Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 - Jalan yang Berbeda
Angin gunung berhembus pelan di depan Aula Besar Sekte Pedang Langit, menyapu pakaian mereka dan membawa kesejukan yang seharusnya menenangkan, namun suasana di antara mereka justru terasa berat. Lin Feng berdiri sedikit di depan, sementara Long Chen, Xiao Yan, Ye Fan, dan Han Li berada di belakangnya dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Keputusan yang baru saja diumumkan masih terngiang jelas di benak mereka, bukan sekadar pembagian tempat latihan, melainkan pemisahan jalan yang selama ini selalu mereka lalui bersama. Tidak ada lagi langkah yang berdampingan setiap hari, tidak ada lagi latihan bersama seperti di desa, dan tidak ada lagi kebiasaan sederhana yang dulu terasa biasa.
Kini semuanya berubah.
Tatapan mereka berbeda-beda, namun satu hal yang sama, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap menerima kenyataan itu.
Tak lama kemudian, empat sosok mendekat dari arah aula, langkah mereka tenang namun aura yang mereka bawa langsung terasa berbeda, jauh lebih dalam dan menekan dibandingkan murid mana pun di sekte ini. Mereka adalah para pemimpin divisi, pilar kekuatan Sekte Pedang Langit yang berdiri di puncak dunia kultivasi.
Meng Wu dari Divisi Pedang Petir, Qin Tian dari Divisi Pedang Matahari, Bai He dari Divisi Pedang Gunung, dan Wei Wuxian dari Divisi Pedang Bayangan.
Wei Wuxian melirik Lin Feng sekilas, tatapannya dingin dan singkat namun cukup untuk menyampaikan perintah. “Kau kembali saja ke Lembah Angin Siul, tugasmu telah selesai,” ucapnya tanpa basa-basi.
Lin Feng segera menunduk hormat tanpa ragu. “Baik, Tuan Wei Wuxian.”
Sebelum pergi, ia sempat menoleh ke arah Long Chen dan yang lain, ekspresinya sedikit melunak. “Kalian harus bertahan dan berkembang di sini. Semoga kita bisa bertemu lagi,” ujarnya singkat namun tulus.
Tanpa menunda, ia melangkah mundur, lalu melompat ke atas pedang terbangnya. Dalam sekejap, tubuhnya melesat ke langit dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak angin yang berputar di udara.
Kini, empat anak itu berdiri di hadapan takdir mereka, tidak lagi sebagai satu kelompok yang selalu bersama, melainkan sebagai individu yang akan menempuh jalan masing-masing.
Meng Wu melangkah lebih dulu ke arah Long Chen, setiap langkahnya terasa berat seperti guntur yang tertahan, tatapannya tajam seolah sedang menilai sesuatu yang lebih dalam dari sekadar potensi biasa.
Di sisi lain, Qin Tian berjalan mendekati Xiao Yan dengan aura hangat namun kuat, seperti matahari yang menyinari sekaligus menguji ketahanan siapa pun yang berada di bawahnya.
Tak jauh dari sana, Bai He menghampiri Han Li, langkahnya tenang dan kokoh, menghadirkan tekanan stabil yang membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya.
Sementara itu, Wei Wuxian mendekati Ye Fan dengan gerakan hampir tanpa suara, kehadirannya seperti bayangan yang muncul tanpa peringatan, membuat suasana di sekitarnya terasa lebih dingin.
Meng Wu berdiri tepat di depan Long Chen, sosoknya tinggi dan kokoh dengan aura yang dalam namun tidak menekan secara berlebihan. Tatapannya tajam, seolah mampu melihat hingga ke dalam tekad yang tersembunyi di hati anak itu, namun di balik ketajaman itu tidak ada dingin, melainkan ketegasan yang terkontrol.
Perlahan, ia mengangkat tangannya dan mengusap kepala Long Chen, gerakannya sederhana namun cukup untuk menunjukkan penerimaan.
“Mulai sekarang, kau akan tinggal di wilayah kami, di Hutan Bambu Ungu,” ucapnya dengan suara berat namun stabil.
Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-katanya untuk benar-benar dipahami, lalu menatap Long Chen lebih dalam. “Apakah kau bersedia?”
Long Chen membalas tatapan itu.
Tidak ada keraguan di matanya.
Tanpa berpikir lama, ia langsung menjawab dengan tegas, “Iya, Paman… aku bersedia.”
Meng Wu tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu sejak awal. “Kalau begitu, mulai sekarang panggil aku Guru,” katanya, nadanya tetap tenang namun tidak memberi ruang untuk penolakan.
Long Chen segera menundukkan kepala dengan hormat. “Baik, Guru.”
Meng Wu mengangguk pelan, ekspresinya tetap tenang namun tegas, seolah setiap langkah yang diambil tidak akan pernah setengah hati. “Kita akan segera berangkat,” ucapnya dengan suara dalam.
Ia kemudian berhenti sejenak, memberi ruang pada momen yang tak bisa dihindari, sebelum melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih lembut. “Namun sebelum itu, berpamitanlah dulu dengan teman-temanmu.”
Long Chen langsung berlari menghampiri, dan tanpa perlu dikatakan, Xiao Yan, Ye Fan, serta Han Li juga bergerak pada saat yang sama, seolah mereka semua memahami bahwa ini adalah momen yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Mereka berhenti di tengah, saling berhadapan, namun untuk beberapa detik tidak ada satu pun yang berbicara.
Keheningan itu terasa canggung, sekaligus berat.
Tak ada yang tahu harus mulai dari mana.
Akhirnya, Xiao Yan menghela napas pelan sebelum membuka suara, nada bicaranya lebih tenang dari biasanya namun jelas menyimpan sesuatu di dalamnya. “Sepertinya… kita tidak akan sering bertemu lagi seperti di Desa Daun Maple,” ucapnya, matanya menatap mereka satu per satu.
Long Chen mengangguk pelan.
“…Iya,kau benar.” jawabnya singkat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia juga merasakan hal yang sama.
Xiao Yan tersenyum tipis, senyum yang sederhana namun penuh makna, seolah mencoba menjaga suasana agar tidak tenggelam dalam kesedihan. “Kalau begitu, saat kita bertemu lagi nanti… kita harus duel lagi,” ucapnya dengan nada ringan, namun jelas ada tantangan di dalamnya.
Tatapan Long Chen langsung berubah.
Sorot matanya yang sebelumnya dipenuhi beban kini kembali hidup, seperti api yang kembali menyala.
“Iya,” jawabnya mantap.
Ia sedikit mengangkat kepalanya, menatap Xiao Yan tanpa ragu. “Dan saat itu tiba, aku tidak akan kalah seperti sebelumnya.”
Genggamannya sedikit mengencang.
“Aku akan memberikan perlawanan yang sengit.”
Han Li tiba-tiba melangkah maju tanpa peringatan. Tanpa mengatakan apa pun lebih dulu, ia langsung memeluk Long Chen dengan erat, seolah takut momen itu akan berlalu begitu saja. “Jangan lupakan aku, ya. Ingat, aku ini sahabat terbaikmu…” ucapnya pelan, suaranya tidak lagi penuh canda seperti biasanya.
Long Chen sedikit terkejut.
Namun perlahan, tubuhnya melembut, dan ia membalas pelukan itu dengan tenang. “Aku tidak akan melupakanmu,” jawabnya, nadanya rendah namun tulus.
Han Li tersenyum kecil sebelum akhirnya melepaskan pelukan tersebut, berusaha menyembunyikan emosinya seperti biasa.
Di samping mereka, Ye Fan tidak banyak bicara. Ia hanya melangkah mendekat dan menepuk bahu Long Chen dengan ringan, tatapannya tenang namun penuh arti. “Sampai jumpa lagi,” ucapnya singkat.
Perpisahan itu akhirnya selesai, langkah mereka mulai berpisah satu per satu, masing-masing menuju arah yang berbeda sesuai jalan yang telah ditentukan.
Namun perasaan yang tertinggal di antara mereka tidak ikut pergi.
Ia tetap ada, tertinggal di dalam hati, melekat dalam ingatan yang tidak akan mudah pudar, menjadi bagian dari diri mereka yang akan terus mereka bawa ke mana pun mereka melangkah.
End Chapter 13