Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat Sakit Kepala
Raymon memandang sekeliling pabrik terbengkalai yang kadang mereka pakai untuk transaksi, lalu mengumpat pelan.
Tiga mayat tergeletak di lantai, masing-masing dengan satu lubang peluru tepat di tengah dahi.
“Ini apaan, Darius?” bentaknya.
“Mereka bawa barang rusak. Kamu pikir aku harus ngapain?” jawab Darius santai.
“Usir mereka lah, bukan bunuh semuanya. Gila.”
Raymon menoleh ke Grimm dan Mason yang sedang memeriksa peti-peti di lantai.
“Masukin mobil mereka ke dalam. Bakar semuanya.”
“Barangnya juga?”
“Semuanya.”
Raymon menggerakkan kursi rodanya mendekati salah satu mayat dan menatap wajahnya.
“Dari Alfredo?” tanyanya sambil melirik Darius.
“Bukan. Hendrix... Tapi bekerja sendiri. Kayaknya nyolong barang dari Hendrix, dicampur, terus dijual diam-diam.”
“Kita gak kerja sama orang kayak gitu. Kamu tahu itu.”
“Aku cuma penasaran mereka bawa apa. Harganya lumayan.” Darius mengangkat bahu sambil menyalakan rokok.
“Syukurlah kamu senang,” sindir Raymon dingin. “Jangan pernah bikin kekacauan kayak gini lagi. Dengar, Darius?”
“Iya, Presiden.”
“Sekali lagi terjadi kayak gini, selesai. Risiko punya orang kayak kamu di tim, udah hampir lebih besar dari manfaatnya. Beresin diri kamu. Cari hobi kek atau apa kek.”
Raymon memutar kursi rodanya dan keluar, diikuti Mason.
Kekacauan ini benar-benar bukan yang dia butuhkan hari ini. Kalau Darius bukan saudara tirinya, dia sudah lama menyingkirkannya.
“Kirim pelacur ke dia,” kata Raymon saat mereka masuk mobil. “Dia butuh pelampiasan.”
“Udah aku coba. Dia usir semuanya.”
“Berapa banyak?”
“Enam.”
“Coba kirim cowok!”
Raymon cukup yakin Darius bukan gay, tapi dengan kondisi mentalnya sekarang, sulit ditebak.
“Udah dicoba juga. Gak berjalan baik.” Mason berdeham. “Dia usir orangnya, terus datang ke klub dan mukul hidung aku sampai patah.”
“Gila… aku harus ngapain sama dia?”
“Mungkin konseling bisa bantu. Dokter mungkin, atau psikiater.”
“Psikiaternya malah bakal butuh terapi setelah ngobrol sama dia, Mason.” Raymon menghela napas dan menatap keluar jendela. “Kayaknya gak ada yang bisa nolong Darius. Dia udah kelewatan.”
***
Di tempat yang lain ....
Kasur di sebelahnya turun, lalu ia merasakan lengan Raymon melingkari pinggangnya dan tubuh pria itu merapat ke tubuhnya. Gwen suka saat Raymon melakukan itu.
“Kamu kelewatan makan malam,” gumamnya ke bantal.
“Maaf, tadi ada urusan. Udah malam, tidur lagi aja.”
"Besok bangunin aku ya?”
“Iya.”
Raymon mencium lehernya lalu menariknya lebih dekat.
Tidur terasa jauh lebih nyaman, bahkan dengan kepala yang berdenyut.
Keesokan harinya.
“Babby?”
“Hmm…” Gwen mengerang pelan. “Jam berapa?”
“Tujuh.”
“Lima menit lagi…”
Kepalanya terasa seperti mau pecah. Ia menarik selimut, kembali tidur, ia sempat bermimpi sedang berada di sekolah. Lalu mimpinya berubah. Ia sedang bersama Raymon, semuanya terasa nyata, sampai tiba-tiba seorang pria muncul membawa pisau dan menusuk sisi tubuh Raymon.
Gwen langsung terbangun, duduk tegak di tempat tidur, napasnya berat.
Ia melihat sekeliling. Selain Bilbo yang sedang bermain bola di sudut ruangan, semuanya tampak normal.
Tubuhnya terasa seperti baru dilindas sesuatu. Dengan langkah berat, ia menuju dapur, menyalakan mesin kopi, lalu ke kamar mandi.
Setelah mandi dan mengenakan jeans serta blus, ia menyiapkan sarapan. Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas. Artinya satu jam lagi ia seharusnya sudah di tempat manikur.
Seharusnya ia bersiap untuk makan malam bersama partner bisnis suaminya. Tapi tubuhnya terlalu lelah. Sambil makan sereal, ia menelepon dan membatalkan janji.
Peran istri itu bisa ditunda.
Mungkin ia harus mencari Carolina, siapa tahu ada obat untuk sakit kepalanya.
Begitu masuk dapur lantai bawah, suara sendok beradu dan dentingan panci langsung menusuk kepalanya. Persiapan makan malam sudah berjalan penuh.
Elliot sedang berteriak ke Dottie sambil menunjuk kompor. Carolina duduk di meja, mengelap piring.
Gwen langsung mengurungkan niat. Ia tidak sanggup menghadapi keramaian itu.
Raymon pasti punya obat.
Ia keluar dari dapur dan berjalan ke sisi lain rumah.
Raymon duduk di belakang meja kerjanya, permukaannya penuh dengan tumpukan berkas. Gwen tidak pernah menyangka jadi kepala organisasi kriminal ternyata se-birokratis ini.
“Kamu punya obat sakit kepala?” tanyanya dari ambang pintu.
“Di lemari kamar mandi aku.” Raymon menoleh. “Kamu gak apa-apa?”
“Kayaknya kena virus. Gak serius.”
Raymon meletakkan berkasnya dan memberi isyarat. “Sini.”
“Aku gak apa-apa,” Gwen memutar mata, tapi tetap mendekat dan duduk di pangkuannya.
“Ada gejala lain?” Raymon menempelkan telapak tangan ke dahinya, lalu ke pipinya. “Minum obat terus tidur. Aku harus beresin ini dulu, nanti aku nyusul.”
“Aku baik-baik aja, Raymon. Cuma sakit kepala.”
Raymon mencondongkan tubuh dan menciumnya. Entah kenapa, itu langsung membuat segalanya terasa sedikit lebih baik.
“Naik ke atas. Sekarang, Gwen.”
“Ya ampun, sopan banget sih mintanya.”
Gwen mencium pipi Raymon cepat, lalu berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya.
...***...
Lampu kamar masih mati saat Raymon masuk ke suite-nya. Dia terlalu larut dalam pekerjaan sampai hampir lupa soal makan malam.
Hector dan Wyatt akan datang satu jam lagi, dan dia sempat berharap menemukan Gwen sedang bersiap. Tapi ruangan itu terlihat kosong.
Dia menyalakan lampu, dan baru menyadari Gwen terbaring di sofa, meringkuk di bawah selimut. Anjing itu tidur di dekat kakinya.
Raymon mendekat dengan kursi rodanya dan menyentuh wajah Gwen. Gwen bergerak pelan, lalu membuka mata.
“Udah waktunya makan malam?” gumamnya sambil berusaha duduk. “Aku harus mandi dan siap-siap.”
“Kamu gak ke mana-mana. Badan kamu panas banget.”
Raymon langsung mengambil ponselnya dan menelepon Carolina, menyuruhnya membawa termometer dan Tylenol.
“Tiduran aja. Aku ambilin air.”
Raymon ke dapur, mengambil gelas dan botol air dari kulkas, lalu kembali.
Gwen sudah kembali berbaring, tubuhnya meringkuk kecil di bawah selimut.
“Rasanya kayak digiling,” gumamnya pelan. “Maaf ya, baby… tapi kayaknya aku gak sanggup ikut makan malam.”
Sesuatu terasa menusuk dada Raymon saat mendengar panggilan itu. Ini pertama kalinya Gwen memanggilnya seperti itu tanpa sedang berpura-pura di depan orang lain. Mungkin Gwen sendiri tidak sadar, tapi tetap saja terasa sangat berarti.
Pintu terbuka di belakang mereka. Carolina masuk membawa botol obat. Dia duduk di samping Gwen dan mengukur suhunya.
“Kamu siap-siap aja,” katanya sambil melambaikan tangan ke arah Raymon. “Tamu datang kurang dari satu jam lagi. Biar aku yang jaga dia.”