NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

—Tahun 2026—

Bandung selalu punya cara untuk merayakan kesedihan. Malam ini, gerimis tipis membasuh kaca jendela rumah megah di kawasan Dago itu, menciptakan jejak-jejak air yang tampak seperti air mata yang enggan jatuh.

Zivara Arthea duduk mematung di ujung meja makan jati yang panjang. Di depannya, sup iga favorit suaminya sudah kehilangan kepulan uapnya. Lemak putih mulai membeku di permukaan kuah, menandakan waktu telah lama berlalu sejak hidangan itu disajikan.

Lima tahun. Zivara menghitung dalam hati.

Lima tahun ia belajar menjadi bayangan. Ia belajar kapan harus diam, kapan harus tersenyum, dan kapan harus pura-pura tidak mendengar saat suaminya menyebut nama perempuan lain dalam tidurnya.

"Nyonya, ini sudah jam sebelas malam," suara Mbak Siti, asisten rumah tangganya, memecah kesunyian dengan nada penuh simpati. "Mau saya hangatkan lagi?"

Zivara tersenyum, jenis senyuman yang tidak pernah sampai ke mata. "Tidak usah, Mbak. Mas Kaizar mungkin makan di luar."

Tepat saat kalimat itu selesai, deru mesin mobil sport membelah kesunyian taman depan. Pintu utama terbuka dengan kasar, membawa masuk aroma hujan dan parfum maskulin yang tajam, bercampur dengan aroma antiseptik yang samar.

Kaizar Ravindra masuk dengan langkah besar. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Dasinya sudah melonggar, dan wajahnya—pria itu tampak hancur.

"Mas, kamu sudah pu—"

"Jangan sekarang, Zivara," potong Kaizar tanpa menoleh.

Ia menyambar kunci mobil lain yang tergantung di dekat pintu masuk. Ia tidak masuk ke kamar, tidak mengganti pakaian, bahkan tidak melirik meja makan yang telah disiapkan istrinya dengan penuh kasih selama dua jam.

"Kamu mau ke mana lagi?" Zivara memberanikan diri menahan lengan suaminya. Dingin. Kain jas Kaizar terasa lembap oleh hujan.

Kaizar menyentakkan tangannya. Matanya yang tajam dan gelap menatap Zivara dengan kilat kemarahan yang tertahan.

"Luna kambuh. Dia butuh aku. Jangan buat aku harus menjelaskan hal yang sama berulang kali."

Zivara membeku. Nama itu lagi. Nama yang merupakan garis batas yang tak pernah bisa ia seberangi. Tanpa kata, Kaizar melesat pergi, meninggalkan aroma penolakan yang menyesakkan dada.

Kali ini, sesuatu dalam diri Zivara patah. Bukan dengan suara keras, melainkan seperti retakan es yang halus namun fatal. Ia meraih kunci mobilnya, berlari menembus hujan tanpa peduli pada kakinya yang hanya beralaskan sandal rumah.

**

Perjalanan itu terasa seperti mimpi buruk. Zivara mengikuti mobil Kaizar hingga sampai ke sebuah bangunan putih pucat di pinggiran kota. Rumah Sakit Jiwa.

Langkah kaki Zivara bergema di koridor yang sunyi. Bau pembersih lantai yang menyengat seolah menusuk paru-parunya. Ia melihat Kaizar berlari menuju tangga darurat setelah berbicara singkat dengan seorang perawat yang panik.

"Atap! Pasien di atap!"

Zivara terus mengikuti, jantungnya berdegup hingga ke pangkal tenggorokan. Ketika pintu atap terbuka, angin kencang Bandung langsung menghantam wajahnya.

Di sana, di tepi beton yang membatasi gedung dengan langit malam, seorang perempuan berdiri dengan gaun putih yang berkibar liar. Luna Valenska. Ia tampak seperti malaikat yang patah sayapnya, rapuh sekaligus mematikan.

"Luna, turun! Kumohon!" Kaizar berteriak, suaranya pecah oleh keputusasaan.

Zivara berdiri beberapa meter di belakang Kaizar, menyaksikan pemandangan yang menghancurkan seluruh sisa harga dirinya. Suaminya, pria yang tak pernah berlutut untuk siapa pun, kini bersimpuh di lantai beton yang kasar.

"Aku mencintaimu, Luna. Hanya kamu. Turunlah, kita mulai lagi semuanya," isak Kaizar.

Kalimat itu… adalah paku terakhir di peti mati pernikahan mereka. Zivara merasa dunia di sekelilingnya mulai kehilangan warna. Selama lima tahun, ia mencoba meyakinkan diri bahwa waktu akan mengubah segalanya. Bahwa pengabdiannya akan menang. Ternyata, ia hanya sedang menabung luka.

"Kamu punya dia, Kaizar!" Luna menunjuk Zivara dengan tawa histeris. "Istrimu ada di sana!"

Kaizar menoleh sekilas ke belakang, namun tatapannya pada Zivara tidak berisi apa-apa selain gangguan.

"Zivara, jangan sekarang! Pergi!"

Zivara melangkah maju, bukan karena perintah Kaizar, tapi karena ia melihat kaki Luna tergelincir. Dengan refleks yang lahir dari naluri murni, Zivara berlari. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia hanya berpikir jika Luna mati, maka Kaizar akan mati bersamanya.

"Luna, pegang tanganku!" Zivara menjerit.

Ia berhasil meraih pergelangan tangan Luna. Dengan seluruh tenaga yang ia punya, ia menyentakkan tubuh mungil perempuan itu kembali ke arah beton yang aman. Luna jatuh terjerembab ke arah Kaizar yang langsung mendekapnya dengan protektif.

Namun, momentum dorongan itu membuat tubuh Zivara justru terhuyung ke belakang. Tumit sandalnya menginjak udara kosong.

Waktu seolah melambat, Zivara melihat wajah Kaizar yang baru saja menyadari apa yang terjadi. Mata pria itu membelalak, tangan kirinya mencoba meraih udara, namun ia masih mendekap Luna dengan tangan kanannya.

Bahkan di detik terakhir, ia tidak melepaskan perempuan itu untuk menyelamatkan Zivara.

Zivara jatuh.

Angin malam menderu di telinganya, namun anehnya, ia merasa tenang. Air matanya terbang ke atas, menghilang di kegelapan.

Andai waktu bisa berputar kembali... bisiknya dalam hati yang hancur. Aku akan memastikan bahwa kita adalah dua garis sejajar yang tak pernah punya titik temu.

Kegelapan menelannya. Tanpa rasa sakit, hanya kesunyian yang abadi.

**

—Tahun 2014—

"Vara! Zivara Arthea!"

Sebuah tepukan keras di bahu membuat Zivara tersentak. Napasnya memburu, paru-parunya seolah baru saja disiram air dingin. Matanya terbuka lebar, namun yang ia lihat bukan langit malam yang gelap, melainkan sinar matahari yang menyilaukan dan memantul di permukaan meja kayu yang penuh coretan.

"Lo kesurupan ya? Dari tadi gue panggil nggak nyaut-nyaut."

Zivara mengerjap. Suara itu… ia mengenalnya. Ia menoleh ke samping dan menemukan seorang gadis dengan kuncir kuda sedang mengunyah permen karet dengan santai.

"Dina?" suara Zivara serak, nyaris tak terdengar.

"Ya iyalah, emangnya siapa? Hantu penunggu kampus?" Dina tertawa, lalu menunjuk ke arah lapangan depan gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Santara. "Tuh, target lo udah dateng. Buruan, sebelum dia masuk kelas."

Zivara mengikuti arah telunjuk Dina. Dunianya seolah berhenti berputar.

Di seberang sana, seorang pemuda berjalan dengan angkuh. Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, membawa tas punggung hitam di satu bahu. Wajahnya masih memiliki sisa-sisa remaja, namun garis rahangnya sudah setegas yang diingat Zivara.

Kaizar Ravindra. Usia 19 tahun.

Belum ada cincin di jarinya. Belum ada luka di matanya. Dan yang paling penting, belum ada Zivara dalam hidupnya.

Zivara menatap tangannya sendiri. Tidak ada keriput karena stres, tidak ada bekas luka bakar akibat memasak makan malam yang tak pernah dimakan. Tangannya halus, memegang sebuah sketsa pensil.

Ia melirik ponsel di meja. Senin, 1 September 2014.

Gila. Ini mustahil.

"Vara, kok diem aja? Katanya mau kasih surat pernyataan cinta yang udah lo tulis seminggu itu?" goda Dina sembari menyenggol lengannya.

Zivara menatap amplop biru muda di depannya. Surat yang dulu menjadi awal dari segala kehancurannya. Surat yang membuat Kaizar memperhatikannya untuk pertama kali, bukan karena cinta, tapi karena rasa kasihan dan kebetulan yang fatal.

"Vara?"

Zivara perlahan meraih amplop itu. Tangannya gemetar, tapi bukan karena malu. Ia berdiri, menarik napas panjang yang terasa begitu ringan di dada—sesuatu yang tak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.

Tanpa bicara, Zivara merobek amplop itu menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan bagian kecil.

"Eh! Lo kenapa robek?!" Dina terbelalak kaget.

Zivara membuang potongan kertas itu ke tempat sampah di samping meja mereka dengan gerakan tenang dan tegas. Ia menatap Kaizar dari kejauhan, pria yang dulu ia puja seperti Tuhan, kini hanya tampak seperti orang asing yang tak lagi memiliki kuasa atas hidupnya.

"Aku baru sadar, Din," ucap Zivara dengan nada suara yang berbeda—lebih dalam, lebih dingin, dan jauh lebih dewasa. "Ada hal yang jauh lebih penting daripada mengejar seseorang yang nggak punya hati."

"Apa?" tanya Dina bingung.

Zivara tersenyum, kali ini senyumnya sangat manis, namun penuh misteri. "Mencintai diriku sendiri."

Zivara memutar tubuh, berjalan berlawanan arah dari Kaizar. Ia tidak akan menoleh. Tidak hari ini, tidak juga besok.

Namun, di tengah langkahnya, sebuah suara bariton memanggil dari arah belakang.

"Eh, kamu yang di sana! Mahasiswi DKV!"

Langkah Zivara terhenti. Itu suara Kaizar. Jantungnya berkhianat dengan satu detakan keras, tapi ia segera menekannya. Ia berbalik perlahan, menatap pria itu dengan wajah datar—tanpa binar kekaguman yang biasanya selalu ia tunjukkan.

Kaizar berjalan mendekat, alisnya bertaut. "Kamu menjatuhkan ini."

Kaizar menyodorkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk kanvas lukis—milik Zivara yang terjatuh saat ia merobek surat tadi.

Zivara menatap benda itu, lalu menatap mata Kaizar yang dingin. Di masa lalu, momen ini akan membuatnya gemetar kegirangan. Tapi sekarang?

"Oh, itu?" Zivara melirik benda itu sekilas. "Buang saja. Saya sudah tidak butuh."

Zivara berbalik dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Kaizar yang mematung dengan dahi berkerut, menatap punggung gadis itu dengan rasa penasaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Siapa dia? Kenapa tatapannya seolah... dia sangat membenciku?

Zivara terus berjalan tanpa beban. Bab baru telah dimulai, dan kali ini, dia yang memegang penanya.

***

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!