NovelToon NovelToon
Membawa Benih Suami Kontrakku

Membawa Benih Suami Kontrakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Pernikahan Kilat / One Night Stand / Anak Genius / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sagitarius28

"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua

"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu

"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen

Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.

Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.

Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBSK 24

"Ji Chan, ayo turun! Berapa kali Abang bilang jangan dekat-dekat sama orang asing, apalagi sampai di gendong segala," pekik Jun Jie saat melihat adiknya digendong oleh Daddy Jinhao.

Bocah lelaki itu sangat takut jika ada seseorang yang hendak menyakiti adiknya. Sudah pasti hal itu akan membuat Mommy nya sedih jika ada hal buruk yang menimpa sang adik. Dan Jun Jie tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia berjanji akan menjadi perisai bagi Mommy dan adiknya mengingat dirinya adalah sosok lelaki satu-satunya di keluarganya.

Apapun akan Jun Jie lakukan karena dia sudah bertekad untuk menjaga dan melindungi orang yang dia sayangi dari mala petaka. Jadi ... tidak jarang jika Jun Jie bersikap posesif pada dua wanita yang berbeda generasi itu, terutama pada Ji Chan yang harus dia jaga ketat karena sang adik sedikit centil terlebih bola matanya tidak bisa dikendalikan ketika melihat orang tampan. Pasti matanya terbuka lebar sampai-sampai ingin lepas dari kelopaknya.

Jun Jie sendiri bingung kenapa sang adik memiliki sikap bar-bar dan centil terhadap kaum adam. Padahal Mommy nya juga tidak seperti itu, apa itu karena sang Mommy pernah membenci seseorang sewaktu hamil dulu hingga terciptalah manusia bar-bar dan secentil Ji Chan.

"Yanshen ... bocah itu, mirip sekali dengan Yanshen. Bahkan tidak ada pembeda sedikitpun dari wajah itu." Daddy Jinhao tersentak melihat kedatangan Jun Jie, terutama wajahnya yang sangat mirip dengan Yanshen. Bagaikan pinang dibelah dua, tidak ada perbedaan diantara mereka berdua.

"Jun Jie ... kemari lah Nak." Daddy Jinhao berusaha mensejajarkan posisi tubuhnya yang saat ini masih menggendong Ji Chan, kemudian salah satu tangannya dia rentangkan berharap bocah lelaki itu berlari dan memeluknya.

Namun, harapannya pupus sudah karena Jun Jie hanya berdiam dengan tatapan penuh selidik ke arahnya. Sorot matanya begitu tajam bagai belati yang dapat menembus jantungnya.

"Abang ... ayo sini. Kenalkan ini Opa, Opa kita Abang," seru Ji Chan memanggil Jun Jie agar mendekat ke arahnya.

"Opa ...." Jun Jie mengerutkan alis dalam sambil menatap lelaki paruh baya itu dengan tatapan datar, dingin, dan menusuk khas predator yang sedang mengamati mangsa. Meyakinkan dirinya bahwa lelaki di hadapannya ini tidak berbisa bagi keluarga kecilnya.

"Iya, ini Opa Nak." Daddy Jinhao mengangguk.

"Ji Chan cepat turunlah. Jaga sikap mu dan ingat jangan bersikap centil lagi sama laki-laki, terutama pada orang asing. Kamu mengerti tidak?" Jun Jie kembali berseru menyuruh saudara kembarnya agar turun dari gendongan Daddy Jinhao.

"Issh, Abang ini kenapa sih marah-marah terus. Entar cepat tua loh bang kayak Opa. Lihat tuh wajah Opa udah keriput kayak sayuran yang sudah layu," gerutu Ji Chan yang kesal dengan sikap posesif Abangnya.

"Ck, sudah cepat turun jangan banyak tanya." Jun Jie memutar malas bola matanya sambil menarik lengan adiknya.

"Jun Jie, kenapa kamu ngomong seperti itu? Opa bukan orang jahat Nak, jadi kamu tidak perlu takut sama Opa," ucap Daddy Jinhao berusaha menenangkan cucu laki-lakinya.

"Kalau anda bukan orang jahat, lalu mana Mommy? Kenapa anda mau bawa Ji Chan dan Mommy? Mau tinggalin Jun Jie dan nenek sendirian?" pekik Jun Jie dengan tatapan nyalang sontak membuat Daddy Jinhao kebingungan.

"Tenanglah Nak, jangan khawatir. Mommy kamu lagi keluar sebentar, nanti juga balik lagi kesini sama Daddy kamu. Tunggu saja disini sama Ji Chan, Opa yang akan menemani kalian," ucap Daddy Jinhao lembut berharap emosi cucunya segera mereda.

'Anak ini persis sekali dengan Yanshen, kalau marah langsung meledak tidak kenal waktu.' Daddy Jinhao terus menatap wajah cucunya itu yang nampak murka.

"Nggak, anda pasti bohong kan. Bilang aja mau bawa Mommy pergi jauh dari sini, setelah itu mau bawa Ji Chan biar gak ketemu lagi sama Jun Jie. Asal anda tahu, Daddy saya sudah lama meninggal. Tidak mungkin orang sudah meninggal hidup kembali." Jun Jie menggelengkan kepalanya cepat tidak ingin mendengar ucapan lelaki paruh baya itu.

"Pokoknya kembalikan Mommy ku sekarang!" Lanjutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Hal itu tentu saja membuat Daddy Jinhao dilanda rasa kebingungan melihat sikap Jun Jie yang keras kepala seperti putranya.

Setiap kemauannya harus segera dituruti, tidak menerima penolakan apapun, jika menginginkan sesuatu harus segera tercapai detik itu juga. Jika tidak, amarahnya akan meledak.

Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu pula dengan Jun Jie yang dominan menuruni sikap Yanshen.

"Abang bisa diam nggak sih? Sini duduk dulu di sofa sama Ji Chan." Ji Chan segera turun dari gendongan Daddy Jinhao, kemudian mendaratkan tubuh gemoy nya di atas sofa sambil menepuk sofa yang kosong di sampingnya.

Tak lama Jun Jie berjalan mendekat ke arah Ji Chan, kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sofa tepat saudara kembarnya.

Sementara Daddy Jinhao ikut duduk di depan Ji Chan. Tak hentinya kedua netranya terus memperhatikan Jun Jie yang keras kepala itu.

"Abang nggak usah khawatir. Mommy cuma keluar beli Marshmallow nya Ji Chan kok. Bentar lagi juga pulang dan bawa cemilan yang banyak buat kita." Lanjutnya berusaha menenangkan saudara kembarnya yang sedang dilanda amarah.

"Stop Ji Chan. Bisa nggak sih kamu berhenti mikirin makanan mulu. Kamu nggak takut apa kalau Mommy dibawa pergi jauh dari kita? Emang kamu mau jadi anak yatim piatu, hah?" sentak Jun Jie dengan kilat penuh amarah. Bocah laki-laki itu tidak dapat meredam emosinya jika menyangkut Mommy dan adiknya. Karena dia tidak ingin kehilangan seseorang yang dia sayang, cukup dia kehilangan Daddy nya saja jangan kehilangan sosok dua perempuan yang dia sayangi.

"Abang terlalu negatif thinking deh. Dibilang Mommy pergi sama Om ganteng nggak percaya. Ya udahlah, sana cari sampai dapat." Ji Chan mengerucutkan bibir sambil bersedekap membelakangi saudara kembarnya.

"Abang tahu nggak, Om ganteng itu wajahnya mirip banget loh sama Abang. Warna matanya juga sama bang, kulitnya juga putih sama kayak abang dan Ji Chan." Tanpa peringatan Ji Chan memukul paha Abangnya yang baru saja teringat sesuatu.

Disela percekcokan kedua bocah itu, tiba-tiba datanglah seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari kamarnya. Wanita itu tak lain adalah Jiao, Ibu kandung Lin Wu.

"T- tuan Jinhao ... bagaimana bisa anda disini?" Jiao membelalakkan mata ketika melihat sosok yang dia kenal sedang berada dalam rumahnya.

Bagaimana tidak terkejut, sekian lama tidak bertemu namun takdir mempertemukan kembali dengan besannya itu. Jujur ada rasa takut yang menyergap dirinya saat mengingat bagaimana perlakuan keluarga konglomerat itu pada putrinya. Namun, sebisa mungkin wanita paruh baya itu membunyikan amarahnya karena tidak mungkin dia marah di hadapan kedua cucunya itu.

Daddy Jinhao menundukkan kepala sebagai sapaan pada besannya itu.

"Ibu Jiao, bagaimana kabar anda?" Bukannya menjawab ucapan Jiao, justru lelaki paruh baya itu melayangkan pertanyaan pada Jiao.

"Saya baik-baik saja Tuan, seperti yang anda lihat sekarang ini," jawab Jiao sambil mendaratkan bobot tubuhnya di sofa dengan posisi berhadapan.

"Jun Jie, mana Mommy kamu? Cepat kamu panggil kalau di luar ada Tuan Jinhao," seru Jiao pada cucunya yang tidak mengetahui bahwa putrinya telah keluar bersama Yanshen.

"Mommy sedang pergi beli Marshmallow. Nenek tenang saja, Mommy keluar sama Om ganteng kok. Pasti aman kalau pergi sama Om ganteng," sahut Ji Chan menerangkan pada neneknya.

"Pergi ...."

"Iya Ibu Jiao, Lin Wu sedang pergi bersama Yanshen. Anda tidak usah khawatir, sebentar lagi mereka pasti datang," ucap Daddy Jinhao berusaha menenangkan besannya itu yang terlihat khawatir.

🥕🥕🥕

"Yanshen, kita sebenarnya mau kemana? Ini sudah larut, aku harus pulang. Kasihan anak-anak pasti mereka mencari ku," cerocos Lin Wu yang mulai kesal dengan sikap lelaki yang ada di sampingnya ini.

Ya, saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil. Dimana Yanshen yang mengemudikan limosin miliknya, membelah jalanan yang penuh dengan salju. Sorot matanya memerah menahan gejolak amarah yang menyelimutinya.

Meskipun suhu di kota Hangzhou begitu dingin hingga menusuk kulit putih dua manusia itu. Tapi, berbeda dengan tubuh Yanshen yang merasakan hawa panas ketika mengingat ucapan putrinya itu. Sementara Ji Chan sesekali menggosok tangannya untuk menghangatkan tubuhnya. Ternyata mantel dan syal yang dia pakai tidak berpengaruh,, tetap saja hawa dingin masih menembus mantel yang melekat di tubuh mereka.

"Kamu tenang saja, ada Daddy yang mengurusi mereka," sahut Yanshen sambil menoleh sekilas ke arah istrinya.

"Kamu gila ya, malam-malam pergi begitu saja meninggalkan mereka di rumah. Dasar nggak waras! Daddy macam apa kamu. Pokoknya aku mau pulang sekarang!" bentak Lin Wu menatap tajam Yanshen.

"Lin Wu, ada hal yang masih ingin aku bicarakan sama kamu. Plisss sekali aja kamu nurut sama aku ya .... aku janji nggak akan lama kok," ucap Yanshen menggenggam tangan Lin Wu.

"Awas Yanshen! Arrgghhhh ...."

.

.

.

🥕Bersambung🥕

1
Reni Anjarwani
akhirnya lin wu mendpt kan kebahagian
Kaizy celine
Katakaaan yesssss plisssss😭😍
Kaizy celine
Heemm co cweet nya pasti kyk papanya ini🤣
Oma Gavin
selamat kak tetap semangat up
Jia Li: makasih Oma 😊🙏
total 1 replies
Kaizy celine
Syukurlah tdk tejadi apa2😍😮‍💨
Rara Kayla
haseeeek....
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Jia Li: udah update ya kak 😊
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor akhirnya bisa ketemu dan bersatu kembali
Jia Li: tunggu kelanjutannya ya kak 😊
total 1 replies
Rara Kayla
kira² si Lin Wu diajak pulang mau pa g nih?
Jia Li: terus pantengin aja ya kak 😊
total 1 replies
ResThy55
cerita nya seru, alur nya menarik
Rara Kayla
nabrakkah?
Kaizy celine
Ceritanya seru, bikin pembaca ikut terombang ambing dengan alur ceritanya...pemula wajib nonton sih soalnya ceritanya ga ngebosenin dan banyak kejutannya😍
Kaizy celine
Aduhhhh kenapa lagii ini😮‍💨 baru aja happy🥺
Kaizy celine
Lanjuttt mulaiii seruu nihh aroma2 happy ending mulai kebaca .. hehe
Reni Anjarwani
waduh baru ketemu masak kecelakan kaaihan bgt
Rara Kayla
aq mau ikut, bisa ajak aq aja g? 🤣
Rara Kayla
anaknya matre🤣
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Kaizy celine
Anak pinter🤣🤣🤣🤣, pdahal itu bapaknya kaya raya🤣
Kaizy celine
Aduhhh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!