Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan
Mobil hitam milik Erlangga berhenti dengan presisi tepat di depan teras restoran mewah bergaya modern-minimalis yang sudah dipesan khusus malam itu. Begitu mesin dimatikan, keheningan menyelimuti kabin sejenak sebelum Erlangga turun dengan gerakan yang tenang namun memancarkan wibawa yang mengintimidasi.
Seorang pelayan penyambut tamu segera menghampiri dengan sikap yang sangat hormat. “Selamat malam. Selamat datang di restoran kami. Ada yang bisa saya bantu untuk reservasi Anda?”
“Saya ada reservasi atas nama Ny. Sarah Wijaya,” jawab Erlangga singkat, suaranya rendah dan dingin.
Pelayan itu langsung mengangguk dengan senyum profesional. “Tentu, Pak. Meja privat Anda sudah disiapkan di area balkon dalam. Silakan ikut saya, Pak.”
Erlangga mengikuti langkah pelayan tersebut melewati lorong-lorong restoran yang dihiasi dengan lantai marmer hitam dan pencahayaan remang-remang yang memberikan kesan eksklusif. Begitu mereka memasuki area privat di sudut restoran, suasana berubah menjadi lebih sunyi dan intim. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat, dekorasi bunga lili putih segar menghiasi setiap sudut, menciptakan atmosfer yang menurut Erlangga terlalu romantis dan memuakkan bagi seleranya.
Di sana, seorang wanita sudah duduk menunggunya. Begitu melihat Erlangga masuk, wanita itu langsung berdiri dengan gerakan yang anggun dan terencana. Dress hitam ketat berbahan sutra membalut tubuhnya, dengan belahan dada yang sedikit terbuka, sebuah tampilan yang jelas ditujukan untuk menarik perhatian. Riasan wajahnya tampak sempurna tanpa cela, dan ia memberikan senyum yang dibuat semanis mungkin.
“Hai…” Ia mengulurkan tangannya yang lentik. “Aku Sarah Almeera Wijaya. Akhirnya kita bertemu juga secara resmi.”
Erlangga melirik tangan itu sesaat, lalu menjabatnya sekilas saja, hanya sebagai bentuk formalitas paling dasar. “Senang bertemu juga.”
“Senang sekali bisa bertemu denganmu, Erlangga…” Sarah tersenyum lebih lebar, matanya berkilat penuh minat. “Atau, bolehkah aku memanggilmu Langga? Rasanya lebih akrab, bukan?”
Erlangga duduk di kursi seberangnya tanpa ekspresi. “Ya. Silakan saja.”
Suasana di meja itu mendadak canggung. Sarah mencoba mencairkan kebekuan dengan gaya bicara yang penuh percaya diri. “Kamu sudah lama menunggu? Jakarta sedang macet-macetnya jam segini, jadinya tadi aku sedikit telat.”
“Baru sampai,” sahut Erlangga pendek, baginya pernyataan itu tidak ada bobotnya dan pertanyaan yang tidak perlu.
“Oh, baguslah.” Sarah tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat terlatih. “Aku sempat khawatir CEO sesibuk kamu bakal telat atau bahkan membatalkan pertemuan ini secara mendadak. Ayahku sering bilang kalau kamu adalah pria yang sangat menghargai waktu.”
Erlangga tidak menanggapi pujian itu. Karena suasana terasa semakin kaku, Sarah akhirnya memanggil pelayan untuk memesan makanan. Erlangga ikut memesan seperlunya, hanya agar pertemuan ini cepat selesai. Begitu pesanan dicatat, Sarah kembali membuka topik pembicaraan dengan nada yang lebih ambisius.
“Aku dengar dari Papa, kamu mengambil alih seluruh kendali Mahardika Group sejak usia dua puluh tujuh tahun? Itu pencapaian yang luar biasa hebat,” ucap Sarah sambil menyandarkan tubuhnya sedikit ke depan, mencoba memperpendek jarak di antara mereka. “Kalau aku sendiri, sekarang sedang membantu memegang salah satu anak perusahaan Papa di bidang properti.”
Erlangga hanya diam, mendengarkan tanpa minat. Namun Sarah terus bicara, memamerkan koneksi keluarganya, pencapaian bisnisnya, dan betapa besarnya nama keluarga Wijaya di pasar internasional. Lalu akhirnya, ia berkata dengan senyum penuh maksud, “Jujur saja, Langga… Kalau kedua keluarga kita bersatu melalui pernikahan ini… kita bisa menciptakan konglomerasi paling kuat di seluruh Asia. Tidak akan ada yang bisa menyentuh kita.”
Erlangga menatapnya dengan tatapan datar yang menusuk. Ia menjawab dengan nada yang begitu tenang namun sangat tajam, “Tanpa harus bergabung dengan siapa pun pun, keluarga saya sudah berada di puncak. Kami tidak butuh aliansi untuk sekadar merasa kuat.”
Senyum di wajah Sarah seketika membeku. Suasana di meja itu mendadak menjadi sangat dingin, seolah-olah AC di ruangan itu baru saja diturunkan ke suhu terendah. Sarah tampak tersinggung, namun ia mencoba menahan diri demi tujuan besarnya.
Tepat saat ketegangan itu memuncak, pesanan makanan mereka datang. Seorang pelayan wanita dengan seragam waitress lengkap membawa nampan besar berisi makanan ke meja mereka. Kepalanya sedikit menunduk, fokus pada piring-piring yang ia bawa.
“Maaf mengganggu, Tuan, Nyonya. Ini hidangan pembukanya—”
Erlangga membeku. Suara itu. Suara yang beberapa hari terakhir ini selalu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia langsung menoleh dengan gerakan cepat. Matanya melebar sempurna saat melihat sosok di samping mejanya.
“…Zea?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Wanita di sampingnya itu ikut membeku di tempat. Tangannya yang memegang piring bergetar hebat sesaat. Dan ketika wajah mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat, dunia seolah-olah berhenti berputar. Udara di sekitar mereka mendadak hilang. Itu benar-benar dia.
Wajah Zea langsung pucat pasi, namun ia mencoba sekuat tenaga untuk tetap profesional. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menaruh piring-piring itu di atas meja. “Selamat menikmati makan malam Anda, Tuan,” ucapnya dengan suara bergetar, lalu ia segera berbalik hendak pergi dari sana secepat mungkin.
Namun, Erlangga tidak membiarkannya. Ia berdiri mendadak hingga kursinya berderit keras di lantai, lalu dengan gerakan cepat menangkap pergelangan tangan Zea.
“Zea. Tunggu,” ucap Erlangga, suaranya kini penuh dengan desakan.
Seluruh tubuh Zea menegang. Ia tidak menoleh, namun suaranya terdengar sangat dingin dan penuh kebencian. “Lepaskan saya. Saya tidak mengenal Anda, Tuan.”
Sarah yang melihat kejadian itu langsung ikut berdiri. Wajah cantiknya berubah menjadi penuh rasa tidak suka yang sangat jelas. “Sayang…” Sarah melangkah mendekati Erlangga, mencoba meraih lengannya. “Siapa pelayan ini? Kenapa kamu memegang tangannya seperti itu?”
Seketika, mata Zea membesar saat mendengar panggilan 'sayang' itu. Tubuhnya menegang lebih keras, rasa muak yang luar biasa membuncah di dadanya. Ia memberontak dengan sekuat tenaga dan akhirnya berhasil menarik tangannya dari cengkeraman Erlangga. Tanpa berkata apa pun lagi, Zea berbalik dan berlari pergi meninggalkan area privat itu.
“ZEA!” teriak Erlangga. Ia hendak mengejar, namun Sarah menahan lengannya dengan kuat.
“Langga! Ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa kamu mengejar pelayan rendah seperti dia di tengah makan malam kita?” tanya Sarah dengan nada tinggi.
Erlangga langsung menoleh tajam ke arah Sarah. Tatapannya begitu dingin dan menusuk hingga membuat Sarah tersentak mundur. “Jangan pernah panggil aku dengan sebutan seperti itu lagi,” desis Erlangga.
Sarah membeku, wajahnya memucat karena terkejut. “Apa? Apa maksudmu?”
“Aku tidak pernah memberimu izin untuk memanggilku seperti itu. Kita tidak punya hubungan apa pun,” tegas Erlangga.
Wajah Sarah kini memerah padam karena malu dan marah yang luar biasa. “Bukankah kita sedang dalam proses perjodohan? Kedua orang tua kita sudah setuju—”
“Aku tidak peduli,” potong Erlangga kasar. Ia melepaskan tangan Sarah dari lengannya dengan gerakan yang tidak bersahabat. “Makan malam ini selesai. Aku pergi.”
“Apa?! Kamu membatalkan pertemuan ini hanya karena seorang pelayan restoran itu?!” teriak Sarah frustrasi.
Namun Erlangga sudah tidak peduli. Ia berlari keluar dari area privat, melewati para pelanggan lain yang menatapnya dengan bingung. Mata tajamnya menyapu seluruh sudut restoran, dan ia melihat siluet Zea yang berjalan sangat cepat menuju pintu keluar sisi gedung belakang, arah area parkir karyawan.
“ZEA! BERHENTI!”
Gadis itu justru mempercepat langkahnya, hampir berlari. Erlangga mengejarnya dengan langkah lebar dan berhasil meraih tangannya kembali di area parkiran yang sepi.
“Lepasin aku! Jangan sentuh aku lagi!” Zea berteriak, matanya berkaca-kaca karena amarah dan rasa sakit.
“Kita harus bicara, Zea! Tolong, dengerin penjelasan aku!”
“Aku nggak punya apa pun untuk dibicarakan sama bajingan kayak kamu! Lepasin!” Zea terus memberontak, namun kekuatan Erlangga jauh lebih besar.
Dengan paksa, Erlangga menarik Zea menuju mobilnya yang terparkir di dekat sana. Ia membuka pintu mobil dengan satu tangan dan memasukkan Zea ke kursi penumpang secara paksa.
“LEPASIN AKU! KAMU GILA YA?!”
“DIEM!” bentak Erlangga. Untuk pertama kalinya, suara Erlangga meninggi dan menggelegar, membuat Zea terdiam sesaat karena kaget.
Erlangga segera masuk ke kursi pengemudi, mengunci semua pintu secara otomatis, dan langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkan restoran dengan kecepatan tinggi. Di dalam mobil, hanya terdengar suara napas mereka yang memburu, penuh dengan ketegangan yang siap meledak kapan saja.
Sementara itu, di depan pintu utama restoran, Sarah Wijaya berdiri mematung dengan wajah merah padam karena murka. Tangannya gemetar hebat menahan amarah yang merayap hingga ke ubun-ubun. Ia baru saja dipermalukan di depan umum oleh pria yang seharusnya menjadi tunangannya.
Ia segera mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menelepon seseorang dengan napas tersengal-sengal. “Papa…” suaranya bergetar karena emosi yang meluap. “Langga… dia meninggalkanku begitu saja di tengah makan malam demi mengejar seorang pelayan restoran sialan!”
Matanya menyipit dengan tatapan penuh dendam yang sangat dingin. “Aku mau Papa cari tahu siapa perempuan itu sekarang juga. Aku ingin semua detail hidupnya…” bisiknya dengan nada mengancam. “Dan aku akan pastikan… hidup perempuan itu hancur hingga dia memohon untuk mati.”