NovelToon NovelToon
Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Penyihir Gila Dari Jurang Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Balas Dendam
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AbdulRizqi60

Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjelang Serangan Para Penyihir Asing

Para penyihir dan warga hanya bisa memandangi kepergian Samudra dengan ekspresi yang bermacam macam. Ada yang kagum, heran dan sekaligus takut dengan sosok Samudra yang agak terlihat sedikit Gila itu.

"Mengapa orang kuat cenderung bertingkah bodoh?" Ucap salah satu penyihir muda sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.

"Sudahlah, ayo kita tangkap pemuda itu sebelum energi sihirnya pulih kembali." Sahut penyihir lainnya.

Samudra duduk di pinggiran jalan yang sepi sembari membakar ketela yang ia bawa.

Setelah matang ia kemudian memakannya...

Di saat Samudra sedang sibuk menikmati ketela bakarnya seorang anak gadis muda belia yang merupakan anak penjaga warung makan datang mendekat dan bertanya kepada Samudra.

"Apakah kakak lapar? Aku bisa memberikan nasi uduk gratis untuk kakak, tapi tolong jawab dulu pertanyaanku kakak ini orang baik atau orang jahat sebenarnya?" Tanya Gadis muda belia itu secara tak terduga membuat Samudra tersedak.

Samudra menoleh dengan senyuman miring, yang membuat gadis itu sedikit gugup dan takut.. namun sebelum dia mengucapkan sesuatu Samudra berucap demikian..

"Aku? Aku bukan orang baik, aku juga bukan penjahat aku hanya orang yang kelaparan dan butuh makan. Jika adik kecil bisa memberikan nasi uduk dan lauknya, apalagi di tambah sambal terasi, maka aku Samudra akan menjadi orang baik dan mengingat kebaikan ini sepanjang hidupku." Ucap Samudra dengan raut wajah konyolnya.

Gadis kecil itu menatap lugu Samudra sesaat, "Hihi... baiklah, aku lihat kakak sepertinya orang baik. Tunggu sebentar aku akan mengambilkan makanan untuk kakak lengkap dengan sambal terasinya." Ucap gadis muda itu seraya berbalik dan berlari meninggalkan Samudra yang hanya bisa bengong di tempatnya duduk.

Samudra menatap gadis itu hingga masuk ke warungnya, secara sekilas ia melihat dua penyihir yang sedang makan di dalam sana, Samudra melihat dua penyihir itu menatap tajam gadis kecil itu seolah predator yang menatap mangsa.

Samudra yang merasa curiga langsung memejamkan matanya, ia menggunakan teknik Gema Seribu Gendang yang di ajarkan Guru Genta Gelap di mana pengguna teknik ini mampu mendengar suara sekecil apapun walaupun jaraknya jauh.

"Lihat gadis itu, dia sangat cantik, cocok untuk di tumbalkan."

"Benar, Guru pasti sangat senang apabila kita membawanya, aku melihat di desa ini juga banyak sekali anak kecil, semua penyihir di sini hanya penyihir lemah setingkat junior... kita bisa membunuh mereka dengan mudah apabila mereka menghalangi... hahaha..."

"Hahaha.... Para Pasukan Istana Nirlata tidak akan menyadari bahwa kita akan menyerang mereka melalui desa kecil, mereka terlalu memperketat pertahanan mereka di kawasan istana.."

Kemudian obrolan mereka beralih ke topik lainnya yang tidak penting.

Samudra membuka matanya, "apa yang mereka rencanakan? Guru? Tumbal? Anak kecil? Apakah maksud mereka, mereka hendak menumbalkan anak kecil kepada Guru mereka? Namun untuk apa? Memangnya ada sihir yang syaratnya menumbalkan anak kecil?" Dalam hatinya Samudra bertanya tanya.

Samudra menatap pakaian mereka, mereka mengenakan pakaian desa biasa, namun Samudra bisa merasakan mereka memiliki energi sihir.

Tak lama gadis kecil itu kembali dan memberikan nasi uduk kepada Samudra.

"Wah, benar benar lengkap dengan sambal terasi. Terimakasih ya anak manis, kau anak yang sangat baik..." ucap Samudra.

"Hi... hi... hi... kakak juga tampan, kakak mengingatkanku pada kakakku yang sudah tewas." Ucap gadis itu. Ekspresi cerianya langsung berubah menjadi kesedihan.

"Tewas? Kenapa kakakmu bisa tewas.." tanya Samudra sambil memaka suapan pertama, matanya terbelalak rasa nasi uduk ini benar benar enak, "emmm... enak sekali, orang tuamu pandai membuatnya..."

Gadis itu masih tampak sedih...

Samudra yang menyadari itu berucap, "anak manis, kematian itu adalah takdir, setiap manusia pasti akan mati ketika waktunya sudah tiba. Namun kamu jangan berkecil hati, kematian itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari keabadian. Ketika kamu sudah mati kamu akan bertemu dengan kakakmu di alam sana, hidup di sana sangat menyenangkan, kamu tidak akan merasakan sakit, kamu tidak akan pernah merasa sedih dan kamu hidup selamanya... namun itu hanya berlaku bagi orang baik, sedangkan untuk orang jahat adalah sebaliknya, mereka akan mendapatkan siksaan selamanya.."

Gadis itu menatap Samudra dengan mata bulat indahnya, "benarkah? Ibu selalu mengatakan aku orang baik, kalau begitu aku mau bunuh diri saja biar bisa ketemu kakak dan hidup abadi bersamanya..."

"Ehh? Bukan begitu maksudku, jika kamu mati karena keinginanmu sendiri atau bunuh diri artinya kamu menyakiti dirimu sendiri, kamu bukan lagi orang baik dan kamu justru akan di siksa, oleh karena itu kamu harus terus hidup dan berbuat baik sampai waktunya kamu di panggil sang pencipta tiba.."

"Jadi aku harus berbuat baik dan mati karena takdir baru bisa bertemu kakak?" Tanya gadis itu.

"Benar..."

Gadis itu mengeluarkan foto yang ia simpan di saku bajunya. Foto seorang anak laki laki tampan seusia Samudra dan di pelukannya ada anak gadis itu.

"Kakak Rangga, tunggu aku di sana..." lirih Gadis itu.

"Jadi nama kakakmu Rangga, kenapa dia bisa tewas?" Tanya Samudra.

"Kakakku nama lengkapnya Rangga Bumi dia main di Hutan dan tidak pernah kembali, menurut ucapan warga kakak di makan monster." Jawab Gadis itu sedih.

"Rangga Bumi..." ucap Samudra mengingat wajah pria di foto itu.

***

Waktu berlalu begitu cepat, matahari sudah mulai condong ke barat..

Di atas atap rumah salah satu warga Samudra duduk di sana sembari memakan ketela dan meminum air nira.

Samudra kali ini dalam keadaan waspada penuh, ia tau bahwa sebentar lagi kelompok penyihir asing akan menyerang desa ini.

"Kita lihat siapa yang berani menyerang desa ini ketika ada diriku di dalamnya... sungguh sial kalian karena beraksi di waktu yang tidak tepat!" Batin Samudra menatap langit yang mulai menggelap.

Beberapa warga tampak masih ada yang beraktivitas.

Di dalam hutan kehampaan.

"Kita lakukan rencana kita sekarang saja, tidak perlu menunggu waktu malam tiba. Semakin cepat semakin baik, kita juga harus menuju ke desa lainnya..." ucap seorang penyihir dengan jubah hitam dan tudung.

"Tapi... ini melanggar perintah awal Guru, Tuan Janu. Bagaimana kalau guru marah, karena kita tidak menyerang di malam hari." Sahut penyihir lainnya.

"Sudahlah, yang terpenting kita membawa banyak anak kecil untuk tumbal!" Ucap penyihir bernama Janu itu, "siapkan sihir bola api kalian, kalau tidak aku akan pulang, aku sudah sangat malas bersembunyi di hutan bau, dan penuh nyamuk seperti ini!"

"Ba... ba... baik Tuan..."

Semua penyihir di sana yang berjumlah ratusan tampak merapalkan mantra, tangan mereka mulai mengeluarkan api yang membentuk bola api raksasa.

1
anggita
nama ilmu yg keren. mantra api jiwa👏
anggita
ikut dukung ng👍like, 2x☝☝iklan. moga novelnya lancar.
anggita
novel laga lokal👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!