Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih bujangan
Keesokan harinya.
Sultan baru saja selesai shalat Shubuh. Ia mendengar suara handphone yang sedang low batrenya. Ia baru sadar kalau handphone dan dompet Riri masih ada di dalam tasnya. Saat ia lihat ternyata handphone Riri sudah nge-drop.
"Ya Allah, kenapa aku bisa lupa untuk mengembalikan handphone-nya. Dia pasti mencarinya. Jadi harus ke rumah sakit lagi ini." Gumamnya.
Sultan pun me-ngecas handphone tersebut.
Sementara itu di rumah sakit, Fira baru saja bangun. Ia memeriksa keadaan Riri. Ternyata Riri masih tidur. Fira pun membangunkan Siska untuk shalat Shubuh karena waktu sudah menunjukkan jam 5.Sebentar lagi waktu Shubuh habis.
Tidak lama kemudian, Riri terbangun. Ia baru ingat pada handphone-nya.
"Fir, handphone-ku mana?"
"Lho, aku nggak pegang. Bukannya semalam di pegang bang ojek ya. Belum dikembalikan kayaknya."
"Oh iya. Coba kamu telpon ke nomerku!"
Fira pun segera menghubungi nomer Riri namun tidak aktif.
"Nggak aktif, Ri."
"Mungkin nge-drop."
"Yang benar? Abang itu bisa dipercaya kan?"
"Dia orang baik, Fir."
"Widih kayak kenal banget ya kamu. Nanti kalau dia nggak kembalikan handphone mu kita laporkan saja kepada perusahaannya."
"Yakin dia pasti kembalikan kok. Dia ganteng kan? Tapi sayang sudah punya istri dan anak."
"Hei hei... sejak kapan kamu tertarik dengan tukang ojek? Dan sudah suami orang lagi."
"Haha... dih siapa yang bilang? Aku cuma kagum sama dia. Jarang-jarang kan, tukang ojek spek akhi Arab."
Fira dan Siska tertaw mendengarnya.
"Ya sudah, aku dan Siska pulang dulu ya. Ini sudah jam 6. Nanti pulang kerja kita ke sini lagi."
"Iya, makasih banyak."
Sebelum pulang, Fira menitipkan Riri kepada salah satu perawat.
Pagi ini perawat tersebut yang mengelap tubuh Riri. Setelah selesai, ia membawakan sarapan untuk Riri.
"Bisa makan sendiri, mbak?"
"Bisa kok, Sus."
"Ini nanti obat yang harus diminum. Kalau begitu saya tinggal sebentar untk cek pasien lain ya."
"Iya, sus."
Riri pun makan jatah sarapannya. Meskipun tidak begitu berselera, namun ia tetap memakannya. Ia ingin segera sembuh. Berada jauh dari orang tua ketika sakit itu sangat tidak enak. Namun ia berusaha kuat untuk itu. Sejenak ia kembali ingat kepada bang Ahmed.
"Ya Allah, masa iya aku tertarik kepada tukang ojek? Sudah beristri pula. Oh no... bisa dijuluki pelakor aku." Batin Riri sambil menggelengkan kepala.
Sultan baru saja selesai sarapan. Ia langsung pamit kepada orang tuanya. Tidak lupa ua membawa dompet dan handphone milik Riri.
Sekitar jam 8.30, Sultan sampai di rumah sakit.
Sultan naik lift menuju kamar Riri.
tok tok tok
"Masuk saja!" Ujar Riri.
Sultan pun membuka pintu kamar tersebut.
Nampak Riri sedang berbaring miring ke kanan di atas brangkarnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Riri sedikit terkejut karena yang datang adalah bang Ahmed. Tadinya ia pikir yang datang adalah dokternya.
"Eh, bang Ahmed."
Riri merubah posisinya.
Sejenak Sultan terpaku melihat wajah polos Riri. Ia baru sadar jika kecantikan Riri itu sangat alami. Tanpa make-up pun ia tampak cantik.
"Maaf mengganggu, mbak. Saya hanya mau mengembalikan dompet dan handphone-nya mbak nih. Semalam sudah saya cas, tapi belum saya nyalakan lagi."
Riri hendak duduk, namun Sultan melarangnya.
"Makasih ya, bang. Maaf sudah sangat merepotkan. Oh iya, saya mau ganti uang jilbab ini." Tunjuk Riri pada jilbab yang dipakainya.
"Ndak usah, mbak."
"Lho, jangan bang! Abang susah payah ngumpulin duit dari ngojek untuk anak dan istri abang."
Kali ini Sultan tidak tinggal diam. Ia langsung menyangkal prasangka Riri.
"Mbak, maaf. Mungkin selama ini mbak salah paham. Saya sebenarnya belum menikah."
"M-maksud abang?"
"Mbak Riri, saya ini masih bujangan."
Demi apa pun Riri masih belum percaya dengan ucapan bang Ahmed.
"Abang yakin?"
"MasyaAllah, yakin lah."
Entah mengapa Riri sangat senang mendengarnya. Namun ia masih penasaran dengan anak perempuan yang saat itu ia lihat dan anak-anak lain yang bang Ahmed maksud. Riri pun mempertanyakannya.
"Anak perempuan itu keponakan saya. Anak dari sepupu saya. Kalau anak-anak yang saya belikan es itu adalah adik-adik yang ada di rumah anak jalanan."
Riri menganggukkan kepalanya. Sekarang ia sudah mengerti.Setelah mendengar penjelasan dari bang Ahmed ia seakan mendapat angin segar. Entah apa yang ada di dalam otaknya saat ini.
Meski begitu Riri tetap memaksa ingin mengganti uang jilbabnya, namun Sultan kekeh menolak.
Sultan tidak langsung pergi. Ia kasihan melihat Riri sendian. Akhirnya ia memutuskan untuk menemani Riri sebentar. Ia duduk di sofa sambil membalas chat seseorang.
Riri pun menyalakan handphone-nya. Ia khawatir keluarganya menghubunginya. Dan benar saja. Saat handphone-nya menyala, sudah ada beberapa panggilan dari Mama dan papanya. Tidak ingin orang tuanya khawatir, Riri pun langsung menghubungi mereka.
"Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikum salam, ya Allah... Riri. Dari tadi malam mama hubungi nggak diangkat habis itu nggak aktif. Kamu ke mana saja?"
"Maaf, ma. Riri di rumah sakit."
"Apa, di rumah sakit? Kamu sakit?"
"Riri habis kecelakaan ringan."
"Innalillahi... pantas saja dari kemarin firasat mama tidak enak. Semalam mama juga mimpi buruk. Mama akan ke Surabaya hari ini juga."
"Eh, jangan ma. Nggak usah. Riri bai-baik saja kok. Paling besok juga keluar dari rumah sakit."
"Nggak bisa! Pokoknya mama mau ke sana, titik!"
Mama Riri tidak mau mendengarkan Riri lagi. Telponnya langsung dimatikan.
Riri menghela nafas panjang. Ia menyesal karena sudah berkata jujur kepada sang mama. Namun ia juga tidak mungkin berbohong. Riri juga memaklumi kekhawatiran mamanya.
"Ada apa, mbak?"
"Eh tidak ada, bang." Riri tersenyum kaku.
Sultan pun pamit kepada Riri. Ia juga tidak enak hati jika lam-lama berdua.
"Terima kasih banyak, bang. Abang sudah banyak membantu saya. Semoga abang rame penumpangnya hari ini."
"Aamiin...sama-sama, bang. Semoga mbak cepat sembuh ya."
"Aamiin... "
Sultan keluar dari kamar itu. Dengan langkah panjangnya ia menuju ke parkiran. Riri mengulum senyum melihat kepergiannya.
"Bang Ahmed... kenapa rasanya ada sesuatu yang berbeda dengan kamu?" Gumamnya.
Sementara itu di Lombok, mama Riri segera meminta papanya untuk menesan tiket pesawat ke Surabaya. Papa tidak bisa ikut saat ini karena hati ini ada meeting yang tidak dapat ditunda. Jadi papanya akan menyusul sore atau malam.
Akhirnya mama dan adik Riri yang berangkat ke Surabaya dengan naik pesawat terbang jam 11 siang. Mereka diantar oleh sopir menuju bandar udara.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar