NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Asya dan Rara berada di kamar asrama khusus ustadzah. Asya tengah merebahkan tubuhnya itu di kasur milik sahabatnya. Sedangkan Rara duduk di kursi samping tempat tidurnya.

"Gimana kabar kamu? 3 tahun nggak ada kabar sama sekali," ucap Rara mengawali pembicaraan

"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja," ucap Asya

"Bahkan setelah kejadian itu? Apa Asya baik-baik saja? Apa Asya tidak terluka? Asal kamu tau Sya waktu awal-awal usia pernikahan itu gus Kafka cuek banget sama ning Anisa. Aku sering bantu di ndalem dan beberapa kali lihat ning Anisa menangis dalam diam karena kurangnya perhatian ataupun kasih sayang dari gus Kafka. Bahkan gus Kafka sering ditegur sama pak kyai," tanya Rara lagi

"Tapi sekarang mereka sudah saling mencintai. Bahkan sudah hadir malaikat kecil diantara mereka berdua," ucap Asya terkekeh miris

Rara mengusap bahu sahabatnya. Asya tersenyum.

"Lalu bagaimana dengan keadaan hatimu?," tanya Rara

"Asya yang sekarang sudah versi upgrade. Asya sudah berdamai dengan semuanya. Jangan ungkit masa lalu lagi dong. Hari ini aku mau melepas rindu sama bestie aku," ucap Asya lalu duduk

"Kamu manggil dia dengan sebutan abang?," tanya Rara sambil menaikkan alisnya sebelah

Asya menghela napasnya. Ia memandang Rara sebentar lalu menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

"Dia kan sudah menjadi kakakku. Aku memanggilnya dengan sebutan itu seperti aku memanggil bang Raffa," jelas Asya

"Kapan kamu pulang ke Indonesia?," ucap Rara

"Saat kak Anisa melahirkan dan keadaannya kritis," ucap Asya sendu

Rara berpindah duduk di samping Asya. Ia menyandarkan kepala Asya pada bahu kanannya. Rara memeluk sahabatnya itu dari samping.

"Ra, ijinkan aku menangis sekali lagi untuk dia," ucap Asya semakin lirih

Tak ada ucapan keluar dari bibir Rara selain anggukan kepalanya. Rara mengelus kepala sahabatnya itu.

"Sebenarnya aku nggak mau pulang. Tapi waktu itu abang nelpon dan bilang bahwa kak Anisa keadaannya kritis. Aku bingung banget Ra. Sampai akhirnya aku memutuskan mengambil penerbangan tercepat hari itu," ucap Asya sambil terisak

"Lalu?," ucap Rara

"Aku menunggu kak Anisa di ruang rawatnya dengan bang Kafka. Sampai beberapa jam kemudian dia sadar. Kak Anisa mengungkapkan semuanya. Dia tau semua tentang aku dan bang Kafka," jelas Asya

Asya bahkan tak segan menceritakan keinginan Anisa itu. Rara begitu terkejut mendengar cerita sahabatnya itu.

"Kamu menyetujui permintaan ning Anisa?," tanya Rara

"Ya enggaklah," ucap Asya santai

"Aku kira kayak di film kamu akan bersatu dengan gus Kafka," ucap Rara

"Gak mungkinlah. Aku sudah melihat sendiri bahwa mereka saling mencintai sekarang," ucap Asya santai

"Lalu gimana dengan hati kamu yang patah itu?," tanya Rara penasaran

"Hati yang patah itu perlahan sudah disembuhkan oleh orang lain," jawab Asya sambil tersenyum

"Apa?!," pekik Rara

"Aku besok lamaran Ra," ucap Asya santai

"Hah?!," ucap Rara

"Biasa aja nggak usah kaget gitu," ucap Asya terkekeh

"Siapa?," tanya Rara

"Maksudnya siapa apanya?," tanya Asya

"Siapa lelaki yang sudah menyembuhkan luka di hati bestie aku ini?," tanya Rara penasaran

"Namanya Alif Zayyan Alfarabi, dia teman kuliahku di Kairo sekaligus alumni pesantren abi," ucap Asya sambil tersenyum

"Alhamdulillah aku ikut senang dengarnya," ucap Rara sambil memeluk sahabatnya itu

"Doakan yang terbaik ya," ucap Asya sambil memeluk sahabatnya itu

"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu bestie," ucap Rara tulus

"Seandainya saja kamu yang jadi kakak iparku pasti seneng banget aku," ucap Asya terkekeh

"Ilmu aku belum kuat untuk bersanding dengan gus tau," ucap Rara terkekeh sambil melepas pelukan sahabatnya itu

"Sayang banget bang Raffa udah nikah setahun yang lalu," ucap Asya lalu tertawa kecil

"Jadi kamu nggak hadir di pernikahan gus Raffa maupun ning Anisa?," ucap Rara penasaran

"Mau gimana lagi. Lagian bang Raffa memakluminya," ucap Asya santai

Rara hanya menganggukkan kepalanya. Asya tersenyum lega setelah menceritakan semua kepada sahabatnya.

"Besok temenin aku yuk," ajak Asya

"Tapi kan aku harus ngajar," ucap Rara

"Nanti biar aku yang nego sama pak kyai atau bang Kafka," ucap Asya

Rara tersenyum menatap sahabatnya. Asya terlihat jauh lebih bahagia dibanding sebelumnya.

Asya sedang perjalanan pulang dengan keluarganya. Tak lupa Rara juga ikut. Kyai Ahmad tak bisa menolak permintaan Asya. Ia sudah menganggap Asya seperti putrinya sendiri.

Mobil sudah memasuki gerbang pesantren. Rara menatap takjub bangunan pesantren milik orang tua sahabatnya. Abi memarkirkan mobil dengan sempurna. Lalu mereka turun menuju ndalem.

Terlihat Raffa dan Lisa tengah berada di ruang keluarga. Asya menyeret Rara menuju kamarnya di lantai dua. Rara berdecak kagum saat memasuki kamar sahabatnya itu.

"Kamu istirahat dulu ya. Pasti capek," ucap Asya yang sudah mengganti gamisnya

"Kamu mau kemana?," tanya Rara

"Aku mau bantu umi ngajar diniyah soalnya ustadzah yang biasa ngajar lagi cuti," jelas Asya

"Nggak papa nih aku di kamarmu?," ucap Rara

"Nggak papa kok. Anggap aja rumah sendiri. Nanti kalo butuh apa-apa kamu ke bawah aja ada kak Lisa," ucap Asya sambil tersenyum

Asya pun keluar meninggalkan Rara yang beristirahat. Rara merebahkan dirinya di kasur empuk milik Asya

Skip

Rara kebosanan sendirian di kamar. Akhirnya ia memutuskan keluar dari kamar Asya. Saat menuruni anak tangga, Rara melihat Asya tengah bersama anggota keluarganya.

Asya menoleh saat mendengar suara langkah kaki. Ia tersenyum melihat sahabatnya itu.

"Sini gabung," ajak Asya sambil melambaikan tangannya

Rara tersenyum kikuk. Ia merasa canggung berada di lingkungan keluarga Asya. Rara segera menghampiri Asya dan duduk di sampingnya.

"Jadi ini sahabat baiknya Adek waktu di pesantren?," ucap umi

"Iya Mi. Rara ini sahabat terbaik aku," ucap Asya sambil memeluk Rara dari samping

"Namanya siapa, Nak?," tanya abi

"Nama saya Rara, Kyai," jawab Rara sopan

"Berarti kamu mondok udah lama ya di pesantren kyai Ahmad," ucap umi sambil tersenyum

"Alhamdulillah Bu Nyai," ucap Rara

"Panggil umi saja, Nak," ucap umi sambil tersenyum

"Baik u-umi," jawab Rara

"Oh iya Abi, tadi Alif mengabari kalo keluarga mereka ke sini habis sholat dzuhur," ucap Raffa yang sedari tadi diam

"Ih kok nggak bilang aku," ucap Asya kesal

"Gimana mau bilang katanya aja kamu dihubungi nggak aktif," cibir Raffa

"Astaghfirullah, lupa belum dicharger," ucap Asya sambil menepuk dahinya pelan

"Hilangkan tuh kebiasaan ceroboh bentar lagi nikah jadi istri orang," ucap Raffa menasehati

"Iya abangku tersayang," ucap Asya terkekeh

Rara dan Lisa hanya menyimak sambil tersenyum.

"Sayangan mana diantara abang, abi dan suamimu nanti? Mana yang lebih kamu sayangi?," tanya Raffa tengil

"Ih aku nggak bisa milih. Kalian itu punya tempat tersendiri di hati aku," jawab Asya

Abi dan umi tersenyum melihat Asya yang bahagia. Terlepas dari luka di masa lalu, Asya yang sudah berdamai dengan takdir.

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!