Kekacauan dan penderitaan kembali datang, seperti penyakit yang telah mengakar hingga tumbuh semakin ganas. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari di mana haru bahagia dikumandangkan di seluruh penjuru, saat akhirnya Ratu Iblis dan Naga Es berhasil dikalahkan di tangan Xin Fai.
Ibarat api kecil yang membesar dan melahap apapun yang berada di sekitarnya, musuh lama pun mulai menampakkan jati dirinya kembali, mengguncang dunia persilatan setelah beberapa tahun dan kembali dengan membawa bencana yang jauh lebih mengerikan.
Bahkan Rubah Petir pun tak yakin Xin Fai bisa mengalahkan musuh ini dan dibanding melihat Xin Zhan yang merupakan anak tertua dengan kejeniusan tak terbandingi, dia justru menunjuk Xin Chen yang sama sekali takmemiliki bakat dalam bertarung.
Xin Chen yang sering disebut 'anak gagal' berlari melawan takdirnya, menantang langit dan mengukir namanya sendiri dalam benak orang-orang.
Meski sering kalah dari Xin Zhan namun dia tetap bersikukuh menjadi Pedang Iblis kedua. Untuk menjamin perdamaian dengan nyawanya sendiri, walaupun kebanyakan orang yang ingin dia lindungi adalah mereka yang melihatnya sebelah mata.
"Tidak ada kekalahan dalam diriku, aku hanya jatuh untuk menang. Karena pemenang sebenarnya adalah seorang pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 35 - Desa Hantu
"Hei! Aku sedang berbicara dan kalian malah tidak mendengarku?"
"Lanjutkan saja, kami mendengarmu."
"Burung Phoenix adalah lambang dari baja ini, berkepala seperti burung pelikan, berleher seperti ular, berekor sisik ikan, bermahkota burung merak, bertulang punggung mirip naga, berkulit sekeras kura-kura. Warna bulu burung Phoenix memiliki arti dari lima kebajikan, hitam, putih, merah, hijau, dan kuning-"
"Maaf memotongmu, tapi bisa kau jelaskan apa kegunaan dari Baja Phoenix sendiri? Aku lihat kemarin, Baja itu merampas informasi dari seseorang."
"Oh... Itu, Baja Phoenix adalah Baja Pengetahuan. Kau bisa mengetahui apapun yang terjadi di sekelilingmu tanpa harus membuka mata. Mengetahui apa yang dipikirkan musuhmu dan mengambil keputusan tepat dalam membunuhnya." Roh tersebut berjalan pelan, agak menekankan setiap bait kata-katanya. "Tapi... Baja itu mulai kehilangan jati dirinya semenjak jatuh ke tangan yang salah."
"Ke tangan musuh?"
"Ya. suatu saat ketika terjadi perebutan pusaka langit ini, Baja Phoenix dirampas oleh pendekar aliran hitam. Aku tahu segel yang melindungi Baja Phoenix dipatahkan sehingga roh penjaga baja tersebut memilih membelah pusaka ini. Bagian yang telah tercemar oleh ilmu sihir hitam dibuangnya dan kini seperti yang dikatakan dalam artefak itu, pemilik roh itu hanya memegang setengah dari sisa Baja Phoenix dan dia sedang menunggu di Telaga Hijau."
Xin Chen mencerna perkataannya, dalam artian lain kini Baja Phoenix memiliki dua bagian yang saling bertentangan. Yang satunya berada di tangan Lembah Para Dewa, mengorek informasi dari lawannya dan merampas kekuatan spiritual manusia hingga tewas. Satu bagian lainnya masih dijaga oleh roh tersebut. Yang kemungkinan besar sama seperti penjaga Topeng Hantu Darah ini.
"Baiklah, kita harus segera pergi dari sini–"
"Tapi untuk menemukan di mana roh itu menyembunyikan diri sangatlah sulit, ada beberapa petunjuk yang ingin kujelaskan–"
"Demi Para Dewa, lindungilah dua anak kecil ini dari roh jahat!" teriak seorang biksu mengeluarkan mantra pelindung dari sektenya yang seketika membuat penghuni topeng terbakar.
"Arrrgh apa-apaan kau ini--! Hei!"
Mantra tersebut semakin kuat membakar, Xin Chen dan Rubah Petir mencoba menyelamatkan namun semua sudah terlanjur terjadi. Roh tersebut menghilang dari pandangan mereka dalam sekejap mata.
Xin Chen mulai panik, dia belum sempat mendengar petunjuk apa yang ingin dikatakan tadi. Jika benar menemukan kepingan Baja Phoenix sangatlah sulit, roh perempuan itu menjadi satu-satunya kunci untuk pergi ke sana.
"Paman-! Apa yang kau lakukan?!" Xin Chen menahan sedikit nadanya berbicara. Berusaha mengontrol emosi dengan menarik napas panjang.
"Aku hanya menyelamatkan kalian dari roh jahat itu, sekarang kalian sudah bisa tenang."
"Justru kau lah yang membuat kami tidak tenang." Xin Chen sebenarnya tak tega membentak biksu muda tersebut tapi dia sendiri tidak bisa menerima keadaan ini, berkali-kali Xin Chen menarik napas sekedar untuk mengobati keresahan hatinya. Roh tersebut tak muncul-muncul lagi setelah terbakar oleh mantra.
"Maafkan aku, memangnya apa yang terjadi?" Pria itu duduk di sebelah Rubah Petir, dia menundukkan kepalanya merasa gelagat Rubah Petir mencurigakan apalagi kepalanya kini dilindungi oleh tudung jubah.
"Padahal cuaca terik seperti ini, apa kau tidak kepanasan di dalam jubah itu?" tanyanya.
Rubah Petir pergi dari sana, lebih tepatnya terlihat sedang menjauhi biksu muda tersebut.
"Maafkan temanku itu, dia orangnya agak pendiam. Jangan dibawa hati atas sikapnya."
"Begitu, ngomong-ngomong kalian berdua sedang apa di sini? Aku baru pertama kali melihat kalian." Biksu muda mengalihkan tatapan matanya pada kayu nama yang menggantung di baju Xin Chen, menunjukkan marga Xin di sana.
"T-tuan Muda Xin-!? Maafkan aku tidak sopan kepadamu!" Pria itu memohon, takut jika sikapnya tadi mungkin menyinggung.
"Tidak ada yang perlu dipusingkan, ah, sudahlah. Apa kau tahu kapan roh yang kau bakar tadi bisa kembali muncul? Atau dia benar-benar sudah menghilang?"
"Ah... Roh yang tadi, ya?" gumamnya. "Untuk roh tingkat tinggi sepertinya mungkin butuh waktu sepuluh hari untuk kembali mengumpulkan kekuatannya. Memangnya kenapa? Bukankah dia ingin menyakiti kalian tadi?"
"Dia tidak akan melukai siapapun." Xin Chen meralat.
"Tapi aku merasakan energi jahat dari kekuatannya, di sekte kami diajarkan untuk menghapuskan energi jahat seperti itu agar tak menimbulkan masalah ke depannya."
Xin Chen bangun dari tempat duduknya, sedikit menarik senyum. "Tidak selamanya yang kau anggap buruk selamanya akan selalu buruk. Justru orang-orang yang kau anggap baik sering melakukan hal buruk, mereka hanya senang menutup-nutupinya saja."
Kata-kata itu seolah menohok sang biksu muda, dia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya pergi dari tempat itu. Tempat yang digunakannya untuk mengundang para roh dan menghancurkannya dengan kekuatannya.
Xin Chen menarik jangkar kapal hati-hati, langit sudah memasuki waktu petang disertai awan-awan gelap. Malam sebentar lagi akan tiba dan mereka menyewa sebuah kapal kecil agar dapat pergi ke seberang.
Terjadi sedikit perdebatan dengan pemilik kapal ini, sudah hampir beberapa bulan belakangan dia tak pernah lagi mengantarkan pengunjung pergi ke seberang sana karena takut akan wabah yang menyerang desa tersebut. Sedangkan untuk pergi ke sana hanya ada dua cara, yang satu melewati pelabuhan yang jaraknya sangat jauh dari tempat mereka berada atau melewati jalan ini.
"Anak muda, hidupmu masih sangat panjang. Aku tak mau mengantarmu untuk menemui ajalmu di sana.."
"Kakek, aku tak bisa menunda lagi. Ini bayarannya, jika kau takut kau bisa mengantar kami di dekat jembatan saja nanti."
Setelah menyetujui permintaan Xin Chen, kakek tersebut mulai mengayuh perahu. Ombak-ombak kecil menggoyangkan kapal beberapa kali, suara burung laut menggema menimbulkan suasana hening tak berkesudahan.
Xin Chen mendekat ke anjungan perahu, melihat ke arah sebuah daratan kecil yang tampak samar-samar di balik kepulan asap.
"Sial... Itu dia Desa Hantu... Desa Houbi ini... Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Kau tidak perlu membayar."
Jelas saja alis Xin Chen bertaut, jarak ke daratan masih terlampau jauh dari tempatnya berpijak. Rubah Petir menahan tubuhnya, mengiyakan perkataan kakek tersebut.
Rubah Petir menggendong Xin Chen, baru saja kakinya turun dari perahu dan mengambang di atas air perahu tersebut telah berputar balik, tak berniat menoleh walau sedikit saja. Desa Hantu telah menjadi momok menakutkan belakangan ini, siapapun tak ingin mati sia-sia di desa tersebut. Kecuali Xin Chen, dia masih terlihat santai saat Rubah Petir menurunkannya di atas jembatan.
Napas anak itu tersedak saat menghirup udara, baru sebentar saja kepalanya mulai pusing luar biasa, seperti ada sesuatu yang menancap di otaknya. Rasa seperti sedang ditusuk jarum-jarum tajam di kepalanya ini berlangsung agak lama. Xin Chen hampir saja tumbang dibuatnya, untung saja Rubah Petir menangkap tubuhnya dengan sigap.
"Bau darah bercampur dengan racun mematikan, sebenarnya apa yang terjadi di sini?" Rubah Petir bertanya pada dirinya sendiri. Saat sadar bahkan racun tersebut pun ikut mempengaruhi organ dalam siluman sepertinya, Rubah Petir menjadi lebih khawatir.
Dia mencemaskan Xin Chen, tubuh anak itu masih lemah. Mungkin ini alasan mengapa Desa Houbi dikatakan sebagai Desa Hantu. Bau bangkai manusia dan aura jahat yang kental membuat siapapun akan tertekan saat memasuki desa ini.
Xin Chen mengedipkan matanya beberapa kali, menajamkan penglihatannya ke arah kepulan asap di depan mata.
"I-itu... Dia bukannya peracik obat yang pernah aku temui?"
"Oh, ternyata ada dua orang yang masih bisa bertahan dari racun buatan ku ini?"
*
novel kho ping ho
pertahankan terus author...mudah mudahan kesini bikin novel pendekar dengan karakter nusantara
karena ceritanya jadi bertele tele...bikin pusing readers.
emang kasur ada kolongnya, harusnya di bawah kolong ranjang...Thor.