NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Iblis / Perperangan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Gajah Mada menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam gejolak amarah dan keterkejutan di dalam dadanya. Ia kembali duduk di dekat perapian, mengisyaratkan kepada Jayantaka dan Ki Lurah Argapati untuk mendekat demi merumuskan siasat.

​"Kita tidak bisa membiarkan kepanikan menguasai akal sehat," ucap Gajah Mada, suaranya kembali datar dan sarat akan wibawa panglima tertinggi. "Jayantaka, bagaimana usulanmu mengenai jalan keluar dari jepitan situasi ini?"

​Jayantaka yang masih menyeka sisa es di wajahnya menatap Gajah Mada dengan serius. "Gusti Patih, jumlah kita di dalam gua ini terlalu sedikit. Pasukan Bhayangkara yang menyertai kita tidak akan cukup untuk membendung ratusan prajurit pilihan Ra Kuti, terlebih jika mereka dibantu oleh penyihir yang mengendalikan cuaca ini. Ide terbaik hamba... hamba harus menerobos keluar malam ini juga. Hamba akan berkuda sekencang mungkin menuju Trowulan untuk membawa pasukan bantuan Majapahit."

​Mendengar usulan itu, Gajah Mada langsung menggelengkan kepala. Di sudut lain, Ki Bagaskara pun mendengus pelan, menandakan ketidaksetujuan yang sama.

​"Itu mustahil, Jayantaka," potong Gajah Mada dingin. "Kau tidak akan pernah bisa mencapai Trowulan."

​"Kenapa, Gusti? Jika hamba bergerak lewat jalur tikus di perbatasan—"

​"Bukan masalah jalurnya, Senopati," sela Ki Bagaskara, ikut angkat bicara dari kegelapan sudut gua. "Kekuatan ilusi Chandra Pralaya yang mengurung desa ini bukan sekadar pameran cuaca dingin. Kabut beku itu bertindak sebagai dinding gaib yang memutarbalikkan arah. Jangankan manusia biasa, kuda terbaik Majapahit pun akan mati membeku atau berjalan berputar-putar di dalam hutan sebelum akhirnya kembali ke titik semula. Desa Mojorejo telah diisolasi mutlak."

​Gajah Mada mengangguk membenarkan ucapan Bagaskara. "Benar yang dikatakan Jagal Anggrek Hitam. Musuh sengaja mengunci kita di sini agar kita melemah perlahan. Meminta bantuan ke luar adalah tindakan bunuh diri yang sia-sia."

​"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Gusti Patih? Apakah kita hanya akan berdiam diri di dalam gua ini menunggu mereka membantai kita?" tanya Jayantaka, frustrasi mulai merayapi nadanya.

​Gajah Mada berdiri tegak. Matanya berkilat, memantulkan nyala api unggun yang berkobar. Sepasang tangannya bersedekap di dada, memancarkan aura kepemimpinan yang tak tergoyahkan.

​"Jika pasukan bantuan tidak bisa datang, maka kita yang harus menciptakan pasukan itu di sini," tegas Gajah Mada. Ia mengedarkan pandangan ke arah ratusan warga desa yang sedang duduk bergerombol di sepanjang dinding gua. "Kita akan melatih para warga desa Mojorejo untuk bertarung."

​Ki Lurah Argapati terbelalak. "Melatih warga desa, Gusti Patih? Mereka hanya petani, penyadap nira, dan pencari kayu. Mereka tidak tahu cara memegang pedang tempur!"

​"Mereka akan tahu jika nyawa anak cucu mereka taruhannya," sahut Gajah Mada lantang. Ia kemudian menoleh ke arah Ki Bagaskara dan Nyai Lodra. "Bagaskara, Lodra. Aku menunjuk kalian berdua sebagai pelatih utama bagi para warga desa ini."

​Sepasang suami istri mantan jagal itu tersentak. Nyai Lodra yang sedang mengompres dahi Gandraka mendongak dengan dahi berkerut. "Gusti Patih, ilmu kami adalah ilmu membunuh. Hawa murni kami adalah hawa kegelapan yang penuh kutukan."

​"Justru karena itulah aku memilih kalian," jawab Gajah Mada, langkahnya mendekat ke arah raga Gandraka. "Aku tahu betul jenis ilmu hitam yang mengendalikan badai salju di luar sana. Itu adalah ilmu murni yang bersumber dari rembulan mati. Hawa murni biasa milik pasukan Bhayangkara akan tumpul menghadapinya. Hanya ilmu kanuragan dari Klan Anggrek Hitam yang memiliki frekuensi yang sama—dingin, pekat, dan mematikan—yang akan mampu melawan dan menembus pertahanan mistis mereka."

​Gajah Mada menatap lurus ke mata Ki Bagaskara. "Aku yang akan melatih mereka dalam hal formasi tempur militer bersama Jayantaka. Namun untuk urusan olah rasa, ketahanan fisik terhadap hawa beku, dan teknik kanuragan dasar, kalian berdua adalah kuncinya. Ajarkan mereka cara mengubah rasa takut menjadi belati yang tajam."

​Ki Bagaskara terdiam sesaat, menatap pedang kembarnya, lalu perlahan mengangguk kokoh. "Jika ini adalah satu-satunya cara agar putra hamba bisa melihat matahari esok hari... maka hamba terima perintah ini, Gusti Patih."

​"Hamba juga," sahut Nyai Lodra, mengencangkan ikatan kain di pinggangnya, pertanda jiwa petarungnya yang sempat padam kini telah menyala kembali.

​Malam itu juga, di dalam perut gua besar yang remang-remang, sebuah rencana gila mulai disusun. Di bawah kepungan salju abadi Nusantara, latihan kanuragan massal yang belum pernah ada sebelumnya bersiap untuk dimulai.

Ki Lurah Argapati dan Senopati Jayantaka segera bergerak ke bagian tengah gua untuk mengumpulkan seluruh warga desa yang masih menyandarkan tubuh di dinding-dinding batu. Di bawah pendar obor yang bergoyang, Ki Lurah Argapati menyampaikan titah dari sang Mahapatih tentang rencana latihan kanuragan tersebut.

​Mendengar pengumuman itu, riuh penolakan langsung pecah. Suasana gua kembali memanas oleh bisik-bisik ketakutan.

​"Kami ini hanya petani dan penyadap nira, Ki Lurah! Kami tidak bisa memegang pedang, apalagi membunuh orang!" seru seorang pemuda desa dengan tangan gemetar.

​"Benar! Kami tidak mau tangan kami berlumuran darah dan menjadi pembunuh seperti orang-orang kota!" sahut warga lainnya, diamini oleh anggukan cemas dari para tetua desa. Mereka enggan menukar kedamaian hidup mereka dengan mengangkat senjata.

​Melihat kepanikan yang mulai menjalar, Ki Bagaskara melangkah maju. Sepasang pedang kembarnya tetap tersarung di pinggang, namun aura wibawa seorang jagal legendaris terpancar kuat dari tatapan matanya. Ia berdiri di samping api unggun besar, menatap satu per satu wajah warga desa yang ketakutan.

​"Dengarkan aku, segenap warga Mojorejo," suara Ki Bagaskara menggelegar tenang, membungkam seluruh perdebatan. "Tidak ada satu pun di antara kami yang meminta kalian menjadi pembunuh. Apa yang akan kami ajarkan di sini bukanlah ilmu untuk memburu nyawa, melainkan sebuah pertahanan. Sebuah tameng untuk melindungi anak cucu kalian sendiri."

​Ia menjeda kalimatnya, lalu menunjuk ke arah mulut gua yang terus dihujani butiran salju putih.

​"Kalian pikir, jika kalian berdiam diri di sini tanpa melakukan apa-apa, kalian akan selamat? Ratusan prajurit bersenjata lengkap sudah mengepung kita di tengah hutan. Ditambah lagi dengan ilusi Chandra Pralaya yang perlahan tapi pasti menguras kehangatan raga kalian. Tanpa perlawanan, hawa beku ini akan membawa maut bagi kita semua sebelum mereka sempat mengayunkan pedang! Apakah kalian akan pasrah melihat darah daging kalian mati membeku di dalam gua ini?"

​Kata-kata Ki Bagaskara menghujam langsung ke lubuk hati para warga. Rasa enggan mereka seketika runtuh, digantikan oleh naluri murni seorang orang tua dan manusia yang ingin bertahan hidup.

​Satu per satu dari mereka mulai berdiri. Mulai dari yang muda dengan tubuh tegap, yang tua dengan sisa-sisa tenaga mereka, bahkan di antaranya para wanita desa yang tak rela anak-anak mereka menjadi korban. Mereka maju dengan pandangan mata yang kini menyala penuh tekad.

​Setelah dihitung oleh Jayantaka, jumlah warga yang bersedia bertarung mencapai setengah dari jumlah pasukan pemberontak yang berada di perkemahan tengah hutan itu. Memang kalah dari segi jumlah dan pengalaman tempur, namun binar di mata mereka tidak bisa diremehkan.

​Nyai Lodra melangkah maju ke samping suaminya, seutas rantai perak klan Anggrek Hitam melilit anggun di lengannya. Ia menatap barisan warga desa tersebut dengan senyum tipis yang dingin namun mematikan.

​"Jumlah kita memang hanya separuh dari mereka," ucap Nyai Lodra, suaranya halus namun mengintimidasi. "Tapi di bawah bimbinganku dan Bagaskara, kami tidak akan membiarkan kalian mati konyol. Kami akan menempa kalian, mengubah ketakutan kalian menjadi kekuatan, dan menjadikan kalian algojo-algojo tangguh yang siap mencabut nyawa siapa saja yang berani mengusik tanah kelahiran kalian."

​Malam itu, di dalam perut gua yang beralaskan batu dingin, latihan keras pun dimulai. Di bawah pengawasan Patih Gajah Mada, sepasang mantan jagal itu siap melahirkan barisan pelindung baru dari rahim Desa Mojorejo.

1
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
hancurrrr leburrrkannn sudahhhhh.....
Semoli Ginon
waduh lawan makin berat nih kayanha
saniscara patriawuha.
ratakannnnn dannn salinggg hancurrrrkannnn......
Semoli Ginon
wah dua eyang rebutan
saniscara patriawuha.
sikatttty sudahhhh manggg jigurrr ojooo kendorrrr....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnn manggg jigurrrrrr....
Semoli Ginon
ayo balaskan dendam 👍
saniscara patriawuha.
gassssd manehhhhh manggg jigurrrr... ojo kondorrrrr....
saniscara patriawuha.
gassddd....
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap...🔥
Protocetus: jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
total 1 replies
Semoli Ginon
mantul. lanjut 👍
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
gassdd pollll manggg jigurrrr...
Semoli Ginon
lanjur bos 👍
saniscara patriawuha.
gassss pollllll
Semoli Ginon
mantap👍
saniscara patriawuha.
lqnjutttttt kannnn manggg jigurrrr....
🆓🇵🇸 Jenahara
up
Semoli Ginon
woke. 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!