NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PENGKHIANATAN DI BALIK PUTIHNYA RUMAH SAKIT

Lantai marmer rumah sakit yang putih bersih tampak berkilat di bawah lampu neon yang pucat. Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung, menciptakan suasana mencekam yang seolah membekukan waktu. Di depan ruang perawatan VIP, Baskara duduk tertunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Bahunya yang tegap tampak layu, terbebani oleh rasa panik dan amarah yang berkecamuk di dalam dadanya.

Di sampingnya, Maya terus terisak. Isakannya terdengar pilu, namun jika seseorang memperhatikan lebih dekat, matanya yang kemerahan tidak memancarkan kesedihan, melainkan kilatan kemenangan yang tersembunyi.

"Mas... bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Ibu?" tangis Maya pecah, ia menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. "Aku tidak menyangka Gendis sejahat itu. Padahal Ibu sudah sangat baik padanya. Dia benar-benar serigala berbulu domba, Mas!"

Baskara tidak menjawab. Pikirannya buntu. Di satu sisi, ia sangat mencintai kelembutan Gendis yang selama ini menjadi penyejuk hatinya. Namun di sisi lain, kesaksian Maya dan botol kecil yang ditemukan di dapur—yang sengaja diletakkan Maya di sana—menjadi bukti yang sulit dibantah.

"Aku akan mengurusnya, Maya. Jika benar dia pelakunya, aku sendiri yang akan menyerahkannya ke polisi," suara Baskara terdengar berat dan serak, penuh dengan kekecewaan yang mendalam.

Tepat saat itu, langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Tap, tap, tap. Bukan suara langkah kaki yang ragu-ragu, melainkan langkah yang penuh keyakinan. Baskara mendongak dan terkejut melihat Gendis berdiri di sana. Gendis tidak lagi memakai piyama. Ia mengenakan setelan blazer hitam yang rapi, rambutnya diikat satu ke belakang, dan matanya tidak lagi sembap oleh tangisan.

Di samping Gendis, berdiri seorang pria muda berkacamata dengan tas jinjing kulit yang tampak profesional.

"Gendis? Beraninya kamu menunjukkan wajahmu di sini!" teriak Maya sambil berdiri menghalangi jalan Gendis. "Mas, lihat! Dia bahkan membawa orang asing ke sini! Apa kamu ingin membungkam kami, Gendis?"

Gendis menatap Maya dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang belum pernah dilihat oleh Baskara maupun Maya sebelumnya. Tidak ada lagi "Siasat Manis" di wajah itu. Yang ada hanyalah harga diri seorang putri yang telah lama terinjak-injak.

"Mas Baskara," suara Gendis tenang, namun setiap katanya memiliki bobot yang kuat. "Aku ke sini bukan untuk berdebat. Aku ke sini untuk memberikan kebenaran. Sebelum kamu mengambil keputusan apa pun, tolong baca ini."

Gendis menyodorkan sebuah map plastik—map yang ia ambil dari gudang tua semalam.

"Apa ini? Surat cerai? Baguslah kalau kamu sadar diri!" sindir Maya mencoba merebut map itu, namun pria di samping Gendis dengan sigap menghalanginya.

"Nama saya Aditama, kuasa hukum Nona Larasati," ucap pria itu dengan suara bariton yang tegas. "Dan dokumen di tangan klien saya bukan sekadar surat biasa. Ini adalah laporan audit asli dari perusahaan Hardianto Tekstil sepuluh tahun yang lalu."

Baskara mengernyitkan dahi. "Hardianto Tekstil? Apa hubungannya dengan ibuku yang sakit?"

"Sangat berhubungan, Mas," potong Gendis. "Karena orang yang kamu sebut istri pertama ini, bersama ayahnya, adalah orang-orang yang telah merampok masa depanku dan membunuh ayahku secara perlahan lewat fitnah korupsi."

Wajah Maya seketika berubah menjadi sepucat kertas. Ia mencoba tertawa, namun suaranya terdengar sumbang. "Mas, jangan dengar dia! Dia sudah gila! Dia hanya ingin mengalihkan isu soal dia yang meracuni Ibu!"

"Soal Ibu..." Gendis melangkah maju, memperpendek jarak dengan Maya. "Bi Sumi melihatmu di dapur tadi malam, Maya. Kamu memegang botol kecil saat Gendis tidak ada di sana. Dan aku tahu, botol itu berisi obat pencahar dosis tinggi yang kamu gunakan untuk menjebakku."

"Bohong! Bi Sumi itu pelayan tua yang pikun!" teriak Maya histeris.

Baskara mulai merasa ada yang tidak beres. Ia mengambil map dari tangan Gendis dan mulai membacanya lembar demi lembar. Matanya membelalak saat melihat tanda tangan Tuan Pratama, ayah mertuanya, pada dokumen transaksi ilegal yang selama ini ia kira dilakukan oleh almarhum Tuan Hardianto.

"Ini... ini tidak mungkin," bisik Baskara. "Papa Pratama... dia yang melakukannya?"

"Iya, Mas. Dan mereka menggunakan uang hasil curian itu untuk membangun kejayaan yang sekarang kamu nikmati," suara Gendis mulai bergetar karena emosi yang tertahan. "Aku masuk ke rumahmu dengan nama Gendis untuk mencari bukti ini. Aku ingin kamu tahu siapa sebenarnya orang-orang di sekitarmu."

Tiba-tiba, pintu ruang VIP terbuka. Dokter keluar dengan wajah yang cukup tenang. "Keluarga Ibu Rahayu?"

Baskara segera menghampiri dokter. "Bagaimana keadaan Ibu, Dok?"

"Ibu sudah melewati masa kritisnya. Sepertinya beliau mengalami keracunan zat kimia ringan yang memicu iritasi lambung akut. Kami sudah melakukan bilas lambung dan menemukan sisa zat pencahar kimiawi di sistemnya. Untungnya dosisnya tidak mematikan, tapi bagi orang seusia beliau, ini sangat berbahaya," jelas dokter tersebut.

Maya mencoba masuk ke dalam kamar, namun Baskara menahan lengannya dengan cengkeraman yang sangat kuat. "Tunggu dulu, Maya."

Baskara menatap istrinya dengan tatapan yang mengerikan. "Tadi kamu bilang, kamu melihat Gendis memasukkan sesuatu ke dalam teh Ibu. Tapi dokter bilang itu zat kimiawi cair, sementara Gendis tadi bilang dia hanya menggunakan rempah asli. Dan Bi Sumi melihatmu membawa botol."

"Mas... kamu lebih percaya pada pelayan dan wanita jalang ini daripada istrimu sendiri?" Maya mulai menangis tersedu-sedu, mencoba taktik lamanya.

"Panggil Bi Sumi ke sini sekarang," perintah Baskara pada asistennya lewat ponsel.

Konfrontasi itu berlangsung selama hampir dua jam di ruang tunggu rumah sakit yang sunyi. Bi Sumi datang dengan gemetar, namun setelah melihat Gendis yang memberinya kekuatan lewat tatapan mata, wanita tua itu menceritakan semuanya. Tentang Maya yang sering bersikap kasar, tentang botol kecil yang ia lihat, dan tentang bagaimana Gendis selalu merawat Ibu Rahayu dengan tulus.

Puncaknya adalah saat Aditama, pengacara Gendis, memutar sebuah rekaman suara dari ponselnya. Itu adalah rekaman percakapan Maya dengan detektif swastanya yang berhasil disadap oleh Aditama.

“Cari seseorang yang bisa memalsukan bukti bahwa Gendis mencoba meracuni Ibu Rahayu. Kita akan menjebaknya sebelum pesta itu dimulai...” suara Maya terdengar jelas di seluruh koridor rumah sakit.

Maya jatuh terduduk di lantai. Dunianya runtuh seketika. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa ia keluarkan untuk membela diri. Kebohongannya telah terbuka lebar, sehina pakaian kotor yang dibuang di jalanan.

Baskara menatap Maya dengan rasa jijik yang tak terhingga. "Pergi, Maya. Keluar dari rumah sakit ini. Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di rumahku lagi. Aku akan mengurus surat perceraian kita secepatnya."

"Mas! Tidak! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!" jerit Maya sambil memeluk kaki Baskara.

Namun Baskara menepisnya dengan kasar. Ia berpaling ke arah Gendis—atau Larasati. Ada rasa bersalah yang teramat besar di matanya. Rasa sakit karena menyadari bahwa selama ini ia mencintai wanita yang ayahnya hancurkan, dan ia telah memperlakukan wanita itu dengan penuh keraguan.

"Gendis... Laras... aku..." Baskara mencoba bicara, namun lidahnya terasa kelu.

Gendis menatap Baskara. Air mata pernikahan yang ia kumpulkan selama ini akhirnya tumpah, namun kali ini bukan air mata penderitaan. Ini adalah air mata pelepasan.

"Aku mencintaimu, Baskara. Itu adalah bagian dari rencanaku yang paling gagal," ucap Gendis lirih. "Aku datang untuk menghancurkanmu, tapi aku justru jatuh ke dalam pelukanmu. Namun, luka sepuluh tahun ini tidak bisa sembuh hanya dengan kata maaf."

Gendis berbalik, melangkah menjauh dari Baskara dan Maya yang masih tergeletak di lantai. Ia tidak menoleh lagi. Ia telah mendapatkan kebenarannya. Ia telah membersihkan nama ayahnya. Dan ia telah membuat musuhnya merasakan apa itu kehilangan yang sesungguhnya.

Di luar rumah sakit, fajar mulai menyingsing. Semburat warna jingga di ufuk timur memberikan harapan baru. Gendis menghirup udara pagi yang segar, membiarkan angin dingin menyapu sisa air matanya.

"Ayah... ini baru permulaan," bisik Gendis. "Aku akan mengambil kembali semua yang mereka curi darimu. Tanpa sisa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!