NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Ikatan Yang Terlihat

Siang yang beranjak sore itu berjalan pelan, seolah waktu sengaja diperlambat di dalam kamar rawat tersebut. Cahaya matahari masuk dengan sudut yang berbeda, lebih hangat, menyentuh sisi ranjang dan wajah kecil yang masih tertidur. Suasana tidak lagi mencekam seperti malam sebelumnya, tetapi ketenangan itu justru membawa jenis tekanan yang lain, lebih halus namun menetap di dada.

Elvara masih berada di posisi yang sama, duduk di sisi ranjang dengan tubuh sedikit condong ke depan. Tangannya tidak pernah benar-benar melepaskan Rheon, seolah ia takut jika jarak sekecil apa pun akan mengubah sesuatu. Ia memperhatikan naik turunnya napas anak itu, menghitung tanpa sadar, memastikan ritmenya tetap stabil.

Rasa lelah mulai terasa di pundaknya, tetapi ia menahannya. Matanya sesekali terasa perih, namun setiap kali ia berkedip terlalu lama, ia langsung membuka lagi. Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun dari proses pulihnya Rheon, karena baginya, setiap perubahan kecil adalah sesuatu yang penting.

Di dekat jendela, Zayden berdiri dengan sikap yang sama sejak beberapa waktu lalu. Bahunya tegak, tangannya berada di saku celana, tetapi fokusnya tidak pernah benar-benar berada di luar. Pandangannya selalu kembali ke satu titik yang sama, yaitu anak kecil yang kini menjadi pusat dari semua pikirannya.

Ia tidak lagi mencoba menyangkal apa pun. Setelah semua yang terjadi sejak pagi, setelah setiap potongan yang saling menguatkan, ia tahu bahwa dirinya sudah melewati tahap ragu. Yang tersisa sekarang bukan lagi pertanyaan, melainkan bagaimana ia harus menghadapi kenyataan itu.

Keheningan di antara mereka terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang tajam atau saling menekan seperti di kantor. Namun justru karena itu, suasana menjadi lebih berat, karena tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi di balik emosi yang kasar.

Elvara bisa merasakan keberadaan Zayden tanpa harus melihat. Ia tahu pria itu memperhatikan, sama seperti dirinya. Namun kali ini, ia tidak lagi mencoba mengabaikan. Ia hanya membiarkan semuanya ada, meski itu membuat dadanya semakin sesak.

Ketika Rheon mulai bergerak, perubahan itu langsung terasa jelas di ruangan yang sunyi. Gerakan kecil di jari, sedikit perubahan pada napas, dan kerutan halus di alisnya membuat Elvara langsung mendekat lebih jauh. Ia menunduk, suaranya berubah lebih lembut, hampir seperti bisikan.

"Rheon, sayang..."

Anak itu mengerjap perlahan, butuh waktu beberapa detik untuk benar-benar membuka mata. Pandangannya masih buram, namun ia mengenali suara itu lebih dulu. Bibirnya bergerak pelan, memanggil dengan nada yang lemah namun jelas.

"Mommy..."

"Iya, Mommy di sini."

Elvara mengusap rambutnya dengan hati-hati, jemarinya bergerak pelan agar tidak mengganggu. Sentuhan itu bukan hanya untuk menenangkan Rheon, tetapi juga untuk menenangkan dirinya sendiri yang sejak tadi menahan banyak hal.

Zayden tanpa sadar melangkah mendekat. Ia tidak berpikir panjang, hanya mengikuti dorongan yang muncul begitu saja. Langkahnya terhenti di sisi ranjang, cukup dekat untuk melihat jelas, tetapi tetap menjaga ruang yang tidak ia lewati begitu saja.

Rheon berkedip lagi, kali ini lebih fokus. Matanya bergerak perlahan, mencari, lalu berhenti ketika menemukan sosok lain di ruangan itu. Wajahnya tidak menunjukkan kebingungan, justru ada pengenalan yang sederhana dan jujur.

"Om dingin..."

Suara itu sangat pelan, tetapi cukup untuk membuat suasana berubah.

"Iya."

Jawaban Zayden tidak kalah pelan. Ia menyesuaikan nadanya tanpa sadar, seolah berbicara dengan cara yang hanya ditujukan untuk anak itu.

Rheon mengangkat tangannya sedikit, gerakannya lambat dan tidak stabil. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan tangannya bergerak ke arah yang ia inginkan. Zayden sempat ragu sepersekian detik, tetapi kemudian ia mendekat, membiarkan jarak itu hilang dengan sendirinya.

Jari kecil itu menyentuh tangannya, lalu menggenggam.

Tidak kuat, tetapi cukup jelas.

Dan tidak dilepaskan.

Zayden terdiam di tempatnya. Ia tidak menarik diri, juga tidak mengubah posisi. Ia hanya membiarkan genggaman itu ada, merasakan kehangatan kecil yang terasa jauh lebih besar dari seharusnya.

Di dalam dirinya, sesuatu bergerak tanpa bisa ia kendalikan. Perasaan yang selama ini hanya berupa dugaan kini berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata, karena sentuhan itu tidak bisa dijelaskan dengan logika saja.

Rheon tidak membuka mata sepenuhnya. Ia hanya memegang, seolah itu sudah cukup untuk membuatnya merasa aman. Napasnya perlahan kembali stabil, tubuhnya mulai rileks, namun tangannya tetap bertahan di sana.

Elvara menyaksikan semuanya tanpa bersuara. Pandangannya tertahan pada tangan mereka yang saling terhubung, dan di saat itu, ia tidak bisa lagi menyangkal apa yang selama ini ia hindari.

Perasaan yang muncul bukan sesuatu yang sederhana. Tidak ada kecemburuan atau rasa tersaingi, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih berat. Ia melihat bagaimana semuanya terjadi begitu alami, tanpa paksaan, tanpa keraguan.

Air matanya sempat menggenang, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin mengganggu momen itu, meskipun hatinya terasa seperti perlahan runtuh.

Zayden menunduk, memperhatikan genggaman itu lebih lama. Ia bisa merasakan tekanan kecil yang konsisten, seolah anak itu benar-benar memilih untuk tidak melepaskannya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan yang muncul, tetapi ia tahu bahwa ini bukan sesuatu yang bisa diabaikan lagi.

Ketika ia mengangkat kepala, pandangannya langsung bertemu dengan Elvara. Tidak ada kata yang keluar, tetapi ada pemahaman yang bergerak di antara mereka. Elvara yang pertama mengalihkan pandangan, karena ia tidak sanggup menahan apa yang ia lihat di mata pria itu.

Bukan lagi pertanyaan.

Bukan lagi keraguan.

Melainkan kepastian yang perlahan terbentuk.

Beberapa menit berlalu dalam diam yang tidak canggung, tetapi penuh makna. Rheon kembali tertidur lebih dalam, napasnya teratur, wajahnya jauh lebih tenang. Namun tangannya tetap berada di tempat yang sama, tidak melepaskan genggaman itu.

Zayden akhirnya duduk di kursi di samping ranjang, menyesuaikan posisinya agar lebih nyaman tanpa mengganggu. Ia tidak mencoba menarik tangannya, karena ia sendiri tidak ingin melakukannya.

Elvara berdiri perlahan, memberi jarak beberapa langkah. Ia berjalan menuju jendela, mencoba memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk berpikir. Pemandangan di luar terlihat tenang, langit mulai berubah warna, tetapi pikirannya justru semakin penuh.

Ia menatap keluar, mencoba menenangkan napasnya yang tidak stabil. Banyak hal yang berputar di kepalanya, dan semuanya mengarah pada satu titik yang sama.

Ia tidak bisa lagi lari.

Ketika ia menoleh kembali, pemandangan itu masih sama. Zayden duduk di sana, Rheon menggenggam tangannya, dan suasana di sekitar mereka terasa begitu utuh. Tidak ada yang terlihat dipaksakan, tidak ada yang terasa salah.

Dan justru itu yang membuatnya semakin sulit diterima.

Ia menutup mata sebentar, lalu membukanya kembali dengan perlahan. Di dalam hatinya, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan, meskipun itu bukan pilihan yang mudah.

Karena kali ini, bukan hanya rahasia yang dipertaruhkan.

Tetapi juga perasaan yang mulai tumbuh di tempat yang tidak ia rencanakan.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!