NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerimis dan Gairah di Bioskop

Setelah momen emosional yang menghangatkan hati di meja rias, Luna akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran Isaac. Ia hanya memulaskan sedikit bedak tabur agar wajahnya tidak tampak mengilat dan menggunakan lip balm tinted berwarna merah muda lembut untuk memberikan kesan segar alami. Penampilannya justru terlihat jauh lebih muda dan bercahaya, memancarkan aura seorang ibu yang tengah mengandung dengan penuh kebahagiaan. Isaac pun telah berpakaian rapi, mengenakan kaos lengan pendek berwarna abu-abu gelap yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan jaket bomber ringan. Mereka melangkah keluar unit apartemen, mengunci pintu, dan menaiki lift menuju area parkir khusus penghuni yang terletak di lantai dasar.

"Sabuk pengamannya, Sayang. Jangan terlalu kencang, tapi harus tetap aman," ujar Isaac sembari memastikan posisi duduk Luna di kursi penumpang SUV mereka. Mobil perlahan meninggalkan area apartemen, bergabung dengan aliran kendaraan di jalanan Jakarta. Namun, baru sepuluh menit roda mobil berputar, langit yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi abu-abu pekat. Gumpalan mendung menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit. Tak lama kemudian, saat kemacetan mulai mengunci persimpangan jalan, butiran air mulai jatuh menghantam kaca depan mobil.

Tik... tik... brusss! Hujan turun dengan sangat deras, seolah langit Jakarta sedang menumpahkan seluruh bebannya sore itu. Jarak pandang menjadi terbatas, dan hawa dingin mulai menyelinap masuk melalui sela-sela jendela mobil. "Hujannya deras sekali, Luna," Isaac melirik ke arah luar. "Bagaimana kalau kita mampir ke restoran terdekat saja? Kita makan sup hangat atau steamboat sambil menunggu hujan reda. Aku khawatir jika kita ke mall, kau akan merasa kedinginan."

Luna menggeleng mantap, jemarinya mengusap permukaan perutnya yang tertutup gaun katun tebal. "Tidak, Mas. Aku tetap ingin ke mall. Kita kan sudah berjanji pada si kembar untuk menonton film dan melihat baju bayi. Hujan ini tidak akan menghalangi kita, kan?" Isaac hanya bisa tersenyum pasrah melihat kegigihan istrinya. "Baiklah, Nyonya Besar. Tapi kau harus janji tidak akan mengeluh kedinginan nanti."

Begitu sampai di area parkir mall, perjuangan belum berakhir. Karena parkiran sangat penuh di hari hujan, mereka terpaksa memarkirkan mobil di area yang agak terbuka sebelum masuk ke pintu lobi. Saat mereka berjalan cepat menuju pintu masuk, percikan air hujan dan angin kencang sempat membasahi pakaian mereka. Begitu melangkahkan kaki ke dalam ruang luas mall yang megah itu, hawa dingin dari sistem pendingin ruangan terpusat langsung menyergap. Baju Luna yang sedikit lembap karena air hujan membuat tubuhnya sedikit menggigil.

"Mas... dingin," bisik Luna sembari merapatkan kedua tangannya di dada. Tanpa banyak bicara, Isaac segera melepas jaket bomber-nya. Ia menyampirkan jaket itu di bahu Luna, lalu membantu istrinya memasukkan tangan ke dalam lengan jaket yang terasa sangat besar di tubuh Luna. Aroma parfum kayu cendana milik Isaac yang maskulin dan hangat segera menyelimuti Luna, memberikan rasa aman yang instan. "Pakai ini. Jangan sampai kau masuk angin," ujar Isaac tegas.

Kini Isaac hanya mengenakan kaos lengan pendek yang tipis. Di tengah ruangan mall yang sangat dingin ini, otot-otot lengannya tampak sedikit menegang karena suhu yang rendah. Tentu saja Isaac merasa dingin, kulitnya bahkan mulai terasa sedikit kaku, namun fokus utamanya adalah kenyamanan Luna dan kesehatan bayi kembar mereka. Baginya, rasa dingin di tubuhnya tidak ada bandingannya dengan risiko jika Luna sampai jatuh sakit. "Tapi Mas nanti kedinginan," ujar Luna khawatir, menatap lengan suaminya yang terbuka.

"Aku kuat, Luna. Jangan khawatirkan aku. Ayo, kita ke lantai atas sebelum antrean bioskop semakin panjang," ajak Isaac sembari merangkul pinggang Luna, membimbingnya menuju eskalator. Sesuai keinginan Luna, tujuan pertama mereka adalah lantai tertinggi di mana bioskop berada. Sepanjang perjalanan menaiki eskalator, Luna tidak berhenti mengagumi dekorasi mall yang mulai dihiasi lampu-lampu estetik. Sesampainya di area bioskop, suasana tampak cukup ramai karena banyak orang yang memilih meneduh sambil menonton film selama hujan deras.

"Mas, lihat! Poster film animasi itu lucu sekali. Tapi film action yang itu juga kelihatannya seru," Luna menunjuk-nunjuk layar digital besar di depan gerbang bioskop. Isaac membawa Luna menuju mesin tiket mandiri agar mereka tidak perlu mengantre lama di loket. "Pilih satu film yang kursinya paling nyaman, Luna. Aku ingin kau bisa bersandar dengan santai selama dua jam ke depan."

Luna akhirnya memilih sebuah film drama keluarga yang sedang populer. Untungnya, mereka mendapatkan kursi di barisan "Sweetbox" atau kursi ganda yang lebih luas di bagian belakang, yang memang sengaja Isaac pilih agar Luna bisa memiliki ruang gerak lebih untuk perut besarnya. "Mas, aku ingin popcorn karamel yang wadahnya besar! Dan minuman cokelat hangat," pinta Luna dengan mata berbinar. "Apapun untukmu, Sayang. Tunggu di kursi tunggu itu, jangan berdiri terlalu lama," perintah Isaac.

Selagi Isaac mengantre makanan, Luna duduk di sofa empuk area lobi bioskop. Ia memperhatikan Isaac dari kejauhan—pria itu tampak begitu menonjol di antara kerumunan meski hanya mengenakan kaos biasa. Cara Isaac berdiri, cara ia berbicara dengan pelayan, semuanya memancarkan aura kepemimpinan yang membuat Luna merasa sangat bangga memilikinya. Tak lama kemudian, Isaac kembali dengan baki penuh makanan. Mereka masuk ke dalam studio saat lampu mulai diredupkan.

Di dalam studio yang bahkan lebih dingin dari area mall, Isaac memastikan jaketnya tetap membungkus tubuh Luna dengan rapat. Begitu mereka duduk di kursi ganda yang empuk, Isaac merangkul Luna, membiarkan istrinya menyandarkan kepala di bahunya. Selama film berlangsung, tangan Isaac tidak pernah lepas dari perut Luna, sesekali memberikan usapan lembut setiap kali ia merasakan gerakan halus dari dalam sana.

"Mereka sepertinya suka suara musik filmnya, Mas," bisik Luna sembari menyuapkan sebutir popcorn ke mulut Isaac. "Atau mungkin mereka suka karena Ibunya sedang bahagia," balas Isaac sembari mengecup pelipis Luna. Di dalam kegelapan studio bioskop, di tengah udara dingin yang menusuk kulit lengan Isaac, kehangatan justru tercipta dengan begitu nyata. Isaac menyadari bahwa kebahagiaan Luna adalah bahan bakar utamanya. Hujan deras di luar dan rasa dingin di mall ini hanyalah bumbu kecil dalam perjalanan mereka. Bagi Isaac, momen sederhana seperti menonton film sambil mendekap istrinya adalah kemewahan yang akan selalu ia perjuangkan, demi Luna dan dua nyawa kecil yang kini menjadi pusat semestanya.

Saat film mencapai puncaknya, Luna perlahan mulai merasa mengantuk karena suasana yang terlalu nyaman. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati aroma jaket Isaac dan detak jantung suaminya yang tenang. Isaac tersenyum dalam kegelapan, ia tahu bahwa setelah ini, perjalanan belanja baju bayi akan menjadi babak selanjutnya yang tak kalah seru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!