Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Aruna menatap pantulan dirinya yang berada di cermin besar kamar mandi, Menatap wajahnya yang basah karena ia baru saja membasuhnya dengan air kran.
Matanya memang menatap kaca, Tapi pikirannya melayang entah kemana. Kerja dadakan dengan sang boss baru usai sejak lima belas menit yang lalu. Aruna juga sudah pamit untuk pulang. Namun, alih-alih keluar hotel, Aruna mampir terlebih dulu di toilet pengunjung untuk sekedar membasuh wajahnya.
Sesaat kemudian, setelah merasa dirinya sudah beres dengan penampilannya, Aruna kembali melangkahkan kakinya keluar toilet. Ia dengan langkahnya yang sedikit dipercepat melintasi koridor hotel. Tapi, baru dapat beberapa langkah, Aruna harus dikejutkan dengan sosok tinggi yang tiba-tiba muncul didepannya. Bahkan mulutnya yang hendak melontarkan kalimat dibungkam dengan telapak tangan besar itu dan tahu-tahu dirinya sudah berada didalam suite room hotel ini.
"Gila kamu!!" Aruna menjerit marah ketika mulutnya terbebas dari telapak tangan itu. Namun intensitas suaranya masih bisa ia kontrol. Matanya menajam melihat sosok didepannya.
"Jangan teriak Run!"
"....."
"Apa-apaan sih kamu!"
"Sorry. Aku nggak tahu gimana caranya agar kamu mau bicara sama aku Run. Aku terpaksa"
"....."
"We need talk"
"Bicara apa?!"
"Run, please kita nggak bisa begini terus"
"Begini yang bagaimana?"
"Kamu tahu maksud ku. Kesalahpahaman kita tempo hari, Biar aku jelaskan "
"Jelaskan? Baru sekarang kamu kepikiran? Atau emang nggak ada pikiran, terus sekarang kebetulan aja ketemu makanya kamu mau jelaskan? Begitu kan?"
"Run, bukan begitu. Okey, aku minta maaf kalau setelah kejadian kemarin aku nggak menghubungi kamu sama sekali. You know kan aku disibukkan match penting dan latihan. Aku benar-benar nggak ada waktu buat hubungi kamu. Karena kamu tahu kan begitu aku hubungi kamu, aku pasti nggak akan bisa fokus ke kerjaan"
"Jadi sekarang aku adalah penghalang buat--"
"No! That's not the point and I don't mean that. Kamu paham itu kan Run"
"....."
"Please say something. Jangan diam aja"
"Katakan apa? Aku nggak ada yang mau dikatakan! Menurutku semuanya perlahan beri aku jawaban"
"Aruna ... I'm really sorry"
"Maaf mu itu terlambat! Dan ini semua bukan tentang maaf lagi Marinos! Kamu hilangkan kepercayaan ku begitu aja selama ini"
"let me explain everything Run. Beri aku kesempatan, Tapi kamu harus janji setelah aku jelasin kamu tetap dengan ku ya Run "
Aruna terkekeh sumbang. Ia memundurkan langkahnya, Memberi jarak beberapa meter dari sang kekasih yang kini terlihat putus asa didepannya, "Stay with you? Dua tahun Rinos. Dua tahun kamu bohongi aku, sampai detik ini apa aku ninggalin kamu? Dan sekarang tanpa memikirkan bagaimana perasaan ku, kamu masih bisa menyuruhku untuk tetap sama kamu? You really get crazy!"
"I'm sorry Run"
"I don't needed your sorry!!"
"....."
"Kamu sebenarnya siapa? Kenapa kamu memilih aku yang jelas-jelas jauh diatas kamu? Kalau untuk main-main dan kesenangan kamu semata, please hentikan sampai sini aja"
Rinos menggelengkan kepala cepat. Laki-laki itu perlahan berjalan mendekati Aruna yang masih saja berusaha menjaga jarak dengannya, "Aku nggak pernah main-main Run. Aku serius"
"Sekarang jelasin semuanya sama aku. Biar aku ngerti!"
"....."
"....."
"Luna. Her name is Luna"
"....."
"I have children. But, i'm not married"
Ya Tuhan ... Kejutan apalagi ini?
"Apa? You kidding me? Anak?! Kamu bilang anak?!!"
Aruna menganga. Dan untuk yang kesekian kalinya Aruna kembali memijat pelipisnya. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Aruna bahkan harus menanamkan berbagai asumsi di otaknya jika ia berharap salah dengar.
Sialan!! Apa Rinos bilang barusan? Dia tidak menikah, tapi dia punya anak?
Ini lebih mengejutkannya ketimbang ekspetasinya ternyata.
" ....."
"Run, aku--"
"Is Luna his mother?"
"Ya"
"Ya Tuhan ... Fakta ini kamu sembunyikan dariku selama dua tahun? Dua tahun Rinos? Kamu yang lebih mengejutkan!"
"Run, sebenarnya aku nggak mau menyembunyikan hal ini. Aku terpaksa melakukan semua ini karena Aku takut kamu akan lari setelah mengetahui kenyataan tentang aku yang --"
"Lalu, kamu pikir dengan menyembunyikan semua dan selama ini, semua akan baik-baik saja?! Kamu pikir kamu hebat setelah berhasil mengelabuhi aku? Kamu senang sudah buat aku seperti orang tolol?! Kamu gila Rinos! Benar-benar gila!"
"....."
"Apa ini juga yang mendasari kamu masih membuat batasan -batasan pada hubungan ini? Kamu yang selalu ragu dan tidak percaya diri ketika aku akan membawamu pada ayah dan ibuku? Iya kan?!"
"Bukan Run aku sama sekali belum siap jika harus melangkah lebih jauh nantinya. Kamu jelas tahu Run kalau kehidupan kita sedikit berbeda, Bertemu orang tua di hidupmu sama dengan membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius"
"....."
"Run, please ..."
"Aku nggak tahu harus bagaimana. Yang jelas hubungan ini nggak bisa seperti ini terus "
"Ya Tuhan Run ... Aku benar-benar nggak bisa kalau harus berpisah denganmu Run. Aku nggak sanggup rasanya"
"Apalagi yang aku harapkan? Kamu bilang sendirikan kita ada banyak perbedaan. Dan lagi, aku nggak sanggup dan nggak bisa kalau harus berbagi cinta dengan anakmu dan juga ... Ibu anak-anak mu. Aku se-egois itu untuk cinta Rinos"
"Itu bisa kita rundingkan"
"Kamu nggak paham Rinos!! Kasih, cinta dan sayang seorang Ayah itu hal yang berbeda dengan kasih cinta dengan seorang kekasih! Anak dan orangtua tidak akan pernah ada masanya. Sedangkan aku dan kamu susah jelas ada masanya, Kamu tahu itu kan?"
"....."
"Aku beneran nggak sanggup buat Nerima ini semua"
"Kamu nggak bisa ya Nerima aku, status dan --"
“No! Bukan itu! Ini bukan soal status Rinos. Ini soal kamu dan anakmu. Aku nggak mau egois merebutmu dari anak-anak mu"
"Omong kosong!! Kamu memang egois Run! Kamu mengumpulkan beribu alasan hanya karena kamu ingin pisah denganku. Itukan yang sebenarnya ingin kamu katakan?!!"
"Aku memang egois! Aku memang egois untuk seseorang yang aku sayangi. Aku tidak pernah bisa berbagi cinta dan kasih sayang dengan siapapun. Maka dari itu aku dan kamu nggak bisa begini terus"
"Jadi, kita beneran harus berpisah?"
Aruna terdiam. Kepalanya tertunduk lesu seketika. Ada rasa sakit yang menghantam ulu hatinya. Ada palu besar yang meremukkan dada hingga jantungnya.Berpisah? Dengan Marinos? Setelah dua tahun yang amat begitu berarti untuknya apa sekarang ia harus memilih jalan perpisahan? Sanggupkah dirinya? Mampukah ia membuang semua memori indahnya bersama Marinos begitu saja?
"Please answer me ..."
"....."
"Runa? Answer me Run"
Apa Aruna harus benar-benar melepaskan laki-laki didepannya ini? Haruskah sekarang juga? Apa tidak ada cara lain selain perpisahan? Tapi memang seharusnya begini kan? Setiap pertemuan jelas akan berakhir dengan perpisahan?
Tapi lagi-lagi bagaimana dengan hatinya? Semua kenangan dan impiannya yang sudah Aruna rencanakan? Haruskah Aruna membuangnya jauh-jauh?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...