NovelToon NovelToon
Suami Penjudi, Istri Terbeli

Suami Penjudi, Istri Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:866
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.



Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.

Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".

Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata-Mata Pemangsa

Jalan menuju Desa Sukamulya bukanlah jalur yang ramah bagi mesin-mesin besi buatan kota. Setelah melewati aspal yang retak-retak di pinggiran kabupaten, jalur itu berubah menjadi tanah merah yang labil dan berbatuan gunung yang tajam.

Sebuah mobil Jeep hitam besar dengan ban berlumpur terpaksa berhenti di tepi hutan jati. Sekitar tiga kilometer sebelum gerbang desa. Mesinnya menderu, mengeluarkan asap tipis seolah memprotes medan yang mustahil ditembus.

"Sialan! Desa macam apa ini? Masuk ke sini saja harus mempertaruhkan nyawa dan kendaraan!" gerutu seorang pria berperawakan gempal yang keluar dari pintu kemudi.

Ia mengenakan kemeja safari ketat yang menonjolkan perut buncitnya. Serta kalung emas tebal yang melingkar di lehernya yang berlemak.

Pria itu adalah Juragan Permadi. Di kota, namanya adalah momok bagi para pedagang kecil dan pecandu judi. Ia adalah penguasa piutang yang dingin. Pria yang lebih menghargai selembar uang daripada nyawa manusia.

"Sabar, Bos. Si Bagas brengsek itu memang pintar bersembunyi. Katanya dia sedang mendekati anak orang kaya di desa ini untuk membayar bunga utangnya yang macet tiga bulan," sahut salah satu anak buahnya. Seorang pria bertubuh raksasa dengan luka parut di pipi kiri yang membuatnya tampak seperti preman pasar.

Tiga orang anak buah Permadi turun dari mobil. Mereka semua mengenakan pakaian gelap yang kontras dengan hijau royo-royo alam sekitarnya dengan langkah berat dan uring-uringan. Mereka terpaksa berjalan kaki menyusuri jalan setapak kecil yang sejajar dengan aliran sungai besar.

"Kalau sampai hari ini dia tidak setor, aku akan mematahkan kedua kakinya!" ancam Permadi sembari menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan kumal. Ia berjalan paling depan, memimpin rombongan kecil itu menyusuri rimbunnya semak belukar yang sesekali mencakar lengan mereka.

Di sisi lain, di bawah naungan pohon-pohon beringin tua yang akarnya menjuntai hingga ke permukaan air. Suara tawa renyah memecah keheningan sungai.

Air sungai Sukamulya begitu jernih, mengalir di antara bebatuan kali yang licin. Di sebuah area yang agak tertutup oleh bebatuan besar. Tempat yang biasa digunakan warga wanita untuk mencuci dan mandi. Larasati sedang asyik membasuh pakaian dengan beberapa teman-teman wanitanya.

Ia hanya mengenakan kain jarit yang dililitkan di dada yang sering disebut kembeng. Memperlihatkan bahunya yang putih mulus terkena percikan air sungai. Di sekelilingnya, Sari dan beberapa teman sebaya lainnya juga sedang melakukan hal yang sama.

"Ciyee, yang sebentar lagi jadi nyonya kota," goda Sari sembari mencipratkan air ke arah Laras.

"Kabarnya Mas Bagas itu punya rumah tingkat ya di kota? Wah, Laras, jangan lupakan kami kalau sudah jadi orang kaya nanti."

Laras tersipu malu, pipinya yang merona alami tampak semakin cantik di bawah cahaya matahari yang menembus celah dedaunan. "Apa sih, Sar. Mas Bagas itu orangnya sederhana, kok. Dia cuma bilang ingin hidup tenang di desa kalau nanti kami menikah."

"Sederhana tapi penampilannya mentereng begitu? Masalahnya, Ras, pemuda satu desa ini bisa patah hati massal kalau kamu benar-benar dibawa pergi," sahut teman lainnya, diiringi gelak tawa yang menggema.

Laras hanya tersenyum tipis sembari menyabuni kain panjang milik ibunya. Ia merasa sangat bahagia. Bayangan tentang Bagas yang sopan dan berwibawa terus menari di benaknya.

Ia merasa seperti bunga yang sedang menunggu musim semi tiba. Tanpa menyadari bahwa badai dari kota baru saja menginjakkan kaki di tanah desanya. Tanpa menyadari mendung nanti akan selalu ada memayungi setiap tangisannya.

Tak jauh dari sana, langkah kaki rombongan Permadi terhenti. Suara tawa wanita dan gemercik air membuat sang Juragan memberi isyarat agar anak buahnya diam. Mereka merunduk di balik semak belukar yang tinggi. Mengendap-endap seperti pemangsa yang mengintai kawanan rusa.

Permadi menyibak dedaunan dengan perlahan. Matanya yang licik menyipit, lalu seketika membelalak. Pandangannya terkunci pada sosok gadis yang berdiri di tengah aliran air dangkal, sedang memeras pakaian dengan gerakan yang sangat luwes.

"Gila... cantik sekali," bisik Permadi tanpa sadar. Lidahnya menjilat bibir bawahnya yang pecah-pecah.

Selama puluhan tahun berurusan dengan berbagai macam wanita di kota, Permadi belum pernah melihat kecantikan semurni ini. Kulit Larasati yang basah tampak berkilau seperti pualam di bawah sinar matahari.

Bentuk tubuhnya yang proporsional dan wajahnya yang lugu. Namun memikat membuat gairah liar seketika membakar isi kepala sang rentenir.

"Bos, itu bukannya gadis yang sering disebut-sebut Bagas?" bisik anak buahnya dengan nada cabul.

Permadi tidak menjawab. Matanya terus melahap setiap inci gerak-gerik Laras yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Dalam kepalanya yang kotor, ia sudah tidak lagi memikirkan utang Bagas. Ia melihat Laras bukan sebagai manusia. Melainkan sebagai barang jaminan yang jauh lebih berharga daripada uang kertas mana pun.

Aku harus mendapatkan gadis itu. Bagaimanapun caranya, kalau Bagas tidak bisa bayar. Gadis itu yang akan menjadi bunganya, batin Permadi dengan senyum menyeringai yang menjijikkan.

Setelah selesai mencuci dan mandi, Laras dan teman-temannya mulai merapikan pakaian di dalam ember plastik. Mereka bersiap untuk kembali ke desa karena matahari sudah mulai tinggi. Laras melilitkan handuk di lehernya dan berjalan paling belakang, sesekali bersenandung kecil.

Kelompok Permadi mulai bergerak. Mereka mengikuti dari jarak jauh, berlindung di balik pohon-pohon besar, Memastikan Laras masuk ke wilayah desa yang lebih padat. Permadi ingin memastikan di mana gadis itu tinggal. Ia ingin mencium bau rumahnya, mengetahui siapa orang tuanya, sebelum ia memasang jerat.

Namun, langkah mereka terhenti tiba-tiba. Saat melewati tikungan jalan setapak yang rimbun dengan pohon kopi.

"Mau ke mana, Bapak-bapak? Sepertinya kalian bukan orang sini."

Sebuah suara berat dan tegas menginterupsi langkah mereka. Dari balik pohon besar, muncul seorang pria paruh baya yang memegang arit dan memikul seikat kayu bakar. Itu adalah Pak Tarno, ayah Laras, yang baru saja kembali dari kebunnya yang berada di atas perbukitan.

Mata tajam Pak Tarno menatap curiga pada pakaian dan perawakan orang-orang kota itu. Sebagai orang desa yang jujur, ia memiliki insting yang kuat terhadap orang asing yang membawa hawa negatif. Terutama saat ia melihat arah pandangan mereka yang terus tertuju pada rombongan gadis-gadis yang berjalan di depan.

Permadi terkejut sejenak, namun segera memasang wajah angkuhnya, "Kami hanya orang lewat. Ingin mencari alamat seseorang bernama Bagas. Kau tahu di mana dia?"

Pak Tarno menyipitkan mata. Nama Bagas membuat hatinya sedikit bergetar. Mengapa orang-orang yang terlihat seperti preman ini mencari calon menantunya?

"Bagas? Dia sedang ada di rumah kepala desa sekarang. Tapi jalannya bukan lewat sini kalau mau ke sana dengan rombongan begini," jawab Pak Tarno dingin. Ia tidak memberikan keramahan sedikit pun. Ia berdiri tegak, menghalangi jalan setapak itu dengan tubuhnya yang kokoh meski sudah menua.

Permadi mendengus remeh. Ia menatap Pak Tarno dari atas ke bawah, "Oh, jadi kau orang sini ya? Baguslah. Bilang pada Bagas, Juragan Permadi dari kota datang untuk menagih janji. Dan satu lagi..."

Permadi menoleh sekilas ke arah Laras yang sudah menjauh di ujung jalan, "Desa ini punya pemandangan yang sangat... menarik."

Permadi tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk Pak Tarno berdiri. Sang Juragan kemudian berbalik arah. Memberi isyarat pada anak buahnya untuk kembali ke mobil. Ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

Pak Tarno tetap berdiri di sana, menatap kepergian rombongan itu dengan perasaan yang tidak enak. Ia menoleh ke arah putrinya yang sudah menghilang di balik gerbang desa. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menusuk jantungnya. Sebuah firasat buruk bahwa kedatangan orang-orang ini akan membawa awan hitam di atas langit cerah Desa Sukamulya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1
Surti
ini baru seru👍
Bagus Effendik: terima kasih ya kak
total 1 replies
Surti
yang ini lebih menegangkan
Bagus Effendik: wkwkwkkwk seru dong kak🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
asyik sih jadi betah baca💪👍
Bagus Effendik: hehe harus dong🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
ngeri juga bab yang ini👍🤣
Bagus Effendik: hehe 🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
dasar permuda tua-tua mupeng🙏 wkwkkwk👍 mantap
Bagus Effendik: hehe ia tuh Permadi
total 1 replies
Anik Makfuroh
mantap nih penuh ketegangan dan air mata
Anik Makfuroh
siap baru lagi kayaknya seru nih penuh ketegangan👍
Bagus Effendik: benar kak👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
sangat suka 👍👍👍
Bagus Effendik: terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
wow 👍 menegangkan😄🤭
Bagus Effendik: hehe awas baper
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
mantap nih baru
Bagus Effendik: asyiap🤭
total 1 replies
Larasz Ati
walah thor mantap bacaan khusus sebelum bobok ini🤭
Bagus Effendik: hehehe jangan baper tapi kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
menang banyak dong si bagas nih
Bagus Effendik: beneran menang banyak
total 1 replies
Larasz Ati
up terus thor👍👍👍
Bagus Effendik: siap kak
total 1 replies
Larasz Ati
keren si Rizki ini👍
Bagus Effendik: bener cowok sejati👍😄
total 1 replies
Larasz Ati
jadi bingung mau baca yang mana dulu dari novel-novelmu keren-keren sih👍 mantap
Bagus Effendik: baca satu satu kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
luh kok merinding bacanya kasihan laras lah namanya sama aku thor kamu terinspirasi aku ya hayo ngaku😄😄😄😄 👍
Bagus Effendik: awas baper kak hehe🤭
total 1 replies
Larasz Ati
kayaknya lebih seru lagi yang ini
Bagus Effendik: siap kak makasih
total 2 replies
Larasz Ati
wanjay baru lagi nih gerak cepat ya thor🤭
Bagus Effendik: hehe ia kak mumpung ada ide
total 1 replies
Setyo Nugroho
yah jadinya laras sama bagas dong
Bagus Effendik: hehehe kayaknya sih begitu🤭
total 1 replies
Setyo Nugroho
semakin merinding 🤭😄👍
Bagus Effendik: pegangan kak biar nggak jatuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!