seringai terbit dari kedua sudut bibir mama Ayu, dalam hati dia tentu senang karena dia berhasil memancing Karin.
“Bukankah sudah jelas apa maksudku? Aku tahu sebelum menikah kalian membuat perjanjian pra nikah,”
Karin tersenyum tipis. “Jadi mama tahu isi perjanjian itu?”
“Tentu saja. Mana mungkin Aiden tidak memberitahuku, bagaimanapun aku ini mamanya. Sudah pasti Aiden memberitahuku,” ucap mama Ayu dengan percaya diri.
“Memangnya apa saja isi perjanjian itu, ma? Sampai mama yakin kalau suamiku bertahan hanya karena perjanjian pra nikah kami,” Karin menyerang balik sang mertua.
“Tentu saja isinya so-soal bisnis kalian. Apalagi memangnya,” gagap mama Ayu menjawab pertanyaan Karin.
Karin mengangguk. “Nanti aku tanya mas Aiden, ma. Aku akan melepasnya dengan sukarela kalau memang mas Aiden tidak bahagia denganku, tapi mama harus ingat satu hal. Aku dan mas Aiden tidak akan dapat apapun jika kami bercerai, baik rumah ini ataupun perusahaan. Karena semua akan menjadi milik Alvian,” ucap Karin dengan senyum seringainya, dia berbalik meninggalkan mama Ayu yang terlihat terkejut setelah mendengar ucapan menantunya.
Karin kembali menghentikan langkahnya sebelum benar-benar keluar menuju mobil. “Hak asuh Alvian tidak akan jatuh padaku maupun mas Aiden jika kami bercerai. Semua aset Alvian juga akan beralih di bawah pengawasan auntynya, bukan Alya. Tapi mbak Rhea,” lanjut Karin.
“A-apa? Rhe-Rhea?” mama Ayu duduk terkulai lemas di sofa.
Karin bergegas masuk ke dalam mobil. “Langsung ke sekolah Vian ya, pak!” titahnya pada sang supir.
“Siap bu,”
Karin memikirkan banyak hal selama perjalanannya menuju sekolah Alvian, ucapannya tentang perjanjian pra nikah semuanya benar kecuali tentang semua aset di bawah pengawasan Rhea sang kakak. Justru dari sana Karin mulai memikirkan sebuah ide, dia lantas mengambil ponsel dan mengirim pesan pada sang kakak.
“Mbak Rhea kapan ada waktu? Vian kangen mau ketemu,”
“Tiga hari lagi bagaimana? Saat ini aku ada di luar kota, Rin. Hasafa ada kegiatan amal,”
“Oke. Hubungi aku kalau mbak sudah balik ke Bandung,”
“Siap. Salam untuk keponakan ganteng,”
Karin menyimpan kembali ponselnya, siang itu dia menatap jalanan kota Bandung. Dalam benaknya ada banyak hal yang dia pikirkan, meskipun dia tahu kalau mama Ayu berbohong, namun tetap saja Karin kepikiran. Bagaimana mertuanya tersebut tahu tentang adanya surat perjanjian pra nikah antara dirinya dengan Aiden, dan tidak menutup kemungkinan untuk Nala tahu jika mama mertuanya saja mengetahuinya. Karin tidak ingin punya prasangka pada sang suami, namun hal tersebut mengarah pada Aiden. Pasalnya hanya pengacara dan mereka berdua yang tahu tentang perjanjian pra nikah itu, mama Nirma dan papa Andi sekalipun tidak tahu.
“Kita sudah sampai, bu.” Pak supir menghentikan mobilnya, dia menoleh ke kursi belakang untuk memberitahu Karin.
Karin membuyarkan lamunannya. “Oh. Iya, pak. Saya turun dulu,” Karin turun dari mobil, untungnya masih ada waktu lima menit sebelum Alvian keluar dari kelas.
Karin bergegas masuk setelah menunjukkan kartu akses wali yang menjemput anak-anak, dia berdiri tidak jauh dari pos satpam menanti para guru membawa keluar anak-anak. Para wali lainnya juga sudah menanti anak-anak mereka keluar dari kelas.
“Mama …” Karin berjongkok dan merentangkan kedua tangannya saat melihat Alvian keluar dan berlari kearahnya.
“Anak siapa ini, hmm? Masih tampan,” Karin menciumi pipi putranya dengan gemas, entah kenapa dia merasa sepi padahal baru hari pertama Alvian sekolah.
“Anak mama Kalin, keponakan telkecenya onty Yaya cama onty Lhea. Adiknya kakak Aletha,” jawabnya mengabsen semua orang. “Papa tidak di sebut?” tanya Karin yang merasa lucu karena suaminya justru tidak di sebut sang anak.
“Pian pikil-pikil dulu. Habicnya papa kacih halapan palcu,” polos Alvian.
Karin terkekeh mendengar jawaban putranya, dia lantas mengambil tas Alvian dan menggendongnya di bahu kiri. Sementara tangan kanannya menggandeng Alvian menuju mobil, Karin menatap heran putranya yang begitu riang.
“Langsung ke rumah mama ya, pak!” pinta Karin diangguki supir.
“Holle! Pian ke lumah oma Nilma,” girang Alvian begitu sang mama meminta pak supir untuk langsung ke rumah keluarga Darmawan.
“Senang banget yang mau ke rumah oma,” Karin memeluk gemas tubuh putranya.
Alvian mengangguk. “Pian lindu oma cama opa ini lah mama,” jawabnya.
Karin terkekeh. “Rindu oma sama opa atau adek mau minta jajan sama oma, opa?” selidik Karin pada putranya.
Alvian terkikik, dia langsung menyembunyikan kepalanya pada dada sang mama. “Mau cilol, ec klim. Di lumah oma banyak jajan,”
***
Nala langsung mendekati Aiden begitu mereka selesai meeting.
“Aiden!” panggilnya.
“Ada apa?” datar Aiden. “Ada yang ingin aku bicarakan, please! Sebentar saja,” mohon Nala pada Aiden.
Aiden melihat arlojinya. “Kalau tentang pekerjaan bisa, tapi tidak jika menyangkut urusan pribadi. Aku harus meeting lagi setelah ini,” tolak Aiden dengan halus.
“Sebentar saja, Aiden. Hari itu aku terpaksa pergi, semua bukan keinginanku. Aku sakit,” ucapnya.
Aiden menghela napas. “Hanya sebentar,”
Nala sumringah, dia mengekori Aiden masuk ke dalam ruangannya. Untuk sementara papa Harun masih mengawasi mereka, dia baru akan bertindak jika Nala sudah kelewat batas.
“Duduk di sana!” tunjuk Aiden pada sofa yang ada di hadapannya saat Nala hendak duduk di sampingnya.
Nala tersenyum kecut, dia lantas duduk di sofa yang berseberangan dengan tempat duduk Aiden berada.
“Aku tidak punya banyak waktu,” ucapnya pada Nala.
“A-aku terpaksa pergi tanpa memberitahumu, Aiden. Aku auto imun,” ucapnya dengan sendu menatap kearah Aiden. “Aku tidak mau membuatmu sedih, karena itu aku memilih pergi. Papa mengirimku untuk berobat ke luar negeri,”
“Apa kamu pikir aku akan meninggalkanmu kalau aku tahu kamu sakit, Nala? Harusnya kamu saat itu bilang padaku, dengan begitu aku bisa menemanimu. Sayangnya kamu memilih pergi,”
“Tapi aku sekarang sudah kembali, Aiden. Aku sembuh, kita bisa memulainya dari awal lagi. Aku bisa menjadi ibu Alvian. Aku tahu kamu tidak mencintai Karin,”
“Kamu yakin sekali kalau aku tidak mencintai Karin,”
“Tentu saja, kalian tidak akan membuat perjanjian pra nikah jika memang pernikahanmu dengan Karin berawal dengan cinta. Aku benar kan, Aiden? Aku tahu semuanya,” kekeh Nala.
“Itu memang benar. Perjanjian pra nikah kami memang karena itu,”
Nala tersenyum dengan seringai.
Nala
Voice note send
"Aiden masih perduli padaku. Dia masih mencintaiku, sebaiknya kamu mundur. Aku akan membantumu mendapatkan hak asuh Alvian kalau kamu mau mundur dengan suka rela."