(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasukan Anjing Perak
Angin malam menderu melintasi lembah batu kapur yang sunyi, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Di kedalaman sebuah gua yang tertutup rapat oleh ilusi hawa murni, kegelapan mutlak merajai. Namun, kegelapan itu tidak tenang; ia berdenyut, seolah bernapas seirama dengan sosok yang duduk bersila di tengahnya.
Shen Yuan menatap Pecahan Gigi Naga yang melayang sejengkal di atas telapak tangannya. Bilah pedang yang dulunya tumpul dan dipenuhi karat purbakala itu kini berwarna hitam kelam, sepekat jurang tanpa dasar. Urat-urat perak kebiruan yang membentuk corak sisik naga menyala redup di sepanjang mata pedangnya, berdetak selaras dengan detak jantung Shen Yuan.
"Roh Pedang yang baru lahir," gumam Shen Yuan perlahan. Ia menyentuhkan ujung jarinya ke mata pedang tersebut.
Cshhhhh... Bilah pedang itu bergetar manja, memancarkan dengungan halus yang terdengar seperti dengkuran seekor naga yang sedang tidur. Roh pedang ini masih bayi, belum memiliki kesadaran untuk berbicara, namun naluri membunuh dan rasa laparnya telah sepenuhnya terhubung dengan jiwa Shen Yuan berkat penundukan paksa yang ia lakukan sebelumnya.
"Ini bukan pedang fana lagi, Bocah. Ini adalah Pusaka Jiwa," suara Leluhur Darah terdengar dari dalam lautan kesadarannya, membawa nada kepuasan. "Dengan Roh Pedang yang hidup, ia bisa menelan sebagian serangan musuh secara mandiri dan meringankan beban Dantian-mu saat kau menggunakan Gulungan Pedang Penelan Langit. Kau baru saja menambahkan sayap pada seekor harimau."
Shen Yuan menyeringai. Ia mengepalkan tangannya, dan Pecahan Gigi Naga itu langsung melesat masuk kembali ke sarangnya di punggung pemuda tersebut, patuh layaknya anjing peliharaan yang setia.
Namun, senyum di wajah Shen Yuan perlahan memudar, digantikan oleh kebekuan yang mematikan.
Lautan kesadarannya yang telah diperluas hingga jangkauan puluhan li menangkap sebuah keganjilan. Hawa murni yang luar biasa tajam, teratur, dan dipenuhi oleh aura pembantaian sedang bergerak mendekati lembah batu kapurnya dengan kecepatan tinggi.
Bukan satu atau dua orang. Ada lima riak hawa murni, dan semuanya berada di Ranah Peleburan Jiwa Tahap Menengah!
"Cepat sekali anjing-anjing pelacak ini menemukan baunya," Shen Yuan berdiri, mengibaskan jubah hitamnya.
Di luar gua, lima sosok berpakaian zirah perak ringan melayang turun dari langit tanpa suara. Mereka tidak menggunakan kapal terbang; mereka bergerak dalam barisan berburu, menyatu dengan bayang-bayang malam. Di wajah mereka terpasang topeng perak yang menutupi separuh wajah, menyisakan sepasang mata yang sedingin mata pisau.
Ini adalah Pasukan Anjing Perak. Algojo pilihan dari Balai Hukuman Kuil Dewa Perak yang khusus dikirim untuk melacak dan memusnahkan ancaman tingkat tinggi.
Pemimpin regu, seorang pria bertubuh jangkung dengan pedang kembar di punggungnya, memegang sebuah kompas giok yang jarumnya bergetar hebat menunjuk ke arah tebing batu di depan mereka.
"Kompas Pencari Jiwa bereaksi sangat kuat. Dia ada di balik tebing ini," bisik sang pemimpin regu melalui pesan batin kepada empat rekannya. "Ingat perintah Tuan Pelindung Bintang Dua. Sasaran sangat berbahaya, mampu membantai Tetua Istana Pedang Besi. Jangan gunakan Alam Jiwa secara gegabah. Kunci pergerakannya dengan Rantai Segel Perak, patahkan tulang punggungnya, dan bawa jiwanya hidup-hidup."
Keempat anggota lainnya mengangguk serentak. Tangan mereka merogoh ke balik jubah, menarik keluar rantai perak yang memancarkan pendaran susunan aksara penekan hawa murni.
Mereka menyebar, mengepung celah tebing tersebut dalam barisan setengah lingkaran. Sang pemimpin regu mengangkat tangannya, bersiap memberi aba-aba untuk mendobrak masuk.
Namun, sebelum tangannya turun...
Kreeeaaak! Bummmmm!
Seluruh tebing batu kapur di hadapan mereka meledak dari dalam!
Bongkahan batu seberat ribuan kati terlempar ke udara bagaikan kerikil. Debu kapur putih menyapu lembah, menghalangi cahaya bulan. Dari pusat ledakan tersebut, sesosok pemuda berjalan keluar dengan langkah santai, sama sekali tidak tergesa-gesa.
Shen Yuan berhenti di ambang reruntuhan gua. Sepasang mata hitam pekatnya yang memancarkan kilatan merah darah menyapu kelima algojo berzirah perak tersebut.
"Kalian mencariku, namun kalian mengendap-endap seperti pencuri fana. Kuil Dewa Perak benar-benar telah kehilangan wibawanya," suara Shen Yuan mengalun datar, mengiris kesunyian malam layaknya belati es.
Pemimpin regu Anjing Perak membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka sasaran mereka justru menghancurkan persembunyiannya sendiri dan menyambut mereka secara terang-terangan!
"Barisan Segel Perak! Ikat dia!" raung sang pemimpin.
Keempat anggotanya tidak membuang waktu. Mereka melesat ke empat sudut, melemparkan rantai perak mereka ke udara. Keempat rantai itu hidup bagaikan ular bercahaya, meliuk menembus ruang dan langsung mengunci keempat anggota tubuh Shen Yuan.
Traanggg! Traanggg! Traanggg!
Rantai-rantai itu melilit pergelangan tangan dan kaki Shen Yuan dengan sangat erat. Susunan aksara perak pada rantai tersebut menyala terang, memancarkan hawa dingin yang berusaha masuk ke dalam pori-pori kulit Shen Yuan untuk menyumbat Dantian-nya.
"Kena kau, Iblis!" seru salah satu algojo sambil menarik rantainya kuat-kuat untuk memaksa Shen Yuan berlutut. "Tidak peduli seberapa gila kekuatanmu, Rantai Segel Perak ini ditempa oleh Pelindung Bintang Dua! Bahkan ahli Puncak Peleburan Jiwa tidak akan bisa mengalirkan hawa murninya jika terikat oleh pusaka ini!"
Sang pemimpin regu menyeringai di balik topengnya. Ia mencabut pedang kembarnya dan berjalan mendekati Shen Yuan.
"Kau bodoh karena meremehkan kami. Kau mungkin bisa membunuh babi-babi gemuk dari Istana Pedang Besi, tapi di hadapan Pasukan Anjing Perak, kau hanyalah..."
Kata-katanya terhenti.
Sang pemimpin regu menatap pemuda yang terikat itu, dan menyadari ada sesuatu yang sangat salah. Rantai itu telah mengunci lengan dan kakinya, namun sikap tubuh Shen Yuan tidak membungkuk walau setengah inci pun. Ia tetap berdiri tegak laksana gunung pualam. Kulitnya memancarkan pendaran Emas Gelap yang membuat rantai perak itu berderit merintih.
Lebih mengerikan lagi, senyum yang sangat buas perlahan terukir di wajah Shen Yuan.
"Rantai penekan hawa murni?" Shen Yuan memiringkan kepalanya. "Kalian membanggakan rantai mainan ini di hadapan leluhurnya penelanan?"
Sutra Penelan Surga... Buka rahangmu!
Inti Emas Iblis di dalam Dantian Shen Yuan berdenyut ganas. Bukannya tertahan oleh energi perak dari rantai tersebut, Nadi Iblis Penelan Surga justru membuka pusaran hisapannya langsung dari titik-titik kulit yang bersentuhan dengan rantai itu!
Cshhhhh!
"A-Apa yang terjadi?!"
Keempat algojo yang memegang ujung rantai menjerit tertahan. Mereka merasakan hawa murni Peleburan Jiwa mereka ditarik keluar dengan paksa melintasi rantai perak tersebut, masuk dengan rakus ke dalam tubuh Shen Yuan! Rantai pusaka yang seharusnya menekan hawa murni musuh justru telah berubah menjadi saluran penghisap raksasa bagi sang Iblis!
"Putuskan rantainya! Dia menelan energi kita!" raung sang pemimpin regu dengan panik.
Namun terlambat.
"Kalian yang melemparkan talinya. Sekarang, biar aku yang menariknya," ucap Shen Yuan sedingin es.
Ia menghentakkan kedua tangan dan kakinya secara bersamaan. Kekuatan jasmani dari Penyempurnaan Tanpa Celah yang dipadukan dengan daya hisap Sutra Penelan Surga menarik keempat rantai itu dengan kekuatan puluhan ribu kati!
Baaam! Baaam!
Keempat algojo di Tahap Menengah Peleburan Jiwa itu terlempar terbang ke udara, ditarik paksa menuju Shen Yuan bagaikan layang-layang yang putus benangnya. Mereka bahkan tidak bisa menstabilkan wujud jiwa mereka karena energi mereka sedang dihisap tanpa ampun.
"Mati!"
Pemimpin regu yang tidak terikat rantai menerjang maju dengan putus asa, mengayunkan pedang kembarnya menyilang untuk memenggal kepala Shen Yuan.
Namun, di detik yang sama, Shen Yuan membebaskan tangan kanannya dari rantai yang telah kehabisan energinya, dan merentangkannya ke balik punggung.
Sring!
Pecahan Gigi Naga dicabut!
Begitu pedang hitam bersisik itu menyentuh udara malam, Roh Pedang di dalamnya mendengung liar, mengeluarkan auman naga yang memekakkan telinga. Mata pedang yang dulunya tumpul kini memancarkan cahaya perak kebiruan yang sangat tajam dan haus darah.
"Mari kita lihat seberapa lapar dirimu," bisik Shen Yuan.
Ia tidak menggunakan Gulungan Pedang Penelan Langit. Ia hanya mengayunkan Pecahan Gigi Naga secara mendatar, murni mengandalkan ketajaman Roh Pedang yang baru bangkit.
Wussshhh!
Tebasan itu merobek kehampaan tanpa suara. Bilah pedang hitam itu bertabrakan dengan sepasang pedang perak milik sang pemimpin regu.
Traanggg! Craaassshhh!
Pedang kembar pusaka tingkat tinggi milik algojo Kuil Dewa Perak itu patah menjadi empat bagian seolah terbuat dari ranting kayu kering! Tanpa henti sedikit pun, tebasan Pecahan Gigi Naga melaju menembus zirah perak, membelah dada sang pemimpin regu dari bahu hingga ke pinggang!
Darah tidak menyembur. Saat mata pedang itu menebas daging, Roh Pedang di dalam Pecahan Gigi Naga membuka 'mulutnya'. Ia menghisap esensi darah dan sisa-sisa jiwa sang pemimpin regu secara langsung saat pedang itu melewatinya!
Pemimpin regu itu membeku di udara, matanya kehilangan cahaya kehidupan sebelum tubuhnya jatuh terbelah, kering layaknya kerangka layu purba.
Melihat pemimpin mereka terbelah dan dihisap oleh pedang pemuda itu, keempat algojo yang baru saja jatuh bertumpuk di depan Shen Yuan kehilangan seluruh keberanian mereka.
"I-Iblis... Pedang itu hidup! Pedang itu memakan jiwa kapten!" jerit salah seorang algojo, merangkak mundur dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Shen Yuan berjalan melintasi mayat kering sang pemimpin, ujung Pecahan Gigi Naga menyeret tanah, memercikkan bunga api kecil di atas bebatuan kapur.
"Kalian dikirim ke sini untuk memburuku," suara Shen Yuan bergema di dalam lembah yang sepi itu. "Tapi kalian gagal memahami satu hal mendasar."
Shen Yuan mengangkat pedang purbakalanya. Roh Pedang itu berdengung gembira, seolah meminta lebih banyak darah dewa fana.
"Di dalam hutan perburuan ini... akulah pemangsanya, dan kalian hanyalah daging segar yang diantarkan langsung ke mulutku."
Langkah Bayangan Hantu!
Empat bayangan hitam melesat dari tubuh Shen Yuan secara bersamaan. Keempat algojo itu mencoba membakar hawa murni mereka untuk melawan, namun sebelum mereka bisa membentuk segel, ketajaman Pecahan Gigi Naga telah menembus dada mereka masing-masing.
Jeritan tertahan terdengar bergantian. Roh Pedang berpesta pora malam itu, menghisap esensi dari empat ahli Peleburan Jiwa Tahap Menengah, lalu menyalurkan energi yang telah disaringnya kembali ke dalam tubuh Shen Yuan, memberikan nutrisi yang sangat murni tanpa membebani Dantian-nya dengan ampas.
Hanya dalam waktu kurang dari satu batang dupa, lima algojo pilihan Kuil Dewa Perak telah musnah.
Shen Yuan menyarungkan kembali pedangnya. Hawa murninya bergemuruh, mencapai puncak kestabilan di Tahap Awal Peleburan Jiwa. Dengan bantuan Roh Pedang yang baru bangkit ini, ia tidak lagi perlu menelan secara langsung dan menanggung risiko kotoran hawa murni musuh; pedangnya bertindak sebagai gigi dan penyaring yang sempurna.
Ia memungut salah satu plakat perak dari mayat yang berserakan, lalu meremukkannya hingga menjadi debu.
"Pasukan Anjing Perak... ini baru regu pertama," gumam Shen Yuan, menatap ke arah langit malam yang dipenuhi bintang. "Pelindung Bintang Dua, Kuil Dewa Perak... teruslah mengirimkan mangsa. Karena saat aku selesai mengunyah anjing-anjing kalian, pedangku akan cukup tajam untuk merobek gerbang sekte kalian menjadi dua."
Shen Yuan melesat ke udara, menyatu dengan kegelapan. Malam perburuan masih panjang, dan sang Iblis Penelan Surga baru saja menyelesaikan hidangan pembukanya.