Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memusnahkan Pedang Terkutuk
Jaka melangkah keluar dari gerbang candi yang pengap. Sinar matahari pagi menyambutnya, namun tak sedikit pun memberikan kehangatan. Di pinggangnya kini tersampir dua pedang: Elang Hitam yang setia, dan Pedang Kilat yang terbungkus kain sutra tebal untuk meredam aura jahatnya. Namun, kain itu seolah tak berdaya; hawa dingin yang ganjil terus merambat dari gagang pedang, mencoba merasuk ke sumsum tulang Jaka.
Baru saja kakinya menginjak pelataran luar, langkah Jaka terhenti. Di depannya, belasan orang dengan berbagai senjata telah mengepung. Mereka bukan lagi pendekar kelas teri. Dari cara mereka berdiri dan hawa murni yang terpancar, Jaka tahu ini adalah para tetua dari berbagai aliran hitam dan putih yang buta oleh keserakahan.
"Jaka Wisesa, serahkan beban berat itu padaku. Kau masih muda, tak akan kuat menahan kutukannya," seorang kakek tua berjubah abu-abu melangkah maju. Ia adalah Ketua Aliran Awan Putih, namun matanya menatap bungkusan di pinggang Jaka dengan lapar.
"Benar, Nak. Benda itu hanya akan membawamu ke liang lahat. Berikan pada kami, kami akan menyimpannya dengan aman di kuil," sahut pendekar wanita bercaping lebar yang menggenggam sepasang belati beracun.
Jaka tersenyum pahit. "Menyimpannya dengan aman? Atau menggunakannya untuk menindas yang lemah? Pedang ini dibuat dari darah bayi yang tak berdosa. Siapa pun yang menginginkannya, berarti ia telah menukar kemanusiaannya dengan iblis!"
"Bocah sombong! Beraninya menguliahi kami!" teriak pendekar bertubuh bungkuk yang membawa tongkat besi.
Tanpa peringatan, lima orang maju sekaligus. Pendekar tongkat besi menghantamkan senjatanya ke bumi, menciptakan getaran yang merusak keseimbangan Jaka, sementara si wanita bercaping melesat bagai bayangan, menyerang titik-titik saraf Jaka dengan belatinya.
Jaka menarik Elang Hitam.
*TRANG! TRANG! TRANG!*
Bunga api memercik saat Elang Hitam beradu dengan tongkat besi. Jaka menggunakan ilmu meringankan tubuh, tubuhnya meliuk menghindari tusukan belati. Namun, pengaruh Pedang Kilat mulai terasa. Setiap kali Jaka mengerahkan tenaga dalam, pedang terkutuk di pinggangnya itu bergetar, seolah membisikkan janji kekuatan yang tak terbatas jika Jaka mau mencabutnya.
*"Gunakan aku... dan mereka semua akan hancur dalam sekejap..."* suara itu bergema di kepala Jaka.
"Diam!" bentak Jaka keras-keras, membuat lawan-lawannya tertegun sejenak.
Memanfaatkan kebingungan mereka, Jaka menghentakkan kakinya. *Ledakan Tenaga Dalam Bumi!* Gelombang energi murni menghantam mereka yang mengepung, membuat dua pendekar tingkat menengah terpental muntah darah. Jaka melesat pergi, ia tak ingin membunuh lebih banyak lagi, namun para pengejar itu bagai lalat yang tak kenal kapok.
Jaka berlari mendaki hutan menuju lereng Gunung Api Purba. Namun, jumlah pengejar justru semakin bertambah. Di belakangnya, teriakan-teriakan penuh nafsu membunuh terus menggema. Luka-luka kecil mulai menghiasi tubuh Jaka karena ia harus menahan pengaruh Pedang Kilat sambil bertarung. Kepalanya berdenyut hebat. Warna merah kembali membayang di matanya.
"Jika begini terus, aku akan gila sebelum sampai ke puncak," gumam Jaka dengan napas tersengal.
Ia menatap langit biru yang luas. Jaka menaruh dua jari di mulutnya dan mengeluarkan suitan panjang yang melengking tinggi, membelah sunyi hutan.
*FWUIIIIIIIITTT!*
Hening sejenak. Lalu, dari balik awan, terdengar suara pekikan yang gagah. Seekor elang raksasa dengan bulu hitam mengkilap menukik tajam. Itu adalah Elang Hitam, tunggangan sekaligus sahabat setianya yang telah lama menanti di luar area candi.
Elang itu menyambar dahan pohon di dekat Jaka. Jaka melompat ke punggungnya tepat saat hujan anak panah beracun menghujani tempatnya berdiri tadi.
"Terbang ke kawah Gunung Api Purba, Sahabat! Cepat!"
Elang raksasa itu mengepakkan sayapnya yang lebar, menciptakan angin puyuh kecil yang memporak-porandakan para pengejar di bawah. Dalam sekejap, Jaka sudah berada tinggi di angkasa, meninggalkan para pendekar yang hanya bisa memaki dari bawah.
Di atas punggung elang, perjuangan Jaka belum berakhir. Pedang Kilat di pinggangnya mulai memanas. Kain sutra yang membungkusnya mulai hangus terbakar. Cahaya biru keputihan merembes keluar, mencoba menyentuh kulit Jaka.
Jaka melihat bayangan anak-anak kecil yang menangis di dalam benaknya. Ia melihat wajah-wajah ketakutan itu seolah mereka meminta tolong. Namun, pedang itu membelokkan rasa kasihan Jaka menjadi amarah yang menghancurkan.
"Hanya dengan darah mereka yang mengejarmu, kau akan tenang, Jaka..." bisikan itu semakin nyata.
"Tidak! Aku tidak akan menjadi budakmu!" Jaka memukul dadanya sendiri untuk menjaga kesadaran. Ia mulai merapalkan mantra pembersihan hati yang diajarkan gurunya, mencoba membentengi jiwanya dari polusi energi hitam tersebut.
Gunung Api Purba sudah di depan mata. Asap belerang tebal membumbung tinggi, dan hawa panas yang menyengat menyambut kedatangan mereka. Namun, Jaka terkejut saat melihat ke puncak kawah.
Ternyata, tidak semua pendekar mengejarnya dari bawah. Beberapa tokoh tingkat tinggi yang memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa atau bantuan burung tunggangan lain telah menunggu di sana. Ada tiga orang tetua dari *Sekte Pedang Langit* yang terkenal haus kekuasaan.
"Jaka Wisesa, kau tak punya tempat lari lagi," ucap salah satu tetua yang memegang pedang panjang dengan gagang emas.
Elang Hitam mendarat di tanah berbatu yang panas. Jaka turun dengan kaki gemetar. Pengaruh pedang itu membuatnya sangat lemah secara mental.
"Minggir! Aku datang ke sini untuk mengakhiri kutukan ini, bukan untuk bertarung!" seru Jaka.
"Mengakhiri? Membuang pusaka sehebat ini adalah kejahatan terhadap dunia persilatan! Serahkan padaku!" Tetua itu menyerang dengan jurus *Sembilan Matahari*. Semburat energi panas menghantam Jaka.
Jaka terpaksa mencabut Pedang Kilat.
*SREEEETTTT!*
Kilatan petir biru meledak di puncak gunung. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba tertutup awan hitam. Petir menyambar-nyambar. Saat memegang pedang itu tanpa pembungkus, aura iblisnya langsung meluap. Rambut Jaka berdiri, matanya memerah sempurna.
"Kalian... ingin pedang ini?" suara Jaka berubah menjadi berat dan bergema. "Maka rasakanlah rasa sakit dari mereka yang telah di korbankan!"
*WUSH!*
Jaka bergerak secepat kilat—bahkan lebih cepat dari gerakannya yang biasanya. Dalam satu gerakan melingkar, tiga pedang milik tetua Sekte Pedang Langit hancur berkeping-keping. Mereka terlempar mundur dengan dada terbelah, namun Jaka sengaja tidak membunuh mereka di tempat. Ia ingin mereka merasakan ketakutan yang luar biasa.
" Keaaaaaakh" pekikan Elang Hitam dari kejauhan seolah menembus kabut di otaknya.
Jaka menatap Pedang Kilat yang kini berlumuran darah tipis dari goresan luka lawan-lawannya. Pedang itu bergetar senang. Ia haus lebih banyak lagi. Jaka melihat bayangan dirinya sendiri di bilah pedang—bukan lagi Jaka yang bijak, melainkan sesosok monster
Dengan sisa-sisa kesadarannya, Jaka menggigit lidahnya hingga berdarah. Rasa sakit itu mengembalikan fokusnya sesaat. Ia menoleh ke arah kawah yang berisi lava pijar merah membara.
"Cukup sampai di sini!"
Jaka berlari menuju tepi kawah.
"JANGAN! HENTIKAN!" teriak para pendekar yang masih hidup, mencoba mengejar namun tak berani mendekat karena suhu panas yang ekstrem.
Pedang Kilat seolah tahu ajalnya sudah dekat. Ia mengeluarkan teriakan melengking yang menyakitkan telinga. Energi biru itu membakar tangan Jaka hingga melepuh, namun Jaka tidak melepaskan genggamannya.
"Jika kau tercipta dari darah, maka kembalilah ke dalam api bumi!"
Dengan seluruh tenaga dalamnya, Jaka memutar tubuhnya dan melemparkan Pedang Kilat ke jantung kawah.
*CRAAAASSSHHH!*
Saat pedang itu menyentuh lava, terjadi ledakan dahsyat. Cahaya biru dan merah bertabrakan, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan sebagian dinding kawah. Suara jeritan ribuan jiwa seolah melesat ke langit, lalu perlahan menghilang bersama kepulan asap hitam yang pekat.
Pedang Kilat, senjata terkutuk yang membasuh dirinya dengan darah suci, kini telah meleleh dan menyatu dengan inti bumi.
Jaka jatuh terduduk. Tangannya hitam hangus, napasnya memburu. Namun, matanya kembali teduh. Beban berat yang menekan jiwanya selama berhari-hari hilang seketika. Langit di atas Gunung Api Purba perlahan cerah kembali.
Para pendekar yang tersisa hanya bisa menatap kawah dengan lemas. Ambisi mereka ikut lebur bersama pedang itu. Jaka berdiri dengan sisa tenaganya, menatap mereka dengan tajam namun tanpa kebencian.
"Dunia tidak butuh senjata iblis untuk mencapai kedamaian. Dunia hanya butuh manusia yang tahu cara memanusiakan orang lain," ucap Jaka lirih.
Ia bersiul pelan. Elang Hitam datang menjemputnya. Jaka naik ke punggung sahabatnya, terbang meninggalkan puncak gunung yang masih mengepulkan asap, menuju ufuk barat untuk mencari kedamaian yang sesungguhnya.