Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Tapi keluarga Sinta tidak tahu tentang itu. Mereka melihat seorang pemuda yang tampan, matanya tajam, dan tangannya kuat, seseorang yang layak untuk menjadi menantu bagi mereka.
"Kami tidak meminta jawaban sekarang," lanjut ibu Maya "Sinta juga butuh waktu untuk pulih, dan begitu juga Anda. Kami hanya ingin kamu tahu bahwa pintu rumah kami selalu terbuka untukmu,"
"Eh, iya Bu." angguk Abram gugup.
"Baiklah, kalau begitu kami siap-siap untuk pulang, karena kami akan membuat acara penyambutan pulang Sinta ke rumah, dan Kau harus datang ya," kata Ibu Maya.
"Iya Buk, jika saya lagi senggang," kata Abram mengangguk.
Ibu Maya dan keluarga besarnya pergi dari ruangan Abram, untuk ber siap-siap pulang. Abram menatap punggung mereka yang telah menjauh.
Abram merasa terbebani. Uang yang dia terima sudah cukup untuk membayar rumah baru, membeli makanan, dan kebutuhan pokok.
Tapi pertanyaan ibu Maya tentang pernikahan membuatnya tidak tenang. Dia tidak punya keluarga, hanya ada kakek Zeno yang ada di bantu ajaib.
Ketika ia keluar dari ruang gawat darurat, Abram melihat Sinta sedang duduk di kursi roda, dibantu oleh perawat.
Wajahnya pucat, tapi matanya bersinar saat melihat Abram. "Tuan Abram!" panggil Sinta. "Terima kasih sudah menyelamatkan saya. Saya tidak akan pernah melupakannya."
Abram mendekat dan tersenyum. "Iya, Nona Sinta. Semoga cepat sembuh."
"Akankah kamu datang lagi mengunjungi saya?" tanya Sinta dengan suara lembut.
Abram ragu. Dia tidak punya alasan untuk pergi ke rumah sakit lagi, kecuali ada kasus darurat. "Kalau ada waktu luang, ya," jawabnya sambil menggenggam amplop itu.
Setelah keluarga Sinta pergi, Dokter Rahmat mendekat. "Abram, kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan? Mereka adalah keluarga yang sangat terhormat di kota ini. Memberikanmu uang dan tanah adalah sesuatu yang luar biasa."
Abram hanya bisa mengangguk. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Uang itu sangat dibutuhkannya, tapi dia merasa tidak berhak menerima lebih dari yang seharusnya.
Ingatannya kembali pada pesan kakek Zeno: "Jangan pernah mengambil lebih dari yang kamu butuhkan. Orang yang membantu adalah orang yang mulia, tapi orang yang tahu kapan harus berhenti adalah orang yang bijak."
Setelah keluarga Sinta pergi, Abram melihat ke arah Dokter Rahmat. "Dokter, bisakah beri aku satu ruangan untuk istirahat, aku akan membayar sewanya," kata Abram.
"Baiklah, tapi kamu tidak perlu menyewanya, kamu tingal saja sementara di sini jika kamu tidak punya tempat pulang," kata Dokter Rahmat.
"Baik Dokter, Terima kasih banyak." kata Abram dengan senyum tulus.
Dokter Abram membawa Abram ke ruangan kosong, di sana ada brankar.
"Di sini ruangan kamu, saya keluar dulu ya, ada pasien yang ingin saya cek," kata Dokter Rahmat.
"Baik Dokter, terima kasih banyak," kata Abram.
Abram ditinggalkan sendirian di ruangan. Dia duduk di ranjang, memegang amplop itu di tangan. Pikiran tentang pertanyaan ibu Maya tentang pernikahan terus menghantunya.
Dia tidak punya keluarga, hanya ingatan tentang kakek Zeno yang selalu berkata: "Uang adalah alat, bukan tujuan. Gunakanlah untuk membantu orang, bukan untuk keserakahan."
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lagi. Ini kali adalah Dokter Rahmat. "Abram, ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan," katanya sambil membawa sebuah folder berwarna biru.
Dokter itu membuka folder dan menunjukkan beberapa hasil tes. "Sinta menderita penyakit langka yang disebut 'long QT syndrome type 2', gangguan irama jantung yang disebabkan oleh mutasi gen KCNH2. Serangan jantungnya kemungkinan besar disebabkan oleh stres emosional saat dia melihat mobil temannya terjun ke sungai. Semua dokter sudah menyerah, tapi kamu, kamu adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkannya dengan memberikan defibrillasi secara tepat waktu."
Abram mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia tidak tahu bahwa tindakannya menyelamatkan nyawa seseorang dari kematian yang pasti. Tindakan yang hampir membuatnya kehabisan napas.
"Keluarga Sinta sangat berterima kasih," lanjut dokter. "Mereka adalah orang baik. Ibu Maya menanyakan tentang pernikahanmu karena dia melihat potensi antara kamu dan Sinta. Mereka ingin kamu menjadi bagian dari keluarga mereka, karena mereka tahu kamu akan merawat Sinta dengan baik."
Abram terdiam. Dia tidak pernah membayangkan bahwa tindakan sederhana yang dia lakukan bisa berarti begitu banyak. Dia mengingat pesan kakek Zeno lagi: "Orang yang membantu adalah orang yang mulia, tapi orang yang tahu kapan harus berhenti adalah orang yang bijak."
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya