السلام عليكم ورحمة الله وبراكته :)
Selamat datang di novel perdana saya...
Salam kenal semuanya yaa... Semoga para pembaca dapat menikmati karya saya dengan baik.
Novel ini menceritakan tentang seorang dosen wanita disebuah Universitas swasta. Dosen ini merupakan salah satu dosen terfavorit dikampus. Wajah yang anggun, cantik, dan menggemaskan membuat siapa saja yang melihatnya untuk pertama kali tidak percaya jika ia dosen. Selain dosen, ia juga seorang Hafidhoh.
Universitas swasta ini merupakan yang terbaik di Indonesia. Universitas ini dikelola oleh seorang dosen sekaligus rektor yang sangat luar biasa. Keren, tampan, pokoknya luar biasa deh... Ia menggantikan sang ayah yang awalnya menjabat sebagai rektor.
Bagaimana kisah mereka para penjaga hati yang sama-sama menolak untuk dekat atau berhubungan hati dengan lain jenis? Mereka yang sama-sama memiliki keilmuan agama yang kental.
#Muhammad Farhan Al-Faridz
Biasanya dipanghil Faridz oleh Anisa. Dan dipanggil Farhan oleh yang lain.
#Annisa Azzahra
Biasanya dipanggil Anisa/Ica/Anis
Mari kita simak bersama-sama kisah dalam novel ini.
#Selamat membaca
:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lhu-Lhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegagalan Anggun
*Kediaman Farhan
Pagi ini Farhan bisa sedikit lebih santai. Acara penyambutan mahasiswa luar negeri dilakukan setelah zuhur. Farhan kini tengah berenang di kolam renang. Sekedar merileksasikan pikirannya.
"Kak? Main ke rumah Kak Anisa yuk. Udah lama aku gak ketemu". Ujar Husna yang tengah menghampiri Farhan.
"Kak Anisa tuh masih istirahat. Kemarin kan baru pulang dari Jakarta". Jawab Farhan.
"Yaaah". Husna tampak kecewa. Ia pergi meninggalkan Farhan. Mungkin mencari Bundanya.
"Lee?". Panggil Ayah. Beliau duduk di kursi pinggir kolam.
Farhan menghampiri Ayah dan duduk di samping Ayah.
"Ada apa yah?". Tanya Farhan.
"Kemarin Ayah mampir ke rumah Anisa. Lhaa terus Abi Anisa cerita, kalau ada yang sempat ke rumah. Nanyain perihal Anisa. Untungnya waktu itu yang nemuin pekerja mereka. Kalau gak yaa, gak tau deh. Mungkin sedang dalam pertimbangan Anisa". Jelas Ayah.
"Kamu itu gimana? Serius apa tidak sama Anisa. Yang tegas too...". Sambung Ayah.
"Mungkin tamu itu cuma sekedar berkunjung yah". Jawab Farhan.
"Kamu boleh berfikiran positif. Tapi jangan terlalu mendominasi dipikiran mu. Pikirkan juga kebelakangnya". Ujar Ayah.
"Huufft... Farhan harus gimana yah?". Ujar Farhan bimbang.
"Kamu itu serius apa tidak? Jawab dulu pertanyaan Aya". Tegas sang Ayah.
"Iya yah. Farhan serius". Jawab Farhan dengan menunduk.
"Tiga hari lagi kita khitbah Anisa". Ujar Ayah.
"Lho! Yah? Kok buru-buru sih?". Kaget Farhan.
"Lha mau kapan lagi? Nunggu Anisa dipinang orang dulu?". Geram Ayah.
"Anisa pasti nunggu Ical duluan yaah". Ujar Farhan.
"Khitbah cepet belum tentu nikahnya juga cepet Farhan". Jelas Ayah
"Ya sudah. Terserah Ayah". Jawab Ayah.
"Kok terserah? Yang mau nikah kamu atau Ayah?". Tanya Ayah.
"Huufft, iya yah... Iya, Farhan setuju". Jawab Farhan akhirnya.
"Ya sudah. Ayah masuk dulu". Ayah meninggalkan Farhan.
"Apa gak terlalu cepat ya? Ya Allah, jika memang dia diciptakan untuk menjadi jodohku, lancarkan niat baik hambamu ini". Doanya.
"Dingin juga ternyata lama-lama". Farhan berjalan ke kamarnya.
*Kamar Anisa
Anisa tengah mempersiapkan dokumen-dokumen mahasiswa asing yang diperlukan Universitas. Ia sesekali mengetik dengan laptop di pangkuannya dan sesekali mengecek dokumen output. Tiba-tiba terdengar dering gawai Anisa.
"Assalamu'alaikum". Jawab Anisa.
"Wa'alaikumussalam, bagaimana kabarnya Nis?". Tanya Cak Ibil.
"Alhamdulillah baik. Ada perlu apa ya Cak?". Tanya Anisa kembali.
"Emm begini, beberapa minggu yang lalu saya dan keluarga berniat silaturrahmi ke kediaman kamu. Tapi ternyata sedang pergi semua. Kira-kira saya boleh kembali kesana?". Ujar Cak Ibil.
"Emmm, saya... Saya...". Anisa bingung hendak menjawab apa.
"Maaf Anisa, mungkin saya terlalu mendadak. Saya... Saya berniat untuk mengkhitbah kamu". Ujar Cak Ibil.
Anisa benar-benar bingung hendak menjawab apa. Ia hanya diam.
"Anisa?". Panggil Cak Ibil.
"Emmm, mohon maaf Cak Ibil, Anisa... Anisa belum bisa menerima niat baik Cak Ibil. Anisa butuh waktu". Jawab Anisa.
"Saya akan menunggu keputusan kamu Nis, ya sudah saya tutup yaa, Assalamu'alaikum". Ujar Cak Ibil.
"Wa'alaikumussalam". Jawab Anisa dengan lemas sambil senderan di kepala ranjang.
TOK! TOK! TOK!
CKLEK!
"Abi". Ujar Anisa melihat Abinya masuk.
"Sini yah". Sambung Anisa.Ia membereskan peralatan kerjanya. Abi duduk di samping Anisa.
"Kamu masih sibuk?". Tanya Abi.
"Gak kok bi, tinggal sedikit. Ada apa bi? Tumben nyamperin Anisa ke kamar". Ujar Anisa.
"Abikan kangen sama anak Abi". Jawab Ayah.
Anisa merangkul lengan Abi dan menyenderkan sisi kepalanya pada lengan Abi.
"Kamu kenapa?". Tanya Abi heran Anisa murung. Anisa hanya menggelengkan kepalanya.
"Beberapa waktu lalu Cak Ibil dan keluarganya datang ke rumah, yaaa walaupun tidak sempat bertemu Abi atau yang lainnya. Si Mbok yang menemui mereka. Orang tuanya banyak menanyakan tentang kamu kepada Si Mbok". Ujar Abi panjang lebar.
"Huufft,tadi Cak Ibil juga nelpon Anisa". Ujar Anisa dengan membuang nafas beratnya.
"Kok bisa punya nomor kamu? Kamu ngasih kedia?". Tanya Abi.
"Ndak, Kak Ical yang ngasih". Jawab Anisa.
"Semua terserah sama kamu sayang. Pilih yang menurut kamu itu yang terbaik. Tapi jangan terlalu banyak memilih. Tak ada yang sempurna di dunia ini melainkan sang penciptanya". Ujar Abi dengan mengelus kepala Anisa.
"Anisa minta waktu dulu bi". Ujar Anisa.
"Iyaa sayang. Kamu punya Allah. Apapun itu, minta ke Allah. Gusti Allah yang punya semuuuua hal di dunia ini". Nasehat Abi.
"Terima kasih bi". Ujar Anisa dan memeluk Abi.
"Oh iya, kamu masih ingat sama pembicaraan Abi ditelpon waktu kamu di Jakarta?". Tanya Abi.
"He'em". Jawab Anisa.
"Tiga hari lagi mereka akan datang". Ujar Ayah.
"Ayaaah, datang satu aja Anisa dah bimbang. Kenapa datang lagi". Keluh Anisa.
"Kamu punya Allaah sayang, minta bantuan dengan sang Gusti". Ujar Abi.
"Ya sudah, kamu lanjutkan kerjaannya. Abi mau keluar". Sambung Abi.
Anisa mengangguk. Abi pun meninggalkan kamar Anisa. Anisa melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit. Selepas itu, ia bersiap untuk sholat zuhur.
Seperti biasa, mereka sekeluarga melaksanakan sholat berjamaah. Tanpa Faisal. Sebab ia masih berada di kantor.
Anisa sudah siap dengan gayanya. Sederhana, tapi begitu pas untuk dirinya.
"Makan dulu sayang". Ujar Bunda ketika melihat Anisa turun dari tangga.
"Gak usah Mi, Anisa masih kenyang kok. Nanti juga dapat makanan dari kampus". Jawab Anisa.
"Ya sudah. Jangan lupa makan siang pokoknya. Anaknya Umi berangkat sama siapa?". Tanya Umi.
"Sendiri dong Mi, sama siapa lagi? Anisa pamit yaa, assalamu'alaikum". Pamit Anisa dengan mencium pipi Umi dan Abi yang kebetulan baru nongol.
"Wa'alaikumussalam". Jawab Umi dan Abi.
Anisa berangkat ke kampus dengan mini coopernya. Rasanya sudah lama sekali tak menaiki mobil kesayangannya.
Bergelut dengan jalanan kota Jombang, akhirnya ia sampai di Universitas Islam Harapan Bangsa. Ia mengambil beberapa tumpuk dokumen untuk dibawa ke ruang BIPA.
"Assalamu'alaikum Anisa". Sapa Haris.
"Wa'alaikumussalam". Jawab Anisa dengan sedikit memberi senyuman untuk menghormati beliau.
"Boleh saya bantu?". Tawarnya.
"Tidak usah pak. Terima kasih, saya masih bisa sendiri". Jawab Anisa.
"Tidak usah sungkan, mari saya bantu". Ujar Pak Haris dengan sedikit memaksa mengambil beberapa dokumen yang dibawa Anisa.
"Mari". Ujar Pak Haris.
Mau tak mau Anisa menerima permintaan tolong beliau. Anisa berjalan dahulu. Tapi, Pak Haris mencoba menyamakan langkahnya dengan Anisa.Mereka menuju kantor, sebelum Anisa menghampiri para mahasiswa.
Tak jauh dari mereka ada seseorang yang tengah memperhatikan Anisa. Farhan, ia tak sengaja datang dahulu dan diiringi Anisa setelahnya.
"Jelas-jelas Anisa gak mau dibantuin. Masih maksa aja". Gerutu Farhan.
Farhan pergi ke ruangannya sebelum mengikuti acara penyambutan mahasiswa asing.
Ting! Suara pesan masuk di gawai Farhan.
"Nomor siapa ini? Kenapa ngirim foto Anisa sama Pak Haris?". Gumam Farhan.
Tak ambil pusing. Ia abaikan pesan itu. Farhan pergi ke ruang pertemuan BIPA.
Di tempat lain, Anggun tengah tertawa puas. Membayangkan Farhan murka setelah melihat foto yang telah ia kirimkan. Dari mana ia mendapatkan nomor Farhan? Jelas saja dari rekan satu kantornya. Ia beralasan ada urusan bisnis.
Anisa kemana yaa? Kini Anisa sedang memastikan para mahasiswa siap untuk melakukan acara penyambutan. Mereka sedang berkumpul di sebuah ruangan sebelah ruang rapat. Anisa memberikan arahan kepada mereka agar acara penyambutan berjalan dengan lancar.
Acara hendak dimulai. Farhan dan para wakil rektor memasuki ruangan pertemuan. Acara sambutan, dan petuah-petuah dari para petingi Universitas satu persatu disampaikan. Di sambung dengan sambutan perwakilan penyelenggara program BIPA. Diakhiri dengan pengenalan diri para mahasiswa.
Setelah beberapa waktu, akhirnya acara penyambutan selesai. Anisa mengajak para mahasiswa ke ruangan sebelah.
"Alhamdulillah. Akhirnya acara berjalan dengan lancar. Bagaimana perasaan kalian?". Tanya Anisa.
"Luar biasa kak. Sangat menantang. Saya ingin cepat melakukan pembelajaran. Agar segera bertambah pengetahuan saya". Jawab Hasan.
"Setuju kak. Saya juga". Sambung Rukhin. Disambut anggukan dari yang lainnya.
"Pak rektor juga sangat luar biasa. Beliau sangat mendukung dan memotivasi. Ganteng lagi". Ujar Jasyi.
"Itu sih kamu aja yang ngefans sama pak rektor". Sambung Hasna. Anisa hanya tersenyum menanggapi.
"Ya sudah. Cukup sampai disini dulu acara kita. Kalian masih mau berkumpul? Silahkan. Saya duluan ya". Ujar Anisa.
"Siap kak. Sampai bertemu di pembelajaran kelas". Jawab Eiji.
"Oke! Pertahankan semangat kalian. Mari, saya duluan". Ujar Anisa. Ia keluar ruangan untuk kembali ke kantornya untuk mengambil beberapa berkas.
"Anisa?". Panggil Pak Haris.
"Iya pak? Ada yang bisa saya bantu?". Tanya Anisa.
"Saya mau ngomong sesuatu sama kamu. Boleh?". Tanya Pak Haris.
"Sikahkan, disini saja". Ujar Anisa.
"Boleh di dekat pagar itu?". Tanya Pak Haris menunjuk pagar pinggiran gedung. Anisa mengangguk.
"Ehm! Begini Anisa. Sayaa, sayaa, saya ingin mengajak kamu ta'aruf. Saya ingin meminang kamu nantinya". Ujar Pak Haris.
"Kalau kamu gak mau ta'aruf, saya siap kok untuk meminang kamu". Sambungnya.
"Mohon maaf pak. Saya,... ". Ucap Anisa terputus.
"Tidak usah dijawab dulu tidak apa-apa. Saya siap menunggu. Terima kasih. Saya permisi". Ujar Pak Haris dan pergi meninggalkan Anisa.
"Huufft. Aneh banget sih". Gumam Anisa.
Ia mengambil berkasnya ke kantor dan segera menuju ke parkiran.
"Mau pulang sama saya?". Tanya Farhan yang berjalan di samping Anisa menuju parkiran.
"Kalau saya pulang bareng sama mas Faridz, mobil saya nantinya gimana?". Jawab Anisa.
"Ditinggal saja. Nanti biar diambil sama mang Darma". Ujar Farhan.
"Suka banget dah kerja dua kali. Saya duluan mas, Assalamu'alaikum". Jawab Anisa.
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati Nis". Ujar Farhan.
"Siap kaka". Jawab Anisa.
Mereka berpisah menuju kediaman masing-masing.
"Kok mereka biasa saja sih? Perasaan aku udah ngirim foto Anisa ke Mas Rektor". Gerutu Bu Anggun.
Ia begitu sebal. Bisa-bisanya mereka biasa saja seperti tak terjadi apapun.
Bersambung....
Novel yg kubaca rata rata selalu visual nya artis manca negara.
Kalau gak Korea,China atau Turki.Toh orang lokal pun cantik cantik dan tampan.👍👍👍
selain hiburan baca novel sambil nuntut ilmu juga