NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Kertas Kelulusan dan Perpisahan Bisu

​"Sebuah kertas berstempel sekolah ini menjadi tanda bahwa masa putih abu-abu kita telah usai. Bagi mereka, ini adalah gerbang menuju kebebasan dan perayaan. Namun bagiku, lembaran ijazah ini adalah vonis mati. Ia adalah palu hakim yang mengetuk sah bahwa jalan kita telah resmi membelah ke arah yang tak akan pernah bersinggungan lagi. Selamat jalan, Ksatria. Terbanglah yang tinggi, meski sayapmu tak pernah mengizinkanku untuk ikut mengangkasa." (Buku Harian Keyla, Halaman 130)

​Udara pertengahan Juni terasa hangat, namun tanganku sedingin es.

​Hari ini adalah hari Pengumuman Kelulusan sekaligus prosesi Cap Tiga Jari dan pengambilan Surat Keterangan Lulus (SKL) di sekolah. Halaman SMA kami dipenuhi oleh lautan warna-warni kebaya yang anggun dan setelan jas yang rapi. Tawa riang, pelukan hangat, dan kilatan flash kamera ponsel mewarnai setiap sudut. Aroma parfum mahal dan hairspray menguar di udara, menutupi bau debu lapangan yang biasa kami hirup.

​Aku berdiri di dekat koridor lantai satu, mengenakan kebaya kutubaru modern berwarna dusty pink yang dipadukan dengan kain batik lilit. Rambutku disanggul sederhana namun elegan. Di tanganku, terdapat sebuah tabung wisuda berisi kertas kelulusan yang menyatakan bahwa Keyla Anindita telah resmi lulus dengan nilai yang memuaskan.

​Di sisiku, Indra berdiri gagah dengan kemeja batik lengah panjang yang coraknya entah bagaimana terlihat serasi dengan kebayaku—sebuah kebetulan yang sepertinya sudah diatur oleh Siska dan Mama di belakangku.

​"Selamat ya, Key," ucap Indra lembut, menatapku dengan binar bangga. Ia mengulurkan tangannya, menyelipkan sehelai rambut yang keluar dari sanggulku ke belakang telinga. "Nilaimu bagus banget. Kamu pasti gampang masuk universitas pilihanmu."

​"Makasih, Ndra. Selamat juga buat kamu," balasku dengan senyum simpul.

​Lidya dan Bella berlari menghampiri kami, saling berpelukan dan melompat-lompat kecil dengan sepatu hak tinggi mereka. Siska menyusul dengan langkah anggun, kebayanya yang berwarna hijau emerald membuatnya terlihat memukau.

​"Akhirnya kita bebas!" jerit Bella heboh. "Habis ini kita harus foto studio bareng-bareng! Indra, lo ikut kan?"

​"Pasti dong," jawab Indra sambil tertawa.

​Di tengah hiruk-pikuk kebahagiaan itu, mataku mengkhianati logikaku. Tanpa bisa dicegah, pandanganku menyapu ke sekeliling lapangan, menembus kerumunan siswa-siswi yang sedang berfoto. Aku mencari-cari satu sosok. Sosok yang entah apakah akan hadir hari ini atau tidak.

​Setelah insiden di Prom Night, aku benar-benar tak pernah melihatnya lagi.

​"Kamu nyari siapa, Key?" teguran halus Siska membuyarkan fokusku. Siska menatapku dengan mata menyipit di balik kacamatanya. Ia lalu mengikuti arah pandanganku.

​Dan tepat di saat itu, sosok yang kucari muncul dari arah gerbang sekolah.

​Napas di tenggorokanku tercekat. Jantungku yang tadinya berdetak datar, seketika memompa darah dengan brutal.

​Rendi berjalan memasuki area sekolah.

​Ia tidak mengenakan jas mahal atau kemeja sutra. Ia hanya mengenakan kemeja batik lengah pendek yang warnanya sudah memudar dan celana bahan hitam lurus. Sepatunya bersih, meski kulit sintetisnya sudah banyak yang terkelupas.

​Namun, ada yang berbeda darinya hari ini.

​Langkah kakinya tidak lagi terseret. Bahunya yang lebar tidak lagi merosot. Ia berjalan dengan tegap, punggungnya lurus. Wajahnya yang tegas dan bersudut tak lagi memancarkan aura keputusasaan yang kelam. Di balik kesederhanaan pakaiannya, ia memancarkan wibawa seorang laki-laki yang telah berhasil menaklukkan badai terburuk dalam hidupnya.

​Lidya dan Bella ikut menoleh, menyadari perubahan suasana.

​"Ya ampun, dia masih berani datang ke sekolah setelah jadi pelayan di acara prom kita?" cibir Bella dengan suara pelan, namun cukup tajam. "Gue kira dia bakal ngambil ijazah lewat pos saking malunya."

​Siska tersenyum sinis. "Biarkan saja, Bel. Ini kan hari terakhir dia bisa menginjakkan kaki di tempat yang sama dengan kita. Habis ini, dia bakal kembali ke habitat aslinya di jalanan."

​"Siska, cukup," desisku pelan, suaraku bergetar menahan amarah dan tangis yang mendesak. "Ini hari kelulusan. Tolong jangan hina dia."

​Siska mengangkat bahunya dengan elegan, tak peduli. Indra yang menyadari keteganganku perlahan merangkul bahuku pelan, berusaha memberikan kenyamanan.

​Rendi tidak bergabung dengan kerumunan. Ia berjalan lurus menghindari keramaian, menuju ruang guru untuk mengambil Surat Keterangan Lulus-nya. Ia mengabaikan tatapan aneh atau bisik-bisik dari beberapa siswa yang mengenalinya sebagai pelayan katering malam itu. Harga dirinya telah berevolusi menjadi sebuah ketidakpedulian yang kebal terhadap cibiran.

​Tak lama kemudian, Rendi keluar dari ruang guru. Di tangannya terdapat map berlambang sekolah kami.

​Saat ia keluar, Pak Budi dan Bu Endang mengikutinya dari belakang. Senyum lebar menghiasi wajah kedua guru kami itu.

​"Rendi!" panggil Bu Endang dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh beberapa siswa di koridor, termasuk kelompokku.

​Rendi berbalik dan mengangguk hormat. "Iya, Bu?"

​Bu Endang menghampirinya, menepuk bahu Rendi dengan penuh rasa haru. "Ibu sangat bangga padamu, Nak. Nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolahmu luar biasa. Terutama Fisika dan Matematika. Kamu membuktikan bahwa nilai dua puluh delapan waktu itu hanyalah sebuah sandungan kecil."

​Pak Budi ikut tersenyum lebar. "Dan selamat untuk pengumuman SNMPTN jalur Bidikmisi hari ini, Ren. Diterima di Fakultas Teknik Sipil Universitas Negeri terbaik di Jakarta dengan beasiswa penuh. Itu pencapaian yang sangat luar biasa. Nanda pasti sangat bangga punya kakak sepertimu."

​Mendengar pengumuman dari Pak Budi, suasana di sekitarku seolah membeku.

​Teknik Sipil. Universitas Negeri terbaik. Beasiswa penuh.

​Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos, menetes membasahi pipiku yang ber- makeup. Dadaku membuncah oleh rasa haru, bangga, dan kelegaan yang luar biasa besar. Ya Tuhan, ia berhasil. Segala penderitaannya, segala darah dan keringatnya menjadi kuli, semua usahaku memaksanya belajar dan menekan egonya dengan uang tujuh juta itu... semuanya tidak sia-sia. Ia berhasil mematahkan takdir kemiskinannya. Ia akan menjadi seorang Insinyur. Nanda akan memiliki masa depan yang cerah.

​Di sekelilingku, Bella dan Lidya terdiam kaku. Mereka shock berat. Deandra yang tak sengaja lewat juga mematung dengan mulut sedikit terbuka. Laki-laki yang mereka hina sebagai 'sampah' dan 'babu', baru saja diterima di fakultas paling bergengsi yang bahkan tak bisa ditembus oleh anak-anak kaya di sekolah ini meski menggunakan uang jutaan rupiah untuk bimbingan belajar.

​Siska terdiam seribu bahasa. Wajahnya menegang. Untuk pertama kalinya, Siska kehilangan kata-kata racunnya. Realita baru saja menampar arogansi kelas sosialnya dengan sangat telak. Rendi tidak kembali ke jalanan; Rendi justru melangkah ke tempat yang jauh lebih tinggi.

​Rendi tersenyum pada Pak Budi dan Bu Endang. Senyum yang sangat tulus dan melegakan.

​"Ini semua berkat doa dan bimbingan Bapak dan Ibu Guru. Dan juga..." Rendi menghentikan kalimatnya sejenak. Sorot matanya sedikit meredup. Ia menelan ludah, "...berkat keajaiban yang Tuhan kirimkan untuk saya."

​Hanya aku yang tahu apa maksud dari 'keajaiban' itu. Dan entah mengapa, mendengarnya menyebut bantuan anonim itu sebagai keajaiban, membuat rasa sakit di dadaku sedikit terobati.

​Setelah bersalaman dan mengucapkan terima kasih pada guru-gurunya, Rendi membalikkan tubuhnya untuk berjalan pulang.

​Jalur yang ia lewati untuk menuju gerbang utama harus melewati koridor tempat aku dan teman-temanku berdiri.

​Jantungku berdetak brutal. Aku melepaskan rangkulan Indra dari bahuku secara perlahan. Aku melangkah maju satu tindak, memisahkan diri dari rombongan Siska, membiarkan diriku berdiri di barisan paling depan. Aku ingin menatapnya. Untuk yang terakhir kalinya.

​Rendi berjalan mendekat. Saat jarak kami tersisa beberapa meter, mata kelamnya terangkat.

​Dan tatapan kami bertabrakan.

​Waktu seakan melambat. Suara kebisingan kelulusan menguap ke udara. Hanya ada aku dan dia.

​Matanya menatapku dari ujung rambut yang disanggul, kebayaku yang indah, hingga ke mataku yang basah oleh air mata. Ia melihat Indra yang berdiri di belakangku. Ia melihat duniaku yang gemerlap.

​Namun kali ini, tidak ada lagi rasa malu. Tidak ada lagi rasa terhina seperti saat ia membawa nampan kotor di Prom Night. Ia menatapku dengan sebuah ketenangan yang sangat dalam. Ketenangan seorang laki-laki yang telah menemukan pijakannya.

​Saat langkahnya membawanya tepat di depanku, ia tidak membuang muka. Ia tidak mempercepat langkahnya.

​Mata elang itu mengunci mataku dalam sebuah kebisuan yang menyayat hati. Di dalam tatapannya yang lekat itu, ada jutaan kata yang tak akan pernah ia ucapkan.

​Aku tahu itu kau, Keyla. Tatapannya seolah berbicara padaku.

​Aku tahu uang itu darimu. Aku tahu rangkuman itu darimu. Aku tahu semua air matamu adalah untukku.

​Napas di kerongkonganku tercekat. Air mataku mengalir semakin deras tanpa bisa kuhentikan. Aku membalas tatapannya, mencoba menyalurkan seluruh perasaanku lewat mataku.

​Berbahagialah, Rendi. Tolong, berbahagialah untukku.

​Tak ada senyum di antara kami. Tak ada lambaian tangan. Tak ada kata perpisahan. Rendi hanya menatapku selama tiga detik yang terasa seperti keabadian. Sebuah tatapan yang penuh dengan rasa syukur yang terkubur oleh harga diri, dan sebuah perpisahan yang tak bisa ditawar.

​Lalu, ia memutuskan kontak mata itu.

​Ia memalingkan wajahnya ke depan, melanjutkan langkahnya dengan tegap melewati koridor, tanpa pernah menoleh ke belakang lagi. Punggungnya yang kokoh perlahan menjauh, berjalan menembus gerbang sekolah, melangkah menuju masa depan yang telah ia rebut paksa dari cengkeraman kemiskinan.

​Ia pergi, membawa separuh jiwaku bersamanya.

​"Keyla?" Indra menyentuh lenganku dengan lembut, wajahnya penuh kekhawatiran melihatku menangis terisak dalam diam. "Kamu... kamu nangis lagi?"

​Aku menggeleng pelan, menghapus air mataku dengan punggung tangan yang bergetar. Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku dengan udara kenyataan.

​"Nggak, Ndra," suaraku parau, namun ada sebuah kelegaan yang aneh di sana. "Aku nggak nangis karena sedih. Aku cuma... aku cuma bangga."

​Siska merapatkan bibirnya, wajahnya terlihat masam. Ia gagal. Rendi membuktikan bahwa Siska salah besar. Namun, harga diri Siska terlalu tinggi untuk mengakuinya. "Keberuntungan aja itu, Key. Jangan terlalu dilebih-lebihkan. Ayo, kita ke studio foto sekarang. Mobilku udah nunggu."

​Aku menatap gerbang sekolah yang kini kosong. Sosok Rendi telah benar-benar menghilang.

​Pesan "jangan ganggu saya" itu telah kulaksanakan dengan sempurna. Aku telah membantunya terbang, meski aku harus mengorbankan diriku sendiri menjadi tanah pijakannya yang tak pernah ia akui.

​"Hari ini kau terbang membawa sayap yang diam-diam kurakit untukmu. Orang-orang melihatmu sebagai laki-laki hebat yang menaklukkan badai, tapi biarlah aku menjadi satu-satunya rahasia di balik senyum legamu hari ini. Selamat tinggal, Cinta Pertamaku. Semoga di kehidupan yang lain, takdir tidak terlalu kejam untuk mengizinkan kita saling menggenggam." (Buku Harian Keyla, Halaman 135)

​Aku berbalik, menghapus sisa air mataku untuk yang terakhir kalinya. Aku menatap Indra yang menungguku dengan setia, lalu menatap ketiga sahabatku. Masa SMA-ku telah berakhir. Tugasku di dalam cerita Rendi telah usai.

​Kini, saatnya aku belajar menyembuhkan diriku sendiri. Belajar melangkah maju dengan sebuah lubang di dada yang mungkin tak akan pernah bisa tertutup seutuhnya. Karena bagaimana pun kerasnya aku mencoba, aku tahu... sebagian dari hatiku akan selalu tertinggal di laci meja kayu di sudut kelas XII-IPA 1 itu.

Bersambung..

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!