NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Kanaya masih tiduran diatas ranjangnya, matanya masih memandang langit-langit kamarnya yang tinggi.

Semua kejadian tadi malam di kamar kala memutar kembali di otaknya, slide demi slide. Tiba-tiba senyum kanaya merekah indah, pipinya memerah.

Kanaya teringat ketika akhirnya ia dan kala berciuman, ia salah tingkah. Kanaya menarik selimut, menutupi sekujur tubuhnya. Ia guling-guling diatas ranjang tak karuan, malu dan bahagia, rasa yang saat ini sedang menguasai hatinya.

Kanaya masih senyum-senyum sendiri, tiba-tiba dering suara ponsel mengagetkan kanaya yang masih berada di bawah selimutnya, secepat kilat bangkit mengambil ponsel dan melihat nama di layar ponselnya.

"Kak ferdian..", gumam kanaya mengerutkan keningnya, menggulir panggilan itu ke mode terima.

"Assalamualaikum.....kak ferdi",

"Hallo..waalaikumussalam dek....", sahut ferdian menjawab salam kanaya.

"Hari ini kakak tunggu kamu di kantor yah jam 9"

"Kantor,...ke kantor kak ferdi?, ngapain...? Tanya kanaya keheranan, berusaha mengingat apakah dia ada niat atau janji dengan ferdian untuk ketemuan di kantornya.

"Sudah kakak duga, pasti kamu lupa..!" ujar ferdian tertawa, suara tawanya terdengar renyah

"Bukankah tempo hari kita udah janjian sebelum kamu kerja dengan kakak, kamu harus lihat-lihat dulu perusahaan kakak"

"Astaghfirullah....maaf kak, aku...lupa"

Sangking bahagianya, kanaya sampai lupa kalau ia pernah berjanji akan berkunjung ke kantor ferdian. Kanaya merasa tak enak hati, iapun ijin untuk siap-siap dulu.

"Oke..kak, aku siap-siap dulu yah"

******

Kantor dari perusahaan ferdian tidak besar, perusahaan startup yang bergerak di bidang pengembangan software.

Usaha yang dirintis ferdian masih terbilang muda, baru berjalan 7 tahun, tapi melihat grafik perkembangan dan penghasilan yang dicapainya, usahanya sudah cukup dikatakan berhasil.

Kantornya berada di bangunan 2 lantai, dimana lantai atas, ferdian ubah menjadi seperti mess, untuk tempat tinggal bagi para staf kantornya yang berstatus lajang dan pendatang, sementara lantai bawah adalah kantornya.

Ferdian menjelaskan  dengan antusias, dan kanaya juga mendengarkan dengan serius. Sejujurnya kanaya kurang paham, tapi dari penjelasan ferdi, kanaya tahu produk yang dihasilkan oleh perusahaan ferdian adalah sebuah aplikasi.

Kanaya menatap takjub kearah ferdian yang begitu semangat menceritakan usahanya, kesan kanaya selama ini bahwa ferdian adalah orang yang riang, luntur dengan melihat gaya pria itu menjelaskan usahanya dengan penuh wibawa seorang pemimpin.

Staf ferdian semuanya adalah pria-pria jenius menurut kanaya, karena mereka semua programer. Ada 10 orang yang bekerja pada ferdi, dan 6 orang tinggal di lantai 2 kantor pria itu.

Ferdian membawa kanaya ke ruangan kantornya setelah mengenalkannya kepada para stafnya.

"Jadi dibagian mana kak ferdi akan menempatkan aku?" tanya kanaya penasaran, mengambil posisi duduk di depan meja ferdian.

"Terus terang kak, aku tidak punya keahlian seperti mereka.." tunjuk kanaya dengan dagunya, ke arah para karyawan ferdian.

Ferdian tertawa, menarik kursinya.

"Kalau kamu mau dek, kamu bisa jadi asisten aku, yang mencatat semua kegiatanku..."

"Hmmmm..." kanaya memegang dagunya, melihat ke arah ferdi penuh selidik.

"Kakak buka lowongan itu karena aku?...khusus untuk aku?"

"Hahahahhaha...." tawa ferdian keras, terdengar sampai ke ruangan para stafnya. Beberapa dari mereka mendongakkan kepalanya melihat ke arah kantor ferdian penasaran.

"Ya kali.....kakak seenggak profesional itu..."

"Kakak ini lulusan manajemen bisnis dek, mana mungkinlah kakak merekrut kamu, kalau kamu kakak anggap tidak membawa keuntungan untuk usaha kakak"

Kanaya masih menatap ferdian dengan pandangan penuh selidik dan tak percaya, karena menurutnya ferdian tidak membutuhkan seorang sekretaris atau asisten.

Kanaya masih yakin ferdi sengaja membuat posisi itu untuk dirinya. Kanaya sangat mengenal kepribadian ferdian, bagaimana seorang ferdian dan hatinya yang sangat baik dan tidak tegaan.

Dulu semasa kuliah track record ferdian hampir mendekati sempurna, dimata para mahasiswa dan mahasisiwi tidak memiliki cacat sedikitpun, baik hati, penolong, tampan dengan wajah khasnya yang sedikit ke arab-araban.

Ferdian adalah kating kesayangan junior-juniornya, hanya satu kelemahannya dulu, ferdian tidak terlahir kaya raya, orangtuanya hanya seorang pegawai negeri biasa.

"Awal-awal dulu, kakak memang belum begitu membutuhkan seorang sekretaris atau asisten untuk mengurus agenda kakak,...tapi belakangan ini kakak semakin kewalahan, yah...kebetulan kamu bilang kamu butuh pekerjaan, yah...kenapa tidak?..yahkan..?" jelas ferdian dengan mimik yang sangat meyakinkan.

Kanaya tidak menjawab, ia hanya mangut-manggut menatap ferdian masih dengan wajah belum begitu yakin.

"Ya udah...begini aja, kalau kamu belum yakin dek, gimana kalau kamu kakak training dulu?", saran ferdian dengan santai.

"Gimana...?, setuju....?"

prasetyo mengulurkan tangannya.

"Deal...." sahut kanaya menyambut uluran tangan ferdi, dan mengguncangnya tanda setuju.

"Okelah...kapan bisa mulai bekerjanya bu kanaya?" tanya ferdian dengan masih menjabat tangan kanaya erat.

"Minggu depan yah boss...., bagaimanapun saya harus ijin suami dulu" sahut kanaya kocak, mereka tertawa lucu bersamaan mendengar jawaban kocak kanaya.

******

"Jam 4....." gumam kanaya melirik arlojinya, turun dari taksi dan melangkah menuju ke arah rumah.

Tadi ferdian memaksa ingin mengantarnya, tapi kanaya menolak. Bagaimana pun sebentar lagi ferdi akan menjadi bosnya, kanaya ingin membiasakan diri untuk tidak terlalu nyaman dengan ferdi.

Lagian kanaya tidak enak hati juga, gimana kalau nanti kala melihatnya pulang diantar oleh ferdi.

"Sore buk...." pak yatmo, satpam di pos depan rumah, menyapanya penuh hormat.

"Sore...pak yatmo!" sapa kanaya tersenyum sopan, dengan menganggukkan kepalanya.

Di depan rumah kanaya melihat mobil kala terparkir, pak ardi sang supir sedang membersihkan mobil.

Tak lupa kanaya juga menyapa sopir pribadi kala itu dengan lembut, yang dibalas dengan anggukan dalam penuh hormat setengah menunduk.

Kanaya berjalan dengan tenang, dengan langkah perlahan ia memasuki ruang tamu yang pintunya terbuka, kanaya melihat tidak ada siapapun disana.

"hmmmmm...." dahi kanaya berkernyit penasaran.

"Kenapa pintu ini terbuka lebar, tapi tidak ada siapapun" gumamnya menatap ke seluruh ruangan, melangkah ke arah anak tangga menuju kelantai dua.

Masih dengan penasaran kanaya melangkah menaiki anak tangga, satu demi satu, di ujung anak tangga paling atas, samar-samar ia mendengar suara obrolan.

Kanaya memusatkan perhatiannya, mencari sumber suara, dengan langkah perlahan ia mengikuti sumber suara, dan suara itu berasal dari ruangan itu.

Yah ruangan khusus itu, kanaya tertegun tepat di depan pintu ruangan tersebut, pintu yang tidak sempurna tertutup.

Suara syafira dan kala, terdengar sangat jelas di telinga kanaya. Ia sebenarnya tidak ingin menguping, tapi kanaya mendengar namanya disebut, tak urung ia berhenti, teriakan syafira terdengar sangat jelas.

"Kakak harus ingat aluna...apakah menurut kakak, kakak berhak memiliki perasaan itu?" teriak syafira dengan penuh emosi.

"Kakak tahu...kanaya bukan siapa-siapa, kakak harusnya sadar!"

"Kakak harusnya ingat apa pesan aluna sebelum dia pergi, kakak gak boleh seperti ini padaku"

Teriakan syafira bercampur dengan tangisannya, sementara kala masih saja membisu. Kanaya yang berdiri didepan pintu merasa tak enak hati, ia memutuskan untuk beranjak, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka lebar.

Kanaya tersentak, syafira keluar dari ruangan, matanya yang penuh dengan air mata menatap ke arahnya penuh amarah. Dari sorot mata syafira, kanaya melihat kemarahan dan rasa benci yang sangat besar untuknya.

Syafira berlari menuruni anak tangga, kanaya memperhatikan kepergian wanita itu yang sedikit dramatis. Kemudian ia menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, di sana kala berdiri tegak.

Pria itu menatap kanaya dengan sorot mata penuh luka, kanaya menatap mata elang itu, ada luka yang teramat dalam.

Ada duka di mata itu, ingin rasanya kanaya masuk, mendekati si pemilik mata itu, memeluknya. Tapi kanaya hanya mampu memandangi mata itu, yang seakan memberi jarak kepadanya untuk tidak mendekat.

Mata mereka masih saling menatap dalam diam, kala kemudian membalikkan badannya, membelakangi kanaya, kembali menatap keluar jendela.

Bersambung......

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!