Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Penampilan ketiga dibuka oleh Flower dari Fakultas Sastra dan Budaya. Gadis itu melangkah anggun ke panggung, mengenakan gaun berwarna emas lembut, dengan sanggul dihiasi hiasan kupu-kupu. Musik tradisional mengalun, dan Flower mulai menari. Gerakannya luwes dan penuh makna -setiap hentakan kaki, setiap gerakan tangan, seolah bercerita tentang kisah cinta dan perjuangan.
Tepuk tangan meriah menggema di aula. Bahkan para tamu kehormatan di barisan depan mengangguk-angguk, mengapresiasi keindahan tarian itu.
Satu demi satu penampilan berikutnya terus berganti. Ada yang menampilkan tarian modern penuh energi, ada yang membaca puisi, ada yang memamerkan kemampuan melukis langsung di panggung, dan ada juga yang menyanyi dengan suara memukau.
Suasana semakin memanas. Sorakan demi sorakan menggema setiap kali peserta menyelesaikan aksinya. Setiap fakultas memandang ajang ini bukan hanya sekadar lomba, melainkan ajang pembuktian harga diri.
Kini tiba saatnya penampilan ke-13-Nadine, perwakilan Fakultas Seni.
Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar bahkan sebelum namanya disebut lengkap. Di barisan depan, Yoshi dan Marrie duduk dengan wajah bangga. Yoshi bahkan sempat menepuk bahu orang di sebelahnya sambil berkata,
"Itu anak saya, Nadine. Penerus kebanggaan keluarga Anderson."
Ia begitu bersemangat memamerkan Nadine, seakan lupa bahwa masih ada satu anak kandungnya sendiri-Thalia-yang juga menjadi peserta malam ini. Kasih sayang dan semangat yang dulu pernah ia berikan kepada Thalia seolah menguap sejak ia menikah dengan Marrie.
Bagi Yoshi, kebanggaan saat ini adalah melihat Nadine tampil sempurna. Ia buta terhadap luka yang ditinggalkannya pada putri kandungnya sendiri.
Nadine melangkah ke panggung dengan percaya diri penuh. Gaun merah marun selututnya berkilau di bawah sorot lampu, tatanan rambutnya rapi, dan senyum manisnya menyapu seluruh penonton. Ia duduk di kursi piano, meletakkan jemari di atas tuts, lalu menatap sebentar ke arah penonton-senyum itu disengaja, untuk menunjukkan ia menguasai panggung.
Nada pertama mengalun. Jemari Nadine menari di atas tuts dengan lincah. Musiknya klasik, lembut namun kuat, menyihir telinga penonton. Beberapa orang menutup mata, hanyut dalam melodi. Tepuk tangan kecil terdengar di sela-sela permainan, tanda apresiasi spontan dari penonton yang terkesan.
Di kursinya, Yoshi tersenyum lebar. Marrie melirik sekeliling, memastikan semua orang melihat siapa yang ada di atas panggung itu-anaknya.
"Permainan piano yang indah, bukan?" katanya pada salah satu tamu.
"Luar biasa," jawab orang itu sambil tersenyum ramah.
Para wartawan media sibuk mengambil gambar. Blitz kamera berkali-kali menyala, mengabadikan setiap ekspresi Nadine. Di sisi kanan aula, perwakilan agensi pencari bakat juga tampak mengangguk-angguk, mencatat sesuatu di buku kecil mereka.
Lagu berakhir dengan akor terakhir yang mengalun panjang. Nadine menahan jemarinya di tuts, lalu perlahan mengangkatnya, membungkuk anggun di hadapan penonton. Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan.
Senyum Nadine melebar. Ia merasa puas. Ia yakin penampilannya ini cukup untuk mengamankan gelar Duta Kampus. Baginya, hari ini adalah langkah besar-bukan hanya untuk meraih gelar, tapi juga untuk menarik perhatian Leonard, pria yang diam-diam ia kagumi.
Nadine turun dari panggung dengan langkah ringan. Namun alih-alih kembali ke ruang tunggu khusus peserta, ia memilih berjalan ke sisi panggung. Ia ingin menyaksikan langsung penampilan berikutnya: Thalia.
Di pikirannya, ini akan menjadi tontonan yang menghibur. Ia membayangkan Thalia gugup, tangan gemetar, dan mungkin dengan bantuan kue berisi almond tadi-mulai menunjukkan gejala alergi.
Dua generasi Anderson, pikir Nadine puas. Aku, si cantik berbakat, dan dia... si culun tak berbakat. Bukankah Tuhan sudah mengatur panggung ini agar orang mudah membandingkan?
Pembawa acara kembali ke tengah panggung, tersenyum lebar.
"Baiklah, hadirin sekalian, kita sudah menyaksikan penampilan yang luar biasa dari Fakultas Seni. Kini, kita sampai pada penampilan ke-14, perwakilan dari Fakultas Komunikasi... Thalia Anderson!"
Sorakan terdengar dari berbagai penjuru. Ada yang bersorak penuh antusias, ada yang hanya bersiul nakal, menunggu kemungkinan drama. Beberapa mahasiswa yang tidak suka padanya sudah siap dengan kamera ponsel untuk merekam-siapa tahu ada momen memalukan yang bisa mereka sebarkan di media sosial.
Di barisan kursi tamu, Zea Amara-sahabat Thalia-meremas kedua tangannya. Jantungnya berpacu. Ia takut sekali Thalia benar-benar akan dipermalukan di hadapan begitu banyak orang. Zea tidak tahu tentang kue almond, tapi ia tahu Nadine dan gengnya tidak akan tinggal diam.
"Tolong jangan ada yang buruk terjadi..." doa Zea dalam hati.
Jika Zea tegang karena takut sesuatu yang buruk akan menimpa Thalia, maka berbeda halnya dengan Yoshi Anderson.
Yoshi memang ikut menegang ketika nama anak kandungnya disebut oleh MC, tapi bukan karena rindu atau bangga tidak sama sekali.
Yang memenuhi kepalanya hanyalah kekhawatiran: "Bagaimana kalau dia mempermalukan nama keluarga Anderson?
Bagaimana kalau rekan bisnisku ada yang hadir dan melihat tingkahnya?"
Bagi Yoshi, malam ini adalah acara formal.
Reputasi keluarga bisa naik atau hancur-hanya dengan satu kesalahan kecil.
Ia membetulkan letak dasinya, pandangan matanya fokus ke arah panggung, bukan dengan harapan... tapi dengan kewaspadaan.
Marrie, duduk di sebelahnya, bahkan tidak repot-repot menyembunyikan ekspresi sinisnya. Matanya menyipit penuh antisipasi, seperti seseorang yang siap menonton adegan favorit di sebuah film. Dalam pikirannya, ini adalah momen emas untuk menyaksikan sang anak tiri dipermalukan di depan publik. "Biar semua orang tahu siapa yang pantas menyandang nama Anderson dan siapa yang tidak," gumamnya puas.
Di balik tirai panggung, Thalia menarik napas dalam-dalam.
Bagi gadis ini, panggung ini terasa kecil-nyaris tidak berarti. Di kehidupan pertamanya, ia sudah terbiasa mengisi acara di panggung raksasa, dengan sorotan kamera internasional dan ribuan pasang mata menatapnya. Dibandingkan itu, panggung ini hanyalah seperti ruang latihan kecil.
Ia melangkah keluar dengan penuh percaya diri.
Gaun lilac yang membalut tubuhnya sederhana pada pandangan pertama, namun bagi mata yang jeli, potongannya sempurna, jatuhnya kain elegan, dan labelnya? Limited edition rancangan desainer terkenal yang namanya hanya beredar di kalangan eksklusif.
Ujung rambutnya bergelombang lembut, curly tipis yang membingkai wajah. Rambut dibiarkan terurai, memantulkan cahaya lampu panggung. Setiap langkahnya mantap, bukan langkah ragu seorang "mahasiswa culun", tapi langkah seseorang yang tahu ia dilahirkan untuk berdiri di tengah sorotan.
Begitu Thalia muncul, aula seketika terdiam.
Seakan seluruh ruangan menahan napas pada saat yang sama. Beberapa orang bahkan tanpa sadar menganga, terperangah.
Apakah mereka sedang bermimpi? Seolah-olah tirai panggung tidak membuka jalan bagi seorang mahasiswa, tapi bagi dewi bulan yang turun dari langit-penuh kemegahan, kecantikan, dan aura yang tidak semestinya menginjak dunia fana.
Di tengah kerumunan, Leonard yang awalnya hanya menonton santai, kini duduk tegak. Matanya terpaku, tak berani berkedip. Dalam hatinya ada ketakutan aneh-takut kalau ia mengedip, sosok gadis di atas panggung itu akan lenyap.
Zea, di kursi undangan, memegangi mulutnya. "Itu... Thalia?" pikirnya tak percaya. Wajah itu, sikap itu... begitu berbeda dari sahabatnya yang sehari-hari ia lihat di kampus. "Seseorang tolong jelaskan... ini benar Thalia, kan? Atau aku sedang melihat dewi keabadian?"
Di sisi lain, Marrie merasakan punggungnya menegang. Nadine, yang duduk di sebelahnya, juga sama-sama terperangah.
"Kenapa... dia bisa jadi secantik itu?" bisik Nadine tanpa sadar.
Rasa gelisah mulai menggerogoti mereka berdua. Mereka sudah terbiasa memandang rendah Thalia. Namun kini, bayangan "mahasiswa culun" itu seperti terkoyak di depan mata. Yang berdiri di panggung bukanlah Thalia yang mereka kenal, melainkan sosok yang bisa membuat siapa pun merasa inferior.
Yoshi, yang sejak tadi duduk tegak, tiba-tiba terdiam.
Tatapannya tak lepas dari wajah Thalia. Dan di detik itu, ia melihatnya-cermin hidup dari wajah Renata, mendiang istrinya.
Renata, dulu gadis tercantik di kampus, bunga kampus yang dielu-elukan banyak lelaki kaya. Dan ia, yang kala itu masih seorang mahasiswa miskin, entah bagaimana berhasil mendapatkan hati si bunga kampus itu.
Kenangan itu menyeruak, dan Yoshi seperti kembali ke masa lalu.
Wajah Thalia malam ini-pancaran matanya, senyum tipisnya terlalu mirip dengan Renata. Dan justru kemiripan itu yang membuat gelisah.
"Bagaimana... kalau dia benar-benar punya daya tarik seperti ibunya? Dunia luar bisa saja membawanya pergi... dan aku tak akan bisa mengendalikannya lagi," pikir Yoshi.
Di antara kerumunan mahasiswa, geng Aurora juga membeku. Mereka sudah menyiapkan ponsel untuk merekam momen memalukan, tapi yang mereka dapatkan adalah kebalikan total: rekaman yang menampilkan kecantikan luar biasa dan aura tak terbantahkan.
Bisik-bisik mulai terdengar:
"Itu Thalia? Serius?"
"Kok bisa berubah banget?"
"Gila... dia cantik banget!"
Thalia duduk di depan piano. Jemarinya menyentuh tuts dengan ringan, dan nada pertama mengalun. Lalu ia mulai bernyanyi.
Suara itu... bukan suara mahasiswa biasa. Ini suara yang matang, penuh teknik, namun tetap mengalir natural. Setiap nada tinggi meluncur mulus, setiap nada rendah dibungkus kehangatan. Ia memainkan piano sambil bernyanyi seolah itu adalah hal yang wajar, seolah seluruh hidupnya memang disiapkan untuk momen ini.
Seluruh ruangan terhanyut.
Para wartawan bergegas memotret, kamera flash berkedip cepat. Para pencari bakat mencatat sesuatu di buku mereka sambil saling berbisik, jelas tertarik.
Bahkan beberapa mahasiswa yang awalnya ingin menertawakan Thalia kini terpaku, lupa niat awal mereka.
Di kursinya, Yoshi hanya bisa memandang dengan bingung.
"Sejak kapan... anakku bisa bermain piano?
Sejak kapan dia bisa bernyanyi seperti ini?"
Ia mencoba mengingat tidak pernah sekalipun ia melihat Thalia berlatih musik. Ia bahkan tidak tahu anaknya memiliki bakat seperti ini.
Mendadak, semua yang ia pikir tahu tentang Thalia terasa seperti ilusi.
Sementara itu, di tepi panggung, Nadine mengepalkan tangan. Setiap nada yang keluar dari Thalia adalah tamparan pada egonya.
Marrie, yang duduk di kursi VIP, mencoba menyembunyikan kegelisahan di balik senyum tipis yang kaku. Ia tidak pernah membayangkan rencana mempermalukan Thalia akan berbalik menjadi pementasan yang membuat semua orang terpesona.
Lagu mendekati klimaks. Thalia menutup matanya sebentar, menarik napas, lalu mengeluarkan nada tinggi yang sempurna jernih, kuat, dan penuh emosi. Tepuk tangan sudah mulai terdengar bahkan sebelum lagu berakhir.
Ketika not terakhir menghilang di udara, Thalia menundukkan kepala sebentar. Aula meledak dengan tepuk tangan dan sorakan. Beberapa orang berdiri, memberi penghormatan kecil pada penampilan yang baru saja mereka saksikan.
Dan di tengah tepuk tangan itu, Thalia mengangkat wajahnya... menatap lurus ke arah kerumunan. Matanya sekilas bertemu dengan tatapan Yoshi, lalu berpindah ke arah Nadine dan Marrie. Senyumnya tipis-bukan senyum manis, tapi senyum penuh pesan.
lanjuttttt/Kiss/