Ongoing
Lady Anastasia Zylph, seorang gadis muda yang dulu polos dan mudah dipercaya, bangkit kembali dari kematian yang direncanakan oleh saudaranya sendiri. Dengan kekuatan magis kehidupan yang baru muncul, Anastasia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya yang jahat dan memulai hidup sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Angin malam perbatasan utara membawa bau logam yang pahit bau darah yang tidak sepenuhnya hilang sejak serangan terakhir. Di teras batu hitam Benteng Arcturus, obor-obor menyala redup, bergetar seperti napas terakhir dari api yang mencoba melawan udara beku. Anastasia berdiri sendirian di tepian teras itu, mantel wol putih terulur sampai ke tumitnya, rambut pirang keemasannya tertiup angin hingga sedikit menampar pipinya. Cahaya bulan pucat jatuh di wajahnya, tetapi matanya kosong terlalu banyak yang menumpuk dalam kepalanya.
Ia baru saja kembali dari ruang pengobatan, tangan masih gemetar setelah menyembuhkan anak buah Aloric yang hampir mati. Tubuhnya kuat, tetapi hatinya… mulai pecah sedikit demi sedikit. “Lady Anastasia.” Suara itu datang dari belakang dalam, berat, dingin… tapi untuk pertama kalinya sejak ia mengenalnya, terdengar ragu. Anastasia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. “Duke.”
Langkah Aloric terdengar tegas di lantai batu. Meski ia tidak memakai baju tempur, hanya mantel bulu hitam dan kemeja gelap, aura dominannya tetap sama menekan, kuat, dan membuat udara seolah ikut menahan napas. Ia berdiri di sampingnya, cukup dekat hingga Anastasia bisa merasakan panas tubuhnya meski angin di sekitar mereka membekukan tulang. “Kau memaksakan dirimu lagi,” ujar Aloric, tatapannya mengarah ke pegunungan bersalju jauh di depan. “Aku tidak memintamu menyembuhkan semua pasukanku.”
“Aku tidak melakukannya untukmu,” jawab Anastasia pelan. “Aku melakukannya karena mereka menderita.”
“Dan kau sekarat sedikit demi sedikit setiap kali menggunakan sihirmu.”Keheningan jatuh. Hanya angin yang bersuara. Anastasia memejamkan m ata. “Aku sudah mati sekali, Duke. Aku tidak takut mati lagi.”
“Mati karena pilihanmu berbeda dengan mati karena dipaksa situasi.” Suara Aloric semakin rendah. “Aku tidak akan membiarkanmu jatuh untuk alasan yang tidak berguna.” Anastasia membuka mata dan menoleh padanya. “Bagiku menyelamatkan mereka bukan ‘tidak berguna’.” Mata hitam itu menatap langsung ke dalam dirinya menembus, menghukum, menguliti.
Lalu Aloric menghela napas. Bukan napas marah. Napas... lelah? Itu baru. “Aku tidak menyuruhmu berhenti,” katanya akhirnya. “Aku hanya… tidak ingin melihatmu terluka.” Jantung Anastasia berdegup bukan karena romantis.
Karena kalimat itu terasa terlalu jujur untuk seorang pria seperti Aloric Silas yang dinginnya melampaui dinding es Arcturus. Ia segera memalingkan wajah. “…kau akan membutuhkan pasukanmu dalam keadaan terbaik,” katanya. “Peperangan berikutnya tidak akan mudah.”
“Kita berperang setiap hari di tempat ini,” jawab Aloric hambar. “Tapi ancaman yang datang sekarang berbeda.” Ia menatap jauh. “Pasukan Putra Mahkota bergerak diam-diam. Mereka memakai sihir gelap yang sama dengan yang kau lihat di lembah utara.” Anastasia menggenggam mantel di dadanya. “Sihir itu…” ia bergumam, “bukan dari dunia ini.”
“Aku tahu.” Aloric menatapnya. “Dan aku tahu kau tahu jauh lebih banyak daripada yang kau katakan.” Anastasia membeku. Dia menyadari. “Apa maksudmu?” suaranya setenang mungkin. “Kau mengetahui asal sihir itu,” jawabnya datar. “Dan setiap kali aku menyebut Putra Mahkota… kau menegang. Kau menyembunyikan sesuatu.”
Anastasia menghindari tatapan Aloric. Ia tidak bisa memberi tahu semuanya. Belum. Tidak sampai ia memastikan siapa musuh sebenarnya. Tidak sampai ia benar-benar memahami kenapa kembalinya ia ke masa 18 tahun adalah bagian dari sihir kuno yang sudah lama hilang dari dunia. “Aku tidak menyembunyikan apa-apa,” katanya pelan.
Aloric menyipitkan mata. “Aku benci pembohong, Anastasia.” Namun ia tidak memaksa. Dan itu membuat dada Anastasia semakin sesak. Keheningan kembali menyelimuti mereka hingga suara langkah bergegas terdengar dari arah pintu teras. “DUKE!”
Itu suara Cayle, tangan kanan Aloric. Aloric langsung berbalik, suaranya berubah dingin. “Apa yang terjadi?” Cayle berhenti, membungkuk tergesa-gesa. “Laporan dari pos penjaga! Ada pembantaian di lembah timur. Sihir gelap… menyebar seperti miasma. Korban mayat hidup…”
Anastasia menutup mulutnya bayangan masa hidup pertamanya muncul di kepalanya. Korban-korban yang bergerak meski jantung mereka sudah berhenti. Sihir terlarang paling mematikan. Sihir yang dulu digunakan Theodora. Sihir yang sekarang… dipakai Putra Mahkota. “Mereka mengincar wilayah kita,” lanjut Cayle. “Dan… ada pesan khusus.”
“Pesan?” Aloric mengangkat alis. Cayle menelan ludah. “Untuk Lady Anastasia.” Anastasia menegang. Aloric bergerak cepat mendekatinya selangkah, tubuhnya seperti dinding besar yang menghalangi angin. “Apa isinya,” tanya Aloric, suaranya tajam.
Cayle menyerahkan gulungan kertas. “Mereka bilang… bila Lady Anastasia tidak menyerahkan diri dalam tiga hari, mereka akan melepaskan pasukan sihir gelap ke desa-desa di bawah perbatasan.” Anastasia merasakan dunia seolah jatuh membeku. “Berikan padaku.” Ia meraih gulungan itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membuka gulungan. Tulisannya… ia kenal. Tangan seseorang yang seharusnya tidak hidup lagi. Theodora. Tubuh Anastasia terasa ambruk dari dalam. Di kertas itu tertulis:
“Adikku yang manis.Dunia tidak akan menyelamatkanmu. Kembalilah, atau semua akan mati karenamu.”
Anastasia menahan napas, mata mulai berkaca-kaca bukan karena takut, tetapi karena amarah yang sudah lama terkubur. Dia kembali. Dia benar-benar kembali. Aloric meraih gulungan itu dari tangannya tanpa izin dan matanya berubah gelap, sangat gelap. “Siapa ini?” tanya Aloric. “Siapa yang menyapamu seperti itu?” Anastasia menatapnya, detik demi detik, sebelum menjawab “…kakakku.”
Aloric tampak tercengang sesaat kejutan kecil yang jarang muncul di wajahnya. “Kakakmu yang… membunuhmu?” suaranya mengeras, seperti seseorang yang hendak menghancurkan dunia. Anastasia mengangguk pelan. Dan di saat itu, sesuatu pecah dalam diri Aloric bukan amarah semata, tapi kemarahan yang dibalut perlindungan. “Tidak ada seorang pun,” katanya perlahan, “yang menyentuh orangku… tanpa melewati mayatku."
Deg.
Anastasia tersentak. “Orangmu?” Aloric menatapnya seolah itu adalah fakta yang tidak perlu dibantah. “Kau menghidupkanku. Kau tinggal di wilayahku. Kau berada di bawah perlindunganku. Maka kau adalah orangku.” Anastasia menggigit bibir campuran takut, tersentuh, dan bingung. “Aku tidak membutuhkan—”
“Terlambat.” Aloric memotong, suaranya berat seperti guntur yang jatuh. “Siapapun yang mengincarmu… mengincarku.” Angin berhembus kencang, seolah merespons sumpah itu. Anastasia menunduk, napasnya bergetar. “Duke… ini bukan hanya tentangku. Sihir gelap itu… kakakku… semuanya lebih berbahaya daripada yang kau pikirkan.”
“Kalau begitu,” Aloric menatap lurus padanya, “biarkan aku memikirkannya bersamamu.” Itu pertama kalinya seseorang mengatakan kalimat itu padanya. Dalam dua kehidupan. Anastasia memejamkan mata dan setetes air mata jatuh tanpa ia sadari.
Aloric melihatnya. Tapi ia tidak menghapusnya. Ia hanya berdiri lebih dekat, sedikit. Cukup dekat untuk memberi kehangatan tanpa menyentuh. “Mulai malam ini,” katanya, “aku akan mempersiapkan strategi melawan kakakmu dan Putra Mahkota.”
“Dan aku?” tanya Anastasia lirih. “Kau?” Aloric menatapnya dengan intens. “Kau akan tetap di sisiku. Bahkan bila kau mencoba melarikan diri.” Anastasia mendongak tajam. “Kenapa begitu?” Aloric menjawab tanpa keraguan “Karena aku tidak akan kehilanganmu lagi.”