NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pantun dari Sang Musisi Jalanan

Kamar kos Sinta terasa seperti ruang interogasi yang kehabisan pertanyaan.

Sunyi...

Sejak kejadian di taman kota kemarin sore Sinta berubah menjadi seperti robot.

Ia menyapu lantai kosan tiga kali berturut-turut.

Ia menyalin ulang catatan ekonominya yang sebenarnya sudah sangat rapi.

Dan ia mencuci semua sepatu kanvasnya sampai tangannya keriput kemerahan.

Nara duduk bersila di atas kasur, menopang dagu sambil memperhatikan ibunya di masa muda itu dengan tatapan jengah.

Nara tahu persis apa yang sedang terjadi.

Sinta sedang dihantui rasa bersalah yang luar biasa besar.

Perempuan berlogika kaku itu tahu bahwa kata-katanya di taman sudah melewati batas, ia tahu ia telah menyentuh luka paling menganga di dalam jiwa Raka.

Tetapi, ego Sinta terlalu tinggi. Jauh lebih tinggi dari langit Bandung di siang yang terik ini.

Meminta maaf secara langsung sama saja dengan menelan ludahnya sendiri, dan Sinta sangat benci terlihat lemah di depan pemuda urakan seperti Raka.

Tiba-tiba, Sinta meletakkan pulpennya dengan suara ketukan keras.

Tak.

Ia bangkit berdiri, menyambar dompet kecilnya, dan berjalan keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Nara hanya mengangkat sebelah alisnya, tidak mencegah atau bertanya.

Dua puluh menit kemudian, pintu kamar kembali terbuka.

Sinta kembali.

Napasnya sedikit memburu, di tangannya terdapat sebuah kantong plastik putih.

Sinta meletakkan kantong itu di atas meja belajar dengan sedikit kasar, lalu menoleh ke arah Nara.

"Nara."

"Apa?"

"Kamu mau keluar cari angin, kan?"

Nara mengerutkan kening. "Nggak, di luar panas terik."

"Kamu butuh udara segar, kulitmu terlihat pucat," paksa Sinta mutlak, sama sekali tidak menerima penolakan. Ia mengambil kantong plastik itu dan berjalan menghampiri pinggiran kasur.

Sinta menyodorkan kantong itu tepat ke wajah Nara.

"Bawa ini, kasih ke pengamen itu."

Nara menghela napas, menunduk menatap isi kantong tersebut.

Di dalamnya ada sebuah Tupperware biru yang sangat bersih berisi nasi dan dada ayam rebus.

Dan di samping kotak itu, terdapat sebotol obat antiseptik mahal, salep luka lecet, dan sekotak plester medis tahan air.

Nara menahan senyum sarkastisnya.

"Oh? Jadi Nona Kalkulator kita akhirnya punya hati nurani?" goda Nara pelan.

Wajah Sinta langsung mengeras, semburat merah tipis muncul di lehernya menandakan ia sedang menahan malu.

"Jangan mulai, Nara. Aku cuma nggak mau disalahkan kalau tumitnya infeksi lalu dia harus diamputasi dan nggak bisa jalan lagi, itu akan merusak pemandangan kota."

Alasan yang sangat Sinta sekali. Dingin di luar, panik di dalam.

"Lalu kenapa nggak kasih sendiri?" tembak Nara tepat sasaran.

"Aku sibuk, besok ada kuis di kelasku." Sinta membuang muka, menghindari kontak mata. "Dan ingat satu hal penting, Nar."

Sinta menatap Nara dengan sorot mata tajam yang mengancam.

"Bilang ke dia kalau barang-barang ini murni dari kamu bukan dari aku, jangan sebut namaku sama sekali. Paham?"

Nara memutar bola matanya malas.

Misi makcomblang sialan macam apa ini? Mengapa ia harus diturunkan derajatnya menjadi kurir gengsi untuk kedua orang tuanya sendiri?

Tetapi Nara tidak punya pilihan, ia meraih kantong plastik itu dengan enggan.

"Ya, ya. Dari Nara, si turis baik hati yang kelebihan uang. Bukan dari Sinta si mahasiswi galak yang sedang dihantui rasa bersalah."

Sinta mendengus kasar, lalu kembali duduk di depan meja belajarnya. Ia membuka buku tebalnya dengan cepat, pura-pura membaca dengan fokus.

Nara turun dari kasur, meraih jaketnya, dan melangkah keluar kamar.

Dalam hatinya, Nara merasa sangat cemas.

Setelah apa yang terjadi di taman, Nara membayangkan akan menemukan sosok Raka yang hancur.

Seorang pemuda malang yang sedang duduk termenung di sudut jalan, meratapi nasibnya yang dihina, atau mungkin sedang marah besar pada dunia yang tak berpihak padanya.

Ia ingat betul luka di tumit Raka, dan ia juga ingat betapa kerasnya kata-kata Sinta menampar ego pemuda itu.

Nara menghela napas panjang yang terasa berat.

"Ini bakal jadi konfrontasi yang panjang," batinnya sambil melangkah menuju teriknya jalanan kota.

Panas matahari Bandung siang itu terasa menyengat kulit.

Nara menyusuri trotoar menuju kawasan dekat alun-alun, tempat di mana Raka dan teman-temannya biasanya berada.

Setiap langkahnya diiringi oleh skenario-skenario buruk di dalam kepala.

Jika Raka hancur, misinya akan semakin sulit. Dan jika Raka menjadi benci pada Sinta, bagaimana ia bisa menariknya kembali tanpa membuat takdir semakin berantakan?

Nara berbelok di tikungan jalan dekat sebuah warung kopi kecil di bawah pohon beringin besar.

Langkahnya tiba-tiba terhenti.

Suara tawa meledak dari arah warung tersebut. Tawa yang sangat keras, renyah, dan sangat menular.

"Makanya, Bang! Kalau lari dari kejaran tramtib itu gitarnya ditinggal, bukan malah dibawa lari sambil diangkat ke atas! Kamu pikir kamu lagi pamer piala?!"

Itu suara Raka.

Nara berkedip bingung.

Ia melangkah lebih dekat, memastikan matanya tidak menipunya.

Di sana, Raka duduk bersila di atas bangku bambu panjang.

Pemuda itu tidak terlihat seperti orang yang sedang depresi, ia sama sekali tidak sedang meratapi nasib atau menangisi harga dirinya yang terluka.

Raka sedang memegang sebuah gelas es teh manis, tertawa terbahak-bahak sampai matanya menyipit karena lelucon dari temannya, Ardi.

Raka kembali ke setelan aslinya.

Kaus oblong hitam, jaket denim usang kesayangannya, dan celana jeans longgar.

Gitarnya tersandar aman di sampingnya.

Kakinya yang beralaskan sandal jepit karet memang terlihat dibalut plester seadanya di bagian tumit, tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi kelincahannya menendang kaki Ardi secara bercanda.

Nara berdiri mematung di pinggir jalan.

Angin siang meniup pelan rambutnya.

Rasa cemas yang sedari tadi menggerogoti dadanya seketika menguap, digantikan oleh kelegaan yang aneh... dan juga rasa takjub.

"Dia... nggak baper sama sekali?" gumam Nara pelan pada dirinya sendiri.

Ini adalah sisi ayahnya di masa muda yang paling mengejutkannya, Raka memiliki kulit yang sangat tebal.

Ejekan tentang status sosial, tentang pekerjaan kantoran, atau omelan kasar Sinta... tidak ada yang bisa menembus atau menghancurkan hatinya.

Raka tidak merasa jiwanya runtuh hanya karena diremehkan soal uang atau kasta. Ia terlalu santai, terlalu berjiwa bebas untuk memusingkan hal-hal seperti itu.

Dunia boleh menginjaknya, tapi Raka akan selalu menemukan cara untuk menjadikannya bahan tertawaan.

"Eh, Nona Turis!"

Suara panggilan itu membuyarkan lamunan Nara, Raka sudah melihatnya.

Pemuda itu melambaikan tangan dengan santai, seolah rentetan kejadian dramatis kemarin di taman tidak pernah terjadi.

Nara menarik napas panjang, memasang wajah datarnya, lalu berjalan mendekat ke arah warung.

"Tumben siang-siang terik begini kelayapan, Sinta mana? Lagi sibuk ngitungin utang negara di kosan?" goda Raka tanpa beban sedikit pun.

Ardi dan beberapa temannya yang lain langsung tersenyum iseng melihat kedatangan Nara.

"Aku numpang lewat doang," dusta Nara cepat, mencoba menghindari tatapan usil gerombolan pemuda itu.

Nara langsung menyodorkan kantong plastik putih tersebut ke arah dada Raka.

"Nih."

Raka mengangkat sebelah alisnya. "Apa ini? Sesajen buat preman alun-alun biar kamu nggak dipalak?"

"Obat, sama makanan," jawab Nara ketus. "Ambil aja, jangan banyak tanya."

Raka meletakkan es tehnya, meraih kantong plastik itu, dan mengintip isinya.

Teman-teman Raka di sebelahnya ikut-ikutan menengok ke dalam kantong.

"Wih, ayam rebus, euy! Gila, makanan orang kaya ini mah!" seru Dimas heboh.

Raka mengeluarkan botol antiseptik mahal dan salep luka lecet dari dalam kantong.

Matanya menyapu tulisan di kemasan botol itu, lalu beralih pada kotak makan Tupperware yang tertutup sangat rapat dan terlampau higienis.

Raka terdiam selama dua detik.

Lalu, sebuah senyum miring yang sangat menyebalkan perlahan muncul di wajahnya.

Ia menengadah, menatap Nara dengan tatapan mata yang tajam, seolah bisa membaca pikiran Nara layaknya membaca komik bekas.

"Kamu yang beli semua ini, Nar?" tanya Raka pelan, nadanya terdengar sangat skeptis.

"Iya," jawab Nara, berusaha keras agar suaranya terdengar meyakinkan dan tidak bergetar. "Aku kasihan lihat tumitmu itu, jadi aku beliin itu pakai sisa uangku."

Raka mendengus keras, tawa tertahan keluar dari hidungnya.

"Nara, Nara..." Raka menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, ia mengetuk kotak Tupperware biru itu dengan buku jarinya.

Tuk. Tuk.

"Kamu itu turis yang nyasar tanpa arah, boro-boro beli salep mahal begini, beli cilok di depan terminal aja kamu harus mikir dua kali."

Nara menelan ludah.

Skakmat.

"Dan kotak makan ini..." Raka memutar kotak itu, memamerkan kebersihannya. "Ini kotak makan kesayangan Sinta, aku ingat betul dia pernah marah besar nyaris ngajak ribut ibu kantin gara-gara kotak ini ketukar sama punya kating."

Raka menaruh kembali barang-barang itu ke dalam kantong dengan rapi.

Ia menyandarkan punggungnya ke dinding bambu warung, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya kemenangan mutlak.

"Ini dari Nona Kalkulator, kan? Dia yang nyuruh kamu repot-repot jalan panas-panasan ke sini buat nganterin."

Wajah Nara sedikit memanas, ia tertangkap basah dengan sangat memalukan.

"Bukan! Itu murni dari... dari sisa uang sakuku yang kusimpan!" sangkal Nara, meski ia tahu usahanya percuma.

Raka justru tertawa lepas.

Bukan tawa mengejek atau sinis, melainkan tawa yang benar-benar geli dari lubuk hatinya.

Raka membayangkan wajah Sinta, perempuan yang selalu berwajah galak, kaku, dan gengsinya setinggi gunung itu sedang panik di apotek membeli obat, dan kemudian memaksa Nara menjadi kurir karena egonya terlalu besar untuk mengakui rasa bersalahnya.

"Ya ampun, Tuhan," Raka mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu banyak tertawa. "Dia merasa bersalah ya gara-gara ngomel di taman kemarin? Sampai repot-repot bawain ayam dan obat segala."

Nara tertegun dalam diam.

Raka sama sekali tidak marah.

Tidak ada dendam di matanya, tidak ada rasa sakit hati karena ucapan tajam Sinta yang membawa-bawa sosok ayahnya yang abusif.

Raka menganggapnya sebagai debu yang lewat.

Bagi Raka, gengsi Sinta yang canggung dan rumit itu justru terlihat sangat lucu.

"Kamu... nggak marah sama dia?" tanya Nara hati-hati, membiarkan dinding pertahanannya turun sedikit.

Raka mengangkat bahu dengan sangat santai, ia mengambil gelas es tehnya lagi.

"Buat apa? Sinta memang begitu kan dari pabriknya? Mulutnya lebih tajam dari silet, tapi hatinya lebih panikan dari ibu-ibu arisan. Kalau aku gampang baper dan tersinggung tiap kali dia ngomel, aku udah masuk rumah sakit jiwa dari dulu."

Nara terdiam.

Sebuah kesadaran baru menghantam kepalanya dengan sangat keras.

Raka saat ini belum mencintai Sinta.

Perasaan romantis itu sama sekali belum ada.

Bagi Raka, interaksinya dengan Sinta murni sebatas interaksi dua teman yang sangat bertolak belakang. Sebuah dinamika tarik-ulur di mana Raka suka melihat Sinta kesal, dan Sinta merasa punya kewajiban mendikte Raka.

Tidak ada inferioritas kelas sosial yang membuat pemuda ini merasa hancur. Ia tidak peduli pada Danang, ia tidak cemburu romantis, ia hanya seorang pemuda lapang dada yang tidak mudah tersinggung.

Raka tiba-tiba merogoh saku jaketnya, ia mengeluarkan sebatang pulpen pinjaman dan menoleh ke arah meja warung.

"Di, bagi kertas bon dong," pinta Raka pada Ardi.

Ardi memberikan secarik kertas kusam bekas bungkus rokok kretek.

Raka meletakkan kertas itu di atas pahanya, lalu mulai menulis sesuatu dengan cepat. Senyum jahil tidak pernah lepas dari wajahnya selama ia menulis.

Setelah selesai, ia melipat kertas kecil itu menjadi dua bagian.

Raka kemudian berdiri dan memanggil penjual warung.

"Mang! Beli permen lolipop yang paling murah satu! Yang warnanya merah terang!"

Raka menerima sebuah permen lolipop dengan bungkus plastik bening, lalu menyerahkannya pada Nara beserta lipatan kertas bekas tadi.

Nara menatap permen murahan itu dan kertas di tangannya dengan dahi berkerut tajam.

"Apa ini?"

Raka mengedipkan sebelah matanya, seringainya semakin lebar.

"Balasan, titip buat bosmu yang gengsian itu. Bilang dari aku, ayamnya kurang micin, hambar banget kayak kanebo rebus. Tapi obatnya lumayan dingin di kaki."

Nara memutar bola matanya jauh ke atas, ia benar-benar telah diturunkan derajatnya menjadi kurir pengantar balasan konyol anak SD.

"Kamu nyebelin banget, tahu nggak?" gerutu Nara sambil memasukkan permen dan kertas itu ke dalam saku jaketnya.

Raka tertawa lagi. "Udah sana pulang, makin panas. Nanti kulitmu meleleh di jalan."

Nara berbalik dan berjalan pergi.

Di belakangnya, suara tawa Raka dan petikan gitarnya kembali terdengar mengudara. Bebas, ringan, dan sangat hidup.

Langkah Nara kini terasa jauh lebih ringan.

Ia tersenyum tipis.

Raka tidak hancur.

Ayahnya baik-baik saja.

Setengah jam kemudian, Nara mendorong pintu kamar kos Sinta.

Ceklek.

Sinta masih duduk tegak di meja belajarnya, posisinya sama persis seperti saat Nara pergi.

Namun, Nara yakin sepenuhnya bahwa Sinta belum membalik satu halaman pun dari buku diktatnya.

Begitu melihat Nara masuk, punggung Sinta langsung menegang. Ia menoleh dengan gerakan yang terlalu cepat untuk seseorang yang berpura-pura tidak peduli.

"Gimana? Udah dikasih ke dia? Apa katanya? Dia percaya itu dari kamu?" Sinta membombardir Nara dengan rentetan pertanyaan tanpa jeda mengambil napas.

Nara berjalan santai menuju kasur, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan helaan napas dramatis yang sengaja dibuat-buat.

"Gagal total," jawab Nara datar.

Mata Sinta membelalak panik. "Maksudmu?!"

Nara merogoh saku jaketnya, mengeluarkan permen lolipop merah murahan dan secarik kertas bekas bungkus rokok yang dilipat asal-asalan.

Ia melempar kedua benda itu tepat ke pangkuan Sinta.

"Dia langsung tahu itu dari kamu sedetik setelah melihat Tupperware-mu yang kelewat higienis itu. Raka bilang, aku nggak mungkin punya uang buat beli obat mahal."

Wajah Sinta seketika memerah padam. "A-apa?! Dasar gembel jalanan kurang ajar! Terus... terus dia marah? Dia tersinggung soal kemarin?"

Nada suara Sinta di akhir kalimat terdengar menurun, mengisyaratkan kecemasan yang sangat nyata.

Nara menggeleng pelan, ia menopang kepalanya dengan satu tangan.

"Nggak, dia malah ketawa ngakak sampai mau nangis. Dia ngeledek gengsimu yang setinggi gunung itu."

Sinta ternganga, mulutnya sedikit terbuka. Ia merasa dipermalukan hingga ke ubun-ubun, sekaligus... teramat sangat lega.

Sebuah batu besar tak kasatmata yang sedari kemarin menindih dadanya, tiba-tiba terangkat pergi meninggalkannya.

Raka tidak membencinya.

Raka tidak terluka sedikit pun oleh kata-katanya.

Hati pemuda itu ternyata terlalu luas untuk menampung dendam.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena campuran antara kesal dan lega, Sinta membuka lipatan kertas bekas itu. Nara ikut mengintip dari atas kasur, penasaran apa yang ditulis Raka.

Di atas kertas itu, tertulis sebuah pantun receh dengan tulisan tangan Raka yang besar-besar dan berantakan:

Jalan-jalan ke Cicaheum beli batik,

Pulangnya mampir makan soto babat.

Katanya galak, jutek, dan jago ngetik,

Eh ternyata panikan ngirimin obat.

Tertanda: Pengamen Paling Tampan Se-Bandung Raya (Ayammu kurang micin, Sin! Hambar!)

Sinta menatap kertas itu selama lima detik penuh tanpa berkedip.

Urat di pelipisnya terlihat sedikit menonjol, ia meremas kertas bekas itu menjadi bola kecil dan melemparnya ke lantai dengan emosi yang meledak-ledak.

"Sialan! Kurang ajar! Benar-benar manusia nggak tahu diuntung!" omel Sinta dengan suara lantang, wajahnya semerah tomat.

"Udah dikasih makanan malah protes minta micin! Pantunnya juga jelek banget, nggak rima sama sekali! Besok-besok kalau dia berdarah lagi, biarin aja dia merangkak di aspal!"

Nara hanya tertawa pelan melihat reaksi Sinta yang uring-uringan dan kembali menjadi dirinya sendiri.

Namun Nara tidak buta.

Di balik omelan bertubi-tubi dan wajah yang memerah karena marah itu, Sinta diam-diam mengambil permen lolipop murahan dari pangkuannya.

Perempuan kaku itu menatap permen tersebut selama dua detik, lalu menyimpannya dengan sangat hati-hati dan rapi di dalam laci terdalam meja belajarnya.

Sinta tersenyum.

Sangat tipis, nyaris tak terlihat di balik ekspresi marahnya, tapi senyum lega itu ada di sana.

Nara menatap langit-langit kamar kos yang catnya sedikit retak.

Ia akhirnya menyadari satu hal yang sangat krusial hari ini, sebuah pelajaran berharga tentang takdir kedua orang tuanya.

Cara untuk menyatukan Sinta dan Raka bukanlah dengan memaksa Raka mematikan jiwanya dan menjadi pekerja kantoran kaku seperti yang dilakukan tempo hari.

Intervensi semacam itu hanya akan membunuh kebebasan ayahnya.

Cara menyatukan mereka berdua adalah dengan membiarkan sifat mereka yang sangat bertolak belakang itu berbenturan secara natural.

Membiarkan si Santai menghadapi si Galak, membiarkan sang pemuda yang tidak bisa baper meredam gengsi sang mahasiswi yang kelewat kaku.

Mereka tidak perlu diubah, mereka hanya perlu diberikan ruang yang cukup agar chemistry itu mekar dengan sendirinya.

Nara tersenyum penuh arti.

Untuk pertama kalinya, ia merasa tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!